Tahun lalu, Aa Angga bilang pingin ikut team marching band.
Keputusan yang dengan senang hati kami terima. Hanya saja, kami lalu mewanti-wanti,
dan agar Aa paham serta berkomitmen bahwa keputusan ini merupakan sesuatu yang
berdampak jangka panjang. Aa akan sering latihan, pulang kantor akan lebih lama
dari pada teman lain dan hari libur juga ada kemungkinan masuk sekolah untuk Latihan.
Aa menyanggupinya.
Hal yang kami sampaikan itu ternyata bukan isapan jempol.
Tempat sekolah Aa, memang sekolah yang fokus pada pengembangan ekstra kurikuler
marching band. Setelah Aa masuk team, akan ada dua kompetisi besar yang
diikuti. Di Jakarta dan di Yogyakarta. Aa akan ikut yang di Jakarta, sedangkan
yang di Yogyakarta tidak ikut karena bentrok dengan acara liburan keluarga.
Demi kompetisi itu, latihan sedemikian intensif. Hari demi hari setelah waktu
sekolah diisi dengan latihan. Terkadang kami kasihan, tapi ternyata Aa menikmatinya. Terlebih lagi ini memang konsekuensi dari keputusan yang telah dia buat.
Pada hari kompetisi, kami pun ikut ke Jakarta. Menyewa hotel
di seputaran velodrome, Jakarta Timur. Kami tidak di hotel yang sama dengan
murid-murid peserta kompetisi. Selain hotelnya penuh, pihak sekolah juga
mengatur murid ini untuk mandiri dengan didampingi para guru di setiap
kamarnya. Dari kejauhan kami, para orang tua dan de Letra mengamati betapa
mereka sangat serius mengikuti rangkaian latihan di sekolah maupun di venue.
Acara di velodrome ini adalah World Association of Marching Show Band
Championship skala nasional yang selain juga diikuti oleh sekolah-sekolah di Indonesia,
juga peserta dari negara lain seperti Malaysia,
Polandia dan Taiwan.
Pengalaman ikut lomba ini selain baru buat Aa, juga baru
buat kami, para orang tua dan keluarga. Buat aku, pengalaman menonton dan
mengamati acara ini sedemikan luar biasa. Kenapa bukan hanya menonton saja? Kenapa
juga ada kegiatan mengamati? Karena selain jalannya lomba, aku juga mengamati
bagaimana macam ragam pilihan kostum, aransemen lagu, koreografi dari
masing-masing peserta. Aku juga mengamati bagaimana para sesama keluarga ikut
tegang dan deg-degan menonton anak-anaknya bertanding. Cara mereka menyampaikan
pesan ke anak-anaknya, menyiapkan makan dan minum, membereskan make up nya,
sangatlah personal di mataku. Hal itu akhirnya mengubah perspektif aku.
Ternyata ini bukanlah sebuah kompetisi, tapi diam-diam ada perasaan
sepemahaman. Di balik keinginan menjadi pemenang, juga ada perasaan sama
senasib, memperjuangkan persiapan anaknya. Setidaknya harapan aku, Aa Angga tau
rasanya deg-degan peserta, perasaan ingin menang tapi juga takut kalah,
perasaan kebersamaan, perasaan lelah, perasaan senang, dan perasaan-perasaan lainnya
yang akan sulit diajarkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dengan
dialami. Dan aku yakin, semua orang tua –dengan caranya masing-masing—merasakan harapan yang sama. Acara yang berlangsung tiga hari ini ditutup dengan
pengumuman, alhamdulillah beberapa nomor juara. Perasaan lega karena telah
berakhir, juga karena kami makin kaya dengan pengalaman.
Tahun ini kami mengalami pengalaman yang sama, hanya saja,
de Letra kemudian bergabung di team marching band juga. Rupanya pengalaman
tahun lalu, sedikit banyak dicerna Dede. Kami bangga, mengingat karakter de
Letra yang lebih santai, dengan sendirinya ingin mencoba ikut team pianika
marching band sekolah. Dalam waktu beberapa bulan saja, keduanya sudah tenggelam
dalam latihan demi latihan dan dua kejuaraan. Kedua lomba tersebut berlangsung
di kota Bandung, jadi belum ada pengalaman menginap. Insya Alloh mereka akan
ikut di kejuaraan nasional di Jakarta di ujung tahun ini. Semoga tetap memberikan
pengalaman hidup berharga buat mereka, dan buat kami, sebagai entourage/orang
tua. Aamiin.