Friday, May 22, 2015

Hati

Sebelum saya lupa, aku ingin menulis ini : Hati tahu kapan memilih rasa.

Begini ceritanya. Dulu waktu aku menginginkan sesuatu, aku sangat berharap. Sebisa mungkin, mencari jalan untuk mendapatkan itu. Gagal, coba lagi. Jatuh, bangun lagi. Bahkan menghiba dan bersimpuh pun aku lakukan. 

Ternyata hal itu ternyata ditanggapi berbeda oleh orang lain. Ada yang terharu, tak peduli, membantu, mencibir atau memanfaatkan. Tapi (seharusnya itu) tak masalah. Seharusnya aku memilih berbaik sangka. Seharusnya semua itu sama di mataku. Semua mencoba membantu. 

Seiring berjalannya waktu. Detik demi detik menghadapi itu, hati tahu bagaimana harus bertindak. Hati seringkali salah, tapi dia cepat belajar. Dia tahu memilih perasaan, dengan tanpa menghilangkan husnudzon.

Hati tahu dia tak perlu merasa bahagia ataupun sedih ketika disodori harapan dan angan-angan. Hati memilih berhati-hati. Tidak ada pujian, sindiran, maupun perkataan yang merubahnya. Dari siapapun. Hati memilih menunggu.