Wednesday, December 21, 2005

Book Review: It's Not About The Bike


Aku tertarik buku ini setelah nonton Oprah dan bintang tamunya Lance Armstrong yang bercerita tentang perlawannya terhadap kanker, dan promosi rubber band LIVESTRONG nya yang fenomenal dan mendunia. Tapi kemana-mana aku mencari buku ini gak ketemu. Akhirnya aku iseng nanya ke QB yang di Setiabudhi, ternyata aku bisa pesen, maka pesenlah aku tanggal 5 November, dua hari setelah lebaran dulu :) dengan harga 184.000 dan katanya baru nyampe 4-6 minggu. Oh, tapi ternyata lama sekali menunggu buku itu tiba, tiap aku nanya via telepon mereka suka jutek. Aku putuskan ini pemesanan aku yang pertama dan terakhir di QB. Lama, jutek dan mahal, aku cek di Amazon cuma $10.50!
Buku ini merupakan biografi Armstrong, --sang juara Tour de France 7 kali berturut-turut-- perjuangannnya melawan kanker yang menggerogoti testis, paru-paru dan otaknya. Perjalanannya hidupnya di masa kecil yang cukup satir dengan hanya ditemani seorang ibu muda yang sangat penyabar dan ulet. Bagaimana kanker mengubah hidupnya menjadi lebih baik, sampai dia bilang "Cancer is the best thing that happened to my life". Armstrong dibantu Sally Jenkins menceritakan dengan detil dan menarik tentang orang-orang disekitarnya, sponsor yang mendukung dan sponsor yang meragukan kemampuannya dan perjalanan kemenangan Tour de France. Buku ini jauh dari membosankan, membuat aku lebih tahu tentang seluk beluk kanker, dan hebatnya memaparkan olahraga bersepeda sebagai sesuatu yang menarik dan menegangkan. Terus terang saja aku dulu berpikir olahraga ini membosankan, aku hanya cukup membaca beritanya saja tanpa terpikir sedikitpun untuk menyukainya.
Buku ini sekali lagi merupakan sebuah inspirasi besar untuk perjuangan, mengatasi rasa sakit, pengorbanan, persaudaraan dan persahabatan. Would never forgotten..

Sunday, December 18, 2005

Nonton dan Nonton lagi

Weekend yang melelahkan!! Setelah kelamaan cuti, Sabtunya aku masuk kerja lagi. Iya betul aku gak salah nulis, hari SABTU! Aduh, rasanya kayak baru masuk lagi sekolah tahun ajaran baru..
Walhasil aku agak belum 'klik' di kantor. Dan pikiran aku memang tersita ke lain hal, nikahan kakakku hari Minggu besoknya, buku biografi Lance Armstrong yang tinggal beberapa bab lagi, dan rencana nonton film paling dibicarakan di akhir tahun ini, Kingkong, midnite nanti. Karena takut gak kebagian tiket, aku minta izin jam 10 pagi tadi buat ngantri dulu beli tiket ke Ciwalk. 2 tiket berhasil aku dapatkan. Cihuy!
Ya, aku suka banget film ini! Walau agak lambat di awal, Kingkong sangatlah tidak mengecewakan. Jalinan cerita, action, visual effect dan view nya breathtaking banget. Aku gak akan menceritakan ceritanya, kamu harus nonton sendiri :). Favorit aku adalah scene brontosaurus yang lari tunggang langgang dikejar velociraptor dan perkelahian Kong dengan tiga T-rex. Walau cerita dinosaurus telah digambarkan dengan sangat sempurna di trilogi Jurassic Park, Aku masih tetap akan menganggap Kingkong berbeda dan sama menegangkannya. Selain itu geliat Kong di New York sumpah membuat aku berkali-kali menahan nafas, kayaknya aku yang agak alergi ketinggian nyaris gak tahan. Durasi film yang hampir 3 jam berlalu penuh ketegangan. Sekali lagi nonton ya!
Besoknya, minggu tadi, setelah akad nikahan kakakku aku langsung cepetan ke undangan temen SMA (selamat ya, Ni!) ditemani Riri yang hari itu tampak sangat cantik dan feminin he.. (Hi, there!) tanpa makan (padahal terlihat yummy) langsung ke Ciwalk (lagi) ngantri beli tiket buat nonton Narnia (lagi). Ya, keponakanku menghiba diajak nonton film itu. Ternyata menonton untuk kedua kalinya bersama anak-anak dan tanpa gangguan seperti beberapa hari lalu, Narnia cukup nyaman dinikmati.
Happy capek happy capek hoahm.....

Thursday, December 15, 2005

Home Video Marathon

Kemarin-kemarin dalam rangka menghamburkan waktu cuti --yang ternyata walau gak keluar negeri atau tempat eksotis yang ada di poster-poster tetap saja menyenangkan-- sesudah hari gelap aku jalan-jalan ke IP. Tujuannya cuma mau beli board book, itu lho buku keras buat anak batita yang gak bisa disobek. Tapi tetep aja sekalinya di mall mata pasti jelalatan. Kali ini aku masuk ke Disctarra, cuma mau liat2. Tapi ternyata Oh My God, aku menemukan film-film lama keluaran Fox, MGM dan Universal yang diproduksi ulang. Ya VCD yang diproduksi ulang dengan lebih eksklusif dan harga lebih murah! YiiHaa! Aku sumpah serasa berada di gudang dan menemukan barang seni langka yang tertimbun. Begitu banyak yang pingin aku beli, tanganku merayap menelusuri judul demi judul, dan memori melayang ke masa lalu. Ini aku beli jangan ya, ya ampun film ini, lho film ini ada juga. Aku kok jadi panik sendiri, untunglah aku cukup sadar untuk berpikir cukup 5 film saja yang aku beli. Kali ini, he..he..
Jadi inilah film2 yang aku beli, walau sudah pernah nonton tak akan rugi nonton lagi:

Mystic Pizza (1988). Tiga gadis bersahabat menghadapi masalah cinta dengan masalah yang berbeda. Mereka tinggal di Mystic, Connecticut, kota kecil yang jauh dari kehidupan bling bling. Daisy --Julia Roberts sangat cantik di film pra Pretty Woman ini-- pacaran dengan cowok kaya yang bermasalah dengan keluarganya. Adiknya, Kat si pintar dan baik hari, tertarik pada pria menikah. Sedangkan Jojo, galau dengan hubungannya dengan pria lokal yang menginginkan mereka menikah. Semua gadis ini bekerja di restoran pizza yang sangat kekeluargaan. Oh iya nyaris tak percaya ngeliat Matt Damon masih sangat muda di film ini, tak lebih cuma dalam satu adegan. Sangat menyenangkan! Worth to watch very much!

Ghost Dad (1990) Film ini murni aku beli hanya demi kenangan masa lalu. Tepatnya masa aku SMP, dimana kalau kita pulang sekolah siang2, di RCTI kala itu pasti diputer film seri seperti Moonlighting, Sister Sister dan diikuti Film Layar lebar. Film ini adalah salah satunya. Aku masih inget banget ketika Bill Cosby masuk jurang gara-gara naik taksi yang supirnya gila. Setelah jadi hantu inilah dia kemudian malah belajar memahami anggota keluarganya. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan ketika dia hidup dikarenakan kesibukannya. Sekali lagi, ini adalah film keluarga, jangan banyak berpikir, hanya satu aturannya: Enjoy the movie! Satisfaction guaranteed.

Someone Like You (2001). Melihat tahunnya film ini gak lama2 banget. Jadi wajar saja kalau plot nya masih belum hilang dari ingatanku. Ya, aku nonton di BIP tahun itu. Romantic comedy yang menghubungkan perilaku pria dengan teory yang menerangkan bahwa sapi jantan tidak mau berhubungan dengan sapi betina dua kali, harus yang baru. Unik memang. Sangat lucu sayang kalo plotnya diceritakan disini. Iya, iya boleh minjem ke aku! Diperankan oleh Ashley Judd , Hugh Jackman, Greg Kinnear yang sangat menyenangkan. Broken heart? Feeling blue? Film ini obatnya.

Mississippi Burning (1988). Kali ini film serius. Ditonton berulang kali, terakhir aku nonton di HBO pas kebetulan nginep di hotel, tapi sayangnya gak aku tonton sampai tuntas, jadi pas liat film ini tanpa ragu aku sabet. Film keren yang mengisahkan perjuangan Gene Hackman dan Willem Dafoe sebagai agen FBI yang harus dengan susah payah mengungkapkan pembunuhan berbau rasial di Jessup, Mississippi di tahun 1964. Sangat menegangkan, dan beberapa adegan harus aku fast forward berhubung terlalu seram. Aneh kalo belum pernah menontonnya.

The Truth About Cats and Dogs (1996). Film yang melambungkan Janeane Garofalo, yang dulu sangat ngetop, tapi sekarang entah kemana. Sebuah komedi romantis lagi.Tentang seorang dokter hewan yang mengasuh sebuah acara semacam talkshow di radio. Kemudian dia menolong seorang photographer yang kesulitan menangani seekor anjing yang jadi modelnya. Karena merasa tertolong dia kemudian ngajak kencan. Karena merasa fisiknya kurang, dia meminta tetangganya --seorang model (Uma Thurman)-- untuk menggantikannya. Timbulah macam2 masalah. Lucu dan menyenangkan. Apakah si pria, the handsome Ben Chaplin akan memilih brain or body? Tonton! Di film ini ada Jamie Foxx, ya, si peraih oscar tahun ini memegan peran gak penting. He..he..

Don't Follow The Path

All around your world is fulfilled with so much current. His current, your current and of course your current. You can shift your current a.k.a way of life anytime you want. But, baby just remember not every current fits you or even close to what who you are. Ain't give a damn people try so hard to say that "MY CURRENT IS SO F**ING COOL". Believe me I've been there. Being cool is be where you are should be, you want to be!!

Sunday, December 11, 2005

Sementara...

Sementara warnanya aku rubah putih dulu ya... mulai bosen sama ember he...he...
Jangan sungkan untuk menulis comment!

Friday, December 09, 2005

The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch, the Wardrobe and An A**hole

Setelah sepagian tadi penuh ketegangan di kantor, aku sudah membulatkan tekad untuk HARUS nonton "The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe". Sebetulnya pinginnya sih kemarin, pas premiere, tapi keadaan tak memungkinkan. So, setelah sholat Jum'at pas istirahat aku menyempatkan diri ke Ciwalk. Thanks to sistem ticketing baru yang memungkinkan aku memesan tiket buat entar malem.
Aku beli tiket dua buah, satu lagi pesenannya
pebe, tapi setelah aku beli dia membatalkannya, dasar plinplan jaya! Daripada aku balikin mendingan cari sukarelawan buat nemenin aku. Satu per satu aku telepon, "aku shift dua", yang lain lagi di luar kota, yang satu lagi malah nginterogasi macem2, aneh. Akhirnya aku putuskan mengajak Hadi, officer di kantor yang akrab menjadi korban "kegiatan ekstrakurikuler" aku --apalagi kalo bukan ngisengin orang-- soalnya aku punya janji dulu sama dia.
Pas aku liat wuihh sudah banyak banget orang, tapi dengan tiket di tangan aku sudah gak pake khawatir2an lagi. Ternyata acara nonton ini kemudian berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan, sangat menyebalkan malah. Orang dibelakangku, cewek, pas film baru dimulai aja sudah mencurigakan. Dia ngobrol, cekikikan, heboh sendirian gak karu2an. Aku sampai berpikir --seriously-- dia cacat mental yang diajak saudaranya ke bioskop. Ternyata orang lain pun keganggu sama dia. Awalnya aku marah, beberapa kali aku ssstt sama dia, tapi tampaknya gak mengerti akhirnya aku capek sendiri dan tenggelam dalam kefrustasian.
Kalo aku gambarkan kejadiannya seperti ini:
wuihh hebat-wow-ya...-YEAHHH-oh my god-plok,plok,plok-ya..-cekakak cekikik-waswiswusweswos-keren banget!-horeee!-ya.. lagi-eh lu liat ga bukannya tadi dia ngambil pedang-tuh kan apa yang gua bilang-gila!-yes!-weisss-ckckck-dst-dst...
Dan kejadian ini berlangsung selama dua setengah jam perjalanan film ini! Gosh!
Filmnya sendiri agak dibawah harapanku. Dengan setting dunia imajinasi, aku secara gak sadar membandingkannya dengan Lord of The Rings. Tapi aku sadar dan tak pernah berharap film ini akan menyamainya. Sebenernya secara setting dan special effect Narnia sangatlah tidak mengecewakan. Gambaran musim dinginnya sejenak berhasil membuat aku menggigil. Tapi sayangnya cerita film ini nyaris seperti tanpa plot, datar dan biasa saja. Aku setuju dengan pendapat
Premiere.com yang berpendapat bahwa sang sutradara bukanlah storyteller yang baik. Jangan harap ada adegan tusukan yang diperlihatkan secara jelas di film ini, sepertinya film ini memang ditujukan buat anak-anak. Yah, sudahlah...
Oh, tapi kenapa ya aku gak bisa menghilangkan kesal sama si cewek tadi. Aku akan sangat bersukur bila dia dianugerahi sebuah home theater mewah di rumahnya, hanya, PLEASE! pastikan disekelilingnya terpasang jeruji baja agar dia tak pernah lagi keluar mendekati bioskop umum manapun di dunia ini!Tambahkan segerombolan anjing Doberman sebagai perangkat tambahan!

Thursday, December 08, 2005

Finally Yes, and Long Live Oprah


Yes, yes, yes...Finally... Malem minggu kemarin ceritanya jalan-jalan. Sebelum training ke Jakarta nonton ah. Iya, ke Ciwalk lagi. Pasti ngantri deh, pikirku. Pas sampe di depan bioskop kok ternyata kosong. Rencananya aku mau nonton Zathura, film yang kata orang jelek. Gak peduli ah, aku butuh hiburan, dan film lain gak menarik buatku. Film ini di jadwal maen jam 19:45 sedangkan aku nyampe jam 19:30. Jadi mungkin tiketnya gak laku kali, makanya loket kosong.
Pas nyampe depan si mbak penjaga loket, ternyata oh ternyata didepannya sudah ada komputer, tiketnya udah gak kuno lagi. Oh My God sekarang aja aku masih merinding kegirangan! Kita gak usah ngantri tanpa arti lagi! Kita bisa dateng dan pesen film apa aja jam berapa aja! Kita bisa tahu berapa banyak lagi kursi yang kosong! Yes..Yes..
Mood aku langsung berubah dengan serta merta malam itu. Ditemani sebotol Nu Green Tea *ini bukan iklan* sumpah enak banget. Film ini gak jelek menurut aku. Lumayan lucu malah, cuman gara-gara di promosinya tertulis "From the creator oh Jumanji.." mau gak mau aku langsung ngebandingin sama film Jumanji. Film masa SMA dulu yang aku inget ditonton di Kiara (kini sudah almarhum). Walau efeknya Zathura ini lebih canggih, tetep aja Jumanji masih lebih OK! Tapi beneran kok film ini tidak mengecewakan, cukup menyenangkan malah.

I'm Male, I'm straight and, yes I watch Oprah. Malah aku memesan DVD 20th Anniversary dan sampe 2 minggu lalu. Setelah itu setiap malam sepulang kerja aku menghabiskan waktu menelan keping demi keping DVD itu. Tiap DVD (semuanya ada 6) berisi segmen serius, seperti orang2 yang berkesan di hati Oprah, atau kasus favorite Oprah terus segmen hiburan, seperti surprise, laugh! dan wawancara dengan selebriti. Baru malem minggu kemarin sepulangnya nonton Zathura aku menghabiskan keping terakhir.
DVD ini highly recommended, buat semua gender, buat semua kalangan. Gosh, aku sampai berulang kali menangis nonton begitu banyak fabulous people yang diwawancara Oprah. Yang paling berkesan adalah Jacqui, wanita cantik yang berubah menjadi seperti monster karena kecelakaan lalulintas tapi tetap berhati emas. Banyak banget hal lain yang Oprah lakukan untuk membahagiakan orang lain, tips diet (yang sekarang aku jalanin ha..ha.. Kata Oprah: tentukan jam terakhir untuk makan, 3 atau 4 jam sebelum tidur!), bedah buku, kejutan (sampe ngasih rumah segala). Sampai aku percaya kalo Oprah itu benar-benar baik. Selebriti yang langka, gak seperti yang ada di novel-novel Jackie Collins atau Sidney Sheldon. Ini DVD terbaik yang aku punya, ya, sampai dengan berat hati aku bilang ini lebih baik dari trilogy Lord of The Rings. Hail Oprah!

Monday, November 21, 2005

Rent of the Month: The Sisterhood of The Traveling Pants

Tumben hari ini pas mau pulang kantor jam 5, liat jendela langit sangat terang. Cepat-cepat pulang ah. Ya, sudah beberapa hari ini Bandung diguyur hujan yang sangat deras, berangin dan lama, bisa nonstop sampai jam 11 malem. Makanya hari ini aku ingin pulang banget, bosen naek motor kehujanan.
Pastinya macet dong, semua orang ternyata berpikiran sama dengan aku. Yah, aku ridho kok kali ini, orang lain juga tentunya males kebasahan. Pas udah deket nyampe rumah, aku niatin beli buah2an ah ke Setrasari Mall, buat bikin jus. Akhirnya aku putuskan, Nanas, Melon, dan Belimbing masuk keranjang belanjaanku. Katanya bagus buat ngancurin lemak, he..he.. Tapi sambil jalan-jalan di koridor supermarket, aku punya ide, kayaknya bagus juga kalo malem ini nonton film, ya. Nyari vcd, ah, jangan banyak2, satu aja. Dan akhirnya pilihanku jatuh pada "The Sisterhood of the Traveling Pants" --judul yang unik-- seharga 35 ribu.


Sesampainya di kamar, setelah minum jus, cepet2 aku tonton. Awal yang sangat menyegarkan. Walau film ini dibintangi empat gadis remaja yang cantik2, tapi themanya jauh dari dangkal. Film ini menceritakan persahabatan Tibby (Amber Tamblyn) yang suka membuat film, Bridget (Blake Lively) si percaya diri yang cantik dan atletis, Lena (Alexis Bledel--Gilmore Girls) yang pemalu dan Carmen (America Ferrera) si genduk yang gemar menulis. Pada suatu musim panas mereka berlibur terpisah, Tibby magang di supermarket sambil membuat film dokumenter, Bridget ke Mexico mengikuti camp sepakbola, Lena berkunjung ke rumah neneknya di Yunani dan Carmen ke Charleston bertemu ayah kandungnya.
Sebelum pergi, mereka menemukan sebuah celana jeans ajaib yang mereka sepakati untuk mereka pakai bergiliran selama liburan. Mengikuti perjalanan celana itu sangatlah menyenangkan. Cara celana itu akhirnya memberi "pelajaran" yang tak terduga bagi mereka dengan cara yang berbeda-beda juga mempunyai keunikan sendiri. Sekali lagi film ini jauh banget dari tolol, tapi fun, hilarious sekaligus meaning something. Dan, oiya, satu lagi, sepanjang film kita juga disuguhi soundtrack keren yang tidak akan membuat bosan!
Aku tahu film ini sangat perempuan, tapi sangat tidak salah bila semua orang memutuskan setidaknya untuk mencoba menontonya. Kalo ada yang mau, aku ikhlas minjemin, asal udahnya dibalikin aja, OK!

Saturday, November 19, 2005

Harry Potter yang Biasa

Sebetulnya aku agak-agak males nulis, about everything. Dan Sebetulnya juga banyak banget kejadian yang sebelumnya ingin aku tulis. Dan semuanya diakibatkan internet lelet di kantor yang sudah berhari-hari urgh! Akhirnya setelah banyak banget yang nanya (cieh..) gimana film Harry Potternya? Udah nonton, kan? Bagus, nggak? Aku paksain deh nulis pendapat aku soal film ini.
Semua berawal di hari Rabu pagi, pas aku liat di iklan film koran PR, Harry Potter, The Goblet of Fire, premiere hari ini, jam 13:00, jam 16:00 dan jam 19:00 --ya, cuma 3x jam tayang-- ini berarti film ini akan panjang, 2 jam lebih. Well, nonton sekarang, deh, pulang kantor nanti teng-go terus ke Ciwalk, estimasi nyampe jam setengah enam kurang. Jadi ada waktu satu setengah jam buat ngantri. Aku jamin, akan panjang!
Baru aja satu kaki turun dari eskalator, oh my God! antriannya berkeliling keliling. Hmm ikut ngantri gak ya? Ok, ikut aja lah, nothing to lose, dapet sukur gak dapet ya mungkin sudah suratan takdir hi..hi.. Biar ngantrinya asik, untung aku bawa discman, langsung aku puter, didalamnya ada CD Eric Benet, yang sudah berhari-hari sejak beli gak pernah aku lepas. Sampai tetangga meja kerjaku bosen, sorry ya, Kas (Lukas, bukan Kasino -red.) Tapi keceriaan itu berakhir tepat satu meter jarak antrian aku ke loket, ketika si petugas dengan lantangnya bilang, Tiket Habis, Tiket Habis! ...Monyet (itu mah aku yang bilang).
Tapi thanks to
Pebe, yang pas aku telepon dengan ikhlas membelikan tiket film yang sama di Regent. Akhirnya jadi juga aku nonton film ini.
The Sorcerer's Stone cukup excited, The Chamber of Secret buat aku tertidur, Prisoner of Azkaban pretty cool! aku cukup penasaran dengan yang keempat ini. Sejujurnya aku nonton judul demi judul film Harry Potter tidak lebih hanya sebagai penghargaan aku terhadap bukunya yang sangat keren. Aku yakin, nonton fim ini tanpa membaca bukunya hanya akan membuat kita tersesat. Begitu pula halnya dengan seri keempat ini. Begitu banyak episode yang dengan sangat kejam dipotong di film ini, momen keren seperti Piala Dunia Quidditch hanya ditontonkan sepenggal. Tapi ini memang sudah jadi "tradisi" film-film Harry Potter, mengingat buku yang memang sangat tebal. Menonton film ini seperti membaca buku yang dibuka 5 halaman demi 5 halaman. Antrian tadi benar-benar tidak sepadan.

Secara keseluruhan film ini masih dibawah judul terdahulu karya Alfonso Cuaron, tapi tidak buruk juga. Tepatnya cukup baik. Nggak lebih dari itu :)
Maaf ketidak mood-an tulisanku kali ini, ya soalnya aku masih sedih nonton fitur perpisahan DVD Lord of The Rings, Return of The King yang dengan bodohnya baru aku beli! Padahal sudah hampir setengah thun dvd itu direlease! Akhirnya secara resmi aku berpisah dengan trilogy itu. Sangat sedih, tau!! Hik..hik..

Monday, November 14, 2005

Music Review: Ratapan Benet


Pas lagi santai di ruang TV kantor tak sengaja kuliat video klip Eric Benet, masih tetap cakep, tapi something different, ya lagu itu secara lirik dan melodi terdengar menghiba. Tapi terus terang lagu itu sekaligus juga memiliki aura "religius", akibat efek visual yang serba sederhana sekaligus membumi mungkin, ya. Atau juga pengaruh memori di kepalaku yang tak bisa menghilangkan wawancara Oprah dan Hale Berry beberapa waktu lalu mungkin ya.
Lagu berjudul "Hurricane" itu memang memang seperti pantulan penyesalan Benet. Seperti yang sudah mengejutkan dunia entertainment beberapa waktu lalu. Benet cerai dengan aktris yang nyaris sempurna fisiknya, Halle Berry, diakibatkan oleh perselingkuhan dan kecanduan seks yang dialami Benet. Tapi bukan hal itu sih yang membuat aku ingin membeli album ini. Aku cuma penasaran bagaimana Benet --yang notabene sudah ikut mengisi kepalaku sejak SMP/SMA dulu-- bisa menuangkan segala "kemalangan" yang dideritanya dalam sebuah album.
Tapi akhir-akhir ini aku gak bisa kemana-mana ternyata, di kepalaku masih berkutat petualangan Robert Langdon mencari The Holy Grail, gara-gara aku ketagihan baca The Da Vinci Code edisi illustrated yang baru aku beli kemarin-kemarin itu. Sialan juga buku itu, membuatku selalu malas tidur, kemarin aja aku tidur jam 2 malem, padahal besok masuk kantor! Untunglah tadi sore disela-sela kerjaan kantor aku berhasil menamatkan buku itu! Legaaa!
Sore itu juga setelah Maghrib aku memaksakan diri ke Aquarius nyari album ini, dan Alhamdulillah aku berhasil menemukannya, padahal tinggal satu stocknya. Langsung pulang, ah, pingin cepet2 dengerin. Dan ternyata album ini sungguh melegakan, asli semua lirik yang ada di semua track penuh penyesalan, harapan untuk kembali, dan janji untuk menjadi lebih baik. Sungguh mengharukan, asli. Cuma, satu lagu aja yang mungkin bukan tentang penyesalan itu, judulnya India, yang memang lagu dedikasi Benet buat anaknya yang bernama India. Sumpah, album ini ternyata jadi sentimentil buat aku. Secara melodius pun, menurut aku, sangat, sangat apa ya...mmm tepatnya: menyenangkan. Ya, keharuan yang menyenangkan! Mungkin karena ada David Foster dan Walter Afanasieff barangkali ya?Album ini definetely boleh ada di rak kehormatan bersama albumnya Luther Vandross, John Legend, dan Dave Matthews Band ku!

Friday, November 11, 2005

Quiet after Storm



...akhirnya
sunyi senyap 'tlah kembali ke ruangan kamarku




Setelah selama dua minggu ini rumah, terlebih-lebih kamarku bagai badai. Ya, keponakanku yang berjumlah dua belas orang beserta orangtuanya tumplek di rumahku. Jangan tanya kondisi koleksi komik dan DVD ku. Semuanya berantakan. Tak peduli berapa kali aku berteriak.
Kondisinya selalu sama. Yah sudahlah daripada capek. Aku biarin aja.


Dan pagi tadi semuanya mereda. Keponakanku sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Akhirnya sunyi senyap dan keheningan tlah kembali ke ruangan kamarku. Aneh, sih, tapi nggak juga kok. Mereka pasti kembali lagi tahun depan. Dan sambil menunggu saat itu, aku akan
bersenang-senang dengan keheningan kamarku. Hello, quietness!!!

Tuesday, November 08, 2005

Not So Fine

Hari ini aku berhasil mengetahui bahwa Juicer Philips type HR2826 dan satu karton teh kotak isi 24 merupakan sebuah kombinasi yang buruk. Apalagi kalau keduanya berada dalam satu kantong plastik dan harus dibawa memakai motor bebek. Kalau kamu ingin lebih buruk lagi, tambahkan kedalamnya sebuah ransel berisi handycam, buku "Da Vinci Code" Edisi spesial, 2 buah komik Doraemon Petualangan dan 1 Chibimaruko Chan nomor 10.
Oh Gosh itulah yang terjadi padaku hari ini. Ini akibatnya kalau jalan2 tak tentu arah tanpa rencana. Berhubung bosan di rumah, aku keluyuran keliling Bandung. Hmm kemana ya tujuanku kali ini, ke Jonas ah, liat2 kamera digital inceranku, bukan mau beli, liat aja, berhubung harganya yang 4 juta. Wow, ternyata penuh banget dan kamera itu pun ternya out of stock. That's ok, kemana lagi ya, eh ke Gramedia aja ah, udah lama banget aku gak ke toko buku. Disana aku membeli komik Doraemon favoritenya keponakanku, dan Chibimaruko Chan kesukaanku, pas mau pulang di sudut New Release kutemukan buku Da Vinci Code edisi spesial yang agak tebal dan berat, kebetulan, aku beli ah.. Cihuy juga ternyata jalan-jalan aku kali ini.
Hmm, kemana lagi ya, liat-liat juicer ah, gak usah beli dulu, dari Gramedia kan deket ke BEC dan Hypermart. Bandingin harga di kedua toko tersebut pun aku lakukan. Ternyata walau deket, bulak balik BEC-BIP sangatlah melelahkan. Tanpa rencana, akhirnya si juicer itu aku beli, biar sekalian cape aku beli teh kotak juga deh sekalian. Di sanalah bencana dimulai, si kasir tolol di Hypermart memasukan satu dus teh kotak kedalam kantong plastik kecil, padahal aku minta pakai yang gede soalnya aku naik motor, tapi dia males nyari dan bilang gak ada, aku lihat di deretan kasir lain jelas-jelas masih banyak! Curse them!
Untungnya plastik tempat juicer dari Electronic City cukup gede, aku satuin si juicer dan teh kotak tadi dalam satu plastik, dan Oh My God sungguh berat! Aku membawanya dari BIP sialan itu ke parkiran Gramedia, soalnya disanalah motorku berada. Setelah aku coba ternyata susah banget memasukan kresek maha berat itu ke motorku. Akhirnya aku gantungkan di setang kiri, soalnya di kanan kan ada gas. Walhasil dengan susah payah aku harus menjaga keseimbangan motorku , gak bisa jalan cepet2. Untuk belok merupakan sebuah perjuangan.
Sepanjang jalan aku bersumpah serapah dikombinasikan dengan do'a, diperburuk dengan masuk angin berhubung dengan tolonya aku tidak memakai jaket ditambah sakit perut. Oh sebegitu bersyukurnya aku ketika sampai di depan pintu pagar hijau rumahku. Alhamdulillah. Sekarang baru terasa tangan kiriku terasa pegel banget.
No way, I won't do that damn thing again!

Saturday, November 05, 2005

Resume of The Day


Akhirnya...hari ini aku libra alias libur. Ini hari libur pertama di bulan November, dan ya..artinya lebaran kemarin aku masuk. Hari ini dimulai dengan sangat buruk, buku Harry Potter jilid 5 punyaku, Order of Phoenix kebasahan gara-gara buku itu masuk bak mandi --ya, for sure-- ini diakibatkan kebiasaan buruk aku yang suka ke kamar mandi bawa buku. Aku memang biasa baca sambil B.A.B, jorok ya, asik, sih :) Walhasil buku yang memang sudah tebal menjadi semakin tebal gara-gara halaman demi halaman menjadi keriting.
Tapi cuek ah, yang penting masih bisa kebaca. Menjelang siang jam 9-an keponakanku mulai bangun dan berdatangan, artinya seisi rumah aku menjadi asli ribut! Huh. Benar-benar hari yang buruk. Udah, ah bacanya, mendingan jalan2 keluar. Kebetulan deodoranku abis.
Benar-benar naif kalau menganggap pas lebaran Bandung sepi. Dari mulai jalanan di depan rumahku sampai dengan toko Setiabudhi sumpah macet banget, apalagi didepan Rumah Mode itu, ya ampun, bukannya lebaran udahan everybody? Untunglah supermarketnya gak terlalu penuh, Untung lagi buku pesenanku di QB ternyata sudah bisa dipesan, tapi kalo tempat makan, jangan harap kosong, deh, dari mulai McD, Ny Suharti, sampai Rumah Makan Parahyangan deket rumahku penuh dijejali orang-orang. Di jalan mobil motor yang kebanyakan berplat luar kota keluyuran entah kemana. Oh, me gosh hilang sudah angan2 menikmati jalan yang sepi liburan ini.
Mendingan pulang, makan ketupat dan tidur, mau gendut juga cuek, deh!
Pas bangun kakak dan keponakanku dari Depok ternyata sudah nyampe di rumah. Aku ajak jalan2 ah, kali aja kalo malem gak terlalu macet. Kebetulan di Ciwalk ada film anak2, Chicken Little, lagi maen. Aku gak peduli rame apa engga, yang penting film anak-anak.
Untung saja jalan ternyata gak macet, tapi malnya penuh, sempet deg2an bioskopnya penuh juga. Tapi ternyata antriannya gak heboh-heboh amat. Keponakan2ku dari Depok ini mania film anak-anak, jadi gak susah ngurus mereka. Lagian film ini diluar dugaanku ternyata cukup menarik. Ceritanya tentang hubungan anak ayam dan bapaknya. Masalah kepercayaan orangtua terhadap anaknya. Karakternya lucu2. Dan yang paling menghibur aku adalah soundtracknya, seru banget! Lagu2nya bukan irama anak2 tapi liriknya tetap terkendali, dan diakhir film ada lagu enak yang dinyanyiin sang dubber, Zach Braff, suaranya mirip Ewan McGregor. Jadi deja vu sama Moulin Rouge!
Satu hal lagi...tadi sebelum film maen, ada trailer dua film keren yang sangat aku tunggu di akhir tahun: Kingkong dan Chronicles of Narnia!! Pretty Cool trailers!!

Thursday, November 03, 2005

Setiap Habis Ramadhan...

This feeling, ya, this feeling, selalu aku rasakan tiap habis Ramadhan, tepatnya hari Lebaran. Empty. Sejujurnya aku gak suka hari Lebaran. Kurang khusu mungkin, ya! Bukan, gitu juga, aku lebih suka bulan Ramadhan. Suka apanya, puasanya? nggak cuman itu sih. Aku suka auranya.
Tapi bodohnya setiap Ramadhan aku lewati dengan cuma-cuma, padahal aku dah wanti-wanti akan menjalankannya dengan lebih baik. Tetap saja kebodohan itu aku lakukan selama 28 tahun perjalanan hariku.
Semoga saja ini bukan Ramadhan terakhirku.
Selamat Idul Fitri semuanya! Mohon maaf lahir bathin....

Saturday, October 29, 2005

Music Review: Mike, Luther


Mike-Mike. Sejujurnya aku gak terlalu berniat nonton Indonesian Idol "season" ke dua dulu, apalagi setelah Joy menang di season pertama. Boring. Apalagi Indonesian Idol kedua ini diputer barengan dengan American Idol, dimana favorite aku Bo Bice masuk final. Tapi gara-gara keponakanku suka nonton, aku jadi gak sengaja. Ternyata ada yang menarik perhatian aku --Mike-- suaranya unusual, keren. Tapi, ah aku pikir dia paling cuma bisa lagu slow aja. Eh, tapi ternyata, setelah nyanyi lagu "Sinaran-Sheila Majid" dia ternyata keren banget! Setelah itu baru aku ngejagoin dia.
Dan kemarin, semingguan lebih, Mike ngerealease album baru, album yang aku tunggu-tunggu, judulnya Mike, juga. Tapi baru kasetnya, CDnya belum ada, nah baru tadi banget aku beli dan selesai ngedenger albumnya. Terus terang awalnya aku khawatir, well sangat khawatir tepatnya, dia akan ditangani orang yang salah, mengingat track di album Indonesia Idol, Album Cinta, semuanya, kecuali Mike, "rusak".
Aku gak keberatan dengan tampilan kemasan CD, yah terkesan terburu-buru, tulisan liriknya dipaksakan biar pas dua lembar bolak-balik. Gara-gara BBM naik kali ya. Well--gapapa fair enough untuk harga 45 ribu saja, yang penting kan isinya.
Pas aku denger track pertama "Semua Untuk Cinta", ah..aku lega suaranya masih bagus, lagunya juga enak. Lagu ini dinyanyikan pas lagi final di TV dulu, juga dinyanyikan Judika, sang runner-up. Track-track berikutnya perlahan tapi pasti menjadi rusak. Bukan, bukan suaranya yang rusak, tapi lagunya, ya ampun basi banget, terutama "Terbaik" dan "Yang Hitam" baik lirik maupun melodinya aneh, gak cocok banget buat Mike. Sebal banget rasanya! Untungnya track 6, cukup memberi angin segar "Cinta 'Kan Membawamu Kembali" (lagu yang juga ada di kompilasi Indonesian Idol), bahkan lagu selanjutnya "Sempurnalah Mimpiku" sangat keren banget, perfect!
Tapi kemudian track berikutnya kembali datar, bahkan lagu ciptaannya Glenn Fredly, "Cinta Tak Bertuan" terdengar sangat biasa. Lagu berikutnya yang terdengar agak lumayan cuman lagunya Yovie Widianto, "Arti Kesetiaan". Sayangnya lagunya Indra Lesmana yang jadi soundtracknya acara reality show gak ada di album ini.
Grrr...Mike, for next Album, GET ANOTHER PRODUCER!!!


So Amazing, An All Star Tribute To Luther Vandross-Various Artist. Album ini sekalian aku beli bareng album Mike di Aquarius Dago. Nyaris saja, dulu, aku mau beli di Amazon, untunglah akal sehat menyuruh aku untuk bersabar menunggunya beredar disini. Aku memang fansnya Luther sejak SMA dulu. Jadi pas denger berita dia meninggal beberapa bulan lalu, agak-agak sedih, sih.
Kayaknya ini album tribute pertama yang aku miliki. Ternyata lucu juga denger lagu idola dinyanyiin sama penyanyi lain yang juga terkenal..Deretan penyanyinya gak main-main, Mary J Blige, Usher, Fantasia (juara American Idol season 3), Beyonce & Stevie Wonder, Aretha Franklin, Donna Summer. Alicia Keys, Elton John, Celine Dion, Wyclef Jean, Babyface, Patti Labelle, John Legend--my favorite, the next Luther--, Angie Stone, dan Jamie Foxx--ya, si peraih Oscar, itu.
Gosh, album ini menakjubkan. Semua lagu-lagu Luther dinyanyikan dengan luar biasa, dengan gaya dan ciri masing-masing, tapi tidak berlebihan --well, kecuali Aretha Franklin :) sorry ya nek--jadi esensi lagu masih terasa. Dan, yang aneh, aku merasa semua penyanyi, yang notabene sahabat dan fansnya Luther , seperti meratap dan berdialog dengan Luther. Bener deh, apalagi Celine Dion yang menyanyikan "Dance With My Father".
Miss you, Luther...

Thursday, October 27, 2005

Flashback--SD Edition Part 2

Sekarang aku mau cerita "kehidupan sehari-hari" di SD aku. Secara garis besar gak jauh beda sih sama SD-SD inpres (istilah ini sekarang masih ada gak sih? he..) lainnya. Tapi jauh banget beda sama SD sekarang.
Pulang sekolah biasanya kita suka dikasih PR banyak. Nah dalam rangka ngerjain PR tersebut, kita suka "kerja kelompok". Sekelas dibagi ke sekitar 6 kelompok, jadi masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 5 orang. Kerja kelompok ini dilakukan di rumah salah satu anggotanya, paling sering sih rumah aku. Kalo kita udah selesai ngerjain PR nya, biasanya kita main-main atau makan makanan yang dibawa masing-masing anggota kelompok. Pernah suatu hari kita kerja kelompok, cuman aku pas sakit gigi, jadi maunya aku kalo udah selesai PRnya, temenku pada pulang, tapi malah main boneka kertas. huh! Yang paling rame itu kalo kerja kelompok kita gabungin sama kelompok-kelompok lain. Wah, dijamin berisik. Yang suka dipake rumahnya Yayuk, soalnya Ibunya baek banget dan banyak makanan. Pernah lho dalam kurang dari satu jam, pohon jambu aer di rumahnya ludes kita makanin, padahal saat itu buahnya banyak banget.

***
Hal yang seneng lagi kalo gak ada guru, kita gak pernah seliweran keluar kelas. Kita suka bikin permainan atau belajar, yah memang sedikit lebih ribut sih kalo dibandingkan dengan gurunya ada. Pernah suatu kali kita ngadain cerdas cermat di kelas, kita buat tim pembuat soalnya, biasanya aku, Yayuk sama Endah. Kita bikin beneran ada hadiahnya, yang nyediain hadiahnya, ya, biasanya Yayuk lagi he..he.. Guru-guru kalo ngeliat kita lagi cerdas cermat suka ngediemin. Itulah yang bikin aku ngerti sekarang. Mereka ngajarin aku untuk mandiri dan kreatif.
Guru-guru juga suka ngajar kita pake praktek. Dari mulai hal-hal sederhana seperti cara bertamu, cara menjadi tuan rumah (sederhana ya, tapi penting banget untuk anak SD) sampai disuruh "wawancara" ke tukang jualan di pasar, kantor pos, atau warung. Wah hal ini yang paling aku inget sampai sekarang. Masih kebayang betapa gemetarannya aku pas nanya-nanya ke Tukang jualan boneka di pasar. Dan mereka asli ramah-ramah banget. Pas udah selesai kita sekelompok girang banget!! (Thanks a bunch bu Mia!)

***
Sekolah aku punya banyak taman berpetak-petak. Masing-masing petak tanggung jawab anak kelas 6. Jadi pas aku kelas enam punya taman yang aku rawat banget. Taman itu bebas kita kreasikan mau kita tanam pohon apa aja, asal disetujui Pak Guru. Aku jadi inget taman itu suka kita bersihin sekaligus jadi tempat bermain, Aku dan Sidik suka banget sama Goggle Five, jadi taman itu kita jadikan markas, dan kita bikin patung goggle five disana. Seneng banget!

***
Belum lagi perayaan-perayaan sekolah seperti kelulusan, hari Kartini atau buka puasa bareng. Gosh Sometimes I miss that olddays!!

Friday, October 21, 2005

Flashback--SD Edition Part 1

Tanpa alasan yang jelas tiba-tiba kilatan kenangan masa-masa SD kembali terbersit di jidatku. Aku juga heran padahal gak ada kejadian yang nyambung seharian ini. Ingatan itu makin jelas pas tadi aku sholat taraweh (itu artinya aku sholat gak khusu ya? ampun!) Terus terang aja aku malah menikmatinya, malah aku menantang memory aku apakah aku masih inget nama temen2 aku dulu. Well let see, kalo nama lengkap aku jujur banyak yang lupa, tapi kita coba dulu deh. Dedy, Bayu Sulistyo Hadi (nah yang ini ternyata masih hapal), Unang, Rosita --tapi dia pindah sekolah sekitar kelas 3 apa kelas 4 gitu--, Suminar, Yuliawati, Suryana, Deni Permana, Asep Rahmat Solihin, Ana, Indra, Yuliani, Dadan, Cucu Sumarni (dia juga pindah gara-gara berantem sama Yeni, padahal rumahnya deket banget sama sekolah), Uyu (lucu-lucu ya nama temenku), Yoseph, terus tiga bersaudara--Taufik, Sidik dan Sarmilah--, Nova, Joni Suwardi (aku inget soalnya dia sekarang Manager McD Setiabudhi langgananku, suka ngasih tambah he..), Pepen Effendi, Rohmah, Endah Mustikasari, Yayuk Yustikasari, Yeni Widiastuti. Yah segitu yang aku inget, tapi kalo gak salah udah semuanya.
Sekolah aku muridnya emang gak banyak, kurang dari 30. Tapi dulu emang lazimnya ya segitu, cukuplah menurut aku jadi keperhatiin. Guru SDN Sarijadi V, tempat aku sekolah juga gak banyak, wah aku tes juga deh masih apal ga ya. Hmm.... Pak Memed Wijaya (Kepsek), Sirodjudin (yang ini tetangga aku, guru Matematika), Ahmad Zakaria--dipanggil Pak Jaka, guru macem2 Bahasa Indonesia, Matematika, IPS, dsb--, Ibu Mia Kusmiati (OMG I really miss her, ini guru favorite aku, dia ngajar IPA, IPS, dia yang membuat aku cinta sama peta dunia), Pak Asep Sukaeman, guru agama, Ibu Cucu Nurmala, guru kelas 3, Ibu Heni guru kelas 1, Ibu Siti guru kelas 2 --Ibu ini yang "ngasih" aku ranking 1 untuk pertama kali, dan Pak Alan, guru Olahraga yang suka ikutan ngajar IPA (dan ancurr! he..).


***
Sekolah aku sederhana, adanya di komplek perumnas deket rumah aku, gak deket2 banget sih, aku blok 1 dan sekolahku blok 4. Aku selalu masuk pagi, jam 7 sampai jam 12, dari Senin sampai Sabtu. Setiap Senin pagi ada upacara, Setiap Rabu pagi ada senam pagi dan Sabtu pelajaran terakhir adalah acara kesukaanku, namanya supervisi, ada 2 jam pelajaran. Aku sendiri gak tahu kenapa namanya supervisi, padahal kita gak belajar, malah disuruh beres2 kelas. Ada yang bagian nyapu, ngepel, bersihin papan tulis dan bersihin kaca. Wow menyenangkan! Sambil main2 kita bersih2. Sampai pernah kita dihukum sekelas gara2 bukannya bersih2 tapi malah ngotorin tembok he..


***
Acara pulang sekolah kita isi main bersama. Itulah untungnya punya temen2 rumahnya deketan, apa-apa gak susah ngumpulnya. Kita biasanya maen dirumah salah seorang temen, seharian bo! nyaris sampe maghrib, jadi makan siang dan sore juga ditanggung temen itu. Semua temen biasanya kebagian, tapi rumahku yang paling jarang, soalnya suka gak ada makanan, maklum ibu bapakku kerja dua2nya dan ga punya pembantu, jadi ya gak ada apa2, mau beli uang jajan mana cukup. Dipikir2 tega juga ya orangtua aku dulu hi..hi. "Mainan" favorite aku dulu adalah main ke sawah, sekarang udah ga ada, jadi perumahan elite. Di sawah aku nyari ikan di irigasi, nyari belut, ngambil buah2an liar, atau cuman diem aja di saung, bisa sampai maghrib bo! Kok ga dicari ortu sih. Ye..pan udah aku bilang dua2nya kerja, aku juga gak ngerti kenapa temen2ku gak dicari ya? Sumpah gak kepikiran sampai sekarang he..he..

Monday, October 17, 2005

Learn something from Sinetron, C'mon!

Aku barusan selesai nonton sinetron "Kiamat Sudah Dekat" di televisi. SINETRON? ga salah? Ya aku sekarang kalo gak lupa suka nonton sinetron itu. Pertama aku nonton alasannya adalah Dedi Mizwar, entah kenapa di usia tua perannya menarik perhatian aku. Padahal zaman dulu boro2 aku suka, what the hell dengan piala Citra yang diraihnya lewat Naga Bonar, malah kalo inget film itu sekarang tetep aja aku gak suka. Dulu sinetron is a BIG NO NO, tapi yang satu ini cukup menggelitik dan beda. Aku nonton sinetron itu juga bukan karena pesan atau kelucuannya. Aku nonton karena sinetron itu ternyata cukup menghibur. Bersimbiosis mutualisme dengan kebosananku akhir-akhir ini.Apapun terasa membosankan, home, office, the street, the city, the people entah kenapa membuat aku bosan. Hanya kenyataan bahwa sekarang ini bulan Ramadhan saja yang sedikit membuat aku ceria. Apalagi bulan November dan Desember sebentar lagi datang. Ada apa sih dengan bulan2 itu? Bukannya harusnya seneng, ada Lebaran. Iya lebarannya sih bikin seneng. But even in this notes I can't tell the problem. Damn. That's so frustrating.
Tapi barusan tadi itu, disela-sela sepotong daging ayam McDonalds dan sekotak Happy Jus itu, aku sebetulnya melamun, about all THOSE things. Tapi kemudian mataku tertuju pada adegan di sinetron itu. Di dalamnya ada dialog "Kan babe pernah bilang Kesulitan orang itu sebenarnya cobaan untuk KITA". Kata-kata itu seolah-olah menampar aku dengan keras. Membuat hentakan di sekitar ulu hati. Gosh, how can I be so selfish. Bahkan setiap jamur di tubuh kita pun sebenarnya bukan punya kita, kebetulan aja kita memilikinya, dan harus rela kalo orang lain suatu saat memerlukannya.
Terus terang aja sudah lama banget aku GAK PERNAH, ya, GAK PERNAH ngasih uang ke pengemis. Hampir semua jenis pengemis. Di pinggir jalan, di lampu merah, ibu menyusui, orang bungkuk, kakek-kakek apalagi anak-anak, GAK PERNAH. Alasan yang kata aku logis membenarkan tindakan itu. Ya, aku yakin benar alasan aku itu tepat. Tapi sekali lagi omongan di sinetron itu sebenernya bilang kalo memberi sedekah kepada orang lain itu bukan (hanya) buat mereka, tapi buat aku, buat kita. Shut up with all the logic things. Tinggal mau apa engga ngasihnya, ikhlas apa engga...and Stop right there!! Dan about THOSE thing, sekedar ujian buat aku, mau apa engga, maksudnya mau ngurusin apa engga. Yes, you know it's not about you, in fact it's all about YOU!

Hi There, Be Serious! :)

Semua bermula dari sebuah, well, banyak premis yang mengindikasian "seseorang" connected with "seseorang" yang lain. Ya, aku menemukannya, gara-gara jari-jari usil yang kumiliki dan sebuah "atmosfer" beda yang aku rasakan. Kebetulan "seseorang" itu aku anggap teman. Dan "seseorang" yang lain juga aku anggap teman.
Suatu saat kebetulan, --ya kebetulan lagi-- aku mendapatkan momen dimana kita bisa ngomong tentang hubungan mereka berdua. Jangan anggap hal itu mudah, walaupun cuman berdua, sumpah sangat susah ngobrol tentang hal ini dengan temanku itu. Sampai akhirnya dia menyerah. He..he..
You know what, Entah kenapa aku berharap (sangat berharap malah) mereka jadi suami isteri.

Hei, "seseorang" disana, kamu harusnya sadar kamu terlalu baik untuk semua perempuan. Dan aku yakin si perempuan akan sangat senang memiliki kamu. Kamu harusnya tahu, aku hanya akan mengatakannya sekali saja! Be serious , diniatkan!

(Urang nyaho pasti maneh ngambek maca ieu. Tapi urang siap dicarekan ha..ha..)

Friday, July 08, 2005

Movie Marathon










Batman Begins, Ciwalk, Midnite, 18 Juni 2005, Aku tau pasti film ini bakalan ngantri berat, setengah delapan aku udah ngantri, padahal diputer di dua studio. Hari itu Ciwalk asli rame, barengan sama pameran. Aku nonton bareng sama Inge dan pacar --iya, iya nge calon suami--nya yang mungil (sorry he..). Film ini menceritakan asal muasal Batman, nuansa gelapnya ga hilang, ceritanya cool, actionnya asik! Christian Bale bermain lepas, bandingkan sosoknya di film "Machinist" yang kurus kering dengan sosok Bruce Wayne yang bulky di film ini. Karakter Alfred diperankan dengan menawan oleh Michael Caine. Aku pilih Bale, sebagai Batman favorite diatas Michael Keaton dikit!

War of The Worlds, BIP, 18:15, 30 Juni 2005. Udah lama banget ga nonton di BIP nih, sesak gara2 renovasi sialan. Aneh juga, aku terbiasa ngantri dari awal, tapi pas setengah lima kesana, kok kosong. He..aneh. Akhirnya jalan2 dulu, kebetulan aku nonton sama ponakanku. Film ini mengecewakan aku. It's so damn boring ngeliat Tom Cruise jadi superhero melulu, dimulai dari Mission Impossible 1 dan 2, Minority Report, Last Samurai, dan lainnya. Film ini dimulai dengan narasi --aku yakin itu suaranya Morgan Freeman--dan tanpa basa-basi langsung dimulai dengan terror mahluk luar angkasa yang sudah mengincar planet bumi sejak lama. Seperti kebanyakan film Spielberg, special effectnya sangat menawan. Tom Cruise jadi tokoh ayah yang tidak bertanggungjawab, punya dua orang anak. Salah satunya diperankan Dakota Fanning--ya, aktingya juga membosankan--yang autis, kadang2 dewasa kadang2 tak berhenti berteriak, uh!. Aku ga mau mengungkapkan endingnya, kasian buat yang mau nonton. Tapi yang mau aku bilang, semua diselesaikan dengan sebuah narasi pula. Geuleuh!

The Interpreter, BIP, 19:45, 6 Juli 2005, Film ini sudah main di Jakarta pas aku cuti dulu, dan baru datang di Bandung dua hari lalu, menyebalkan. Tapi berhubung film ini sudah menarik perhatian, aku maksa mau nonton. Aku liat koran, yah ga ada di Ciwalk. Yang maen jam 18:15 cuman di Nusantara dan BSM. Aku pilih Nusantara, wow ternyata lama banget aku ga kesana, yang aku ingat film terakhir yg aku tonton adalah Matrix Reloaded. Dengan tergopoh2 setelah sholat aku kesana, untungnya deket kantor. Pas sampai di depan loket, sial, film gak jadi diputer soalnya ga ada peminat. Dasar nasib! Yah udah kagok, akhirnya aku ke BIP lagi, untungnya kosong. Dibelakang aku sederetan ABG yang tak berhenti ribut, bahkan setelah film dimulai. Secara reflek aku langsung bilang SHUT UP!
Aku sendiri reuwas, sumpah! Film ini sendiri menyenangkan dan menegangkan, alur ceritanya pintar dan tidak mudah ditebak. Tentang seorang penerjemah di PBB yang tidak sengaja mendengar rencana pembunuhan. Saking menegangkannya aku sampai ditegur bapak2 di depan karena ternyata tanpa sadar kaki aku ke punggung kursi. Alah, karma kali ya!

Fantastic Four, Ciwalk, 19:45, 7 Juli 2005. Dulu aku ga niat nonton film ini, tapi gara2 trailernya pas nonton Batman dulu akhirnya aku tertarik. Karakter Marvel Comics ini terdiri atas, Mr Fantastic, Human Torch, Invisible Girl, dan The Thing. Cukup seru juga menikmati perjalanan mereka menjadi superhero. Keempat pilot luar angkasa tersebut berubah diakibatkan badai cosmic yang ternyata juga menciptakan seorang penjahat besar, Dr. Doom. Film ini didominasi oleh penuturan karakter masing2 tokoh, yang kemudian bersatu menjadi Fantastic 4. Jadi gak terlalu fokus ke alur cerita. Tapi it would be fair to give a chance for the sequel. Karakter yang mencuri perhatian aku adalah Johnny Storm
alias Human Torch, cool sekaligus badung, selebriti sekaligus superhero! Kali ini yang duduk dibelakang aku seorang pria yang sangat kegirangan kalo ngeliat Jessica Alba, sampai tepuk tangan segala! Sepertinya dia kabur dari biara untuk melihat film ini. Jessica memang cantik, tapi menurut aku di ga lebih cuma miniatur nya Angelina Jolie he..

Monday, June 13, 2005

Pitt, Jolie, Bruce dan..Cybill!!

Aku barusan pulang dari Ciwalk, ya, pasti nonton. Kali ini yang pingin aku tonton adalah "Mr & Mrs Smith" yang menghebohkan. Ya, lagi2 Bandung kebagian premiere film yang hampir berbarengan dengan jadwal putar perdana di US. Disebut menghebohkan, karena film ini digosipkan sebagai penyebab hancurnya perkawinan Brad Pitt dan Jennifer Aniston. Terus terang aku ga peduli.

Awalnya aku sempat khawatir ga bisa nonton malam ini. Alasannya klise, kerjaan di kantor, Aku nekat, kebagian nonton paling depan juga aku ga keberatan. Jam aku memang kecepetan, tapi tetap saja aku tergopoh2 jalan ke mulut bioskop. "Pintu teater satu telah dibuka..." Sialan!! Tapi anehnya antrian masih cukup panjang, dan jam belum menunjukan 19.45, kok bioskopnya sudah dibuka. Yah, aku kelewat awal2 film dong. Ternyata hal itu cuma isapan jempol. Setelah dapat tiket dan duduk di bioskop ternyata film belum main. Bahkan iklan dan trailer pun belum muncul. Aneh...

Film ini lucu, bahkan sejak opening title nya dimulai. Dan, ya.. dua orang ini, Brad Pitt dan Angelina Jolie adalah physically DROP DEAD GORGEOUS!! Ceritanya pun menarik, dua orang yang menikah, tapi ternyata keduanya memiliki rahasia yang menakutkan, keduanya adalah pembunuh bayaran. Sangat menarik mengikuti alur dimana rahasia tersebut menguji pernikahan mereka. Dialognya cerdas dan lucu, para pemain bermain enjoy. Aksinya pun sangat cool. Adegan favorite aku adalah ketika Angelina Jolie melarikan diri dari gedung bertingkat tinggi dengan hanya menggunakan tas tangan. Walau endingnya terlalu berlebihan, film ini tetap menyenangkan!!


Dan satu hal lagi..Pesenan aku (ya..aku mengingkari janjiku sendiri untuk ngga belanja online dulu) sudah datang. Malah lebih awal dari perkiraan. Aku pesen DVD "Moonlighting" season 1&2. Aku ga tahan untuk membelinya. Inget judulnya aja sudah membuat ku terbang ke ingatan jaman smp kelas 3 dulu. Tiap hari rabu pasti aku pulang cepet2, soalnya di RCTI jam 1an diputer film ini.

Memang aku belum selesai menonton semua episodenya. Tapi aku sangat enjoy menontonnya. Ceritanya tentang model --Maddy Hayes-- yang pensiun dan hartanya dikuras habis akuntannya. Hartanya yang tertinggal adalah biro detektif yang nyaris bangkrut, dipimpin oleh David Addison yang seenaknya. Cerita dan kasusnya ngga susah, sederhana malah. Yang sangat menarik adalah chemistry keduanya. Di film ini Bruce Willis nampak masih muda, sekilas mirip Rob Lowe. Dan Cybill Shepherd...Gosh sumpah cantik banget dan sangat adorable. Elegant, cerewet, tapi ngga sombong. Benar2 cocok dengan karakter Bruce Willis yang slengean. Adakah another Cybill di dunia nyata ini. ...And I don't mean physically!!

Sunday, June 05, 2005

Lost

Ketika aku memutuskan untuk mengambil cuti, aku tahu sebabnya. Aku stress, ya terdengar aneh memang. Tapi semakin aku coba cari padanan kata lain, selalu mentok ke kata itu. Stress, kayak boss2 di sinetron aja. Aku tahu untuk menghilangkan beban berat di pikiranku, aku harus tertawa. Dan memang sangat manjur, bener lho, otak dan gerakan bibir yang aneh itu terbukti memang bersimbiosis mutualisme.
Sampai akhirnya hari2 kemarin aku harus jujur sama diriku sendiri. Otakku mulai bebal. Ya, gerakan aneh di bibir itu sudah kehilangan khasiatnya. Hantaman pekerjaan yang terus menerus memaksa tubuh dan pikiranku berteriak minta beristirahat.

Pekerjaanku menuntut aku stand by twenty four hours a day, bukan shift2an yang aku maksud. Setelah pulang ke rumah, aku masih harus bersikap seolah2 komputer masih dihadapanku. Menjawab telefon, membaca sms, mengingat2 setiap detail masalah sebulan kemarin, bahkan lebih. Sambil tak lupa tetap terdengar ramah, jgn menunjukan nada kesal. Tak terhitung berapa kali tanganku terangkat ke atas bersiap2 untuk membanting handphone. Tapi pikiran waras masih tetap dominan, untungnya.
Aku benci berkeluh kesah, apalagi setelah membaca "sepatu merah", aku tahu aku agak2 mirip sama dia. And I'll end up like her --penuh kesinisan--kalau tetap berkesal ria. Ok, sebelum cuti, aku coba usaha lain dulu, cari kesibukan yang tak ada hubungannya dengan kantor. Aduh sumpah, sekedar untuk nyari kesempatan ngajak ponakanku renang aja susah banget. Bulan2 kemarin asli aku nyaris muntah, kehabisan waktu. Akhirnya aku cuma bisa baca buku sejarah kesukaanku, dengar radio, nonton film walau agak terkantuk. Semua gak berhasil.
Ok, akhirnya aku cuti, tapi kayanya aku salah pilih tanggal, aku ada kerjaan ke Jakarta, 3 hari, ditambah reorganisasi di kantor. Mendengar kabar itu membuat aku gak bisa tidur lagi, padahal waktu itu jam 10 pagi, dan aku baru tidur jam 8 setelah sebelumnya kerja malam. Mimisan dan diare sepertinya berulang tahun. Tapi setelah temenku bilang, daripada ditolak kayaknya lebih mudah kalau diterima --pikiran positif ku mulai kembali. Selama di Jakarta, aku tetap seperti lap kanebo--siap untuk dipakai tapi lusuh--walau raga ku di kamar hotel, telfon dan sms tetap tak berhenti, aku seperti pindah kantor, konfirmasi ke pelanggan pun tetap aku jalankan dari kamar itu. Tapi sekali lagi entah kenapa aku gak marah, gak kesal, gak senang atau gak sedih. Aku seperti kehabisan energi untuk itu. Bahkan ketika pulang naik kereta paling pagi, dan mogok selama dua jam aku masih tetap hambar. Gak marah walau semua penumpang seperti hendak membakar gerbong tsb.
Untuk yang tahu aku, gak marah dengan kejadian itu sangatlah istimewa buat pribadi seperti aku. Dalam kondisi "normal" aku pasti menggelegak. Setelah sampai di stasiun diiringi dengan permintaan maaf di speaker akan keterlambatan kereta--yang akhirnya mau gak mau membuat aku tersenyum--aku memaksakan diri ke grapari untuk menuntaskan masalah kerjaan, baru ke rumah untuk sholat jum'at.
Besok paginya--hari ini-- aku ke Cirebon, Candra, temenku akhirnya menikah. Aku mencoba selalu sadar untuk menjaga kondisi badanku. Aku tahu aku pergi ke Cirebon di siang hari dengan memakai baju resmi akan membuat aku pingsan, seperti beberapa tahun yang lalu. Panas. Banget. Alhamdulillah aku sehat walafiat sampai pulang, ya, cuma sekali mimisan pas tadi pulang di bis, untung bapakku ikut, jadi bisa pinjem saputangan he..
Sampai pas mau nulis artikel ini, aku merasa bukan aku lagi. Setiap yang aku lakukan wajib aku lakukan, bahkan ke kawinan tadi. Bukan lagi sesuatu yang ingin aku lakukan. Rangkaian hari tadi cuman bisa aku liat dengan tatapan kosong tanpa emosi. Aku gak bisa membedakan lagi apakah ini sabar atau tak peduli. Gosh, sepertinya aku tersesat..

Naima, At Last


Akhirnya ramalan aku di artikel aku sebelumnya menjadi kenyataan. Ya, America's Next Top Model Cycle 4 sudah berakhir. Dan sebagai pemenangnya, jagoan aku..Naima Mora. Aku kasih liat fotonya di posting aku kali ini.

Friday, May 20, 2005

Revenge of The Sith, Biasa Aja!

Setelah kejadian tadi pagi cukup menohok ulu hati, aku memutuskan untuk memberi kemewahan untuk rasa penasaranku. Ya, kebetulan di Bandung hari ini diputar Star Wars III: Revenge of The Sith berbarengan dengan di Amerika premiere nya. Oke, pulang dari kantor nanti aku ke bioskop deh.

Aku suka banget, Trilogy Star Wars jaman dahulu, sampai memaksakan diri membeli VCD box set nya yang seharga 175 ribu (waktu itu gajiku 300 ribu, jadi setengahnya aku pake buat vcd itu). Terus pas dibuat trilogy lagi prequel nya aku termasuk yang sangat excited. Dan benar saja, episode awalnya sekitar tahun 2002 "The Phantom Menace" sangatlah menyenangkan, membuat aku sangat menunggu episode berikutnya. Tapi, ternyata era George Lucas telah habis di episode ke 2, "Attack of The Clones", review nya sangat jelek, terus terang sampai sekarang aku belum menontonnya.

Dari mulai tahun ini dibuka, Star Wars episode ketiga, atau terakhir ini sudah dibicarakan dan ditunggu2 banyak orang. Bahkan sampai ada yang sudah antri di bulan Januari itu, padahal film ini baru diputar pagi tadi. Sangat luar biasa. Hal itu lah yang menggelitik curiosity aku, untuk menonton film ini.

Walaupun penyakit nomor satu aku, yaitu masuk angin menyerang dari mulai siang tadi, aku ga peduli. Aku cepet2 ke Ciwalk setelah maghrib, filmnya mulai jam 19:45, masih sejam lebih baru maen. Sialnya, pas udah di mulut bioskop ternyata antrian sudah berdesakan, yah, antri lama deh, padahal pingin makan dulu. Untungnya antrian gak selama yang aku kira (tepatnya aku ngantri selam 50 menit saja, huh!). Aku paksain makan dulu ke Texas, soalnya mau minum Paramex. Udah selesai makan jam 19.40 pintu bioskop belum dibuka, aduh lama banget ya...

Akhirnya aku sudah duduk didalam bioskop, tanpa selingan dan babibu lagi film itu pun mulai. Aduh, diawal, film itu asli membosankan, menceritakan awal Anakin Skywalker mengalami dilema sampai akhirnya memilih sisi gelap. Di lain sisi, aku pun sedang bergelut dengan sisi gelapku, asli, aku sampai kewalahan nahan kantukku. Aku melakukan apa aja biar gak tertidur, dari mulai rubah posisi duduk, ngaduk2 isi tas, sampai akhirnya ngupil. Perbuatanku yang terakhir itulah yang membuat aku menderita penyakit kambuhanku yang kedua, yaitu mimisan, Sialan! Untung lagi aku teringat pepatah dr. Darmariah untuk menutup hidung dan bernapas lewat mulut, jadi gak berlama2.

Barulah setelah kejadian itu kantukku sirna, dan untungnya film sudah mulai menarik minatku, di akhir film ini membuka jawaban teka teki yang akn bertindak sebagai jembatan di episode keempat nanti, "A New Hope". Yah, overall film ini biasa banget, kayaknya effort yang aku keluarkan buat nonton film ini gak sepadan dengan yang aku dapatkan. But once again that's life. You're not always got what you want....

Departed from Part of My Soul

Hari ini aku libur, tapi aku tetap berniat datang ke kantor. Hari ini ada acara feedback --oh gosh hari ini akhirnya datang juga. Sebetulnya di awal-awal aku gak suka acara ini, aku gak suka bertangis-tangisan (baca: menangis di depan umum), dan selain itu, yang paling penting, aku gak pernah suka farewell, walaupun acaranya penuh dengan makan minum atau dansa dansi. Farewell tetaplah farewell.
Tapi, akhirnya aku sadar acara ini penting buat aku, dan juga buat orang lain. Hari ini dimulai dengan aku telat bangun pagi, setelah sholat subuh, jam enam, aku tidur lagi. Dan baru bangun jam delapan, mandi, dan memaksakan sarapan. Walhasil, walaupun aku kebut, tetap aja telat, dateng jam setengah sepuluh. Ruangan meeting lantai sebelas sudah penuh. Hari itu aku sudah siap lahir dan bathin, mau dimaki-maki, mau ditampar sekalipun. Aku pikir, selama bersama partner kerjaku yang berakhir kontrak kali ini, aku merasa banyak berbuat kesalahan, banyak ga sabarnya deh. Ya, aku memang pernah menjadi sarcastic bastard. Jadi wajar kalo aku dimaki, sekalian aku merasa wajib minta maaf.
Tapi ternyata yang aku dapat, jauh dari itu, Dari pertama aku lihat muka mereka di ruangan itu, aku ternyata tersadar, bahwa mereka bahkan akan terlalu santun untuk marah. Yang aku lihat pagi tadi, adalah wajah yang pernah membuat aku tertawa dan terhibur semenjak dua tahun kemarin. Sumpah, aku ngomong begini bukan karena mereka ngomong tentang yang baik2 waktu acara feedback tadi. Perasaan aneh mulai merayap ketika mereka satu persatu memegang mike. Ya, seperti kehilangan apa, ya, aku ga ngerti, mungkin seperti kehilangan setengah dari jiwa.
Akhirnya setelah salaman, untung aku kebagian yang pertama, jadi bisa lebih cepet. Aku pilih menghilang. Kebetulan di lantai enam ada acara ulang tahun kantorku.
So long parts of my soul... May God be with you, always....

Sunday, May 08, 2005

Kingdom of Heaven

Pertama kali liat jadwal film "Kingdom of Heaven" di koran, aku kaget..wuihhh.. udah ada ya, ga ada midnite nya dulu, selain itu di Amerika aja maen nya baru tanggal 6 Mei, duluan disini dong. Aduh pingin nonton nih. Tapi sialnya, klise banget, aku lagi2 sibuk.
Akhirnya kemaren maksain nonton, aku pergi dari rumah jam 2, padahal film baru mulai jam 4. Tapi ternyata hal itu tidak terlalu berlebihan. Asli Bandung macet, sialan ini weekend.. jadi musim turis. Di Ciwalk aku liat loket belum dibuka, baru jam tiga kurang. Tapi daripada entar ngantri aku mendingan duduk di depan loket ah, thank God aku bawa majalah buat nunggu. Untunglah aku ngantri duluan, soalnya ta lama kemudian antrian sudah ngelingker..ihh serem.
Aku tau film ini durasinya lama, jadi aku pikir di awal dilm ini akan lebih story telling, tapi ternyata tidak. Film ini cukup straight to the point, terlalu cepat malah. Mengisahkan sosok yang diperankan oleh Orlando Bloom, seorang tukang besi yang baru tahu kalau ternyata ayahnya (Liam Neeson) adalah seorang bangsawan yang juga komandan tentara perang salib yang akan berangkat ke Jerusalem. Kisah bersetting ketika Jerusalem dipimpin oleh seorang raja kristiani bijaksana akan tetapi lemah fisik dikarenakan penyakit lepra. Selain itu, Jerusalem juga memiliki Baron (tuan tanah mungkin ya) culas yang rakus, mereka suka menyerang kafilah dagang muslim dari Damascus. Perbuatan mereka membuat berang Raja Damascus, Salahudin. Tense memuncak ketika raja mangkat dikarenakan penyakitnya dan sang baron culas semakin lepas kendali yang mengakibatkan perang Kristen - Islam di Jerusalem tak dapat dihindarkan.
Ridley Scott, sang sutradara, tampaknya sangat sadar dia mengangkat sebuah thema yang super sensitif. Dia terasa hati-hati untuk tidak mengedepankan sentimen agama. Scott berusaha meyakinkan penonton bahwa tujuan film ini, menyadarkan bahwa nilai ksatria lebih penting.
Sangatlah sulit menonton film ini tanpa kacamata agama. Tapi menurutku, Scott --sebagai orang barat--sudah cukup memahami filosofi muslim, pendapat ini asli bukan dikarenakan di akhir kisah bangsa muslim berhasil merebut Jerusalem. Dalam hal ini aku berbeda pendapat dengan majalah Premiere. Oh, iya, agak boring juga melihat Orlando Bloom di film perang terus. Tapi secara keseluruhan film ini rame kok, durasi film yang dua setengah jam gak terlalu kerasa.
Oh iya, sekali lagi saran saya, jangan terpaku pada teks ya, memahami film ini juga akan terasa lengkap kalo kita punya pengetahuan sejarah, seperti dimana letak Damascus, Jerusalem, Messina dsb. :) Have fun!

Saturday, May 07, 2005

The Anthology of Being Hurt

After we spent most of our lives to do something that ruin our life but we felt very useful to others, what we hope then? Of course some decent recognition. Or just a simple thanks.
After we spent most of our times to get along with other who we thought would be friends, We hope --well I definitely hope-- a sincere smile would be great.

...too bad
that's the only thing they saw. I just hope
they say all of this long time ago.



But that's not what I got. The other side felt that they had a miserable times. Our siblings felt they being hurt so bad. Gosh, that felt like double stab in my back. Surely in others vision I cut to deep or blow too hard. The App feel so sour this moment.
Too bad, that's the only thing they saw. I just hope they say all of this long time ago. Or anytime but now.
But despite all of this, I'm glad the words just spitted out. I got so much load to think, so much thing to fix. But I'm just curious, what do they get? Some agony satisfaction maybe....

Tuesday, April 26, 2005

Pass By

Beberapa hari yang lalu, seperti hari yang lainnya, aku melakukan kegiatan rutin after work. Di kamar nonton tv, baca apalah. Pulang dari kawinan temenku (malem-malem), ah sudahlah.. aku bukan mau cerita itu.
Pintu diketuk sekitar jam 1/2 10 malem, suaranya sih suara mas yanto, tetangga depan rumahku, cuma dengan kaos singlet dan celana pendek aku keluar. Ternyata mas yanto ngasih tau kalo kucingku tergeletak di depan rumah. Bagai kena petir di siang bolong, aku keluar. Ternyata benar, si Mimil seperti tidur di jalan, aku pegang, ada tetesan darah dari mulutnya, ga banyak, dari memegangnya aku tau dia mati gak lama. Kayaknya ketabrak sesuatu. Aku elus, seolah olah dia masih hidup, aku cium. Terus aku balik lagi ke rumah ngasih tau kakakku, dan seisi rumah lainnya. Kakakku langsung ke luar, dia sayang banget sama si Mimil, sebenernya semua anggota rumah sayang dia.
Aku langsung berinisiatif menguburkan nya. Setelah sekian lama, di kepalaku seperti ada kilatan flashback, gimana dia masih kecil, lincah, dan selalu menggigit kaki orang yang lewat. Sering tidur di sela-sela kakiku di kamar. I feel so drowned. Tanpa sadar aku merasa kehilangan.
So long fluffy!

Wednesday, April 20, 2005

Series of Unfortunate Books! Huh!

Seperti janjiku sebelumnya, aku mau baca buku tentang A Series of Unfortunate Events, itu buku yang dijadiin film, yang maen Jim Carrey, ada reviewnya di situs ini. Sekitar dua mingguan lalu aku ke Gramed beli buku itu, ga ketemu, aku akhirnya tanya ke customer service nya, dia jawab oh, ada pak, ada enam jilid. Aku kegirangan, aku beli semuanya.
Baca buku pertamanya, wah asik, beneran mirip sama yang di film. Aku pingin cepet2 menyelesaikan 6 buku tersebut. Walaupun minggu2 ini aku asli capek karena kerjaan di kantor, sampai nose bleeding segala. Tapi apapun yang terjadi aku tetap baca buku itu. Mengikuti sepak terjang Violet, Klaus dan Sunny yang dikelilingi orang2 bodoh dan sergapan penjahat Count Olaf sangat menegangkan. Sampai akhirnya aku membaca buku ke enam, aduh deg2an gimana tamatnya? Barusan banget aku menyelesaikannya dengan penuh kekecewaan, sampai2 buku itu aku lempar. Kucingku sampai ketakutan. Begitu bodoh dan polosnya aku sampai2 menganggap semua kisah berakhir di buku ke enam!!
Cepet2 aku sambungkan laptop ke line telefon. Buka amazon.com, dan aku langsung lemah lunglai begitu mengetahui kalo buku itu ternyata sudah diterbitkan sampai jilid ke sebelas. Bahkan oktober 2005 nanti baru akan terbit buku ke 12. Oh God! Hilang sudah semua seleraku akan buku itu. Ini seperti memaksa penonton untuk menyaksikan bagaimana Superman mengelak dari Lex luthor, yang pasti menghabiskan banyak episode!!
Shut up Lemony, learn from JK Rowling, dont be greedy. Make just not more than 7 books!!!

Wednesday, April 13, 2005

The Ring Two and All Day Crap

Kemarin Selasa aku libur. Thank God, I really need it so bad!
Bangun jam 10, hp aku silence, sengaja. Pas bangun udah ada 5 missed call, sebagian besar dari kantor. Ah sudahlah. Aku kan lagi liburan. Nonton TV, busyet semuanya acara gossip, dan isinya sama pula. Aneh banyak orang yang suka. Untungnya ada Metro TV. Ada acara menarik, judulnya Hollywood Inc. berisi tentang paparan menarik tentang bisnis film di Hollywood. Lika-liku bagaimana sebuah ide kemudian berwujud jadi sebuah film.
Padahal aku berniat nonton "The Ring Two", sekuel film The Ring yang menurut aku sangat menakjubkan. Entar aja ah nonton yang jam 3 sore. Sesampainya aku di Ciwalk nggak ngantri. Aku pesan kursi J11 kesukaanku. Tapi kali ini pilihan aku salah. Ternyata di belakang aku sederetan dipenuhi anak-anak SMA. Ngga tau sma mana, selintas ngeliat seragamnya sih SMA BPK apa gitu. Kucel, dengan seragam di keluarin (eighties banget ya..) dan ada yang memakai kacamata kotak berlensa cokelat. Pasti dia pikir group band Stinky itu keren, sampai merasa gaya mereka wajib ditiru hi..hi..
Pas film ini mulai nonton, mulai deh anak-anak SMA itu berisik, ya udah deh aku ikhlas, dulu aku juga pernah SMA. Tapi yang bikin aku sebal, kakinya itu lho, nendang2 belakang kursi aku. Sialan! Berkali2 aku nengok ke belakang dengan harapan mereka ngerti, kepala aku pusing, bodoh!
Film ini menegangkan, asli! Bayangan akan sosok Samara, si gadis didalam sumur yang bisa nembus TV itu tetap menyeramkan. Kejutan2nya tetap bikin shock! Asik juga. Tapi jalan ceritanya yang kedodoran. Film ini gak lagi mengandung teka2 yang kuat seperti episode pertamanya. Ga ada lagi plot yang bikin kita berpikir. Si Samara itu ceritanya sekarang merasuki Aidan, anak Rachel, sang tokoh utama. Tapi ga tau lewat gmana, kok ga dari dulu2. Kesannya maksa banget. Tampaknya aku harus bilang: Sequel, Go to hell..
Dan yang bikin aku super kesal adalah, sepanjang film handphone ku sepertinya ga berhenti bergetar. Lagi2 urusan kantor! GRRR, I'm so MAAADD!

Thursday, April 07, 2005

What a Boring Day

Jakarta 14:52
Kemarin, setelah melalui banyak delay, jam 1 siang, jam 4 sore sampai akhirnya jam 7 malem. aku baru pergi ke Jakarta untuk training kerjaan. Nyampe jam 11 dengan kaki pegal. Ga tau kenapa.
Nginep di KC, what a crowded hotel!
Aku sekamar sama temen dari Bandung, ketemuan sama kang wawan, old pal from Semarang.
Dan sekarang melalui training yang menjenuhkan...huahmmm
Tadi pagi sih ga seboring ini. Cuma sekarang aja....
Semoga cepat berlalu zzzzzz...

Monday, April 04, 2005

Miss Congeniality 2..Sorry Sandra..



Kebetulan hari ini aku masuk malem, jam 22 ntar, jadi bisa nonton film dulu di siang hari, horee!! Kali ini film inceran aku adalah Miss Congeniality 2: Armed and Fabulous. Sandra Bullock adalah salah satu favorite aku. Aku berencana nonton yang jam 1, ya, di Ciwalk lagi. Aku baru pergi jam 12:30, sepertinya sudah menjadi kutukan, aku harus pontang panting ngejar jadwal film. Sebetulnya aku berniat mau pergi jam 12, tapi aku kepincut acara tv yang bintang tamunya Taufik Savalas, lucu dan honest, jadilah aku baru pergi dengan waktu mepet.
Hari senin nih, jadi diskon lagi, he..he..
Dari mulai film ini mulai, entah kenapa di kepala aku masih tersisa gambaran jelas episode pertamanya, waktu Gracie Hart (Bullock) ikut ajang Miss USA. Sebagai akibatnya setiap adegan aku banding2kan dengan episode tsb. Film ini mengisahkan tentang Gracie yang sudah tdk mungkin lagi melakukan misi2 penyamaran, karena orang2 sudah terlanjur mengenal dia sbg Miss Congeniality. Oleh karena itu dia ditawari pekerjaan sbg FBI representative, yang kurang lebih kerjanya sama dengan model produk, atau ratu kecantikan. Tapi kemudian muncul berita bahwa Miss USA yang juga sahabatnya, Cheryl diculik. Hal ini membuat Gracie mengambil keputusan untuk menyelamatkannya, walaupun tidak mendapat restu dari pimpinan FBI Las Vegas. Dalam misi ini dia dibantu juru rias baru, dan seorang bodyguard wanita, siapa ya namanya..oh iya Sam Fuller.
Film ini sudah tidak didukung oleh Benjamin Bratt lagi, akan tetapi karakternya--Eric Matthews--masih ambil bagian. Dari awal film ini terasa too sour, hambar. Bukan acting para pemainnya, tapi ceritanya terlalu datar dan membosankan. Sepertinya Sandra tak pernah hoki dengan film sequel. Banyak sih penggalan dialog yang sangat lucu, tapi tetap tak membantu. Secara keseluruhan aku menilai film ini masih sedikit lebih baik dibanding sequel Legally Blond.
Saran dari aku (juga untuk film lainnya), jangan terpaku pada teks. Seringkali teksnya salah atau nggak nangkep makna dari sebuah dialog!!

Friday, April 01, 2005

Fun, Fun, Cheer, Cheer...


Akhirnya pesenan aku dari Amazon datang Kamis kemarin. Emang apa sih yang dipesen, kok girang amat. Kurang dari sebulan lalu aku pesen (niatnya pesenan terakhir selama 8 bulan ini, gerakan ketatkan ikat pinggang bo!) DVD "Bring It On" dan CD Joey McIntyre berjudul "8:09".

Aku yakin banyak orang kalo liat dari kemasan dan judulnya pasti mikir itu selera ABG. Tapi aku gak begitu ambil pusing.
Bring It On sudah aku tonton berkali kali, di bioskop maupun vcd (di sini ga ada DVD nya, sialan dasar distributor untuk film ini kacangan). Aku selalu ketawa. Malah film ini termasuk salah satu therapy penghilang bete versi aku, selain kaset KD Lang, Kobo Chan, dan Civilization III. Memang film ini bertemakan remaja. Tapi themanya jauh dari dangkal. Selain itu untuk ukuran 10 dollar-an, DVD ini kaya fitur, deleted scene, trivia quiz dan klip music "As If" dari Blaque yang jadi soundtracknya.
Themanya seputar cheerleader high school dan tiru meniru, serius tapi dikemas dengan fun bgt! Coba perhatikan scene "spirit finger". Film ini untuk semua kalangan, baik jenis pretty boy maupun hardcore pasti terkagum deh ngeliat gerakan2 di turnamen cheerleading. Sama sekali ga mudah. Kalo aku selain adegan itu, favorite nya adalah pas closing credit, joget asal dan movie mistakes diiringi lagu Bewitched, Mickey. Hillarious!
Kalo masalah Joey McIntyre, coba denger deh, gak sama banget sama jaman2 dia di New Kids On The Block. Ga usah beli denger aja "preview" nya di amazon.com.
Masih pikir ini selera ABG?

Tuesday, March 29, 2005

Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events

Nonton film ini adalah perjuangan. Aku berencana nonton Jim Carrey dari malem minggu kemaren. Trus aku liat jadwal film dong, karena ada kerjaan di kantor, aku putuskan nonton yang jam 19.45 seperti biasa di Ciwalk. Tapi sialnya ak baru keluar kantor jam 19.40, walau aku ngebut juga nyaris ga mungkin nonton. Dan benar saja, malem minggu itu Bandung sepertinya sangat sesak, selain long weekend--yang berarti banyak turis lokal--juga dikarenakan abis hujan. Ya udah aku putuskan kali ini aku tinggal di rumah aja. Males banget harus berdesak2an di jalan.
Ok, hari Minggu aja aku pergi lagi. Aku putuskan pulang kerja, ke Ciwalk lagi, soalnya kalo di tempat lain suka males pulangnya. Jauh. Lagi2 aku pulang jam 19.40, gapapa ah, aku ga keberatan telat dikit. Tapi sialnya setelah tergopoh2 aku nyampe didepan loket, sudah terpampang tanda "CLOSED". Sialan!
Aku coba lagi hari Senin. Entah kenapa aku agak2 bernafsu buat nonton film ini. Untungnya kali ini aku keluar kantor jam 19.00, masih banyak waktu. Eh, ternyata aku lupa, kalo hari senin tuh tiketnya di diskon ya. Setidaknya buah kerja keras aku dibales dengan diskon he..he.. Aku duduk di bangku K11, biar ga ada yang ngganggu.
Film ini ga seperti kebanyakan, disertai narasi dari si pengarang, Lemony Snicket, film ini mengisahkan tiga anak malang keluarga Baudelaire, Violet si ilmuwan, Klaus si kutu buku, dan si bungsu Sunny yang senang gigit2. Film gelap bernuansa gothic ini dimulai dari meninggalnya orangtua anak2 tsb dikarenakan kebakaran yang tidak diketahui penyebabnya. Hal ini pula lah yang mengantarkan mereka untuk dipelihara oleh sanak keluarga jauh yang kejam, Count Olaf (Jim Carrey). Count Olaf ini selain kejam juga aneh, seorang actor wannabe. Dia akan menempuh segala cara untuk menguasai warisan anak2 Baudelaire.
Walaupun film ini kelam, aku merasa film ini fun. Mengikuti cara-cara cerdik anak2 yatim piatu itu menghindari Count Olaf sangatlah menegangkan dan menyenangkan. Kabarnya film ini akan dibuat sambungannya. Tapi aku ga sabar ngikutin ceritanya. Beli bukunya aja ah!

Monday, March 21, 2005

These Happy Golden Years

Inget film "Little House" di TVRI jaman kecil dulu? Iya, yang ada si Laura, nya.. Tau gak kalo film itu sebenarnya dibuat berdasarkan kisah nyata keluarga Ingalls sewaktu Amerika tahun 1800an? Nah, buku yang sudah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa, termasuk bahasa Indonesia itu terdiri atas 11 buku. Semuanya favorit aku yang telah aku baca berulang2 sampai buku itu lecek. Di buku ke-8, These Happy Golden Years (Tahun-Tahun Bahagia) yang menceritakan kisah penting antara Laura Ingalls dan Almanzo Wilder (suaminya kelak), ada kutipan yang sangat aku sukai.
...
"Ada apa?" tanya Laura setelah kuda2 mereka membawa mereka agak jauh dari rumah.
"Begini," kata Almanzo, sikapnya bersungguh2, "apakah kauingin pernikahan kita dirayakan besar2an?"
Laura heran. Mengapa untuk pertanyaan seperti itu saja Almanzo datang dengan begitu mendadak, mengapa tidak dibicarakan di hari Minggu saja. "Kenapa?" tanyanya.
"Kalau kau tidak ingin dirayakan besar2an, bagaimana kalau kita menikah akhir minggu ini atau paling tidak awal bulan depan?" Almanzo bertanya makin bersungguh2. "Jangan jawab dulu sebelum kuterangkan sebabnya. Waktu aku pulang musim dingin lalu, kakakku Eliza langsung saja membuat rencana pesta pernikahan besar2an buat kita, upacara di gereja dan sebagainya. Kukatakan kepadanya kita tak menginginkan hal seperti itu. Kuminta dia melupakan saja rencananya. Pagi ini aku mendapat surat. Ternyata ia masih tetap pada rencana semula. Ia akan datang kemari bersama ibuku untuk merancangkan pernikahan kita itu."
"Oh, jangan!" seru Laura.
"Kautahu Eliza, sekarang Eliza telah pula mempengaruhi ibu untuk ikut mendukung rencanya mengadakan pesta besar2an. Kalau mereka datang kemari sebelum kita kawin, aku tak akan bisa menolak kemauan ibuku. Aku tak ingin pernikahan macam itu. Dan aku memang takkan sanggup membiayainya. Apa pikiranmu?"
Hening sejenak, sementara Laura berpikir. Kemudain ia berkata, "Pa (sebutan Laura untuk ayahnya) juga takkan mampu membiayainya."
"Kalau begitu, bagaimana kalau akhir minggu ini?"
Ya, kalau itu satu2nya jalan menghindari pernikahan besar2an," kata Laura. "Aku akan siap. Awal bulan depan atau akhir minggu ini. Kapan saja kau mau."
...
Wow!

Thursday, March 17, 2005

Get Worse..

Hari ini seperti biasa aku bangun jam 5 subuh. Gak seperti biasanya sakit badan banget. Sepertinya sakit kemarin makin parah di hari ini. (kemarin aku pulang malem, aga kehujanan setelah sebelumnya meeting di ruangan kecil dengan kepulan asap rokok) Tapi aku paksain mandi, pake air anget ah. Tapi ya ampun, udah nya kok aku tetap pusing dan pangkal hidungku jadi sakit banget. Jadi inget temen waktu kuliahku, Rudi Rosa,--kemana ya?--yang dulu sakit hidung, ternyata sinusitis dan harus dioperasi, iih serem.
Akhirnya, setelah aku ngeliat jadwal, aku putusin gak akan masuk, sekarang kan hari Kamis, dokter langgananku, Dr. Darmariah praktek pagi. Jadi aku ke dokter. Barusan banget pulang. Aku diberi intunal, dan amoxcill, untuk sinusitis ku (tuh kan bener).
I hope this thing will get better. Tanggal2 ini kerjaan ku numpuk. Oh....

Wednesday, March 16, 2005

Damn Street

I'm so damn exhausted this morning. Flu mulai menyerang, sudah dua hari. Akibatnya badanku lemah lesu. Padahal sebisa mungkin aku istirahat.
Pagi tadi aku berangkat ke kantor lewat pasteur, padahal aku sudah berikrar bulan-bulan ini gak bakalan lewat pasteur di pagi hari. Macet berat! Apalagi setelah kejadian Senin kemarin, aku pergi jam 1/2 tujuh dan macet di jalan itu dari ujung lampu merah mulut tol sampai dengan lampu merah pasirkaliki. Hal itu menyebabkan aku berjuang mencari jalan alternatif ke Husein sampai viaduct, tapi tanpa hasil.
Pagi tadi aku berangkat jam 6. Aku pikir kalo lewat pasteur jam seginian ga akan macet, tapi eh..tetep aja, emang jauh kalo dibandingkan kemacetan di hari senin yang menjengkolkan itu.
Selidik punya selidik, ternyata hal itu disebabkan pembangunan jalan layang, yang menyempitkan jalan monyong itu. Oh aku sangat berharap jalan itu cepat selesai..

Saturday, March 12, 2005

Hitch, Feeling Gooood Movie!


Aku barusan nonton film Hitch , seperti biasa di Ciwalk. Sebenernya sumpah gak ada niat. Setelah tadi siang jalan2 di terik matahari, yang sepertinya jauh lebih panas dibanding biasanya, aku males keluar rumah lagi. Setelah nonton rugrats aku langsung terlelap. Tapi aku gak tahan godaan pergi keluar setelah maghrib buat nyari CD, atau kaset juga gapapa,
SHE, group band temen es-em-a. Abisnya aku cuma sekali denger di hardrock dan liat klipnya di MTV, lagunya "Tiada Lagi" aku suka.
Setelah sampai di Ciwalk dengan melewati kemacetan yang bertubi-tubi, di gegerkalong, setiabudhi, dan akhirnya Cihampelas, aku gak buru2, windows shopping dulu, liat2 sepatu--mahal ah, sampai akhirnya ke M Studio. Sayangnya album itu ga ada, sebenerya aku pingin banget punya, tapi malas mengalahkan segalanya. Jadi niat aku ke Aquarius disimpan buat entar. Kemana lagi atuh ya, masa pulang, akhirnya aku muter dulu di toko kaset itu, sempet tergoda dengan albumnya George Michael dan Anastacia, tapi engga ah, aku lagi berhemat.
OK, kalo gitu ke atas, ke bioskop, sekarang baru jam delapan, kali aja ada film yang belom maen--tadi pagi aku ga liat jadwal film di koran. Ternyata aku lagi beruntung, tinggal satu film yang belum maen, baru diputer 20.15 yaitu film Hitch. Padahal tadi feelingnya sih ke film Robots, tapi udah maen tadi jam 7an.
Sebenernya film ini udah agak lama maen di Bandung. Tapi aku agak ga tertarik,

pertama, posternya, sumpah jelek banget, ga mencitrakan sebuah film, asli cuma menjual Will Smith.
Kedua, Will Smith, aku ga terlalu ngefans, padahal film2nya ga jelek sih, bahkan aku suka film terakhirnya, I, Robot, ga tau kenapa.
Ketiga, review film ini menilai film ini bagus, tapi ga bagus banget, hampir semua dari mulai eonline, premiere, boxoffice magz, sampai usatoday.
Tapi semua keragu2an itu terhapus sejak menit pertama aku nonton film ini. Lucu! Opini2 nya di awal film tentang sifat wanita, dan cara mempesonakan hatinya sangat menggelitik. Jadi film ini menceritakan tentang seorang "love doctor" yang mengajarkan pria kikuk, geek, loser , agar bisa menawan hati perempuan yang dicintainya. Yang menarik dari film ini, Hitch--karakter yang diperankan Will Smith-- berpendapat bahwa man kalau sudah memiliki NIAT untuk mencintai seseorang tinggal mencari cara yang tepat untuk menarik perhatian kecengannya, dan itu harus dilakukan dengan tepat, karena kalau tidak, bisa jadi akan lepas untuk selamanya. Dengan kata lain, Hitch tidak menerima "pasien" yang tidak berniat untuk mencintai wanita, apalagi yang berniat hanya untuk meniduri wanita.
Film ini semakin lucu ketika Hitch tertarik kepada seorang kolumnis gossip cantik, Sara, yang diperankan oleh Eva Mendes dan ketika dia menemukan seorang pasien bernama Albert, pria gemuk dan super kikuk yang meminta bantuannya untuk menundukan hati Allegra, seorang selebriti. Sangat mencengangkan bila kita melihat ide2 yang digunakan untuk menarik hati mereka. Smart, genius and hillariously funny!
Walau agak melemah di akhir , tetap saja film ini masih menyenangkan , apalagi ditutup dengan adegan joget gila2an semua karakternya. Oh, soundtrack film ini juga asyik, terutama lagu Incognito "Don't You Worry bout The Thing" yang dinyanyikan kembali oleh John Legend, ada di scene ketika Sara dan Hitch bermain jetski di Hudson river.
Highly recommended ditonton bersama pasangannya, tapi ditonton sendiri (seperti aku) juga asik kok. So, selamat berhaving fun!

Wednesday, March 09, 2005

10 Things You Do When You're Freakin' Lonely

(1) Baca buku favorite ku, "Almanac of World History", tapi pas sampai bab Perjalanan Chris Columbus, geuleuh, karena mereka yang katanya terinspirasi oleh Marcopolo, malah menjelajah samudera demi emas dengan menjajah penduduk setempat. Jauh banget dari The Great Marco..
(2) Nonton TV, semuanya berisi sinetron tolol tentang remaja. Turn It Off..Please! Oke, kalo gitu nonton DVD, aku pilih trilogy Lord of The Rings, tapi aku udah apal hampir semua dialognya. Saking seringnya film itu aku tonton.
Gandalf : Run! You Fools...
(3) Denger radio, kemarin2 sih Akay lucu, sekarang bosan. Sempet terharu juga ketika dia nyanyi Hymne SMA 2. Tapi malah bikin semakin lonely.
(4) Telfon Inge. Bodoh! dia malah nyuruh aku nemenin dia jaga warung.
(5) Suruh Candra nyusul ke kamar. Mana bissa.. kayaknya dia udah lupa punya rumah di seberang rumahku. Belom pulang, kata si Anggi, dia malah nambahin minta ring back tone dong. Malah bikin aku semakin sebal..HUH!
(6) Telfon temen lainnya. Emang aku punya?
(7) Maen game. Udah bosen semua. Ada yang belom bosen maennya susah! Males banget.
(8) Browsing internet. Kan tadi di kantor udah.. Kalo gitu nyari situs lain atuh, kan banyak. Kalo lagi ada yang dicari sih emang rame. Liat blogger juga sedih, soalnya tadi aku posting soal Farewell.
(9) Oke, ini ga pernah gagal. Puter kasetnya KD Lang, Fast Forward sampai lagu 'Outside Myself'. Sial, malah inget Yudi, Romelle-rest in peace, honey-, dan someone in Semarang. Kok masih gagal ya??
(10) TIDUR! No..no..no ini kan baru jam 8! So..WHATEVER!

Good Bye Guys

Hari ini adalah hari terakhir 3 teman ku di kantor. Dulu kita masuk bareng ke call center tercinta ini.
Training di Milennium bareng, juga bobolokot leutak bareng di Situ gunung
bersama.


sampai saat ini aku sumpah masih banyak belum paham soal bos yang satu ini. Selain
memang jarang shift bareng, asli pria besuara dalam, sangat dalam (bukan celana)
ini memang jarang ngomong. Kalo ngomong nyaris tak terdengar (sorry nya Ndra).
Aku pikir emang mungkin dia ga suka ngobrol, terlebih2 aku memang termasuk kategori cerewet. Tapi di akhir2 aku mulai tau karakter bapak ini. Sebenernya asli baik, sering ngebantu, walau pendiam bukan berarti tdk partisipatif. Gebuk bantal mah hayu wae. Tapi tetap aku aku masih misterius soal banyak hal, tentang apa yg disuka atau ga suka. Anjir hese pisan neangan kado jang maneh :)


kalo ibu yang satu inih mah, dari pertama ketemu--kebetulan segroup sama aku pas training outbond--sudah yakin, pasti gak bakalan nemu banyak masalah, baik itu kerjaan ataupun cuma sekedar gawl sama rekan kerja atau orang lain. Favourite temen2 officer lainnya.
Soalnya ga pernak jutek ke semua orang.

Cihuy lah. Selamat jalan ya ke!
Perusahaan bodoh lah yang sampai nolak kamu. Tong hilap kuliahnya beresin ya :)



Sejujurnya pas pertama kali ketemu aku menganggap bos thomas ini sombong! Tapi ternyata jajauheun. Dia itu super unik! Pokonya urusan tentang komputer mah gak
bakalan nyasar lah..
Kumaha mun muka usaha wiraswasta yang berhubungan dengan komputer, mas? Payu lah...


Selamat jalan semuanya. Call center will never be the same without you all, guys!
Good Luck... Jgn jadi sombong kalau jadi orang sukses ya!