Friday, May 20, 2005

Revenge of The Sith, Biasa Aja!

Setelah kejadian tadi pagi cukup menohok ulu hati, aku memutuskan untuk memberi kemewahan untuk rasa penasaranku. Ya, kebetulan di Bandung hari ini diputar Star Wars III: Revenge of The Sith berbarengan dengan di Amerika premiere nya. Oke, pulang dari kantor nanti aku ke bioskop deh.

Aku suka banget, Trilogy Star Wars jaman dahulu, sampai memaksakan diri membeli VCD box set nya yang seharga 175 ribu (waktu itu gajiku 300 ribu, jadi setengahnya aku pake buat vcd itu). Terus pas dibuat trilogy lagi prequel nya aku termasuk yang sangat excited. Dan benar saja, episode awalnya sekitar tahun 2002 "The Phantom Menace" sangatlah menyenangkan, membuat aku sangat menunggu episode berikutnya. Tapi, ternyata era George Lucas telah habis di episode ke 2, "Attack of The Clones", review nya sangat jelek, terus terang sampai sekarang aku belum menontonnya.

Dari mulai tahun ini dibuka, Star Wars episode ketiga, atau terakhir ini sudah dibicarakan dan ditunggu2 banyak orang. Bahkan sampai ada yang sudah antri di bulan Januari itu, padahal film ini baru diputar pagi tadi. Sangat luar biasa. Hal itu lah yang menggelitik curiosity aku, untuk menonton film ini.

Walaupun penyakit nomor satu aku, yaitu masuk angin menyerang dari mulai siang tadi, aku ga peduli. Aku cepet2 ke Ciwalk setelah maghrib, filmnya mulai jam 19:45, masih sejam lebih baru maen. Sialnya, pas udah di mulut bioskop ternyata antrian sudah berdesakan, yah, antri lama deh, padahal pingin makan dulu. Untungnya antrian gak selama yang aku kira (tepatnya aku ngantri selam 50 menit saja, huh!). Aku paksain makan dulu ke Texas, soalnya mau minum Paramex. Udah selesai makan jam 19.40 pintu bioskop belum dibuka, aduh lama banget ya...

Akhirnya aku sudah duduk didalam bioskop, tanpa selingan dan babibu lagi film itu pun mulai. Aduh, diawal, film itu asli membosankan, menceritakan awal Anakin Skywalker mengalami dilema sampai akhirnya memilih sisi gelap. Di lain sisi, aku pun sedang bergelut dengan sisi gelapku, asli, aku sampai kewalahan nahan kantukku. Aku melakukan apa aja biar gak tertidur, dari mulai rubah posisi duduk, ngaduk2 isi tas, sampai akhirnya ngupil. Perbuatanku yang terakhir itulah yang membuat aku menderita penyakit kambuhanku yang kedua, yaitu mimisan, Sialan! Untung lagi aku teringat pepatah dr. Darmariah untuk menutup hidung dan bernapas lewat mulut, jadi gak berlama2.

Barulah setelah kejadian itu kantukku sirna, dan untungnya film sudah mulai menarik minatku, di akhir film ini membuka jawaban teka teki yang akn bertindak sebagai jembatan di episode keempat nanti, "A New Hope". Yah, overall film ini biasa banget, kayaknya effort yang aku keluarkan buat nonton film ini gak sepadan dengan yang aku dapatkan. But once again that's life. You're not always got what you want....

Departed from Part of My Soul

Hari ini aku libur, tapi aku tetap berniat datang ke kantor. Hari ini ada acara feedback --oh gosh hari ini akhirnya datang juga. Sebetulnya di awal-awal aku gak suka acara ini, aku gak suka bertangis-tangisan (baca: menangis di depan umum), dan selain itu, yang paling penting, aku gak pernah suka farewell, walaupun acaranya penuh dengan makan minum atau dansa dansi. Farewell tetaplah farewell.
Tapi, akhirnya aku sadar acara ini penting buat aku, dan juga buat orang lain. Hari ini dimulai dengan aku telat bangun pagi, setelah sholat subuh, jam enam, aku tidur lagi. Dan baru bangun jam delapan, mandi, dan memaksakan sarapan. Walhasil, walaupun aku kebut, tetap aja telat, dateng jam setengah sepuluh. Ruangan meeting lantai sebelas sudah penuh. Hari itu aku sudah siap lahir dan bathin, mau dimaki-maki, mau ditampar sekalipun. Aku pikir, selama bersama partner kerjaku yang berakhir kontrak kali ini, aku merasa banyak berbuat kesalahan, banyak ga sabarnya deh. Ya, aku memang pernah menjadi sarcastic bastard. Jadi wajar kalo aku dimaki, sekalian aku merasa wajib minta maaf.
Tapi ternyata yang aku dapat, jauh dari itu, Dari pertama aku lihat muka mereka di ruangan itu, aku ternyata tersadar, bahwa mereka bahkan akan terlalu santun untuk marah. Yang aku lihat pagi tadi, adalah wajah yang pernah membuat aku tertawa dan terhibur semenjak dua tahun kemarin. Sumpah, aku ngomong begini bukan karena mereka ngomong tentang yang baik2 waktu acara feedback tadi. Perasaan aneh mulai merayap ketika mereka satu persatu memegang mike. Ya, seperti kehilangan apa, ya, aku ga ngerti, mungkin seperti kehilangan setengah dari jiwa.
Akhirnya setelah salaman, untung aku kebagian yang pertama, jadi bisa lebih cepet. Aku pilih menghilang. Kebetulan di lantai enam ada acara ulang tahun kantorku.
So long parts of my soul... May God be with you, always....

Sunday, May 08, 2005

Kingdom of Heaven

Pertama kali liat jadwal film "Kingdom of Heaven" di koran, aku kaget..wuihhh.. udah ada ya, ga ada midnite nya dulu, selain itu di Amerika aja maen nya baru tanggal 6 Mei, duluan disini dong. Aduh pingin nonton nih. Tapi sialnya, klise banget, aku lagi2 sibuk.
Akhirnya kemaren maksain nonton, aku pergi dari rumah jam 2, padahal film baru mulai jam 4. Tapi ternyata hal itu tidak terlalu berlebihan. Asli Bandung macet, sialan ini weekend.. jadi musim turis. Di Ciwalk aku liat loket belum dibuka, baru jam tiga kurang. Tapi daripada entar ngantri aku mendingan duduk di depan loket ah, thank God aku bawa majalah buat nunggu. Untunglah aku ngantri duluan, soalnya ta lama kemudian antrian sudah ngelingker..ihh serem.
Aku tau film ini durasinya lama, jadi aku pikir di awal dilm ini akan lebih story telling, tapi ternyata tidak. Film ini cukup straight to the point, terlalu cepat malah. Mengisahkan sosok yang diperankan oleh Orlando Bloom, seorang tukang besi yang baru tahu kalau ternyata ayahnya (Liam Neeson) adalah seorang bangsawan yang juga komandan tentara perang salib yang akan berangkat ke Jerusalem. Kisah bersetting ketika Jerusalem dipimpin oleh seorang raja kristiani bijaksana akan tetapi lemah fisik dikarenakan penyakit lepra. Selain itu, Jerusalem juga memiliki Baron (tuan tanah mungkin ya) culas yang rakus, mereka suka menyerang kafilah dagang muslim dari Damascus. Perbuatan mereka membuat berang Raja Damascus, Salahudin. Tense memuncak ketika raja mangkat dikarenakan penyakitnya dan sang baron culas semakin lepas kendali yang mengakibatkan perang Kristen - Islam di Jerusalem tak dapat dihindarkan.
Ridley Scott, sang sutradara, tampaknya sangat sadar dia mengangkat sebuah thema yang super sensitif. Dia terasa hati-hati untuk tidak mengedepankan sentimen agama. Scott berusaha meyakinkan penonton bahwa tujuan film ini, menyadarkan bahwa nilai ksatria lebih penting.
Sangatlah sulit menonton film ini tanpa kacamata agama. Tapi menurutku, Scott --sebagai orang barat--sudah cukup memahami filosofi muslim, pendapat ini asli bukan dikarenakan di akhir kisah bangsa muslim berhasil merebut Jerusalem. Dalam hal ini aku berbeda pendapat dengan majalah Premiere. Oh, iya, agak boring juga melihat Orlando Bloom di film perang terus. Tapi secara keseluruhan film ini rame kok, durasi film yang dua setengah jam gak terlalu kerasa.
Oh iya, sekali lagi saran saya, jangan terpaku pada teks ya, memahami film ini juga akan terasa lengkap kalo kita punya pengetahuan sejarah, seperti dimana letak Damascus, Jerusalem, Messina dsb. :) Have fun!

Saturday, May 07, 2005

The Anthology of Being Hurt

After we spent most of our lives to do something that ruin our life but we felt very useful to others, what we hope then? Of course some decent recognition. Or just a simple thanks.
After we spent most of our times to get along with other who we thought would be friends, We hope --well I definitely hope-- a sincere smile would be great.

...too bad
that's the only thing they saw. I just hope
they say all of this long time ago.



But that's not what I got. The other side felt that they had a miserable times. Our siblings felt they being hurt so bad. Gosh, that felt like double stab in my back. Surely in others vision I cut to deep or blow too hard. The App feel so sour this moment.
Too bad, that's the only thing they saw. I just hope they say all of this long time ago. Or anytime but now.
But despite all of this, I'm glad the words just spitted out. I got so much load to think, so much thing to fix. But I'm just curious, what do they get? Some agony satisfaction maybe....

Tuesday, April 26, 2005

Pass By

Beberapa hari yang lalu, seperti hari yang lainnya, aku melakukan kegiatan rutin after work. Di kamar nonton tv, baca apalah. Pulang dari kawinan temenku (malem-malem), ah sudahlah.. aku bukan mau cerita itu.
Pintu diketuk sekitar jam 1/2 10 malem, suaranya sih suara mas yanto, tetangga depan rumahku, cuma dengan kaos singlet dan celana pendek aku keluar. Ternyata mas yanto ngasih tau kalo kucingku tergeletak di depan rumah. Bagai kena petir di siang bolong, aku keluar. Ternyata benar, si Mimil seperti tidur di jalan, aku pegang, ada tetesan darah dari mulutnya, ga banyak, dari memegangnya aku tau dia mati gak lama. Kayaknya ketabrak sesuatu. Aku elus, seolah olah dia masih hidup, aku cium. Terus aku balik lagi ke rumah ngasih tau kakakku, dan seisi rumah lainnya. Kakakku langsung ke luar, dia sayang banget sama si Mimil, sebenernya semua anggota rumah sayang dia.
Aku langsung berinisiatif menguburkan nya. Setelah sekian lama, di kepalaku seperti ada kilatan flashback, gimana dia masih kecil, lincah, dan selalu menggigit kaki orang yang lewat. Sering tidur di sela-sela kakiku di kamar. I feel so drowned. Tanpa sadar aku merasa kehilangan.
So long fluffy!

Wednesday, April 20, 2005

Series of Unfortunate Books! Huh!

Seperti janjiku sebelumnya, aku mau baca buku tentang A Series of Unfortunate Events, itu buku yang dijadiin film, yang maen Jim Carrey, ada reviewnya di situs ini. Sekitar dua mingguan lalu aku ke Gramed beli buku itu, ga ketemu, aku akhirnya tanya ke customer service nya, dia jawab oh, ada pak, ada enam jilid. Aku kegirangan, aku beli semuanya.
Baca buku pertamanya, wah asik, beneran mirip sama yang di film. Aku pingin cepet2 menyelesaikan 6 buku tersebut. Walaupun minggu2 ini aku asli capek karena kerjaan di kantor, sampai nose bleeding segala. Tapi apapun yang terjadi aku tetap baca buku itu. Mengikuti sepak terjang Violet, Klaus dan Sunny yang dikelilingi orang2 bodoh dan sergapan penjahat Count Olaf sangat menegangkan. Sampai akhirnya aku membaca buku ke enam, aduh deg2an gimana tamatnya? Barusan banget aku menyelesaikannya dengan penuh kekecewaan, sampai2 buku itu aku lempar. Kucingku sampai ketakutan. Begitu bodoh dan polosnya aku sampai2 menganggap semua kisah berakhir di buku ke enam!!
Cepet2 aku sambungkan laptop ke line telefon. Buka amazon.com, dan aku langsung lemah lunglai begitu mengetahui kalo buku itu ternyata sudah diterbitkan sampai jilid ke sebelas. Bahkan oktober 2005 nanti baru akan terbit buku ke 12. Oh God! Hilang sudah semua seleraku akan buku itu. Ini seperti memaksa penonton untuk menyaksikan bagaimana Superman mengelak dari Lex luthor, yang pasti menghabiskan banyak episode!!
Shut up Lemony, learn from JK Rowling, dont be greedy. Make just not more than 7 books!!!

Wednesday, April 13, 2005

The Ring Two and All Day Crap

Kemarin Selasa aku libur. Thank God, I really need it so bad!
Bangun jam 10, hp aku silence, sengaja. Pas bangun udah ada 5 missed call, sebagian besar dari kantor. Ah sudahlah. Aku kan lagi liburan. Nonton TV, busyet semuanya acara gossip, dan isinya sama pula. Aneh banyak orang yang suka. Untungnya ada Metro TV. Ada acara menarik, judulnya Hollywood Inc. berisi tentang paparan menarik tentang bisnis film di Hollywood. Lika-liku bagaimana sebuah ide kemudian berwujud jadi sebuah film.
Padahal aku berniat nonton "The Ring Two", sekuel film The Ring yang menurut aku sangat menakjubkan. Entar aja ah nonton yang jam 3 sore. Sesampainya aku di Ciwalk nggak ngantri. Aku pesan kursi J11 kesukaanku. Tapi kali ini pilihan aku salah. Ternyata di belakang aku sederetan dipenuhi anak-anak SMA. Ngga tau sma mana, selintas ngeliat seragamnya sih SMA BPK apa gitu. Kucel, dengan seragam di keluarin (eighties banget ya..) dan ada yang memakai kacamata kotak berlensa cokelat. Pasti dia pikir group band Stinky itu keren, sampai merasa gaya mereka wajib ditiru hi..hi..
Pas film ini mulai nonton, mulai deh anak-anak SMA itu berisik, ya udah deh aku ikhlas, dulu aku juga pernah SMA. Tapi yang bikin aku sebal, kakinya itu lho, nendang2 belakang kursi aku. Sialan! Berkali2 aku nengok ke belakang dengan harapan mereka ngerti, kepala aku pusing, bodoh!
Film ini menegangkan, asli! Bayangan akan sosok Samara, si gadis didalam sumur yang bisa nembus TV itu tetap menyeramkan. Kejutan2nya tetap bikin shock! Asik juga. Tapi jalan ceritanya yang kedodoran. Film ini gak lagi mengandung teka2 yang kuat seperti episode pertamanya. Ga ada lagi plot yang bikin kita berpikir. Si Samara itu ceritanya sekarang merasuki Aidan, anak Rachel, sang tokoh utama. Tapi ga tau lewat gmana, kok ga dari dulu2. Kesannya maksa banget. Tampaknya aku harus bilang: Sequel, Go to hell..
Dan yang bikin aku super kesal adalah, sepanjang film handphone ku sepertinya ga berhenti bergetar. Lagi2 urusan kantor! GRRR, I'm so MAAADD!

Thursday, April 07, 2005

What a Boring Day

Jakarta 14:52
Kemarin, setelah melalui banyak delay, jam 1 siang, jam 4 sore sampai akhirnya jam 7 malem. aku baru pergi ke Jakarta untuk training kerjaan. Nyampe jam 11 dengan kaki pegal. Ga tau kenapa.
Nginep di KC, what a crowded hotel!
Aku sekamar sama temen dari Bandung, ketemuan sama kang wawan, old pal from Semarang.
Dan sekarang melalui training yang menjenuhkan...huahmmm
Tadi pagi sih ga seboring ini. Cuma sekarang aja....
Semoga cepat berlalu zzzzzz...

Monday, April 04, 2005

Miss Congeniality 2..Sorry Sandra..



Kebetulan hari ini aku masuk malem, jam 22 ntar, jadi bisa nonton film dulu di siang hari, horee!! Kali ini film inceran aku adalah Miss Congeniality 2: Armed and Fabulous. Sandra Bullock adalah salah satu favorite aku. Aku berencana nonton yang jam 1, ya, di Ciwalk lagi. Aku baru pergi jam 12:30, sepertinya sudah menjadi kutukan, aku harus pontang panting ngejar jadwal film. Sebetulnya aku berniat mau pergi jam 12, tapi aku kepincut acara tv yang bintang tamunya Taufik Savalas, lucu dan honest, jadilah aku baru pergi dengan waktu mepet.
Hari senin nih, jadi diskon lagi, he..he..
Dari mulai film ini mulai, entah kenapa di kepala aku masih tersisa gambaran jelas episode pertamanya, waktu Gracie Hart (Bullock) ikut ajang Miss USA. Sebagai akibatnya setiap adegan aku banding2kan dengan episode tsb. Film ini mengisahkan tentang Gracie yang sudah tdk mungkin lagi melakukan misi2 penyamaran, karena orang2 sudah terlanjur mengenal dia sbg Miss Congeniality. Oleh karena itu dia ditawari pekerjaan sbg FBI representative, yang kurang lebih kerjanya sama dengan model produk, atau ratu kecantikan. Tapi kemudian muncul berita bahwa Miss USA yang juga sahabatnya, Cheryl diculik. Hal ini membuat Gracie mengambil keputusan untuk menyelamatkannya, walaupun tidak mendapat restu dari pimpinan FBI Las Vegas. Dalam misi ini dia dibantu juru rias baru, dan seorang bodyguard wanita, siapa ya namanya..oh iya Sam Fuller.
Film ini sudah tidak didukung oleh Benjamin Bratt lagi, akan tetapi karakternya--Eric Matthews--masih ambil bagian. Dari awal film ini terasa too sour, hambar. Bukan acting para pemainnya, tapi ceritanya terlalu datar dan membosankan. Sepertinya Sandra tak pernah hoki dengan film sequel. Banyak sih penggalan dialog yang sangat lucu, tapi tetap tak membantu. Secara keseluruhan aku menilai film ini masih sedikit lebih baik dibanding sequel Legally Blond.
Saran dari aku (juga untuk film lainnya), jangan terpaku pada teks. Seringkali teksnya salah atau nggak nangkep makna dari sebuah dialog!!

Friday, April 01, 2005

Fun, Fun, Cheer, Cheer...


Akhirnya pesenan aku dari Amazon datang Kamis kemarin. Emang apa sih yang dipesen, kok girang amat. Kurang dari sebulan lalu aku pesen (niatnya pesenan terakhir selama 8 bulan ini, gerakan ketatkan ikat pinggang bo!) DVD "Bring It On" dan CD Joey McIntyre berjudul "8:09".

Aku yakin banyak orang kalo liat dari kemasan dan judulnya pasti mikir itu selera ABG. Tapi aku gak begitu ambil pusing.
Bring It On sudah aku tonton berkali kali, di bioskop maupun vcd (di sini ga ada DVD nya, sialan dasar distributor untuk film ini kacangan). Aku selalu ketawa. Malah film ini termasuk salah satu therapy penghilang bete versi aku, selain kaset KD Lang, Kobo Chan, dan Civilization III. Memang film ini bertemakan remaja. Tapi themanya jauh dari dangkal. Selain itu untuk ukuran 10 dollar-an, DVD ini kaya fitur, deleted scene, trivia quiz dan klip music "As If" dari Blaque yang jadi soundtracknya.
Themanya seputar cheerleader high school dan tiru meniru, serius tapi dikemas dengan fun bgt! Coba perhatikan scene "spirit finger". Film ini untuk semua kalangan, baik jenis pretty boy maupun hardcore pasti terkagum deh ngeliat gerakan2 di turnamen cheerleading. Sama sekali ga mudah. Kalo aku selain adegan itu, favorite nya adalah pas closing credit, joget asal dan movie mistakes diiringi lagu Bewitched, Mickey. Hillarious!
Kalo masalah Joey McIntyre, coba denger deh, gak sama banget sama jaman2 dia di New Kids On The Block. Ga usah beli denger aja "preview" nya di amazon.com.
Masih pikir ini selera ABG?

Tuesday, March 29, 2005

Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events

Nonton film ini adalah perjuangan. Aku berencana nonton Jim Carrey dari malem minggu kemaren. Trus aku liat jadwal film dong, karena ada kerjaan di kantor, aku putuskan nonton yang jam 19.45 seperti biasa di Ciwalk. Tapi sialnya ak baru keluar kantor jam 19.40, walau aku ngebut juga nyaris ga mungkin nonton. Dan benar saja, malem minggu itu Bandung sepertinya sangat sesak, selain long weekend--yang berarti banyak turis lokal--juga dikarenakan abis hujan. Ya udah aku putuskan kali ini aku tinggal di rumah aja. Males banget harus berdesak2an di jalan.
Ok, hari Minggu aja aku pergi lagi. Aku putuskan pulang kerja, ke Ciwalk lagi, soalnya kalo di tempat lain suka males pulangnya. Jauh. Lagi2 aku pulang jam 19.40, gapapa ah, aku ga keberatan telat dikit. Tapi sialnya setelah tergopoh2 aku nyampe didepan loket, sudah terpampang tanda "CLOSED". Sialan!
Aku coba lagi hari Senin. Entah kenapa aku agak2 bernafsu buat nonton film ini. Untungnya kali ini aku keluar kantor jam 19.00, masih banyak waktu. Eh, ternyata aku lupa, kalo hari senin tuh tiketnya di diskon ya. Setidaknya buah kerja keras aku dibales dengan diskon he..he.. Aku duduk di bangku K11, biar ga ada yang ngganggu.
Film ini ga seperti kebanyakan, disertai narasi dari si pengarang, Lemony Snicket, film ini mengisahkan tiga anak malang keluarga Baudelaire, Violet si ilmuwan, Klaus si kutu buku, dan si bungsu Sunny yang senang gigit2. Film gelap bernuansa gothic ini dimulai dari meninggalnya orangtua anak2 tsb dikarenakan kebakaran yang tidak diketahui penyebabnya. Hal ini pula lah yang mengantarkan mereka untuk dipelihara oleh sanak keluarga jauh yang kejam, Count Olaf (Jim Carrey). Count Olaf ini selain kejam juga aneh, seorang actor wannabe. Dia akan menempuh segala cara untuk menguasai warisan anak2 Baudelaire.
Walaupun film ini kelam, aku merasa film ini fun. Mengikuti cara-cara cerdik anak2 yatim piatu itu menghindari Count Olaf sangatlah menegangkan dan menyenangkan. Kabarnya film ini akan dibuat sambungannya. Tapi aku ga sabar ngikutin ceritanya. Beli bukunya aja ah!

Monday, March 21, 2005

These Happy Golden Years

Inget film "Little House" di TVRI jaman kecil dulu? Iya, yang ada si Laura, nya.. Tau gak kalo film itu sebenarnya dibuat berdasarkan kisah nyata keluarga Ingalls sewaktu Amerika tahun 1800an? Nah, buku yang sudah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa, termasuk bahasa Indonesia itu terdiri atas 11 buku. Semuanya favorit aku yang telah aku baca berulang2 sampai buku itu lecek. Di buku ke-8, These Happy Golden Years (Tahun-Tahun Bahagia) yang menceritakan kisah penting antara Laura Ingalls dan Almanzo Wilder (suaminya kelak), ada kutipan yang sangat aku sukai.
...
"Ada apa?" tanya Laura setelah kuda2 mereka membawa mereka agak jauh dari rumah.
"Begini," kata Almanzo, sikapnya bersungguh2, "apakah kauingin pernikahan kita dirayakan besar2an?"
Laura heran. Mengapa untuk pertanyaan seperti itu saja Almanzo datang dengan begitu mendadak, mengapa tidak dibicarakan di hari Minggu saja. "Kenapa?" tanyanya.
"Kalau kau tidak ingin dirayakan besar2an, bagaimana kalau kita menikah akhir minggu ini atau paling tidak awal bulan depan?" Almanzo bertanya makin bersungguh2. "Jangan jawab dulu sebelum kuterangkan sebabnya. Waktu aku pulang musim dingin lalu, kakakku Eliza langsung saja membuat rencana pesta pernikahan besar2an buat kita, upacara di gereja dan sebagainya. Kukatakan kepadanya kita tak menginginkan hal seperti itu. Kuminta dia melupakan saja rencananya. Pagi ini aku mendapat surat. Ternyata ia masih tetap pada rencana semula. Ia akan datang kemari bersama ibuku untuk merancangkan pernikahan kita itu."
"Oh, jangan!" seru Laura.
"Kautahu Eliza, sekarang Eliza telah pula mempengaruhi ibu untuk ikut mendukung rencanya mengadakan pesta besar2an. Kalau mereka datang kemari sebelum kita kawin, aku tak akan bisa menolak kemauan ibuku. Aku tak ingin pernikahan macam itu. Dan aku memang takkan sanggup membiayainya. Apa pikiranmu?"
Hening sejenak, sementara Laura berpikir. Kemudain ia berkata, "Pa (sebutan Laura untuk ayahnya) juga takkan mampu membiayainya."
"Kalau begitu, bagaimana kalau akhir minggu ini?"
Ya, kalau itu satu2nya jalan menghindari pernikahan besar2an," kata Laura. "Aku akan siap. Awal bulan depan atau akhir minggu ini. Kapan saja kau mau."
...
Wow!

Thursday, March 17, 2005

Get Worse..

Hari ini seperti biasa aku bangun jam 5 subuh. Gak seperti biasanya sakit badan banget. Sepertinya sakit kemarin makin parah di hari ini. (kemarin aku pulang malem, aga kehujanan setelah sebelumnya meeting di ruangan kecil dengan kepulan asap rokok) Tapi aku paksain mandi, pake air anget ah. Tapi ya ampun, udah nya kok aku tetap pusing dan pangkal hidungku jadi sakit banget. Jadi inget temen waktu kuliahku, Rudi Rosa,--kemana ya?--yang dulu sakit hidung, ternyata sinusitis dan harus dioperasi, iih serem.
Akhirnya, setelah aku ngeliat jadwal, aku putusin gak akan masuk, sekarang kan hari Kamis, dokter langgananku, Dr. Darmariah praktek pagi. Jadi aku ke dokter. Barusan banget pulang. Aku diberi intunal, dan amoxcill, untuk sinusitis ku (tuh kan bener).
I hope this thing will get better. Tanggal2 ini kerjaan ku numpuk. Oh....

Wednesday, March 16, 2005

Damn Street

I'm so damn exhausted this morning. Flu mulai menyerang, sudah dua hari. Akibatnya badanku lemah lesu. Padahal sebisa mungkin aku istirahat.
Pagi tadi aku berangkat ke kantor lewat pasteur, padahal aku sudah berikrar bulan-bulan ini gak bakalan lewat pasteur di pagi hari. Macet berat! Apalagi setelah kejadian Senin kemarin, aku pergi jam 1/2 tujuh dan macet di jalan itu dari ujung lampu merah mulut tol sampai dengan lampu merah pasirkaliki. Hal itu menyebabkan aku berjuang mencari jalan alternatif ke Husein sampai viaduct, tapi tanpa hasil.
Pagi tadi aku berangkat jam 6. Aku pikir kalo lewat pasteur jam seginian ga akan macet, tapi eh..tetep aja, emang jauh kalo dibandingkan kemacetan di hari senin yang menjengkolkan itu.
Selidik punya selidik, ternyata hal itu disebabkan pembangunan jalan layang, yang menyempitkan jalan monyong itu. Oh aku sangat berharap jalan itu cepat selesai..

Saturday, March 12, 2005

Hitch, Feeling Gooood Movie!


Aku barusan nonton film Hitch , seperti biasa di Ciwalk. Sebenernya sumpah gak ada niat. Setelah tadi siang jalan2 di terik matahari, yang sepertinya jauh lebih panas dibanding biasanya, aku males keluar rumah lagi. Setelah nonton rugrats aku langsung terlelap. Tapi aku gak tahan godaan pergi keluar setelah maghrib buat nyari CD, atau kaset juga gapapa,
SHE, group band temen es-em-a. Abisnya aku cuma sekali denger di hardrock dan liat klipnya di MTV, lagunya "Tiada Lagi" aku suka.
Setelah sampai di Ciwalk dengan melewati kemacetan yang bertubi-tubi, di gegerkalong, setiabudhi, dan akhirnya Cihampelas, aku gak buru2, windows shopping dulu, liat2 sepatu--mahal ah, sampai akhirnya ke M Studio. Sayangnya album itu ga ada, sebenerya aku pingin banget punya, tapi malas mengalahkan segalanya. Jadi niat aku ke Aquarius disimpan buat entar. Kemana lagi atuh ya, masa pulang, akhirnya aku muter dulu di toko kaset itu, sempet tergoda dengan albumnya George Michael dan Anastacia, tapi engga ah, aku lagi berhemat.
OK, kalo gitu ke atas, ke bioskop, sekarang baru jam delapan, kali aja ada film yang belom maen--tadi pagi aku ga liat jadwal film di koran. Ternyata aku lagi beruntung, tinggal satu film yang belum maen, baru diputer 20.15 yaitu film Hitch. Padahal tadi feelingnya sih ke film Robots, tapi udah maen tadi jam 7an.
Sebenernya film ini udah agak lama maen di Bandung. Tapi aku agak ga tertarik,

pertama, posternya, sumpah jelek banget, ga mencitrakan sebuah film, asli cuma menjual Will Smith.
Kedua, Will Smith, aku ga terlalu ngefans, padahal film2nya ga jelek sih, bahkan aku suka film terakhirnya, I, Robot, ga tau kenapa.
Ketiga, review film ini menilai film ini bagus, tapi ga bagus banget, hampir semua dari mulai eonline, premiere, boxoffice magz, sampai usatoday.
Tapi semua keragu2an itu terhapus sejak menit pertama aku nonton film ini. Lucu! Opini2 nya di awal film tentang sifat wanita, dan cara mempesonakan hatinya sangat menggelitik. Jadi film ini menceritakan tentang seorang "love doctor" yang mengajarkan pria kikuk, geek, loser , agar bisa menawan hati perempuan yang dicintainya. Yang menarik dari film ini, Hitch--karakter yang diperankan Will Smith-- berpendapat bahwa man kalau sudah memiliki NIAT untuk mencintai seseorang tinggal mencari cara yang tepat untuk menarik perhatian kecengannya, dan itu harus dilakukan dengan tepat, karena kalau tidak, bisa jadi akan lepas untuk selamanya. Dengan kata lain, Hitch tidak menerima "pasien" yang tidak berniat untuk mencintai wanita, apalagi yang berniat hanya untuk meniduri wanita.
Film ini semakin lucu ketika Hitch tertarik kepada seorang kolumnis gossip cantik, Sara, yang diperankan oleh Eva Mendes dan ketika dia menemukan seorang pasien bernama Albert, pria gemuk dan super kikuk yang meminta bantuannya untuk menundukan hati Allegra, seorang selebriti. Sangat mencengangkan bila kita melihat ide2 yang digunakan untuk menarik hati mereka. Smart, genius and hillariously funny!
Walau agak melemah di akhir , tetap saja film ini masih menyenangkan , apalagi ditutup dengan adegan joget gila2an semua karakternya. Oh, soundtrack film ini juga asyik, terutama lagu Incognito "Don't You Worry bout The Thing" yang dinyanyikan kembali oleh John Legend, ada di scene ketika Sara dan Hitch bermain jetski di Hudson river.
Highly recommended ditonton bersama pasangannya, tapi ditonton sendiri (seperti aku) juga asik kok. So, selamat berhaving fun!

Wednesday, March 09, 2005

10 Things You Do When You're Freakin' Lonely

(1) Baca buku favorite ku, "Almanac of World History", tapi pas sampai bab Perjalanan Chris Columbus, geuleuh, karena mereka yang katanya terinspirasi oleh Marcopolo, malah menjelajah samudera demi emas dengan menjajah penduduk setempat. Jauh banget dari The Great Marco..
(2) Nonton TV, semuanya berisi sinetron tolol tentang remaja. Turn It Off..Please! Oke, kalo gitu nonton DVD, aku pilih trilogy Lord of The Rings, tapi aku udah apal hampir semua dialognya. Saking seringnya film itu aku tonton.
Gandalf : Run! You Fools...
(3) Denger radio, kemarin2 sih Akay lucu, sekarang bosan. Sempet terharu juga ketika dia nyanyi Hymne SMA 2. Tapi malah bikin semakin lonely.
(4) Telfon Inge. Bodoh! dia malah nyuruh aku nemenin dia jaga warung.
(5) Suruh Candra nyusul ke kamar. Mana bissa.. kayaknya dia udah lupa punya rumah di seberang rumahku. Belom pulang, kata si Anggi, dia malah nambahin minta ring back tone dong. Malah bikin aku semakin sebal..HUH!
(6) Telfon temen lainnya. Emang aku punya?
(7) Maen game. Udah bosen semua. Ada yang belom bosen maennya susah! Males banget.
(8) Browsing internet. Kan tadi di kantor udah.. Kalo gitu nyari situs lain atuh, kan banyak. Kalo lagi ada yang dicari sih emang rame. Liat blogger juga sedih, soalnya tadi aku posting soal Farewell.
(9) Oke, ini ga pernah gagal. Puter kasetnya KD Lang, Fast Forward sampai lagu 'Outside Myself'. Sial, malah inget Yudi, Romelle-rest in peace, honey-, dan someone in Semarang. Kok masih gagal ya??
(10) TIDUR! No..no..no ini kan baru jam 8! So..WHATEVER!

Good Bye Guys

Hari ini adalah hari terakhir 3 teman ku di kantor. Dulu kita masuk bareng ke call center tercinta ini.
Training di Milennium bareng, juga bobolokot leutak bareng di Situ gunung
bersama.


sampai saat ini aku sumpah masih banyak belum paham soal bos yang satu ini. Selain
memang jarang shift bareng, asli pria besuara dalam, sangat dalam (bukan celana)
ini memang jarang ngomong. Kalo ngomong nyaris tak terdengar (sorry nya Ndra).
Aku pikir emang mungkin dia ga suka ngobrol, terlebih2 aku memang termasuk kategori cerewet. Tapi di akhir2 aku mulai tau karakter bapak ini. Sebenernya asli baik, sering ngebantu, walau pendiam bukan berarti tdk partisipatif. Gebuk bantal mah hayu wae. Tapi tetap aku aku masih misterius soal banyak hal, tentang apa yg disuka atau ga suka. Anjir hese pisan neangan kado jang maneh :)


kalo ibu yang satu inih mah, dari pertama ketemu--kebetulan segroup sama aku pas training outbond--sudah yakin, pasti gak bakalan nemu banyak masalah, baik itu kerjaan ataupun cuma sekedar gawl sama rekan kerja atau orang lain. Favourite temen2 officer lainnya.
Soalnya ga pernak jutek ke semua orang.

Cihuy lah. Selamat jalan ya ke!
Perusahaan bodoh lah yang sampai nolak kamu. Tong hilap kuliahnya beresin ya :)



Sejujurnya pas pertama kali ketemu aku menganggap bos thomas ini sombong! Tapi ternyata jajauheun. Dia itu super unik! Pokonya urusan tentang komputer mah gak
bakalan nyasar lah..
Kumaha mun muka usaha wiraswasta yang berhubungan dengan komputer, mas? Payu lah...


Selamat jalan semuanya. Call center will never be the same without you all, guys!
Good Luck... Jgn jadi sombong kalau jadi orang sukses ya!

Tuesday, March 08, 2005

Greedy Neighbour

Lumayan kaget, ketika liat berita tentang usaha sang tetangga, Malaysia "mencaplok" blok Ambalat. Bukan kaget sih, tepatnya sebal! Ok, reaksi tsb mungkin disebabkan oleh Nasionalisme aku sebagai orang Indonesia. Mungkin itu reaksi yang emosional, soalnya aku belum tau titik pangkalnya.
Tapi mungkin ngga juga, ya, kalo diurut, ketika ada masalah TKI ilegal, aku ngerti. Mereka memang berhak, walau oke lah mereka pake cara apa pun mau kasar, penjara, kejar2an, gaji gak dibayar. Ok, walau gak classy, aku bisa ngerti, dan tetep gak nyalahin mereka.
Tapi pas masalah ini, aku beneran sebal! Kok mereka sombong. Aku ga ngarepin mereka mengasihani kita bangsa Indonesia dengan dalih satu suku bangsa. Hell with that!
Mungkin mereka harus diingatkan tentang keserakahan dan keangkuhan mereka dengan benc... ups.. aku gak boleh mendoakan begitu. Mungkin Malaysia cuma sekedar tetangga yang menyebalkan.
Monyong! Brengsek! (maaf aku gak tahan..)

Anak2 These Days

Dulu, zaman aku kecil, zaman normal. Sekolah adalah saat menyenangkan. Pergi sekolah pagi2 jalan kaki, kadang di tengah jalan suka ketemu temen yang lain. Sudah sekolah, ya maen. Kalo aku sukanya naek sepeda, nyair (cari ikan di sawah/sungai pake saringan-red), dan mainan seru lainnya. Pulang ke rumah agak sorean (thank GOD aku gak pernah disuruh tidur siang), ngaji pas maghrib di mesjid (plus ngegangguin santri cewek atau gulat2an di mesjid, dan dimarahin sama bapak2 mesjid), terus nonton TV atau maen lagi. Belajar kalo ada PR atau mau ulangan aja, kadang juga ngerjainnya sama temen2--dulu namanya kerja kelompok.
Tapi aku sedih kalo liat ponakanku sekarang. Pergi dianterin atau pake jemputan soalnya sekolahnya jauh, sendirian, soalnya anak-anak tetangganya sekolahnya pada beda2, ada yang di sekolah A, B dsb. Belajar sampai siang, pulang jam 2an dijemput, di mobil pasti tidur, selain cape juga maccett! Baru istirahat sebentar disuruh ngaji, pake mobil lagi --walau ga sejauh sekolahnya-- trus pulang jam 5an. Selepas maghrib ngerjain PR, yang seringkali seabreg, kalo ga bisa dimarahin ibunya. Gak jarang belajar sambil nangis.

Untungnya hari Sabtu dan Minggu dia libur, jadi bisa main di rumah. Untungnya lagi, dia lumayan akrab sama temen-temen di kompleknya walau ga satu sekolahan, jadi bisa maen sepeda2an, tamiya, atau PS barengan. (Jangan harap mereka tau apa itu nyair, dan permainan tradisional lainnya). Kalo ponakan yang di Jakarta boro2 mau maen sama tetangganya..orang ga kenal.
Duh.. cape banget ya jadi anak sekarang. Aku ga ngerti apakah ini tuntutan zaman atau buah kekhawatiran para orang tua akan masa depan anaknya. Aku selalu berpikir, menjadi anak2 itu kesempatan yang hanya satu kali, jadi biarkan mereka bersenang2 dengan aturan bukan kekangan dan tekanan. Sekolah di deket rumah gak berarti lebih jelek dari sekolah unggulan. Bermain bukan berarti ga belajar.Seringkali dari obrolan sesama teman anak2 belajar banyak hal.
Bahasa Inggris?tenang aku dan banyak temen seperti aku juga belajar dgn sendirinya kok. Hal ini juga yang membuat aku senang bekajar bersama mereka. Mendengar cerita mereka sangatlah menyenangkan.

So, kids you can mess my room anytime you all want!

Raincoat

Sudah berminggu-minggu di Bandung sini turun hujan terus, terutama kalo udah sore jam 3an hampir dipastikan awan hitam berarak menandakan hujan kan datang (gaya gini he2). Hal itu berarti pas abis jam kantor aku males pulang. Soalnya aku naek motor, enggan rasanya harus berbasah2 ria. Biasanya aku tungguin dulu hujan agak reda, baru deh pulang. Tapi seringkali juga gak peduli, habisnya hujan gak buat ditungguin, mungkin baru berhenti selepas tengah malem. Mau nungguin sampai kapan.
Gara-gara itu, aku udah siap-siap bawa raincoat alias jas hujan. Dulu mana mau aku pake raincoat, payung atau perangkat hujan lainnya. Paling banter jacket, itu juga kalo bisa males pakenya. Tapi sekarang ga ada pilihan lain, aku harus punya raincoat! Dikarenakan aku ga mau pake jas hujan yang "kekeleberan" alias tipis (percuma kan) atau loreng-loreng (anjrit BIG no no) atau tebel banget kayak baju zirah, mulailah aku berkelana mencari raincoat yang agak-agak gaya.
Pencarianku dimulai di Giant--bukan supermarket-- tapi toko yang jualan alat-alat naek gunung yang ada di Jl. Progo. Semuanya standar, model 2 pieces. Bukannya ga mau, tapi pasti ga muat di bagian pantat dan beuteng. Ada sih yang cuco' tapi 300rb, gelo kali! Terus aku ke Eiger, dan Dody yang di BIP, tetep ga nemu. Akhirnya aku pasrah, beli jas hujan di Rumah Kita, BEC cap naon ya, lupa lagi, kalo ga salah sih cap macan. Sumpah, jauh dari gaya! Maafkan aku Vivienne Westwood, John Galliano, Marc Jacobs dan dewa-dewa fashion lainnya.