Tuesday, June 23, 2026

Menjadi Entourage (Atau Malah Groupies)?

 

Tahun lalu, Aa Angga bilang pingin ikut team marching band. Keputusan yang dengan senang hati kami terima. Hanya saja, kami lalu mewanti-wanti, dan agar Aa paham serta berkomitmen bahwa keputusan ini merupakan sesuatu yang berdampak jangka panjang. Aa akan sering latihan, pulang kantor akan lebih lama dari pada teman lain dan hari libur juga ada kemungkinan masuk sekolah untuk Latihan. Aa menyanggupinya.

 

Hal yang kami sampaikan itu ternyata bukan isapan jempol. Tempat sekolah Aa, memang sekolah yang fokus pada pengembangan ekstra kurikuler marching band. Setelah Aa masuk team, akan ada dua kompetisi besar yang diikuti. Di Jakarta dan di Yogyakarta. Aa akan ikut yang di Jakarta, sedangkan yang di Yogyakarta tidak ikut karena bentrok dengan acara liburan keluarga. Demi kompetisi itu, latihan sedemikian intensif. Hari demi hari setelah waktu sekolah diisi dengan latihan. Terkadang kami kasihan, tapi ternyata Aa menikmatinya. Terlebih lagi ini memang konsekuensi dari keputusan yang telah dia buat.

Pada hari kompetisi, kami pun ikut ke Jakarta. Menyewa hotel di seputaran velodrome, Jakarta Timur. Kami tidak di hotel yang sama dengan murid-murid peserta kompetisi. Selain hotelnya penuh, pihak sekolah juga mengatur murid ini untuk mandiri dengan didampingi para guru di setiap kamarnya. Dari kejauhan kami, para orang tua dan de Letra mengamati betapa mereka sangat serius mengikuti rangkaian latihan di sekolah maupun di venue. Acara di velodrome ini adalah World Association of Marching Show Band Championship skala nasional yang selain juga diikuti oleh sekolah-sekolah di Indonesia, juga peserta dari negara lain seperti  Malaysia, Polandia dan Taiwan.

Pengalaman ikut lomba ini selain baru buat Aa, juga baru buat kami, para orang tua dan keluarga. Buat aku, pengalaman menonton dan mengamati acara ini sedemikan luar biasa. Kenapa bukan hanya menonton saja? Kenapa juga ada kegiatan mengamati? Karena selain jalannya lomba, aku juga mengamati bagaimana macam ragam pilihan kostum, aransemen lagu, koreografi dari masing-masing peserta. Aku juga mengamati bagaimana para sesama keluarga ikut tegang dan deg-degan menonton anak-anaknya bertanding. Cara mereka menyampaikan pesan ke anak-anaknya, menyiapkan makan dan minum, membereskan make up nya, sangatlah personal di mataku. Hal itu akhirnya mengubah perspektif aku. Ternyata ini bukanlah sebuah kompetisi, tapi diam-diam ada perasaan sepemahaman. Di balik keinginan menjadi pemenang, juga ada perasaan sama senasib, memperjuangkan persiapan anaknya. Setidaknya harapan aku, Aa Angga tau rasanya deg-degan peserta, perasaan ingin menang tapi juga takut kalah, perasaan kebersamaan, perasaan lelah, perasaan senang, dan perasaan-perasaan lainnya yang akan sulit diajarkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dengan dialami. Dan aku yakin, semua orang tua –dengan caranya masing-masing—merasakan harapan yang sama. Acara yang berlangsung tiga hari ini ditutup dengan pengumuman, alhamdulillah beberapa nomor juara. Perasaan lega karena telah berakhir, juga karena kami makin kaya dengan pengalaman.

Tahun ini kami mengalami pengalaman yang sama, hanya saja, de Letra kemudian bergabung di team marching band juga. Rupanya pengalaman tahun lalu, sedikit banyak dicerna Dede. Kami bangga, mengingat karakter de Letra yang lebih santai, dengan sendirinya ingin mencoba ikut team pianika marching band sekolah. Dalam waktu beberapa bulan saja, keduanya sudah tenggelam dalam latihan demi latihan dan dua kejuaraan. Kedua lomba tersebut berlangsung di kota Bandung, jadi belum ada pengalaman menginap. Insya Alloh mereka akan ikut di kejuaraan nasional di Jakarta di ujung tahun ini. Semoga tetap memberikan pengalaman hidup berharga buat mereka, dan buat kami, sebagai entourage/orang tua. Aamiin.