Sunday, April 01, 2012

NontonThe Raid: Redemption. Jangan Bawa Anak-Anak!

Minggu kemarin aku di Bandung. Karena kebetulan bisa kumpul bareng keluargaku, aku nonton bareng keponakan2 ke Ciwalk. Sempet bingung mau nonton film apa. Ada tiga kandidat: Lorax, Hunger Games atau The Raid. Kemudian mengerucut menjadi dua pilihan, Hunger Games atau The Raid. Dua-duanya lagi hot di twitter. Aku lebih milih The Raid, soalnya dari bulan2 sebelumnya film ini sudah ngetop buzzing nya. Film Indonesia yang mencuri perhatian di festival independent film di Canada sana. Bahkan film ini diputar di major theaters di Amerika berbarengan dengan di Indonesia.

Tapi kemudian, kita memilih Hunger Games. Biarlah The Raid aku tonton di Palembang saja. Akhirnya kami menonton film Hunger Games yang aku pikir akan menjadi film action sejenis Narnia tapi lebih mature. Ternyata kami semua kecewa. Film ini berpotensi menjadi another Twilight. Jenis romance yang lebih cocok buat kalangan perempuan saja, menurutku.

Seminggu kemudian. Sore tadi, tepatnya. Aku akhirnya nonton The Raid. Judul aslinya adalah Serbuan Maut. Kemudian diubah agar sesuai dengan penonton internasional menjadi The Raid: Redemption. Sebelum nonton, jauh-jauh hari aku sudah baca review, maupun cerita dibelakangnya via internet dan Movie Monthly, majalah kesayanganku. Tomatometer di rottentomatoes pun cukup baik, 85%. Aku makin excited.

Tibalah saatnya aku menonton film itu. The Raid bercerita tentang pasukan gegana (semacam SWAT) yang beranggotakan tentara baru bertugas untuk menumpas sebuah gedung bertingkat yang merupakan markas penjahat. 5 menit pertama tak terlalu banyak basa-basi. Adegan sadis tembakan jarak dekat di kepala diumbar dengan leluasa. Satu jam lebih durasi film ini penuh dengan adegan yang tak jauh beda. Koreografi laga indah sekaligus mematikan bercampur dengan tembakan dan muncratan darah.

Terus terang aku agak takut. Sambil nonton aku memegang handphone, twitteran, untuk menetralisir rasa tegang. Selain adegan sadis, kata-kata kasar menghiasi film ini. Mungkin kita terbiasa dengan dialog penuh kata fu*k di film amerika. Tapi kata anj*ng di film ini sangat mendobrak rasa nyaman. Tentu saja karena kata itu lebih mengena dengan keseharian kita.

Secara teknis , terutama koreografi adegan kelahi di film ini sangatlah mengagumkan. Dan agak berbeda dengan film action barat yang sering aku lihat. Koreografinya lebih mematikan. Dan aku agak kaget melihat adegan pencak silat yang indah ternyata bisa sangat sangat berbahaya. Adegan favorit aku adalah pertarungan antara Mad Dog (Yayan Ruhian) dengan Jaka (Joe Taslim).

Tapi secara overall aku sangat khawatir dengan film ini. Sebelumnya, satu hal yang penting menurut aku adalah, sebuah karya seni itu haruslah memiliki tanggungjawab kepada penontonnya. Tak harus memiliki pesan. Kalaulah sebuah film bermuatan kosong (dan tidak memberi hal negatif) tapi menghibur dan memberi perasaan senang, film itu sudah cukup bagiku. Apalagi karya tersebut indah, pesannya positif dan memberi manfaat buat penontonnya, film itu benar-benar sebuah karya yang hebat.

Dilihat dari kacamata tersebut, bagiku film The Raid gagal mengemban tanggungjawab sebagai karya yang positif. Hal ini diperburuk dengan kenyataan lemahnya (baca: tidak adanya) fungsi kontrol dari pemilik bioskop. Tak ada filter dari mereka untuk menyaring usia penonton berdasarkan kategori filmnya. Memang aku melihat tulisan: “The Raid film eksen khusus dewasa, disarankan untuk tidak membawa anak-anak!!” (ekseenn, hehehe). Tapi itu tidak cukup menurutku. Aku masih melihat penonton anak-anak di deretan kursi penonton film ini. Sungguh bersyukur aku gak jadi membawa keponakan2ku nonton film ini. Walau mereka sebenarnya sudah usia SMA.

Mudah-mudah ini bisa menjadi pelajaran buat semuanya. Terutama insan film Indonesia. Film ini sangat hebat di beberapa hal, kok. Ayo pembuat film, buat yang hebat dan berguna! Bisa kok!

6 comments:

Anonymous said...

Film sampah ah ga ada sama sekali positifnya kok...

dhyah said...

waaaahhhh.. de annur malah pengen ntn the raid.. dan ada di bioskop taiwan.. horeee.. jadi akan menonton :D
hemmm.. tp aneh aja klo ada anak2.. itu kn emang tipikal eksen sadis2 gt ya...
oiy,, de annur jg ntn the hunger games.. berhubung tmen de annur baca bukunya jadi tertarik,, dan so far emang cocok kynya kalo dipadanin sama twilight.. hehehe

hijau said...

di Amerika rating film ini memang "R", buat penonton dewasa. Jadi kalo menurut a dodi, kalo buat penonton dewasa, masih masuk akal. Sudah bisa memilah dengan sadar.

Tapi asik juga ya, di Taiwan ada film indonesia segala. hehehe. Coba dnur tonton, sebagai sesama penggemar film Dexter, pingin tau juga pendapat de annur hehe.

Tentang Hunger Games, aduh, banyak banget bolong ceritanya. Apa karena novelnya kepanjangan kalo difilemin kali ya?! Misalnya pas si Josh Hutcherson tangannya luka, ga diceritain kenapa2nya. :D

caironsik said...

kangen bioskop, can pernah deui nonton di bioskop sejak bulan nopember gara2 boga orok. pd akhirnya maksakeun nongton versi bajakan hasil donlot :(

caironsik said...

oh enya, "woman in black" rame mas Dod... saya nongton di DVD wae ge nepi ka deg-degan. kuntilanak versi english..

hijau said...

hahaha, sok atuh curi2 waktu, jang refreshing. Urang donlot mah mun film seri. Film bioskop mah jarang donlot.

Woman in Black teh, si Daniel Radcliff nya? (Harry Potter) tea?? asa rada hoream. Tapi mun sieun mah jadi tertarik ketang.