Thursday, April 26, 2007

Rofiq Komar Effendi

Sepulangnya aku dari training ESQ. Ibuku memberi kabar buruk. Pak Rofiq Komar Effendi meninggal dunia. Aku tercekat. Sedih.
Pak Rofiq adalah tetanggaku. Beliau khotib dan imam di mesjid Al-Hidayah. Mesjid komplek rumahku. Mengisi sebagian besar kehidupan Ramadhan ku. Dari mulai aku SD, zaman masih mencatat ceramah tarawih dan subuh. Suara nya yang berat dan alunan yang khas ketika memimpin sholat tak bisa lepas dari kepalaku. Hal itu berlangsung sampai dengan tarawih tahun kemarin. Ternyata tahun itu adalah Ramadhan ku yang terakhir tanpa beliau. Semoga ditempatkan di sisi terbaik disana.
Innalillahi wa innaillaihi roji'un.

ESQ 165

Training ESQ 165 sudah selesai aku jalankan. Seperti yang aku pernah bilang, aku sangat menantikan training ini. Ada semacam harapan training ini akan mengubah hidup aku. Terdengar sedikit desperate mungkin. Dan Naif. Sengaja aku tak mencari informasi mengenai ESQ ini. Tidak dari internet maupun dari orang-orang yang pernah mengikutinya.
Kesan pertama: training ini sangat percaya diri. Sedikit narsis hehe. No problem with that. Berikutnya: melelahkan! Training ini berlangsung 3 hari, dari jam 7 hingga jam 6 sore setiap harinya. Duduk di kursi dikombinasikan dengan bersila. Aku menyiapkan mentalku untuk training ini, tapi tidak dengan fisik-nya. Walhasil aku sering sekali kelelahan. Alias cangkeul kaki.
Metode training ini sangat berbeda. 3 layar lebar, sound system yang dahsyat, ruangan yang luas dan sangat dingin, peserta yang sangat banyak. Sekitar 500 orang. Semuanya satu perusahaan denganku dari berbagai lokasi. Aku gak akan menceritakan detail training ini. Menurut aku training ini sangat islami, mencoba merefresh keimanan kita dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits. Tidak cocok untuk non muslim. Menggunakan banyak metode di dalamnya. Training ini juga mensinergikan Al Qur’an dengan dunia profesional.
Untuk mengikuti training ini saran aku: Kembangkan batas toleransi selebar-lebarnya, berpikir positif, ikuti semuanya tanpa berpikir bodoh atau tidak, pantas atau tidak, keren atau tidak. Tidak ada salahnya sama sekali kok! Aku memang tidak selalu setuju dengan cara-cara yang dipakai ditraining ini. Tapi aku tidak keberatan sama sekali menuruti perintah training ini. Sujud, takbir sekeras-kerasnya, ikut senam ala anak TK, mendengar orang menangis gak terlalu masalah. Yang ada dikepalaku adalah: training ini adalah satu bentuk yang dipercayai seseorang (Ari Ginanjar Agustian—sang pelopor) untuk mencapai cita-cita yang besar. Sangat besar dan sangat optimis. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mendukung cita-cita itu.
Tanpa disangka, training yang aku harapkan cepat berakhir ternyata sekaligus juga aku rindukan. Tapi apakah ini merubah hidup aku, seperti yang aku inginkan? Hmm pertanyaan berat yang membutuhkan pembuktian sebagai jawaban.

Sunday, April 22, 2007

Sebelum ESQ

Waduh tiba juga kepergianku ke Jakarta untuk training ESQ. Harusnya bulan kemarin. Cuma dibatalkan gara-gara banjir. Aku sudah lama menantikan training ini. Semoga membawa banyak perubahan (yang baik tentunya!). Amin.
Sebelum pergi nonton dulu Maroon 5. Album barunya keluar nanti 22 Mei. Tapi singlenya sudah ada di ipod ku. Maaf Maroon 5 aku mendownload illegally. Tapi aku janji membelinya di kemudian hari.


Selamat tinggal *untuk 3 hari saja*


Friday, April 20, 2007

3 Days Serenade :)

Mulai hari Rabu kemarin aku cuti. 3 hari sampai Jum’at disambung libur Sabtu Minggu dilanjut training ESQ sampai Rabu lagi. Masuk kerja baru hari Kamis nanti. So, I don’t wanna talk about work in any kind of form. Jadi maaf buat yang telpon ttg urusan kerjaan aku cuekin untuk sementara.
Walau cuti aku gak kemana-mana, alias di Bandung saja.
Hari #1, Bangun super pagi, jam 5 subuh, mandi dan tidak tidur lagi. Kepalaku penuh rencana. Cuci mobil. Ke bengkel betulin klakson. Potong rambut ke mantje. Ke tukang jahit, betulin celana sekaligus bikin celana panjang sama celana pendek. Dan akhirnya kerjaan utama: Beres2 kamar. Untungnya si Fanny libur, jadi ada yang bantuin. Stock opname CD, VCD dan DVD juga –yang paling berat—buku2ku. Ditata ulang berdasarkan genre. Memindahkan lokasi. Komik di deretan paling bawah, soalnya buku itu sasaran utama keponakan2ku di kala libur, dan buku serius di paling atas. Wow, ternyata cukup melelahkan. Sorenya dilanjutkan cari sekring dan peralatan lainnya ke Ace Hardware. Ditutup makan malam di Potluck.

Hari #2, Bangun jam 10 pagi. Yuhuu!! Akhirnya aku bangun siang. Sudah sejak lama aku menderita penyakit susah bangun siang. Sumpah, bukannya sombong, tapi aku memang tak pernah bisa. Di hari libur rekor tersiang aku hanyalah jam 7:30, padahal malamnya aku tidur jam dua malam. Menyebalkan. Dilanjut sarapan dan maen game Civilization III sepuasnya. Selepas maghrib aku nonton ke Ciwalk. Kali ini aku menepati janjiku untuk lebih membuka diri dan memberi kesempatan kepada film Indonesia, tak peduli apapun genrenya. Film yang aku tonton, sebuah film horror “Kala”. Film bervisualisasi indah bersetting di “Alternate world” dengan nuansa Indonesia tempo doeloe. Jadi inget film V for Vendetta. Cukup menakutkan di awal film, tapi dengan perlahan dan pasti cerita film ini menjadi semakin ngarang dan mudah untuk dilupakan.

Hari #3, Bangun setengah jam lebih siang dari sebelumnya. Aku mulai khawatir, hehehe. Tetap maen game lagi. Habisnya kagok kalo mau kemana2, sebentar lagi Jum’atan. Baru, deh jam satu-an aku kembali berkelana. Aku mau nengok Inge, temen SMAku yang baru melahirkan. Sambil beli kado aku sekalian daftar fitness. Hehehe, iya nih, mulai ngerasa kegendutan (seolah2 langsing). Better than never!

Masih ada dua hari lagi. Kemana lagi ya?

Saturday, April 14, 2007

Horny.............NOT!

Perjalanan belum berakhir sampai disini. Setelah sampai di kantor, checkpoint kita, semua pulang ke rumah masing-masing termasuk aku. Aku memutuskan untuk ke Parijs van Java terlebih dahulu. Sebuah keputusan yang aku sesali.
Mall itu seperti biasa sangat penuh. Aku tak menemukan barang yang aku maksud. Dan yang lebih parah ketika pulang keluar dari tempat parkir sebuah Land Cruiser super besar mundur dengan kecepatan tinggi seakan hendak menggilas Hyundai Atoz-ku yang mungil. Aku klakson, dia tak berhenti. Secara reflek aku menekan klakson kembali dengan sangat keras. Si mobil besar berhenti, tapi klakson jadi ngadat, sepertinya ada yang lepas. Akibatnya ketika maju klaksonnya seringkali berbunyi dengan keras dan tak bisa berhenti. Aku nyaris panik. Orang-orang pasti menganggapku asshole urakan. Pemilik mobil didepanku bahkan berhenti dan datang ke mobilku. Dengan tatapan pasrah aku mohon maaf dan menjelaskan kondisi klaksonku. Untungnya dia mengerti. Tapi orang lain mungkin tidak. Aku memahaminya. Kadang kudengar teriakan memaki.
Akhirnya aku tak tahan. Aku parkir di bahu jalan. Si klakson kadang masih berbunyi. Sial!
Aku menelpon temen2ku. Sayangnya mereka tak bisa membantu. Desperately, aku tanya 108 dan minta nomor bengkel Hyundai. Setengah sedih aku menelpon bengkel. Aku tahu hari sudah malam, bengkel itu pasti sudah tutup. Tapi untung saja staff bengkelnya ada yang belum pulang. Namanya Mas Teddy. Dia menuntunku untuk mematikan sekring klakson dengan sabar. Setelah berburu dengan waktu, khawatir batterai handphoneku habis, akhirnya klakson sialan itu berhenti berbunyi. Alhamdulillah. Terimakasih banyak, mas...
Hari itu aku sangat sangat bersyukur. Sisa kemacetan aku hadapi dengan tanpa keluhan.

Trip to Bandung Selatan

Sabtu ini aku bangun pagi-pagi. Dan jam 7 teng sudah tiba di kantor. Oh, no kali ini aku tidak bermaksud untuk bekerja. Hari ini kita –aku, ii, herri dan poni—akan kembali bersenang-senang ke Bandung bagian selatan. Perjalanan ini sudah direncanakan sejak sebulan yang lalu. Tentunya we’re all so excited!
Kita pergi tepat setengah jam kemudian naik mobilnya Herri, selain mobilnya besar, sekalian nyobain mobil baru :) Satu mobil aja, biar seru dan gak cape. Perjalanan yang menyenangkan. Jarak yang jauh gak kerasa, soalnya sepanjang jalan penuh obrolan dan ketawa ketiwi. Soreang terlewati. Tapi menjelang kota Ci
widey kita mulai khawatir. Kia Carens punya Herri transmisinya otomatis, jadi setiap tanjakan yang jumlahnya sangat banyak disana, kita semua menahan napas takut mobilnya gak kuat dan meluncur mundur.
Syukurlah hal itu tidak pernah terjadi. Akhirnya kita tiba di perkebunan teh sebelum Situ Patengan dan sarapan dengan sangattt nikmat!! Cuaca hari itu berkabut dan mendung, membuat danau kecil itu terlihat sangat misterius. Kita berpuas diri memfoto diri kita masing-masing. Dan diakhiri dengan naik perahu mengitari situ. Mendayung bergantian diselimuti kabut dan hujan yang akhirnya turun dengan cukup deras ternyata sangat menyenangkan.
Too bad, dalam perjalanan menuju Kebun Teh Walini kita menyaksikan kecelakaan. Motor jatuh tersenggol truk b
esar. Aku melihat bagaimana si pengendara motor tak berdaya di pinggir jalan dengan kepala berlumuran darah. Aku berusaha membantu walau tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa terbengong. Deja vu dengan kejadian 5 tahun lalu. Korban dibawa truk ke rumah sakit entah di Ciwidey atau Soreang.
Kita berenang, well, tepatnya berendam di Walini, kolam renang air panas ditengah kebun teh yang hari itu kebetulan cukup sepi. Karena takut hujan makin besar, kita langsung ke Kawah Putih. Perjalanan kesan
a kembali menguji Kia Carens Herri. Kali ini ujiannya lebih terjal dan sempit. Melewati perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya kita sampai ditujuan disambut angin besar, hujan lebat dan cuaca yang sangat dingin. Indomie rebus kami lahap dalam waktu sekejap. Kawahnya sangat mempesona walau tertutup kabut yang sangat lebat. Benar-benar seperti Lembah Mordor hehehe.
Akhirnya kita memutuskan pulang. Hari pun sudah sore dan bertambah gelap. Sialnya Jl. Kopo hari itu sangat sangat macet. Perjalanan pulang sungguh sebuah perjuangan.

Tuesday, April 10, 2007

Ketika

Efek buruk film dengan sangat menyesal harus aku akui masih aku rasakan sampai detik ini. Aku gak mengerti telah berhari-hari sejak film sequel Nagabonar itu kutonton, masih saja tak bisa lepas dari kepalaku. It really consuming. Banyak hal aku pikirkan, aku renungkan. Lebih gilanya hal itu cukup kuat untuk menghilangkan niat buruk yang melintas tanpa henti di benakku.
It sounds bullshit! But I can’t deny it either. Daripada menghilangkan feeling itu, akhirnya aku mengambil keputusan untuk menarik hikmah dan meluruskan segalanya. Hal itu pula yang membuat aku haus untuk mencari media sejenis. Karena aku pikir nyawanya Nagabonar itu Deddy Mizwar, aku mulai mencari film beliau lainnya.
Film yang aku maksud adalah “Ketika” (2005). Film yang tak pernah aku lirik. Tapi berkat dorongan situs Sinema Indonesia, akhirnya aku membulatkan tekad untuk mencarinya. Hari Minggu kemarin aku keliling Bandung mencari VCD itu. Sayangnya film tersebut bak sudah ditelan bumi. Di tempat rental saja, film itu tak ada. Tapi syukurlah, setelah menguras ingatan, aku memutuskan browsing di disctarra.com, tempat belanja lokal yang dulu banget pernah aku singgahi. Dan di tempat itu aku mendapatkannya.
Baru saja film itu aku selesaikan. Dibintangi Deddy Mizwar, tentunya, Lydia Kandau, Lucky Hakim dan Senandung Nacita, sang putri aktor utama in real life. Dari konteks visual, film ini lebih tepat disebut sinetron berdurasi panjang. Tidak ada yang istimewa. Ceritanya mengisahkan konglomerat korup, Tajir Saldono yang hidup di Indonesia yang adil dan beradab, sebuah kondisi imaginer yang bertolak belakang dengan Indonesia saat ini. Dia dan keluarganya harus menghadapi kenyataan pahit menghadapi kebangkrutan dan kemiskinan.
Muatan nasihat tidak terlalu kental di film ini. Aspek religius bahkan nyaris tak ada. Film ini penuh sindiran untuk pemerintah. Walau tak sekental Nagabonar, pesan di film ini tetap terasa. Akting Pak Deddy tetap menarik walau tidak dalam porsi besar, mungkin memberi kesempatan kepada sang anak.
Buat aku film ini tetap menarik, tetap berguna dan menyisakan keheranan akan kemiripan thema cinta dengan Nagabonar. Is this what he really believe? Tak masalah, sih.

Friday, April 06, 2007

Nagabonar2, Another story.

Kemarin malam ketika aku sedang di Blitz, menonton “Nagabonar Jadi 2” temanku kirim SMS: Kalau mau ikut acara nonton bareng Nagabonar besok jam 12, tiket bisa diambil di aku. Ihh…aku kan lagi nonton film itu! Lagian besok Jum’at dan harus jum’atan.
Hari ini aku libur, bangun siang maen game selepas bangun tidur nonstop sampai sholat Jum’at. Hari itu aku gak liat handphone yang entah dimana. Selepas Jum’atan aku berniat akan melanjutkan game komputerku. Sebelum itu aku cari dulu handphone, setelah ketemu dibawah bantal ternyata ada missed call. Bu Riri, managerku dulu. Aduh ada apa? Aku telpon terputus dan gak jelas. Low batt kayaknya. Tapi aku tau beliau ada di Blitz. Ah sudahlah, pikirku.
Tapi sambil ganti baju, tiba2 aku tersentak!! Anjrit! Kalo ada acara nonton bareng biasanya kan disambung jumpa fans!! Tanpa pikir panjang aku langsung naik mobil, ambil kamera langsung tancap gas. Jarak dari Blitz ke rumah aku memang dekat. Tapi menempuhnya dalam 5 menit saja sungguh sangat superb. Syukurlah aku menemukan stand Telkomsel disana. Acara itu gratisan dan cuma bisa ditonton pelanggan Telkomsel. Untung aku pengguna setianya. Hehehe. Aku mendapat tiket dengan sangat mudah, mengingat panitya teman-temanku.
Akhirnya aku kembali menonton film itu untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku cukup bisa menahan tangisku. Ternyata bila menonton tanpa air mata, jalan cerita utamanya tidak samar kok! Hehe.. Menjelang akhir film aku tahu dari temenku kalau barisan Cast “Nagabonar Jadi 2” sudah datang. Setelah selesai film aku langsung setengah berlari menuju cafe outdoor Blitz. Sulit juga,
mengingat bioskop hari itu sangatlah penuh.
Disana sudah banyak yang sedang foto bersama Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Mike Mulyadro, si pemeran Jaki, temen arab Bonaga. Aku hanya melihat-lihat dan tetap mencari aktor pujaanku, Deddy Mizwar. Dan Oh My God, dia ternyata tak jauh di depanku! Aku gemetar, dan mengajak salaman dan juga tentunya foto bersama. Dia bilang terimakasih sudah menonton filmnya. Lidahku mendadak kelu tak bisa menjawabnya. Hanya senyum. Orang hebat itu ternyata begitu humble.
Hahaha sore itu aku tak berbeda dengan para ABG yang berteriak memanggil Tora Sudiro.
Alhamdulillah, cita-citaku kemarin tak disangka menjadi kenyataan.

Thursday, April 05, 2007

Deddy Mizwar, The Great


Pulang kerja kembali pikiran aku kosong. Pikiran melayang kemana-mana. Dan tiba-tiba saja pikiranku membujuk aku untuk membeli topi baru di Parijs Van Java. Aku menurutinya. Gerbang masuk terlihat padat. Aku lupa, besok adalah weekend paskah tiga hari yang artinya hari ini sama dengan malam minggu di waktu biasa. Aku berinisiatif parkir di atas dan mendapat tempat sangat strategis, di depan pintu masuk Blitz Megaplex. Tanpa aku sadari aku mendapatkan diriku sudah di depan loket pembelian tiket nonton. Dan aku pun cukup heran ketika telah mendapatkan satu buah tiket di theatre 5 untuk menonton “Nagabonar Jadi 2”. Gosh, I must be drinking.
Seperti sudah aku bilang aku suka Deddy Mizwar di masa tua dan berpikir di masa mudanya biasa saja. Aku telah menonton The Original Nagabonar puluhan tahun lalu dan aku tidak menyukainya. Jadi alasan aku menonton film ini jelas hanya untuk The Legend tadi.
Diceritakan Nagabonar harus pergi ke Jakarta untuk mengikuti peresmian pabrik anaknya –Bonaga (Tora Sudiro), seorang pengusaha lulusan luar negeri. Selebihnya tidak sulit ditebak, pergulatan dua zaman yang berbeda akan menjadi thema dominan di film bersponsor banyak ini.
Tidak sulit untuk beradaptasi dengan film Nagabonar 2. Dalam 5 menit pertama aku sudah sangat nyaman. Walau deretan belakang ku penuh dengan gadis yang sepertinya lulusan “Anjing university”, soalnya dia memakai kata anjing di setiap obrolannya. Baik kagum maupun lucu. Film ini tak diragukan lagi memang lucu. Naskahnya cerdas. Semua pemerannya bermain sangat bagus dan lepas. Tapi yang membuat aku sangat kagum sampai akhir film tak lain adalah the Great Deddy Mizwar.
Sumpah disaat penonton lain tertawa, aku tak bisa berhenti menangis, kagum akan beliau. Bahkan sampai perjalanan pulang rasa kagum itu tak bias hilang. Ya, selain sebagai aktor utama, beliau juga sebagai penyusun naskah dan sutradara.
Film ini tak hanya menjual komersialisme, tapi tak juga menghindarinya. Aku sangat takjub akan keberaniannya menyelipkan nasionalisme dan aspek religius di film ini. Banyak pesan, bahkan terlalu banyak. Tapi aku mengerti, sepertinya beliau sangat ingin film ini gak hanya menghasilkan uang dan hiburan belaka. Aku seperti mendengarkan nasihat orang tua di film ini. Nasihat yang memang ingin aku dengarkan. Kekaguman ini bahkan menjadikan alur cerita utama yang menjadi samar seakan tak penting lagi.
Aku percaya beliau adalah seorang yang besar. Aku sangat ingin bertemu beliau.

Wednesday, April 04, 2007

Music Review: Elliot Yamin


Akhirnya tiba juga pesanan aku! Setelah pre-order dari tanggal 2 Maret lalu, tiba juga CD Elliot Yamin ini. Sebetulnya sebelum tanggal release, album ini sudah bocor beberapa single-nya dan bisa dengan mudah di download di multiply. Gratis pula. Tapi aku gak tega.

Album ini baru release tanggal 20 Maret. Single pertama, "Movin' On" adalah hal yang membuat aku sangat yakin untuk membeli CD ini. Walau banyak album alumni American Idol yang mengecewakan (Ruben album kedua, Taylor Hicks, Bo Bice, Katherine McPhee), aku sangat berharap Elliot tidak begitu.

Setelah menyimak semua track di album ini, Aku berkesimpulan suka Movin' On (tentunya), Wait For You, One Word dan pastinya A Song For You, single yang kembali menjadi terkenal setelah ada di album kompilasi American Idol season 5. Tapi jangan salah, Elliot menyanyikan lagu tersebut di album ini dengan agak berbeda. Sadly, secara album aku harus bilang album ini biasa. Not superb, tapi juga tidak mengecewakan. Aku masih berharap album kedua...

Monday, April 02, 2007

Put Your Head On!

One thing you should keep in your head is: Don't go near a mall without your head. Karena akibatnya akan buruk. Hari Minggu kemarin aku masuk kantor. Awal bulan artinya banyak report. Siang hari katanya badai menerjang Bandung, walau aku gak merasakan apa-apa. Tenggelam di depan komputer.
Pulang sekitar jam 5 sore. Cuaca kelabu masih menyelimuti. Actually, that's my kind of weather! Aku berencana ke Parijs Van Java sekalian pulang mau beli roti di BreadTalk. Di tengah jalan kakakku telepon nitip beliin buku Matematika Penekanan Pada Berhitung (iihhh!) kelas 5 karangan M. Khafid, penerbit Erlangga. Jadi sekalian aja. Sialnya buku itu gak ada, ditambah BreadTalk yang penuh. Aku hanya beli satu cheese muffin saja. Tiba-tiba aku jadi kehilangan selera.
Seringkali aku keliling mall tanpa konsentrasi penuh, yang biasanya berujung membeli barang-barang yang tak perlu. Hari itu pun tak terkecuali. Sambil pulang menuju parkiran aku beli Green Tea w/ Ice Blended. Di tengah jalan aku berpikir, sekalian aja ke Flamboyant, disana juga ada toko buku.
Ternyata di toko buku itu juga gak ada. Aku malah beli novel 4 buah. Sekalian ah ke Hero (masih di mall itu), aku titipin novel tadi di penitipan barang. Aku membeli sosis dan 2 botol green tea. Buat di jalan ah, pikirku.
Setelah sampai di mobil aku merasa tolol, bagaimana mungkin aku membeli 2 botol green tea buat di jalan. Green Tea hasil beli di Parijs Van Java tadi aja belum habis. Bodoh! Aku langsung pulang dengan sedikit dongkol.
Setelah sampai di rumah aku teringat: NOVEL TADI BELUM DI AMBIL DI PENITIPAN!! Gosh.. sore yang menyebalkan! Pulang nanti aku terpaksa harus kesana lagi!!!!