Wednesday, October 11, 2017

Lanturan Kewarasan

Jadi... setelah kepindahan pekerjaan aku dari Bandung ke Jakarta, aku memutuskan untuk setidaknya mencoba membawa keluargaku ke Jakarta di tahun pertama. Kami pun memutuskan tinggal di apartemen, karena selain agar jarak ke kantor tidak terlalu jauh, isteriku juga tak jauh mengakses supermarket, warung, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Semua ada di sana.

Kami pun hidup baik-baik saja. Ada sih beberapa penyesuaian seperti hidup tanpa tanaman, sempit dan bising hehe. Tapi takdir berkata lain, baru sekitar dua bulan hidup bersama di Jakarta, isteriku alhamdulillah hamil lagi. Hamil kali ini agak lumayan repot, mual dan maboknya lebih lama. Belum lagi ternyata anak kami terkena fimosis, jadi harus dikhitan. Ditambah lagi kami harus menghadapi dilema apakah anak kami harus berhenti mengkonsumsi ASI atau diteruskan sembari hamil.

Setelah memperhitungkan baik buruknya, kami pun berkeputusan untuk berbeda rumah di weekdays. Artinya aku pulang setiap Jumat dan kembali ke Jakarta Senin dini hari. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah kami menyelesaikan permasalahan satu per satu. Tak terasa dua bulan lagi, insya Alloh keluarga kami bertambah anggotanya, ceritanya pasti akan berbeda. 

Tapi sebenernya aku mau cerita apa ya, sebenernya? hahaha

Kalau ada anak isteri di rumah, pada saat kita kita pulang, kita akan dipaksa memperhatikan mereka, terlibat dan berinteraksi dengan mereka, Kita yang berpikir tentang bekerja dan segala permasalahannya akan dipaksa berubah episode pada saat membuka pintu rumah. Suka ataupun tidak. Walau kemudian beberapa jam atau beberapa menit kemudian, bisa jadi kita kembali membahas pekerjaan di kantor, tapi tetap saja suasananya berbeda.

Berbeda dengan tinggal sendiri. Seringkali aku masih menelepon dan membaca group chat, maupun email sampai mendekati kantuk. Ini salah. Gak sehat buat kewarasan, menurutku. Sendiri ataupun tidak, kita memerlukan suasana lain dalam keseharian. Ini mungkin ya yang membuat kita depresi, memikirkan hal yang sama terlalu lama. Adakalanya kita harus dipaksa melarikan diri dan tak terlalu memikirkannya untuk sementara waktu. Ini yang aku percayai.

Walau hal yang lain itu tidak berarti menyenangkan, tapi setidaknya kita membahas yang yang tak sama. Tak jarang, setelah sampai apartemen, aku video call dengan isteri dan anakku, membahas hal yang sangat penting maupun hal yang tak tentu arah, seperti tetangga yang suka menyanyi keras-keras sambil naik motor di depan rumah kami, berandai-andai jika punya uang satu milyar, kenapa kutil di pahaku semakin membesar dan hal lainnya.

Jika selesai video call, sebisa mungkin aku melakukan hal untuk kesenangan diriku sendiri, terlepas dari kepenatan pagi sampai sore tadi. Biasanya nonton tv, masak, maupun maen game Civilization. Game ini sudah aku mainkan sejak SMA, hahaha. Walau sudah berevolusi sampai Civilization VI, aku tetap memainkan yang seri keempat. Semua itu hiburan buatku. Sangat jarang sekali kalau sudah sampai apartemen aku keluar. Males banget. Memang sih lebih monoton dibanding dengan kalau ada anak isteri. Tapi dengan begini setidaknya kewarasanku terjaga.

Gak jelas yah postingan aku ini, ngelantur kemana-mana hahaha. Maaf. Ini tulisan biar masih tetap waras di tengah sosialisasi produk yang membuat aku ngantuk setengah mati hahaha.

Thursday, February 02, 2017

Mula

Selalu ada permulaan untuk sesuatu hal. Tak ada yang tiba-tiba saja mahir, tiba-tiba saja ahli. Dan begitu pula kali ini. Ini adalah permulaan saya hidup di kota lain selain Bandung sebagai keluarga.

Segala rencana tersusun. Segala resiko coba dihadapi. Walau pada akhirnya... segalanya diserahkan pada Alloh.

Wish me... err wish us luck.