![]() |
| taman belakang |
![]() |
| taman depan |
![]() |
| Pohon lengkeng. Tanaman pertama yang aku tanam di rumah ini |
![]() |
| taman belakang |
![]() |
| taman depan |
![]() |
| Pohon lengkeng. Tanaman pertama yang aku tanam di rumah ini |
Big Whiskey and The GrooGrux King - Dave Matthews Band. DMB merupakan band rock yang sangat Amerika. Grup ini memiliki vokalis, bassist, drummer yang merangkap backing vokal, ditambah dua orang saxophonis dan seorang pemain biola. Hal yang tidak biasa untuk sebuah grup rock. Aku berkenalan dengan DMB kala zaman MTV pertamakali booming di Indonesia. Single yang sangat tak mudah dilupakan adalah Ant Marching. Lagu favorit saya di album ini adalah Funny The Way It Is dan Lying In The Hands of God. Album ini merupakan album pertama pasca kematian sang pemain saxophone utama, LeRoi Moore akibat kecelakaan kendaraan. Entah kenapa lagu-lagu di album ini, walau sebagian penuh beat, tapi seperti berisi ratapan persembahan DMB untuk LeRoi. Gesekan biola dan rintihan saxophone seperti menyayat hati. Apalagi lirik lagu Lying.. sangatlah relijius. Relijius in DMB way.
Ingenue - KD Lang. Album ini sudah menjadi teman galau saya sejak tahun 1992. Saya kenal KD Lang ini, karena nonton TV acara Grammy Award, dimana KD Lang terpilih sebagai artis pendatang baru terbaik. Pas dia dipanggil, diiringi lagu yang menurut saya sangat catchy tapi sangat enak di telinga. Setelah punya kasetnya, kemudian saya tau lagu itu adalah Constant Craving. Hampir semua lagu di album ini sangat sangat cocok untuk teman galau. Tapi favorit saya adalah Constant Craving, Season of Hollow Soul, Save Me, dan Outside Myself. Liriknya sangat personal ditambah melodinya yang sederhana tapi kaya akan alat musik petik, seperti gitar, banjo dan entah apa lagi. Diproduseri oleh Ben Mink. Aku baru tahu beberapa tahun kemudian kalau KD Lang ini lesbian, bahkan termasuk aktivis persamaan hak. So What, sih sebetulnya hehehe. Kenyataan apapun tidak akan mengubah persepsi aku kalau album ini adalah salah satu album terbaik yang pernah aku punya.
Moulin Rouge Original Soundtrack - Various Artist. Ok, album ini saya pilih karena lagu-lagu didalamnya merupakan gambaran yang sangat tepat untuk melukiskan filmnya. Glamour sekaligus satir. Walau penuh irama high tempo, lagu-lagunya cukup tepat sebagai teman galau. Kecuali Lady Marmalade-nya keroyokan Pink, Aguilera, Mya dan Lil' Kim, semua lagunya yang mayoritas remake lagu-lagu terkenal seperti menyiratkan kesedihan. Favorit saya: One Day I'll Fly Away, Your Song, Come What May. Oh iya, di album ini juga ada lagu Because We Can-nya Fatboy Slim, DJ yang sempat terkenal dan membuat aku suka lagu-lagu aneh techo ala tempat clubbing. Tapi entah kemana, sepertinya sekarang namanya tak terdengar lagi.
Pertama mengenal Alejandro ini, adalah pas duet sama The Corrs menyanyikan The Hardest Day yang ternyata adalah versi inggrisnya dari lagu Me Ire. Nyaris tidak ada irama gembira di album ini. Lagu-lagu sedih diperparah oleh timbre Alejandro yang sangat Spanyol, berat dan agak greasy, garinjul bahasa sundanya mah. Suara seperti ini menurut teman perempuan saya sih terdengar seksi, katanya. Hemmm, gak salah juga sih. Rekomendasi saya adalah lagu: Me Ire, Cuando Nadie Me Ve. Eh, ternyata saya pernah nulis album ini beberapa tahun lalu disini.
yang terakhir adalah Time & Again: The Anthology Part II - Bobby Caldwell. Sebetulnya, menurut aku semua album, yang manapun itu, cocok buat menggalau. Ini pengaruh dari suaranya Bobby Caldwell yang cenderung sedih. Ditambah lagi irama damai yang menghanyutkan. Duh, jadi inget memori tahun 1990 dulu dimana saya masih dua SMP dan sangat ngefans sama Bobby Caldwell dan juga Michael Bolton. Susah payah menabung demi membeli album mereka. Sebelum tabungan terkumpul, pulang sekolah, biasanya aku nyebrang ke supermarket depan sekolah buat sekedar meliat2 album itu, bahkan kalo sudah ada cover yang dibuka bisa dicoba dulu hehe. Eh iya, lagu favorit saya di album ini: What You Won't Do For Love, Where Is Love, Next Time (I Fall), Without Your Love, dan tentunya Heart of Mine. Album ini sebetulnya album kompilasi kedua, setelah album Timeline, yang sama kerennya.
Minggu kemarin aku di Bandung. Karena kebetulan bisa kumpul bareng keluargaku, aku nonton bareng keponakan2 ke Ciwalk. Sempet bingung mau nonton film apa. Ada tiga kandidat: Lorax, Hunger Games atau The Raid. Kemudian mengerucut menjadi dua pilihan, Hunger Games atau The Raid. Dua-duanya lagi hot di twitter. Aku lebih milih The Raid, soalnya dari bulan2 sebelumnya film ini sudah ngetop buzzing nya. Film Indonesia yang mencuri perhatian di festival independent film di Canada sana. Bahkan film ini diputar di major theaters di Amerika berbarengan dengan di Indonesia. Tapi kemudian, kita memilih Hunger Games. Biarlah The Raid aku tonton di Palembang saja. Akhirnya kami menonton film Hunger Games yang aku pikir akan menjadi film action sejenis Narnia tapi lebih mature. Ternyata kami semua kecewa. Film ini berpotensi menjadi another Twilight. Jenis romance yang lebih cocok buat kalangan perempuan saja, menurutku.
Seminggu kemudian. Sore tadi, tepatnya. Aku akhirnya nonton The Raid. Judul aslinya adalah Serbuan Maut. Kemudian diubah agar sesuai dengan penonton internasional menjadi The Raid: Redemption. Sebelum nonton, jauh-jauh hari aku sudah baca review, maupun cerita dibelakangnya via internet dan Movie Monthly, majalah kesayanganku. Tomatometer di rottentomatoes pun cukup baik, 85%. Aku makin excited.
Tibalah saatnya aku menonton film itu. The Raid bercerita tentang pasukan gegana (semacam SWAT) yang beranggotakan tentara baru bertugas untuk menumpas sebuah gedung bertingkat yang merupakan markas penjahat. 5 menit pertama tak terlalu banyak basa-basi. Adegan sadis tembakan jarak dekat di kepala diumbar dengan leluasa. Satu jam lebih durasi film ini penuh dengan adegan yang tak jauh beda. Koreografi laga indah sekaligus mematikan bercampur dengan tembakan dan muncratan darah.
Terus terang aku agak takut. Sambil nonton aku memegang handphone, twitteran, untuk menetralisir rasa tegang. Selain adegan sadis, kata-kata kasar menghiasi film ini. Mungkin kita terbiasa dengan dialog penuh kata fu*k di film amerika. Tapi kata anj*ng di film ini sangat mendobrak rasa nyaman. Tentu saja karena kata itu lebih mengena dengan keseharian kita.
Secara teknis , terutama koreografi adegan kelahi di film ini sangatlah mengagumkan. Dan agak berbeda dengan film action barat yang sering aku lihat. Koreografinya lebih mematikan. Dan aku agak kaget melihat adegan pencak silat yang indah ternyata bisa sangat sangat berbahaya. Adegan favorit aku adalah pertarungan antara Mad Dog (Yayan Ruhian) dengan Jaka (Joe Taslim).
Tapi secara overall aku sangat khawatir dengan film ini. Sebelumnya, satu hal yang penting menurut aku adalah, sebuah karya seni itu haruslah memiliki tanggungjawab kepada penontonnya. Tak harus memiliki pesan. Kalaulah sebuah film bermuatan kosong (dan tidak memberi hal negatif) tapi menghibur dan memberi perasaan senang, film itu sudah cukup bagiku. Apalagi karya tersebut indah, pesannya positif dan memberi manfaat buat penontonnya, film itu benar-benar sebuah karya yang hebat.
Dilihat dari kacamata tersebut, bagiku film The Raid gagal mengemban tanggungjawab sebagai karya yang positif. Hal ini diperburuk dengan kenyataan lemahnya (baca: tidak adanya) fungsi kontrol dari pemilik bioskop. Tak ada filter dari mereka untuk menyaring usia penonton berdasarkan kategori filmnya. Memang aku melihat tulisan: “The Raid film eksen khusus dewasa, disarankan untuk tidak membawa anak-anak!!” (ekseenn, hehehe). Tapi itu tidak cukup menurutku. Aku masih melihat penonton anak-anak di deretan kursi penonton film ini. Sungguh bersyukur aku gak jadi membawa keponakan2ku nonton film ini. Walau mereka sebenarnya sudah usia SMA.
Mudah-mudah ini bisa menjadi pelajaran buat semuanya. Terutama insan film Indonesia. Film ini sangat hebat di beberapa hal, kok. Ayo pembuat film, buat yang hebat dan berguna! Bisa kok!
While You Were Sleeping (1995). Film Sandra Bullock setelah Speed. Aku masih inget dulu nonton di BIP (Bandung Indah Plaza). Bela-belain pulang ke Bandung (kala itu kos di Jatinangor). Menceritakan tentang Sandra Bullock sebagai Lucy, seorang penjaga peron di stasiun kereta api di Chicago. Dia hidup sebatang kara. Karena tanpa keluarga itulah, Lucy sering diminta masuk kerja di hari libur Natal. Di hari itu pula dia menyelamatkan seorang pria ganteng yang jatuh ke rel kereta api, dan Lucy menyelamatkannya. Pria itu, Peter (Peter Gallagher) pun kemudia koma. Lucy mengaku sebagai tunangannya. Masalah semakin rumit ketika ternyata Peter memiliki keluarga besar. Keluarga yang tak pernah dimilikinya.
As Good As It Gets (1997). Menceritakan tentang Melvin (Jack Nicholson), seorang penulis sarkastis penderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder)> Melvin ironisnya seorang penulis buku romance. Seperti penderita OCD lainnya, Melvin suka akan keteraturan dan kebersihan. Makanya Melvin membenci tetangga gaynya (Gregg Kinnear) yang memiliki anjing lucu tapi sering pipis di koridor apartemen. Melvin juga wajib sarapan di Cafe dan harus dilayani oleh Carol (Helen Hunt).
terakhir, One Fine Day (1996). George Clooney dan Michelle Pfeiffer. Dua nama yang hot di tahun 90an. Dan bayangkan keduanya dalam satu film. Menceritakan tentang Jack seorang wartawan dan Melanie seorang arsitek. Mereka masing-masing bercerai dan memiliki satu anak. Nah anak-anak mereka itu teman sekelas. Di suatu hari yang hectic, keduanya secara tak sengaja tertukar hanndphone. Jadi masing-masing terpaksa harus saling berkomunikasi, walau di awal sempat terlihat saling membenci.
Serial ini merupakan serial terbaik Emmy Award 2010 di season pertamanya! Menceritakan keluarga Amerika modern. Detail pilot, karakter dan casting bisa dilihat tautan wiki ini. Penulis naskah serial ini jenius. Dialognya sangat lucu sekaligus pintar. Sumpah, mengetiknya saja membuat aku merinding. Serial ini menceritakan keseharian keluarga normal, dan karakter yang tidak mengawang-awang. Satu hal lagi yang aku hormati adalah: tidak ada ketidaksenonohan di serial ini. Memang ada pasangan gay Cam dan Mitch. Tapi tidak ada ciuman berlebihan, ketelanjangan, umpatan kasar disini. Sebuah hal yang menyenangkan setelah kita diracuni serial semacam Weeds, Hung, Californication, dan lainnya.
Sudah season ke-3. Awalnya aku mencari serial ini lebih karena disebabkan: Nathan Fillion. Ya, aku penggemar berat film Serenity dan serial Firefly yang dengan sadis dicut begitu saja di season pertamanya. Penasaran akan jadi apa dia di serial ini setelah sukses menjadi Kapten Malcolm Reynolds.
Yang ini samasekali bukan komedi. Dari judulnya saja kita sudah tau. Menceritakan BAU (Behavior Analysis Unit) memecahkan kasus yang mayoritas tentang pembunuhan. Beda dengan CSI yang mengandalkan evidence alias barang bukti, serial ini menganalisa pola pikir dan latar belakang si pelaku.