Friday, May 25, 2018

Aku dan Candra


Gara-gara nanya judul buku berkemah yang biasa kita baca waktu kecil dulu, akhirnya aku terlibat dalam chatting nostalgia tak berkesudahan dengan Candra, sahabatku dari zaman aku kecil dulu. Sontak saja memori demi memori zaman dahulu meluncur deras mengundang gelitik kelucuan.

Candra pindah ke Sarijadi saat kami kelas 3 SD. Tak lama setelah itu kami pun bersahabat. Sampai kemudian rumahnya bisa dibilang jadi rumah aku juga hehe. Banyak hal yang kita lalui bersama-sama sampai bertahun-tahun kemudian. 

Aku bisa naik sepeda diajarin Ujang, tetangga yang lebih tua. Tapi lancarnya bareng Candra. Apalagi pas Candra punya sepeda, warna hitam bermerk Marubeni. Kita sering boncengan jalan-jalan ke semua blok di Sarijadi. Boncengan karena aku gak punya sepeda hehe. Bertahun kemudian, Candra juga lah yang mengajarkan aku naik motor, pake motor vespanya Papap, ayahnya Candra. Walau gak punya SIM, kita sering jalan-jalan ke Pasteur.


Kami tidak pernah satu sekolah, baik SD sampai kuliah. Jadi kegiatan kita memang di rumah saja. Bahkan rasanya, selepas waktu sekolah, aku lebih sering menghabiskan waktu di rumahnya Candra. Ruang keluarganya seringkali kami jadikan tempat ngobrol kesana kemari. Kadang bersama Mamah, Papap dan Anggia, kakaknya Candra. Bahkan aku memiliki spot khusus di sofa cokelat. Spot favorit dekat TV. Hahaha.


Candra punya kucing, yang seingatku walau sering berganti, namanya tetap Barong. Ceritanya yang suka kucing cuma Candra, Anggia sama Papap, kalau mamah kurang suka walau gak anti juga. Alasan ga suka soalnya suka jorok. Nah suatu hari si Barong eek (maaf!) di kamar mamah. Tepat di tengah kasur! Untung saja Anggia dan Candra yang pertama kali menemukannya. Mereka cepat-cepat menutup pintu takut mamah yang sedang di dapur tahu. Mereka berbisik-bisik berdebat bagaimana caranya agar mamah gak tahu. Mereka takut amukan mamah yang memang galak dan lebih takut lagi si Barong diusir.  Sialnya kemudian mereka mendengar suara langkah mamah yang berjalan ke arah kamar. Mereka semakin ketakutan. Akhirnya Candra meraup eek kucing itu, saking paniknya. Genggaman itu disembunyikan di belakang badannya sambal pelan-pelan berjalan keluar. Hahaha. 


Pada saat kita kelas 1 SMP, kita sama-sama sekolah siang. Masuk jam 12. Oiya, aku sekolahnya di SMP 15, Jl Setiabudhi sedangkan Candra di SMP 26 masih di Sarijadi. Nah sambal nunggu masuk, kita suka main bareng. Kalau gak baca cerita bareng, kita juga sering main yang aneh. Yang paling aku inget adalah kita main bakar-bakaran. Pakai lilin kita membakar banyak tanaman. Juga mainan yang kita anggap rusak. Candra juga pernah membuat roket dari isi pulpen. Isi pulpen jadul ada yang terbuat dari material logam. Nah logam itu kemudian diisi ujung korek api yang dikerik sampai penuh, Setelah penuh, kemudian dibuat semacam sumbu. Untuk meluncurkan roket itu, sumbu tinggal dibakar. Saat itu aku sedang membaca komik di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara ledakan di kamar Candra. Aku dan mamah yang sedang masak bergegas menuju sumber suara ledakan. Di sana kita melihat Candra yang berdiri dengan muka pucat memandang warna gosong di dinding. Ternyata dia meluncurkan roket buatannya di kamar itu Hahahaha. Mamah melotot sambil menghardik: TEU LUCU!!


Kami sama-sama memiliki Gimwot (Game Watch), punyaku Nintendo Donkey Kong, punya Candra bermerk Casio, Submarine Battle. Kadang kita tukeran. Candra suka membawa gimwot itu ke sekolah. Suatu hari sepulang sekolah dia masuk ke rumah sambil menunduk bermain gimwot. Mamah nanya, mana tas sekolahnya. Candra kaget. Karena keasyikan main gimwot ternyata tasnya ketinggalan di angkot. Dia pun kemudian dihukum harus diam di luar di pinggir jalan nunggu angkot yang lewat dengan harapan supir angkot pas kembali bisa mengembalikan tas itu. Syukurlah setelah menunggu lama, si supir baik hati mengantarkan tas itu.


Kita pun memiliki ritual camping pas liburan sekolah. Tapi kemahnya Cuma di halaman rumah Candra hahaha. Tendanya lumayan besar, bisa menampung 4 orang. Biasanya kita bertiga ditambah Hendrik. Tenda itu ga tahan air, jadi kita harus menambalnya dengan karung yang dicapit pakai capit jemuran, Terus agar kita bisa tidur nyaman, alasnya menggunakan bata yang disusun, terus dipasang papan. Rasanya sangat asyik sekali. Tapi kalau dilihat dari luar lebih mirip rumah kumuh sih. Momen paling menyenangkan adalah kalau sudah malam, tiba-tiba datang Mamah dengan membawa nasi goreng masing-masing satu piring. Enaaaakk!!


Saat paling zonk adalah kalau aku ke rumah Candra pas harus bantuin motongin ekor toge hahaha. Saat ini kita sangat sangat jarang ketemu. Apalagi setelah aku bekerja ke luar Bandung. Kita juga sudah sibuk dengan rumah tangga masing-masing. Candra sudah beranak dua, menuju tiga. Aku pun punya dua bayi. Paling kita sekarang Cuma chatting. Itu pun jarang juga. Kangen juga ketemuan.


Tuesday, February 13, 2018

Ritual Sabtu Minggu

Setelah hidup terpisah selama weekdays, otomatis ritme pun berubah. Walau kurang lebih sama seperti kehidupanku dulu di Palembang dan Medan, tapi tetap saja berbeda. Sabtu Minggu sudah aku plot sebisa mungkin hanya untuk keluarga, untuk isteri dan anak-anakku. Oiya sekarang anaknya jadi jamak, karena Desember kemarin Aa punya adik perempuan bernama Letra Fatimah Purwana.

Sabtu Minggu menjadi full. Sulit untuk menggagendakan untuk kepentingan lain. Tapi masih bisa kalau untuk kepentingan keluarga besar, seperti nganter Apih kontrol ke rumah sakit, ke undangan, atau acara keluarga lainnya. Kalau tak ada, aku di rumah atau pergi ke luar bersama.

Selama dua hari itu, Aa Angga, anak pertamaku nempel nyaris tak bisa lepas. Mandi, makan, cebok, main, ke mesjid ingin bareng sama aku. Priceless moments. Aku menyukai momen ini, walau terus terang memang capek hehe. Selalu ada momen lucu dan mencengangkan kalau aku bersamanya. Walau ada asisten rumah tangga, Aa suka jadi judes, ga mau sama teteh di rumah. Maunya sama aku.

Nah, kalau Minggu malam, tibalah saatnya aku kembali ke Jakarta. Dari sore aku bilang sama dia kalau nanti malam aku kembali ke Jakarta buat kerja, Aa yang pinter, nurut sama ibu. Walau dia terlihat tak menyimak, kadang-kadang, ternyata dia mengerti. Kalau aku sudah dijemput taksi, dia mau sun dan dadah gak nangis. Aku masih takjub dengan kenyataan ini.

Yang soleh ya Aa sayang.

Wednesday, October 11, 2017

Lanturan Kewarasan

Jadi... setelah kepindahan pekerjaan aku dari Bandung ke Jakarta, aku memutuskan untuk setidaknya mencoba membawa keluargaku ke Jakarta di tahun pertama. Kami pun memutuskan tinggal di apartemen, karena selain agar jarak ke kantor tidak terlalu jauh, isteriku juga tak jauh mengakses supermarket, warung, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Semua ada di sana.

Kami pun hidup baik-baik saja. Ada sih beberapa penyesuaian seperti hidup tanpa tanaman, sempit dan bising hehe. Tapi takdir berkata lain, baru sekitar dua bulan hidup bersama di Jakarta, isteriku alhamdulillah hamil lagi. Hamil kali ini agak lumayan repot, mual dan maboknya lebih lama. Belum lagi ternyata anak kami terkena fimosis, jadi harus dikhitan. Ditambah lagi kami harus menghadapi dilema apakah anak kami harus berhenti mengkonsumsi ASI atau diteruskan sembari hamil.

Setelah memperhitungkan baik buruknya, kami pun berkeputusan untuk berbeda rumah di weekdays. Artinya aku pulang setiap Jumat dan kembali ke Jakarta Senin dini hari. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah kami menyelesaikan permasalahan satu per satu. Tak terasa dua bulan lagi, insya Alloh keluarga kami bertambah anggotanya, ceritanya pasti akan berbeda. 

Tapi sebenernya aku mau cerita apa ya, sebenernya? hahaha

Kalau ada anak isteri di rumah, pada saat kita kita pulang, kita akan dipaksa memperhatikan mereka, terlibat dan berinteraksi dengan mereka, Kita yang berpikir tentang bekerja dan segala permasalahannya akan dipaksa berubah episode pada saat membuka pintu rumah. Suka ataupun tidak. Walau kemudian beberapa jam atau beberapa menit kemudian, bisa jadi kita kembali membahas pekerjaan di kantor, tapi tetap saja suasananya berbeda.

Berbeda dengan tinggal sendiri. Seringkali aku masih menelepon dan membaca group chat, maupun email sampai mendekati kantuk. Ini salah. Gak sehat buat kewarasan, menurutku. Sendiri ataupun tidak, kita memerlukan suasana lain dalam keseharian. Ini mungkin ya yang membuat kita depresi, memikirkan hal yang sama terlalu lama. Adakalanya kita harus dipaksa melarikan diri dan tak terlalu memikirkannya untuk sementara waktu. Ini yang aku percayai.

Walau hal yang lain itu tidak berarti menyenangkan, tapi setidaknya kita membahas yang yang tak sama. Tak jarang, setelah sampai apartemen, aku video call dengan isteri dan anakku, membahas hal yang sangat penting maupun hal yang tak tentu arah, seperti tetangga yang suka menyanyi keras-keras sambil naik motor di depan rumah kami, berandai-andai jika punya uang satu milyar, kenapa kutil di pahaku semakin membesar dan hal lainnya.

Jika selesai video call, sebisa mungkin aku melakukan hal untuk kesenangan diriku sendiri, terlepas dari kepenatan pagi sampai sore tadi. Biasanya nonton tv, masak, maupun maen game Civilization. Game ini sudah aku mainkan sejak SMA, hahaha. Walau sudah berevolusi sampai Civilization VI, aku tetap memainkan yang seri keempat. Semua itu hiburan buatku. Sangat jarang sekali kalau sudah sampai apartemen aku keluar. Males banget. Memang sih lebih monoton dibanding dengan kalau ada anak isteri. Tapi dengan begini setidaknya kewarasanku terjaga.

Gak jelas yah postingan aku ini, ngelantur kemana-mana hahaha. Maaf. Ini tulisan biar masih tetap waras di tengah sosialisasi produk yang membuat aku ngantuk setengah mati hahaha.

Thursday, February 02, 2017

Mula

Selalu ada permulaan untuk sesuatu hal. Tak ada yang tiba-tiba saja mahir, tiba-tiba saja ahli. Dan begitu pula kali ini. Ini adalah permulaan saya hidup di kota lain selain Bandung sebagai keluarga.

Segala rencana tersusun. Segala resiko coba dihadapi. Walau pada akhirnya... segalanya diserahkan pada Alloh.

Wish me... err wish us luck.

Monday, December 19, 2016

Cerita Kelahiran (2)

Setelah lahiran, tibalah waktu penyembuhan dan orang-orang datang nengok. Seneng banget soalnya banyak temen dan banyak kado (hehehe). Walau harus menceritakan hal yang sama berulang kali, rasanya kok ya gak keberatan.

Alhamdulillah pula bayinya sehat dan aku gak canggung untuk memangku bayi yang masih kecil itu. Aku suka memangku anak kecil, tapi kalau bayi baru lahir aku sangat tak bisa. Khawatir ringkih. Tapi ternyata beda kalau anak sendiri. Mau gak mau tetap saja harus mau. Masa-masa di rawat itu masa bahagia. Segala dilayani, kalau bayi nangis tinggal panggil suster. Kalau gak ngerti cara ganti popok tinggal panggil suster. Isteri gak bisa ngasih nenen juga diajarin suster, Jadi enak banget.

Tapi masa itu cuma seminggu. Tibalah waktu pulang. Tapi sayangnya si bayi tapi bisa kami bawa pulang. Bayi menderita infeksi dan juga kuning. Jadi harus dirawat. Tiba-tiba saja masa indah di ruang rawat hilang musnah. Bayi harus dirawat di ruang khusus dan tak boleh ditunggui, bahkan oleh ibunya sekalipun. Ibu harus standby di luar dan harus menyediakan ASI kapanpun dibutuhkan.

Kondisi itu membuat isteriku stress. Ruang tunggunya di luar bersama dengan ibu lain dan penunggu pasien. Kalau dalam kondisi normal mungkin akan nyaman. Tapi isteriku masih menahan luka caesar yang belum kering. Aku pun mengusahakan ruang rawat bagi isteriku. Tapi kebijakan di rumah sakit ini tak mengizinkan ibu yang menunggui bayi tinggal di ruang VIP. Hanya boleh di kelas 3, itu pun dengan catatan kalau ada yang kosong. Aku harus hilir mudik ke bagian pendaftaran sambil menghibur isteriku yang senantiasa menangis. Belum lagi dalam waktu yang relatif singkat isteriku harus menyediakan ASI, Menyusui secara langsung pun isteriku masih belajar, ini harus dipaksa bisa menghasilkan ASI dengan menggunakan alat pompa, ditambah stress memikirkan kondisi bayi. Pfiuhh.. aku dituntut kuat fisik dan waras menghadapi semua ini. Kita tak boleh ikut sedih,

Akhirnya kami mendapatkan tempat di kelas 3, dengan pasien sebelah merintih akan melahirkan. Tempat tidur pun tinggi tak bisa diturun naikkan. menyiksa untuk isteriku yang menahan sakit. Kondisi ini diperparah dengan perawat yang kurang ramah. Kalimat sedikit pun bisa mengubah mood isteri. Isteriku sedih ketika suster bilang: "Kalau ASI segini tak akan cukup buat bayi". Normal sih.. tapi menyakitkan untuk isteriku yang sedang sensitif, dan berjuang memeras ASI yang memang sedikit.

Isteriku tak betah di kamar tersebut. Dan menyedihkan memang karena, sebentar-sebentar dia dipanggil untuk menyusui bayi. Belum lagi pompa listrik yang jumlahnya terbatas. Kubeli pompa manual yang ternyata tak bisa kami gunakan. Kondisi psikisnya sangat menurun. Sampai akhirnya aku harus mengambil keputusan. Aku tahu dia sedih karena tak bisa menghasilkan ASI padahal dia sangat ingin memberi ASI dan tak ingin memberi susu formula. Aku mengambil keputusan untuk tak apa memberi susu formula kepada bayiku. Kutenangkan isteriku, dan kuhibur dia agar tak selalu menyalahkan dirinya. Akhirnya kami pulang.

Saat itu jam 12 malam. Kami sampai rumah, isteriku lebih tenang. Terlihat dari roman mukanya. Kasihan sekali isteriku ini. Sambil ngobrol dan saling menguatkan, Aku googling cara menggunakan pompa ASI yang benar, dan dengan kondisi yang jauh lebih santai kami mencoba kembali. ASI mengucur deras melalui pompa itu. Syukur Alhamdulillah tak terkira. Baru kulihat kembali senyum isteriku. Akhirnya stok ASI melimpah, secara periodik ku kirim ke rumah sakit. Setiap kunjungan kusempatkan melihat bayi dan merekamnya lalu kukirimkan ke handphone isteriku.

Alhamdulillah 5 hari kemudian bayi bisa pulang dan berkumpul bersama kami di rumah. Lalu apakah perjuangan berhenti di sini? Oh nooooo. Hahaha.. masih jauh dari berakhir. Perjuangan kesabaran sang ayah baru masih berjalan terus. Kami terus belajar tentang hal-hal kecil dan hal besar. Dari mengganti popok, memandikan, menidurkan, menggunting kuku dan lain sebagainya. Dann... selain urusan bayi, urusan lainnya yang sebelumnya berjalan pun tetap berlangsung. Artinya kita harus mencuci pakaian, aku pun harus tetap bekerja.

PR Paling besar kala itu adalah menidurkan bayi. Kami seringkali kelelahan di malam hari tapi si bayi tetap tak mau tidur. Disimpan di tempat tidur pun menangis. Kami bergantian, dibantu ibu mertua dan tetap saja kelelahan. Seringkali bayi tidur jam 2an. Besoknya harus ke kantor lagi. Aku pernah tidur di mobil di parkiran kantor saking gak kuatnya hehe.

Browsing di internet pun seringkali membingungkan dan tak berguna sama sekali. Akhirnya kami pun tanya sana sini dan mencoba. Syukurlah masalah demi masalah berhasil kami atasi. Segala sesuatu itu memang harus ada pembiasaan kali ya. Belum lagi permasalahan luka caesar isteri yang tak kunjung kering.

Sekarang bayi sudah 8 bulan. Walau usianya muda, tapi benar-benar memberi banyak pelajaran buat kami. Oiya.. tampaknya masalah memang tak akan berakhir.. tapi jangan khawatir bapak ibu, itu memang resiko orang hidup ya hehe. Dan jangan khawatir.. hari demi hari juga tak melulu masalah kok, kebahagiaan pun Alhamdulillah tak kunjung berakhir.

Para ayah baru.. siapkan mental dan selalu mencoba memahami isteri. Haiyah sok banget ya, baru 8 bulan jadi ayah aja udah sok ngajarin Hahaha. Maaf ya tak ada maksud. Tapi beneran harus sensitif memahami naik turunnya mood isteri. Walau terus terang memang susah. Yah namanya juga perempuan. Hahahaha...

Sekian dulu yah sharing aku.
Terima kasih sudah menyimak.
Oiya bayi itu bernama Manggala Utomo Ilyasa Purwana.

Cerita Kelahiran (1)


Wow.. postingan terakhir aku tanggal 31 Maret! Dengan cerita yang seperti menggantung. Ckckck... maafkan ya..


Begini lanjutannya.. Dari postingan terakhir, 19 hari kemudian. Tepatnya tanggal 19 April, anakku lahir ke dunia. Di sinilah perjuangan aku sebagai suami sekaligus bapak mulai diuji. Sudah sekian lama ingin menulis ini, tapi selalu tak jadi. Ah sudahlah.. jangan tanya alasannya ya. Takdirnya memang sudah begitu.


Sengaja kutulis ini untuk jadi gambaran untuk saudara seperjuangan, calon bapak, calon ayah. Tapi bukan maksud ngajarin juga ya. At least, ini yang aku alamin.


Perjuangan dimulai ketika isteri mulai mules. Saat itu belum terlalu pusing, karena kami sudah menyiapkan dan memesan tempat persalinan jauh-jauh hari, Jadi tinggal bawa ke rumah sakit bersalin. Beres.

Tapi ternyata yang disediakan rumah sakit hanya tempat, peralatan, dokter, perawat. Yang nemenin isteri harus kita sendiri (ya iya lah hahaha). Mulai detik inilah calon bapak harus menyiapkan fisik dan mental. Kita harus menghibur isteri yang sedang kesakitan, menjawab pertanyaannya, seabsurd apapun, dan mengabulkan permintaanya. Terdengar simpel ya.. tapi coba bayangkan, isteri minta ditemani, gak boleh ditinggal sebentar pun, tapi juga dia minta dibawakan baju di rumah. Itu contohnya. Siapkan stok sabar sebanyak mungkin.


Isteri ke rumah sakit jam 9 pagi. Niatnya buat periksa dokter karena diare. Tapi ternyata setelah diperiksa hasilnya malah sudah bukaan. Bukaan tiga dan belum ada mules. Jadi gak ada yang bisa dilakukan, cuma menunggu. Tapi jangan salah menunggu itu butuh energi. Cemas, bosan, sekaligus excited. Tapi cobaan yang paling berat dari seorang calon ayah, menurutku adalah, harus mengambil keputusan. Dalam waktu singkat kita harus siap dengan jawaban kalau ditanya dokter. Apalagi kalau kita tidak dibekali banyak pengetahuan. Yang ada malah deg-degan.


Tiba-tiba saja kita diinformasikan, DJJ saat ini tinggi, Jadi menurut dokter belum bisa dikasih obat biar mules. Kalau DJJ sudah normal, apakah bapak setuju diberi obat mules? Belum juga aku bisa mencerna apa itu DJJ, berlembar-lembar formulir sudah disodorkan untuk ditandatangani. Aku pun lantas setuju setelah bertanya prosedur standarnya seperti apa. Setelah itu, sambil menemani isteri, aku googling apa itu DJJ yang ternyata adalah Detak Jantung Janin, dan angka normalnya adalah 120-160. Kalau di luar interval itu dalam waktu yang lama akan berbahaya. Oiya, jadi selain fisik dan mental, pastikan juga handphone kita gak low batt dan terisi paket data hehe.


Setelah tahu itu, tugasku kemudian adalah menatap monitor DJJ. Sampai akhirnya setelah DJJ normal, isteriku diberi obat induksi. Di sana lah rasa mulas menghebat. Kita dituntut berdoa, menghibur, sambil dicakar dan diremas-remas untk waktu yang sangat lama. Rasa cemas meningkat level demi level. Kita tak boleh panik, tak ada waktu untuk menunjukan rasa khawatir. Kita harus terlihat kuat agar isteri kita ikut kuat. Itu yang berat. Setiap dosis obat yang akan diberikan, dokter akan meminta persetujuan kita dan kembali disodorkan berlembar-lembar formulir. Kita menjadi ragu apakah tindakan yang kita ambil sudah benar.


Tapi tak ada waktu untuk ragu. Kutorehkan tanda tangan sambil membaca basmalah. Untungnya aku ditemani ibu mertua, jadi bisa gantian sebentar untuk sholat. Walau akhirnya ibu mertua tak kuat. Jadi memang harus aku yang menemaninya. Kami kemudian menunggu angka bukaan yang seolah berjalan sangat lambat, dari 4 kemudian 4,5 kemudian 5 memakan waktu sangat lama. Sampai akhirnya tibalah waktu mengejan. Kita ikut menyemangati dan berdoa. Momen itu serasa sangat menegangkan, sambil mata kembali melihat angka DJJ.


Takdir berkata lain. Jabang bayi tak bisa keluar. Hanya terlihat sebagian kecil kepalanya. Oiya untuk melihat liang lahir pun dibutuhkan keberanian lho. DJJ mulai melemah, sampai akhirnya dokter memutuskan untuk operasi sectio. Isteri dibawa masuk ke ruangan. Aku tak boleh masuk. Saat itulah kemudian fisik terasa lemas. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggu dan berdo'a. Sambil menunggu pun berlembar formulir harus kubaca dan kusetujui.


Alhamdulillah setengah jam kemudian bayi keluar dan disimpan di dalam box khusus. Dokter anak langsung datang dan bilang kalau bayinya gak langsung menangis, ada kemungkinan infeksi jadi akan dilakukan serangkaian tes. Terus terang pernyataan itu membuat aku menangis. Melihat si bayi membuat perasaanku lebih baik. Oh.. ini ya perasaan melihat anak sendiri untuk pertama kali.. Bayi yang paling indah sejagad raya. Membisikan adzan ditelinganya pun ternyata bukan hal mudah. Bercampur aduk rasa haru dan cemas. Tapi saat itu memang waktu yang tepat untuk bersyukur dan mengembalikan segalanya pada Alloh SWT.


Isteriku kemudian keluar dari ruangan operasi dengan masih terpengaruh obat bius. Aku tak menceritakan tentang kondisi bayi. Nanti saja lah setelah dia sepenuhnya pulih. Setelah menunggu satu jam dia pun bisa masuk ke ruangan rawat, sedangkan si bayi ditempatkan di ruang khusus.


Aku merasa sangat lelah sekali dan sangat lapar. Setelah memastikan semuanya baik, aku meminta izin isteriku untuk mencari makan. Hari sudah malam sekitar jam 21:30. Anehnya aku tak berminat mencari makanan sekitar rumah sakit. Aku malah naik taksi ke jalan Braga demi mencari secangkir cokelat di Starbucks. Hahaha.

Thursday, March 31, 2016

Menjadi

Salah satu harapan setelah menikah adalah ingin segera punya anak. Itu aku sih.. hehehe. Tapi ya itu ya.. definisi "segera" itu sangat gak pasti,

Aku terus terang, menahan diri untuk menulis tentang kehamilan isteriku di blog ini. Takut. Takut ga jadi, takut keguguran, dan segala takut lainnya. Ketakutan ini desebabkan banyak hal yang bikin deg-degan selama kehamilan. Isteriku kerap mengeluarkan flek di 4 bulan pertama kehamilan. Bikin khawatir. Bahkan pernah suatu hari fleknya sangat besar, sampai kami menganggap itu adalah janin yang keluar. Kami sudah ikhlas kalau harus mencoba lagi. 
Tapi alhamdulillah, ternyata itu bukan janin. Pfiuhh...

Kami mendapat kabar baik kehamilan setelah satu setengah tahun menikah. Masih sangat ingat, kali pertama aku melihat test pack. Dua garis, tapi yang satu sangat samar, sehingga aku ragu apakah itu kehamilan atau bukan. Hari itu hari minggu, jadi tidak bisa segera ke dokter kandungan.

Setelah melalui periode flek, aku pun harus bisa memahami naik turun kondisi psikis isteri. Marah-marah, nangis, drama, lapar, lapar, dan lapar terus hahaha. Syukurlah dukungan teman dan buku banyak membantuku. 

Saat ini kehamilan, sudah mencapai 36 minggu. Jadi tinggal sebentar lagi, jabang bayi lahiran. Tapi entah kenapa, periode yang "sebentar" ini kok rasanya sangat lama sekali ya hahaha. Kalau ditanya deg-degan, jawabannya engga, khawatir engga, rasanya biasa saja sih. Penuh rencana di kepala, tapi tak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu. 

Tanpa sadar, periode ini membawa aku ke jenjang kehidupan berikutnya. Menjadi orang tua.

Do'akan kami menjadi orang tua yang baik ya teman-teman. :)

Thursday, February 04, 2016

Barang Berbahaya

Eh, sudah fitrahnya kan yah, manusia mah senang sesuatu yang bagus-bagus. Makanya tercipta kata "bagus" dan "tidak bagus".
Naon sih ya ini teh ujug-ujug..

Jadi gini, aku teh sering killing time dengan browsing. Macem-macem. Mulai dari browsing youtube, situs-situs yang memang sudah ritual dibuka, atau situs lainnya secara random. Seringkali si kerandoman itu berakhir di situs jualan. Situs yang menyediakan kesenangan yang menyebalkan. Senang karena serasa window shopping gak pake cape. Menyebalkan karena tanpa kita sadari, dalam waktu yang relatif cepat kita sudah menambah saldo tagihan kartu kredit.

Dulu, situs belanja online yang saya sambangi dan berujung dengan transaksi hanyalah Amazon. Setelah itu berlanjut ke ebay, selagi tugas di Palembang, terus merembet ke Etsy, Zappos, lalu ke situs si penjual barang langsung. Akhir-akhir ini makin parah ke situs belanja lokal seperti tokopedia, blibli atau Lazada. Lanjut ke medsos di Instagram.

Di Amazon sering beli buku, CD dan DVD. Di Ebay beli casing handphone sama puzzle, di Etsy beli tas, sleeve laptop, sampai stiker. Terus pernah ke situs resmi Kanken dan Dr. Martens. Di Zappos beli sepatu. Kalo situs lokal terakhir beli alat fitness. Di Instagram beli karpet dan terus ketipu beli meubel. Alhamdulillah uangnya dibalikin setelah meneror tempat orang itu bekerja. Sering nonton CSI ternyata ada gunanya. Hehe.

Kemudahan belanja itu membuka cakrawala (wew) tempat belanja menjadi luas. Barang yang dulunya hanya bisa dibeli kalau kita ke Luar Negeri atau nitip teman yang ke Luar Negeri, sekarang hanya dengan klak klik bisa didapat.

Barang langka yang sudah diidamkan pun bisa kita dapatkan. Perjuangan, dan pengorbanan (kartu kredit) itu lantas kadang membuat kita bahagia. Walau untuk beberapa hal kadang kita kecewa. Seperti aku membeli sepatu Dr Martens dengan diskon gila-gilaan, tapi setelah dicoba, gustiii berat sangat. Sampai harus beristirahat beberapa kali hanya untuk mengarungi toko-toko di PVJ. Hahaha.

Euforia setelah mendapatkan barang-barang itu, tentu saja menyenangkan. Dan itu sah-sah saja kan ya. 

Sampai kemudian aku merasa keren setelah memakai barang itu. Merasa kerennya sih fine. Tapi kemudian si fine feeling itu diikuti bisikan setan untuk riya dan mengharapkan lirikan dan tatapan kagum orang lain akan barang kita. Pernah kan? Aku sih pernah banget. Saking desperatenya akan pujian itu, langsung aku posting di medsos. Hiiihhh sampai malu aku rasanya. Asli kampring banget. Masa keimanan kita gampang banget digantikan barang. Walaupun barang itu sekeren sepatu Marc Jacobs dan sepatu Onitsuka Tiger.

Sengaja aku menulis ini beneran untuk self reminder. Karena si pikiran itu kadang menyelinap. Asalnya beneran cuma make barang, tiba-tiba terbersit ingin riya. Lagi pingin posting buat asik-asikan, eh tiba-tiba datang pikiran kalo kita lebih cool dari orang lain. 

Tiba saatnya kita harus mengambil alih kesadaran kita. Tangkis si pikiran buruk itu dengan mencoba jujur pada diri sendiri. Pakai, gunakan barang itu. Karena memang selain bagus, juga memang fitrahnya itu kan ya? Posting lah kalau memang ingin. Tapi sebelumnya.. pastikan si pikiran busuk itu sudah pergi. Karena rasanya memang beda kok.

Tuesday, February 02, 2016

Ingatan Random - Cadbury's Fruit & Nut



Dulu. Duluuu banget, zaman SD, sekitar tahun 1987-1989 aku melihat iklan cokelat Cadbury's Fruit & Nut di Tabloid Monitor, kurang lebih gambarnya seperti di atas. Ditambah redaksional khas iklan, tentunya. Sejak itulah aku memutuskan, aku menginginkan cokelat itu. Apalagi iklannya selalu ada di hampir setiap edisi.

Tapi aku cukup tahu diri. Cokelat itu terlihat mahal. Alasan selanjutnya adalah cokelat tidak pernah sepenting alat tulis. Aku tak pernah memiliki nyali untuk sekedar meminta Amih dan Apih untuk membelikannya. Selain memang alasan-alasan tersebut, si Cadbury ga bisa dibeli di komplek rumah. Saat itu belum ada yang jual. harus ke super market di kota. Walhasil aku hanya cukup meleletkan lidah, sambil menunggu tanggal ulang tahun yang masih lama akan terjadi.

Amih selalu hidup sederhana, walau menurut aku kita selalu makan enak, lengkap dengan buah2an setiap harinya. Alhamdulillah. Tapi kalo soal barang "ga penting" itu lain soal. Koran saja kita hanya boleh langganan yang penting, koran Pikiran Rakyat. Majalah sudah berenti sejak langganan koran. Si Tabloid Monitor itu aku baca di Pak Uuh, tetangga sebelah. Itu pun setelah beberapa hari terbit. Gantian bacanya. Tabloid itu laris luar biasa, lagian, anak kecil membaca tabloid itu dianggap tidak senonoh. Banyak foto seksinya kadang-kadang.

Suatu hari gigiku ungger, goyang kalo bahasa Indonesianya mah. Ah sial. Urusan si gigi goyang ini adalah nasib buruk. Sudah kebayang akan sakit kalau dicabut. Tradisi cabut gigi di keluargaku sungguhlah horror. Kami tak pernah cabut gigi ke dokter gigi. Amih lah yang mengambil alih peran dokter gigi. Sudah sering aku dicabut gigi dengan paksa. Dibantu oleh kakak-kakakku sebagai antek-antek. mereka kebagian peran memegang tangan dan kakiku yang meronta. Sedang Amih bagian memegang kain dan mencabut gigi. Sesudahnya aku dijamin menangis. Mereka seperti sekumpulan tentara Nazi bagian interogasi.

Kali ini pun sepertinya tak akan beda. Sialnya amih selalu tahu gigiku ungger. Padahal aku sebisa mungkin menyembunyikannya loh. Aku pikir Amih memiliki kemampuan sihir.

Saatnya pun tiba. Pintu sudah dikunci untuk mencegah aku keluar. Mereka sudah merencanakannya dengan matang. Mereka mengambil momen dimana aku lengah. Si Kijot, kakak perempuanku yang memang bertubuh besar sudah menghadangku dan mengambil kuda-kuda untuk mengempit tanganku. Damn, dua wanita Nazi di keluargaku sendiri! Aku pun meronta. Kijot dan Amih mulai kewalahan karena biasanya ada dua orang yang memitingku. Kali ini terpaksa hanya Kijot karena yang lain belum pulang dari sekolahnya.

Kalau kejadiannya sekarang, sepertinya aku akan mengirim surat terbuka ke Komnas Perlindungan Anak. Kenapa mereka gak mengantarku ke dokter gigiku sih? Walaupun ide itu juga terdengar sama menyeramkannya. Saat aku sibuk meronta dan menendang kesana kemari, tiba-tiba saja aku teringat bungkus biru keungunan yang menggoda si Cadbury's Fruit & Nut. Lalu aku berpikir tampaknya akan sia-sia perjuanganku dengan para Nazi ini. Kalau aku berhasil kabur hari ini, besok-besok mereka akan mencoba dengan kekuatan yang lebih banyak. Akhirnya aku pun teriak "SUDAHH!" Entah kenapa tiba-tiba aku bernegosiasi kalau aku tak akan meronta asal dibelikan si Cadbury. Amih tertegun. Sepertinya beliau berpikir. Aku pun kembali meronta.

Akhirnya Amih menyerah dan mengiyakan prasyaratku. Gigi dicabut tanpa tangisan. 

Besoknya Amih pulang kantor dengan membawa si cokelat biru pujaanku. Aku melonjak kegirangan. Amih bergumam kalau cokelat itu mahal dan aku disuruh untuk membaginya dengan kakakku. Perintah yang tentu saja aku abaikan dengan bengis. Aku pun langsung pergi ke luar menjauh dari rumah. Meninggalkan tatapan penuh ancaman dari Kijot hahaha.

Aku memakan si Cadbury's di bawah pohon belakang sekolah SD Cilandak yang sepi. Sendirian. Cokelat itu terasa sangat sangat sangat sangat enak.

Thursday, November 26, 2015

Hujan di Hari Guru

Hai semua.
Lama banget ga ketemu ya.
Jangan nanya alasannya apa lah ya, kenapa lama ga nulis. Soalnya aku bingung juga jawabnya. hehe. Bahkan setelah mikir lama. Males kayaknya sih, alasan yang tepat hahaha.

Tapi kejadian kemarin bikin aku mikir terus ya. Sampai akhirnya hari ini masih kepikiran. 
Ceritanya gini. Kemarin kan hari guru. Ok, standar lah, aku bikin status di facebook, Selamat hari guru bla bla bla. Intinya aku mengharapkan guru-guru aku diganjar kebaikan karena telah bersusah payah mendidik aku, walau aku bukan anak mereka. Walau do'anya bukan basa-basi, tapi kenapa ya, rasanya biasa aja. Ya sudah lah, kemudian aku kembali ke rutinitasku.

Kebetulan Bandung lagi hujan melulu. Ditambah banyak drama pekerjaan gak mau dipause. Sambil nunggu laporan dari teman-teman, gak sengaja buka youtube (ini gak sengaja, gimana ceritanya ya? haha). Aku buka acara Kick Andy, yang bintang tamunya Ginan Koesmayadi. Dulu aku sudah pernah nonton sih. Tapi yang ini agak beda, ini videonya dishoot dari lokasi shooting. Jadi bisa nonton kegiatan yang ga ada di studio dan gak disiarkan di TV. Video ini dipotong menjadi lima bagian. Bisa dilihat di tautan ini: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, Bagian 4 dan Bagian 5.

Video ini lucu sekaligus mengharukan buatku. Lucu, karena memang Ginan orang yang humoris dan sangat sunda sekali. Orang sunda menurut saya memang tidak bisa dipisahkan dari humor, selain memang cara ngomongnya memang lucu. Aku mengerti, ya karena memang aku orang Sunda hehe.

Ginan ini satu almamater saya di SMA 2 Bandung, walau terpaut jauh angkatannya. Ginan memakai narkoba dari SMP sampai akhirnya terinfeksi HIV. Dia bercerita tentang kehancuran hidupnya dan kehilangan banyak hal, materi, teman dan keluarga. Bertahun-tahun hancur, akhirnya dia bertekad sober dan mendirikan Rumah Cemara. Semacam tempat untuk menampung kaum termarginalkan, pecandu narkoba dan ohida. Bahkan lebih jauh, Ginan bisa mengorganisasi tim dan penggalangan dana untuk mengirim tim perwakilan Indonesia ke ajang Homeless World Cup di luar negeri. Sangat Hebat.

Di video tersebut kita bisa melihat perjuangan Ginan dan teman-teman, serta cerita orang-orang disekitarnya, bahkan keluarga dan guru-gurunya. Buat yang sudah lulus SMA atau mungkin seumuran aku, kita akan bisa sangat mengerti hiruk pikuknya kehidupan SMA. Penuh ceria tapi juga sekaligus drama. Tamu di acara tersebut ada Mas Win dan Pak Kadir, keduanya guru olahraga SMA 2 Bandung. Tidak mengajar aku, tapi aku cukup mengenal beliau-beliau. Maklum selepas SMA aku masih tetap bergaul dengan guru-guru, khususnya guru SMAku. Beliau bercerita sempat mengantar Ginan pulang ke rumah, setelah diusir dan tak berani pulang ke rumah.

Saat itu pula memori aku serasa kembali ke masa-masa sekolah. Aku sungguh sangat-sangat beruntung memiliki guru-guru seperti mereka. Mereka bukan saja mengajarkan aku ilmu pengetahuan, tapi juga etika, perilaku dan yang paling penting, mereka masih sempat mendengarkan keluh kesahku. Padahal sumpah kalau dibahas sekarang, gak penting! Hahaha. Aku bilang aku beruntung, karena ternyata banyak teman dan keponakanku tak mendapat apa yang aku dapat. Aku kadang sangat menyesal pernah menyusahkan mereka. Aku belum pernah memakai narkoba, alhamdulillah, tidak juga HIV+, tapi pernah minta uang (jangan ditiru!), pernah makan di rumah guru, pernah tidur di rumah guru, pernah pulang malam, dan pernah-pernah lainnya.

Tak tahan lagi, aku harus benar-benar berterima kasih sama mereka. Walau aku sangat sadar tak akan pernah bisa membalasnya. Aku pun menelepon salah satu guruku --seumur sekarang pun, aku masih menyusahkannya--, seperti yang aku bilang aku sangat beruntung memiliki dan masih berhubungan dengan mereka. Aku menelepon beliau apakah yang mereka harapkan dari aku seumur segini. Jawabannya adalah, beliau hanya berharap apapun yang aku lakukan, harus berdasarkan pemikiran, harus memiliki sikap dengan sadar. Bukan masalah salah atau benar mengambil sebuah tindakan. Tapi harus tahu bahwa apa yang aku pilih, apa yang aku lakukan, harus berdasarkan pemikiranku sendiri, bukan ikut-ikutan orang lain. 

Aku pun hanya bisa terdiam, karena ternyata ajaran mereka tak berhenti setelah aku lulus. Ajarannya masih ada di dadaku hingga saat ini, mungkin hingga  aku menutup mata.

Terima kasih, hanya Alloh yang bisa membalas amal ibadah mereka.

Wednesday, June 24, 2015

Remembering Her

Bi Dedeh dan Amih sedang ngobrol di depan rumah Ciamis
Sekarang Ramadhan sudah berapa hari ya? hari ke 7 rupanya. Tak terasa.
Ada yang berbeda dengan puasa kali ini. Untuk pertama kalinya aku puasa di kota Jakarta. Sahur dan buka puasa di kosan, sesekali di mall, sesekali di kantor. Bukan hal yang aneh. Sudah kesekian kalinya aku menjalani puasa di perantauan.

Ada yang berbeda dengan puasa kali ini. Entah kenapa di puasa kali ini ingatan akan Amih senantiasa berkelebat. Padahal puasa kali ini berat sekali tantangannya. Deraan pekerjaan seakan tak berhenti. Menuntut kendali fisik dan psikis. Artinya gak ada waktu untuk melamun, bahkan kalaupun itu dilakukan dengan sengaja.

Ini adalah puasa kedua aku tak bersama amih. Sejak kepergian amih tepat seminggu setelah pernikahanku tahun lalu. Memori percakapan, kilasan wajah, senyum, tatapan beliau menyelinap tak terduga di sela-sela kegiatanku.

Pernah ketika aku shalat tarawih sendiri di kamar kos, ingatan tertuju pada saat aku entah SD entah SMP ketika sholat tarawih berjamaah di mesjid Al Hidayah dekat rumah. Kala itu Apih jadi imamnya. Pulang salat tarawih di rumah, sambil ceria khas, Amih bercerita kalau dia tadi tegang, takut Apih salah jadi imamnya, takut milih surat yang panjang dan dikatain orang-orang hahaha.

Di saat lain, ketika aku terdiam memikirkan pekerjaan, Amih terasa memeluk aku. Pelukan itu terasa sangat nyata. Tanpa terasa derai air mata tak dapat aku bendung. Ya, Alloh.. aku sangat merindukannya. Tempatkanlah beliau di surgaMu.

Aamiin.

Friday, May 22, 2015

Hati

Sebelum saya lupa, aku ingin menulis ini : Hati tahu kapan memilih rasa.

Begini ceritanya. Dulu waktu aku menginginkan sesuatu, aku sangat berharap. Sebisa mungkin, mencari jalan untuk mendapatkan itu. Gagal, coba lagi. Jatuh, bangun lagi. Bahkan menghiba dan bersimpuh pun aku lakukan. 

Ternyata hal itu ternyata ditanggapi berbeda oleh orang lain. Ada yang terharu, tak peduli, membantu, mencibir atau memanfaatkan. Tapi (seharusnya itu) tak masalah. Seharusnya aku memilih berbaik sangka. Seharusnya semua itu sama di mataku. Semua mencoba membantu. 

Seiring berjalannya waktu. Detik demi detik menghadapi itu, hati tahu bagaimana harus bertindak. Hati seringkali salah, tapi dia cepat belajar. Dia tahu memilih perasaan, dengan tanpa menghilangkan husnudzon.

Hati tahu dia tak perlu merasa bahagia ataupun sedih ketika disodori harapan dan angan-angan. Hati memilih berhati-hati. Tidak ada pujian, sindiran, maupun perkataan yang merubahnya. Dari siapapun. Hati memilih menunggu.

Monday, February 16, 2015

Tenang

Ketika kita pikir kita sudah mencapai rock bottom, rasanya ingin mengilustrasikan diri sedang berada di dasar sumur, berteriak dan menggapai tapi tak ada orang lain yang mendengar. Kita mencoba sekuat tenaga, memutar otak, mencari cara, tapi tak kunjung berhasil.

Akhirnya kita tak ada cara lain. Kita berserah diri pada Alloh, memohon diberi kekuatan untuk keadaan lebih baik dan bisa berlapang dada. Kita pun tenang. Kita merasa kalau kita berhak mendapatkan tenang itu. Walau kita masih terjebak di dalam sumur, setidaknya kita tak lagi khawatir. We got nothing to lose.

Lalu kemudian dasar sumur bergerak, berderak dan hilang. Membawa kita ke lubang lebih dalam. Alloh menguji kita apakah tenang yang telah diberikanNya masih ada, masih kita jaga dengan baik?

Semoga tenang itu masih bisa aku bawa kemanapun aku pergi. Harapan tenang itu akan membawa aku ke sebuah yakin. Yakin akan khawatir itu tak perlu ada lagi. Yakin kalau aku selalu dijaga sang Maha Pemelihara. Insya Alloh. Aamiin. Semoga.

Monday, August 11, 2014

Tradisi

Setiap mau lebaran Amih persiapannya banyak. Dimulai dari masakan. Amih biasa bikin kue bolu 11 buah. Terus kue kering motif bunga (ya, selalu bunga setiap tahun) beberapa toples, kue keju, kacang goreng, tape ketan, rengginang (bikin sendiri dari ketan, dijemur dan digoreng). Dilanjutkan dengan membuat ketupat 150 buah dan gulai memakai bumbu merk Bamboe juga opor ayam. Dipadukan dengan ase cabe dan sambel goreng kentang. Jumlahnya masif, karena memang anaknya banyak dan rumah kami tujuan ngumpul paman dan bibi beserta keluarganya. Soalnya amih dan apih anak pertama.

Malam takbiran semua terlibat dalam acara bersih-bersih. Karpet digelar di ruang tengah. Vas bunga yang semula kosong, semua diisi bunga sedap malam, gladiol warna oranye dan anyelir merah. Tak terhitung berapa kali aku harus keluar masuk rumah hari itu. Disuruh beli ini itu, selalu ada yang kurang. Masih sangat jelas hiruk pikuk suasana malam itu. 

Semua itu selalu sama setiap tahunnya. Itulah mungkin yang disebut dengan tradisi. Lebaran adalah momen yang sangat tepat untuk menggambarkan tradisi. Tradisi di rumah kami. Semua itu kadang berjalan tak terasa, karena memang sudah menjadi bagian hidup. Di rumahku, sabun yang kami pakai adalah Lux, odolnya Pepsodent, shampoo nya Sunsilk (kemudian berubah sesuai pilihan masing-masing ketika kami, para anak-anaknya menjadi besar), deterjen yang kami pakai adalah Rinso. Pelembut yang dipakai adalah Molto, cairan pel yang dipakai adalah Keramik warna kuning. Semua itu aku hapal, karena sering aku yang menemani Amih belanja bulanan. Semua itu baunya sudah sangat aku hapal. Wangi cucian sudah sangat khas.

Kenapa hal ini tiba-tiba aku tulis? Semua itu karena lebaran kemarin. Lebaran tahun ini adalah lebaran aku pertama menikah. Di rumah aku sendiri, berdua saja dengan isteriku. Lebaran pertama tanpa Amih. Aku harus bahu membahu bersama kakak perempuanku menghidupkan tradisi itu di rumah kami. Padahal kakakku pun sama telah memiliki keluarga sendiri. Sambil aku menyiapkan di rumahku sendiri. Untung saja lokasinya berdekatan. Aku dan Teh Dena, kakakku mencoba mengingat apa-apa saja yang biasa disiapkan Amih, sebagai sosok sentral tradisi itu. Kami seringkali kewalahan mengestimasi berapa banyak yang harus kami siapkan. Karena memang Amih yang biasa melakukan. Satu hal yang tak berubah adalah, aku tetap pontang panting disuruh membeli ini itu yang selalu ada saja. Hahaha. Bahkan sampai tengah malam.

Untungnya di rumah baru hanya ada aku dan isteriku. Jadi tak terlalu banyak yang harus disiapkan. Tak ada kue bolu, tak ada acara membuat kue. Kami cukup minta dari rumah orang tua kami. Hehehe. Paling hanya gule yang dibuat isteriku. Itu pun sambil tanya apa aja resepnya. Hari lebaran kemarin membuat aku serasa berada di dua dunia. Tentu saja, wangi rumahku tak seperti rumah Amih. Bajuku tak lagi wangi Rinso, sekarang wanginya sudah Attack. Sabunnya sudah berubah, walau odolnya tetap Pepsodent. Ya, tradisi aku dan isteriku sudah melebur menjadi sebuah tradisi baru. 

Hari lebaran pun menjadi tradisi yang baru. Sholat Ied di Sariwangi, lanjut ke Sarijadi, terus pake motor untuk menghindari macet ke Muhammad Toha. Balik lagi ke Sarijadi terus ke makam Amih dan A Fikri ke Banjaran. Capek, tapi memang itulah Lebaran hehehe. Dilanjut lagi besoknya ke Mangunreja, Tasikmalaya, destinasi yang benar-benar baru buatku.

Yah.. tradisi memang bisa diusahakan, tapi tak harus dipaksakan. Embrace the new tradition.

Maaf lahir bathin semuanya.

Thursday, July 10, 2014

Bandara Life

Dulu, kalau melihat bandara, aku sangat suka banget. Apalagi waktu SD, view dari kelas adalah Bandara Husein Sastranegara. Selalu excited kalau ke bandara, baik itu mau liburan maupun kerja. Bandara juga seringkali dianggap tempat yang mewah. Tak heran memang, soalnya tiket pesawat (dulu) tidak murah. Selain itu bandara juga dianggap sebagai tempat yang angker, begitu banyak pintu yang harus kita lewati dengan berbagai pengamanannya.

Pada dasarnya, ke Bandara itu ilustrasinya kurang lebih seperti ini: Datang ke terminal tertentu (kalau bandara besar biasanya lebih dari satu terminal, tapi kalau di daerah sih gak ada terminal2an segala) dengan menunjukan tiket kita bisa masuk dan kemudian semua barang bawaan harus melewati x-ray scan. Terus check-in ke counter maskapai sambil menunjukan tiket, ditukar dengan boarding pass sambil milih tempat duduk, mau di aisle (gang), window (jendela) atau di tengah. Barang yang mau dimasukan bagasi juga dilaporkan disini. Posisi di tengah biasanya pilihan terakhir. Terus masuk ke gate setelah sebelumnya bayar airport tax, beda bandara beda pula tarifnya. Kalau international flight, sebelumnya bayar dulu fiskal, tapi bisa gratis dengan menunjukan NPWP. Di mulut gate, boarding pass kita discan terlebih dahulu. Barang bawaan cabin melalui x-ray lagi. Terus duduk di ruang tunggu gate. Setelah dibuka, kita masuk pesawat, bisa direct pake garbarata (belalai) atau pake bis dulu, atau jalan kaki. Tergantung kondisi parkir pesawat.

Mutasi ke Medan di awal tahun 2009 mengubah persepsi aku akan bandara. Aku jadi harus sering ketemu bandara, baik untuk pulang ke Bandung maupun dinas. Kalau pulang ke Bandung, perjalanan akan lebih panjang, karena harus ditambah travel Jakarta-Bandung lewat Cipularang. Agar bisa melalui rentetan proses di bandara, lama-lama aku terpaksa mengubah banyak kebiasaan. Bawaan tak pernah banyak kalau tidak terpaksa. Travel light dengan satu ransel sangat dianjurkan. Selalu menyimpan tiket dan boarding pass di saku depan kemeja atau di saku jaket atau di tas kecil, yang penting aksesnya mudah dan tidak mudah jatuh. Semua itu akan mempercepat. 

Oiya, kalau pulang weekend, aku ngambil flight sore di hari Jum'at, biasanya jam 17:00, sampai di Cengkareng jam 19:00 terus pesan travel. Baliknya aku naik travel jam 2 dini hari, sampai di jakarta jam 04:30 naik flight jam 06:00. Awalnya sangat melelahkan, tapi lama2 badan ini sudah terbiasa, yang penting aku harus tahu kapan memanfaatkan waktu untuk tidur, makan dan aktivitas toilet. Semua itu makin buruk kalau ada sebuah binatang bernama: DELAY. Hahaha. Rencana travel Jkt-Bdg jadi kacau balau.

Perjalanan subuh di Bandara, terutama di Cengkareng, menuntut kita ahli menyesuaikan dengan jam biologis kita. Di terminal 1, aku  biasa ke toilet di luar terminal dekat kedatangan, soalnya lebih banyak, kalau sudah masuk gate, toiletnya sedikit. Di sana aku sering menggunakan toilet untuk pengguna kursi roda hehe. Dilanjutkan dengan sholat subuh di mushola yang tak jauh lokasinya. Tapi ingat, kalau jadwal kita mepet, mending di dalam terminal saja ya. Soalnya dijamin akan pontang panting mengingat lokasi yang lumayan jauh. Terminal 2 lebih nyaman, apalagi kalau kita masuk lounge. Toiletnya lebih banyak dan mushola yang lebih besar.

Nah, setelah sekian lama menghabiskan waktu di bandara, aku jadi mengkoleksi kartu kredit platinum demi mendapatkan akses ke lounge gratis. Awalnya cuma satu, Citibank Co-Brand Garuda. Tapi lama-lama, kartu itu gak lagi diterima di banyak lounge. Akhirnya dengan terpaksa aku apply kartu platinum lain. Lounge BRI adalah favorit aku selain Garuda. Tapi Garuda jarang banget aku akses, soalnya cuma buat kelas executive aja. Aku kan modal diskon tiketnya juga hehe. Kalau kita gak punya kartu kredit, biasanya kita bisa masuk dengan cara membayar. Ada juga lounge yang strict cuma buat member atau pemegang kartu kredit saja.

Lounge BRI buka jam 04:30, paling pagi dibanding yang lain. Di dalamnya ada mushola, toilet yang sangat nyaman, juga tentunya ada makanan, dan tempat charge device kita. Di Lounge ini lebih aman, jadi kalau kita mau sholat atau mau ke toilet dan kita pergi sendirian, kita gak usah repot nenteng-nenteng tas. Simpan saja di sofa atau titip ke petugas di sana. Lounge BRI juga menyediakan petugas untuk men-check in-kan tiket Garuda kita. Jadi gak usah repot-repot ngantri. Juara lah Lounge BRI ini!

Di bandara-bandara lain juga biasanya ada lounge, kecuali yang kecil seperti Bandung dan Bengkulu, misalnya. Eh di Bengkulu ada deh, tapi gak bisa pake kartu kredit. Harus bayar.

Antrian di counter check-in seringkali menyita stok kesabaran kita. Terutama di masa peak season. Masih banyak yang tidak biasa untuk mengantri, jadi saling serobot. Biasanya aku pasang tampang waspada ala satpam kalau ketemu penumpang macam gini, hehe.

Setelah terbiasa, suasana bandara yang menakutkan lama-lama akan luntur kok. Berubah menjadi emmm menyebalkan hahaha. Jadi inget film Up In The Air, dimana George Clooney yang hidupnya banyak dihabiskan di bandara, sampai2 punya tips ala dia segala. Tapi bandara ini kalau tujuannya mau liburan, dengan sendirinya kesan menyebalkan itu akan jadi menyenangkan kok. Semua itu memang tergantung mindset, tampaknya.




Tuesday, July 08, 2014

Tips Nonton Film di Bioskop Bersama Anak

Sudah sejak lama saya ingin mencoba berbagi tips nonton film bersama anak kecil, baru sekarang keingetan lagi hehe. Walau belum punya anak (ingin sekali punya ya Alloh.. tolong aamiinkan pembaca--makasih hehe), aku punya lima belas keponakan berbagai umur, dan mayoritas sudah pernah aku ajak nonton film di bioskop berkali-kali. Umur termuda yang pernah aku ajak ke bioskop adalah 4 tahun. Acara nonton ku terbilang sukses.

Ok, kita mulai saja tips dan triks nonton film di bioskop bersama anak versi saya:

1. Persiapan. Acara persiapan ini bisa dilakukan di rumah berhari-hari sebelum acara nonton. Penting dilakukan terutama untuk anak yang tidak terbiasa dengan gelap dan penuh orang. Acara ini bisa berupa kemah-kemahan di dalam rumah dengan lampu dimatikan dan hanya menyisakan televisi yang dinyalakan. Kasih pengenalan, sambil ngobrol sambil selingi dengan lelucon yang lucu. Jangan takut-takuti mereka, apalagi sambil nyebut-nyebut hantu.

2. Screening. Jadilah orang dewasa yang bertanggungjawab. Kenali film yang akan kita tonton sebelumnya. Bisa dengan cara browsing di internet atau tanya ke orang tua yang sudah pernah nonton film ini. Hindari film yang "meragukan". Kalau perlu tonton dahulu film itu sendiri. Hal yang penting kita screening bukan saja apakah film ini bebas dari adegan dewasa ataupun kata-kata kotor, tapi juga perhatikan apakah film ini bisa membuat anak kita takut atau tidak. Film yang aku tonton dulu sebelum mengajak anak-anak adalah: Night At The Museum. Jangan latah hanya gara-gara gebyar box office, dengan serta merta kita ajak anak-anak kita menontonnya, tanpa screening, misalnya film: Transformers, James Bond, Kick Ass, dsb. Aku pernah melihat serombongan orang tua yang menonton sambil anak-anaknya. Mereka marah kalau ada anak yang teriak dan ngomong kasar, tapi film yang mereka tonton adalah Kick Ass 2. Glek.
Nonton film yang sesuai umur (film anak-anak) juga akan menumbuhkan sikap toleran bagi penonton lain. Teriakan, tangisan anak-anak akan dimaklumi kalau kita sedang menonton film Toy Story, misalnya.

3. Beli Tiket. Anak-anak biasanya tidak sabaran, dan cenderung akan lebih lincah kalau diajak ke mall. Akan dijamin membuat anda repot kalau ditambah anda harus mengantri panjang tiket nonton. Lebih buruk lagi, mereka akan kecewa bahkan mengamuk ketika kita tak berhasil mendapatkan tiket. Acara nonton anda akan gagal total. Gunakanlah fasilitas m-tix (untuk jaringan 21) atau blitzcard (blitz megaplex) untuk menjamin kepemilikan tiket. Perhatikan ketentuan masing-masing fitur ini. Bahkan jika perlu, anda minta tolong orang lain untuk membeli tiket terlebih dahulu sebelumnya. Misal, kalau anda mau nonton di sore hari, beli tiket di siang hari. Yang ini agak merepotkan memang.

4. Posisi duduk. Pada saat membeli tiket, pilih tempat duduk di gang agar mudah jika anak kita ingin ke toilet.Tempatkan anak-anak dekat dengan kita, lebih baik lagi kalau diapit orang dewasa. Jika beramai-ramai, atur dan kombinasikan anak kecil dekat dengan anak yang lebih besar. Jangan tempatkan anak-anak yang "berpotensi konflik" berdekatan.

5. Baju hangat. Karena di dalam bioskop dingin, jangan lupa siapkan jacket atau sweater untuk anak kita.

6. Pipis. Sebelum film dimulai, tanya anak anda apakah pingin pipis dan ajak ke toilet. Setelah duduk di bioskop, bilang kalau mereka pingin pipis jangan ditahan dan bilang ke kita, agar kita antar. Resiko kita sebagai orang dewasa, kalo mereka pingin pipis ya harus kita antar, walau film sedang rame-ramenya. Aku pernah harus rela ga nonton ending film Karate Kid gara-gara ponakanku pingin pipis. hehe.

7. Snack. Jangan lupa beli makanan dan minuman untuk mereka. Hindari minuman yang mudah tumpah. Aku sih suka bawa ransel dan beli makanan di supermarket, karena selain jenis makanan yang beragam juga lebih murah dibanding di bioskop hehehe. Acara nonton ini bisa dijadikan rayuan maut lho buat anak yang susah makan. Jadi sambil mereka nonton, kita suapin.

8. Dampingi. Setelah anak-anak nonton, kita gak lantas boleh tidur lho. Kita harus kasih penjelasan kalau mereka nanya atau kalau ada adegan yang menurut kita harus dijelaskan. Jangan biasakan menyuruh mereka diam dengan cubitan atau teriakan. Tegur dengan lembut. Kalau si anak memaksa keluar, kita harus ikhlas keluar :)

9.Jangan 3D. Sebisa mungkin kita masuk ke bioskop setelah dipanggil, jangan terlalu mepet. Hal ini membantu si anak menyesuaikan diri dengan keadaan bioskop di saat terang. Biasanya anak-anak melihat-lihat dulu keadaan bioskop dan mulai tanya-tanya. Hal ini juga membuat anak-anak tahu kalau ada orang lain yang juga ikut nonton. Kalau datang pas saat telat, ruangan sudah gelap, anak-anak gak bisa liat. Pada kesempatan pertama, sebaiknya jangan nonton yang 3D. Kacamata 3D biasanya membuat anak gak nyaman, beberapa ponakan aku malah pusing. Jadi sebaiknya nonton yang 2D biasa aja dulu.

nah.. sekian tips dan triknya. Selamat Nonton.
Semoga berhasil dan menyenangkan!


Monday, May 26, 2014

Memulai Hari

Setiap hari. 
Aku merasa harus datang ke kantor lebih pagi. Walau jam kantor dimulai jam 08:00, hampir pasti, jika tak ada halangan, aku datang sebelumnya. 

Sebetulnya ini sebuah penyakit. Aku seringkali merasa cemas akan waktu. Jadi kalau ada janji jam delapan, kalau jam tujuh aku belum pergi, aku akan gelisah. Padahal jarak tempuhnya tidak terlalu jauh, paling 10 menit sudah sampai. Jam 7:45 kalau teman yang kita ajak janjian belum datang, akan membuatku kesal. Hehe, aku seolah dibelenggu waktu.

Jadi daripada kesal, sebelum masuk kantor, aku mencari kesibukan. Biasanya internetlah yang menjadi tumpuan. Hal itu yang seolah memuaskan segala jenis keingintahuan aku. Pernah bahkan aku seperti tenggelam dan waktu kerja pun lewat. Hehe ampuun. 

Biasanya acara browsing dimulai dengan situs "wajib" versi aku, seperti detik, usatoday, people, dan rottentomatoes. Setelah itu berkembang ke Youtube. Youtube dimulai dari charts. Biar kita bisa tahu apa-apa aja sih yang lagi ngehip  di dunia. Jadi seolah-olah kaya nonton berita juga sih. Terus saya berkenalan dengan Failblog, sebuah situs yang berisi kompilasi kejadian tolol di internet. Situs ini seringkali membuat aku terpingkal-pingkal atau bahkan mengerenyitkan dahi.

Lambat laun kemudian aku menyadari. Hal yang aku lihat dan baca tersebut mempengaruhi aku. Kadang aku masih merasa senang akan ketololan maupun hal mengerikan yang terjadi. Semua itu membuat aku tak nyaman. Aku bosan. 

Kemudian aku mulai mencari hal baru. Aku mulai haus akan hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Hal itu pula yang membuat aku tak bisa lepas dari Ellen Show. Tiap pagi aku tak sabar melihat video baru tayangan channel Ellen Show. Apa sih sebenarnya yang membuat Ellen Show menyenangkanku? Padahal selintas itu hanya acara talkshow biasa. Ellen menurutku sangat berbeda dengan Oprah. Ellen membawakan segala sesuatu dengan ringan. Membuat semua yang dia undang seolah sahabat-sahabatnya. Selain wawancara, acaranya penuh dengan hadiah. Mobil, uang, tour, bahkan rumah. Semua diberikan dengan cara menyenangkan dan penuh keceriaan. Seringkali aku tertawa dan bahkan ikut menitikan air mata. Aku benar-benar percaya dia adalah orang yang baik.

Tapi aku kadang bingung pada saat semua videonya habis aku tonton. Padahal hari masih pagi. Kemudian aku menemukan kalau Failblog punya situs partner kebalikannya, yaitu WIN. Situs ini luar biasa! Penuh dengan hal-hal indah, baik, lucu, keren, membanggakan dan hal menakjubkan lainnya. Situs ini membuatku bahagia tanpa merasa bersalah.

Situs ini juga lantas memperkenalkan aku dengan channel Youtube lainnya yang penuh dengan hal-hal kebaikan. Seperti: Late Night with Jimmy Fallon (orang ini adalah bukti bahwa menjadi lucu tak berarti harus menyakiti dan mengolok-olok orang lain), Give Back Films, channel yang memberikan kejutan, biasanya memberikan uang ke orang-orang tak dikenal dan merekam reaksinya. Ada juga Magic of Rahat yang biasanya membuat lelucon di drive Thru, tapi kadang juga memberi kejutan ke orang yang tak mampu. 

Internet dan gadget saat ini mengubah banyak hal. Bahkan membuat orang terkesan tak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya. Tapi melihat semua hal-hal tadi membersitkan secercah harapan. Mungkin memang aku yang salah. Mungkin hubungan sosial memang telah berevolusi. Mudah-mudahan masih ke arah yang baik. Walau medianya sudah berbeda, kebahagiaan itu tak butuh terjemahan. Kebahagiaan itu universal.

Hal ini sedikit banyak, membuat aku lebih mudah menjalankan aktivitas sepanjang hari. Setidaknya membantuku untuk tetap berpikir waras dan membentuk semacam alert kalau pikiran buruk muncul. Mungkin ini yang Teh Mira sebut, mood setting

Aku seringkali putus asa dengan televisi kita, acara gosip dan berita kriminal sudah dimulai sejak dini hari. Berita buruk bukannya untuk diabaikan, menurutku kita perlu tahu apa yang ada di sekitar kita, tapi tetap harus disampaikan dengan informatif, tak berlebihan dan bebas drama.  Tanggalkan gosip dan berita buruk. Tentukan hari yang kita inginkan. Throw the negativity away and let the positive come in :)

Wednesday, March 26, 2014

Aku. Kini.

Sudah lebih dari satu semester ya gak nulis.. Gak kerasa penuh sarang laba-laba blog nya. Hehe.

Walau hanya 7 bulan hitungan kalender. Kenyataannya waktu berjalan dengan sangat cepat. Walau sebenarnya jika melihat ke belakang, kejadian demi kejadian sebetulnya berlangsung dengan lambat tapi sekarang terasa sedang berada dalam kecepatan Warp 9.

Saat ini aku telah menikah. Saat ini amih telah tiada.
*tarik nafas*

Aku terus terang kadang merasa aku masih sedang bermimpi. Jadi kadang merasa punya khayalan tapi kemudian diingatkan kalau itu bukan khayalan. Itu adalah kejadian kemarin.

Aku merasa tidak pernah mengambil keputusan ini. Menikah, maksudku.Aku memintanya. Aku menginginkannya. Bahkan aku ingat, berharap di depan Ka'bah di tahun 2007 akan hal ini. Tapi kemudian aku digerakkan Alloh untuk melakukan ini. Sangat hiperbolic. Tapi benar-benar tidak begitu. Aku yang merasakannya. Detik-detik melakukan itu adalah hal yang sangat berat buat aku. Padahal aku nyaris berumur 37 tahun. Aku benar-benar takut. 

Setelah menikah pun aku masih takut. Bahkan semakin takut. 
Tapi aku yakin apa yang aku lakukan ini benar. Dan tak ada yang bisa aku lakukan kecuali bergantung kepada Alloh untuk menolongku. Tak ada lagi yang bisa menolongku. Dan subhanalloh... ini lah yang terjadi pada aku dan kehidupanku. Alloh menyayangiku, Alloh menggerakanku untuk bisa, bahkan disaat aku percaya aku tak mungkin bisa. Allohu Akbar.

Alloh telah menyiapkan yang terbaik untukku. Di waktu yang sempurna dan dengan wanita yang luar biasa. Aku sangat bersyukur disandingkan denganya.

Seminggu kemudian setelah menikah, Amih berpulang. Di pangkuanku. 
Setelah sholat Jum'at. Insya Alloh aku ikhlas. Kepergian A Fikri dulu ternyata menjadikan aku siap akan kejadian ini. Aku insya Alloh siap. Syukur pula aku memiliki keluarga dan tetangga yang saling membantu. Aku tak kesulitan mengurus segalanya. Alhamdulillah.


Life goes on. Semoga Alloh selalu menyertai aku, kami, dan anda semuanya. Aamiin.

Friday, October 04, 2013

Memilih

Aku berprinsip bahwa manusia itu pada dasarnya baik.
Manusia itu adalah bagaimana kita (memilih untuk) melihatnya.

Tapi tetap saja, pada kenyataannya hal itu sangat sulit diterapkan. Pernahkah anda merasa telah mengetahui seseorang? Rasa itu kemudian berubah menjadi keyakinan dan kemudian keyakinan itulah yang membutakan. Membuat kita lupa akan dua kalimat pertama di atas.
Keyakinan itu yang membuat kita terdorong dan dengan sombong mencap bahwa seseorang itu buruk. Seorang penjudi. Seorang teman yang buruk. Seorang yang malas. Seorang yang menyebalkan.

Manusia diciptakan dengan kebaikan dan keburukan. Kekuatan dan kelemahan. Itu sudah fitrah manusia. Hal itulah yang menyebabkan kita disebut "manusia". Akan sia-sia kalau kita berharap manusia menjadi malaikat. Kita hanya bisa berusaha keburukan itu berkurang. Dan keburukan itu akan hilang jika dan hanya jika Tuhan menghendakinya. Jadi bukan kita yang menghilangkannya.

Adalah sebuah pilihan, bagaimana kita melihat manusia. Kebaikannya atau keburukannya. Kekuatannya ata kelemahannya. Hanya saja, kalau kita memilih melihat kebaikannya, kita akan semakin memahami dan menghargainya. Jika kita memilih melihat keburukannya, kita akan menyepelekan dan membencinya.

Pilihlah kebaikan. Karena hal itu yang aku pelajari di minggu ini. Disaat aku yakin seseorang itu buruk, walau aku mengakui sisi baiknya, aku dipertemukan Alloh dengan kebaikan, kesabaran, dan kemuliaan orang itu. Hal itu seperti menampar dan membuat aku sangat sangat malu. Aku ingin menangis dan meminta maaf padanya saat ini juga kalau aku bisa.

Jangan membuat pilihan buruk seperti yang aku lakukan. 
Sekali lagi, pilihlah kebaikan.

Sunday, July 28, 2013

Batu di bulan Ramadhan

Ramadhan kali ini gak ada tanggal merahnya. Artinya aku gak bisa balik ke Bandung, ngerasain sahur dan buka di rumah. Tapi masa harus gitu sih? Gak enak amat puasa non stop gak ngerasain masakan Amih. Ok, aku tentukan asal saja. Biar ga ada tanggal merah atau hari libur kejepit, aku tetap memutuskan ke Bandung. Aku pilih secara asal, pulang tanggal hari Jum'at tanggal 19, balik lagi Palembang, senin subuh tanggal 21. Deal. Tiket pesawat pun aku pesan jauh-jauh hari, bahkan sebelum Ramadhan dimulai. Biar murah.

Puasa kali ini kami di kosan gak masak lagi. Yang bisa masak udah pada pindah. Jadilah kami pesen katering. Si katering ini datang dini hari jam 1 atau jam 2. Dan yang biasanya kebagian buka pintu pager adalah aku. No problemo. Ramadhan aku jalani hari demi hari dengan antusias. Alhamdulillah lancar. Tapi kemudian, tiba-tiba ada tugas keliling dalam rangka safari Ramadhan, dan aku kebagian. Gak masalah sih, aku kan memang biasa jalan darat keliling Sumbagsel sehubungan dengan tugasku. Bahkan sekarang lebih asik, kan banyak temennya. Aku biasa sendirian ditemenin sopir doang. Cuma, aku kebagian tanggal berapa ya? takut bentrok sama jadwal pulang.

Ternyata aku kebagian tanggal 16 (Selasa), balik Palembang hari Kamis. Sip, aman. Lanjut kerja sehari Jum'at, sorenya balik Bandung deh. Jalurku Palembang - Jambi - Muara Bungo - Palembang. Kegiatan lancar dan aku bersenang-senang soalnya di mobil aku asik, bisa canda-candaan, jadi bikin perjalanan gak kerasa. Tapi kemudian, di hari Rabu ada perubahan jadwal mendadak. Kami harus melanjutkan ke Lubuk Linggau. Balik Kamis malam. Ok, masih ga masalah. Jum'at pagi tetap aku sudah di Palembang kok. Tapiiiii.. kemudian aku dapat telepon harus sudah ada di Jakarta hari Jum'at pagi jam sembilan. Aku mulai gak tenang. Lubuk Linggau - Palembang itu 8 jam. Jadi kalau mau aman, jam 8 malam harus sudah meninggalkan Lubuk Linggau dan mengejar penerbangan paling pagi.

Walau pontang panting, singkat kata aku berhasil sampai di Jakarta tepat jam 9. Aku memanfaatkan waktu perjalanan, di pesawat, di taksi dengan tidur. Aku benar-benar kelelahan. Untungnya aku gak harus grasak grusuk nyari travel Jakarta-Bandung, setelah dapat tebengan gratis dari teman. Hanya saja gak lewat Cipularang, tapi lewat Puncak, soalnya temanku mau ke Cianjur. Gak masalah juga. Aku sudah sangat lama gak lewat Puncak. Jadi sekalian nostalgia. Perjalanan jalur Puncak ini seolah menekan tombol memori yang entah sekian lama terlupakan. Dulu aku pernah sangat membenci jalur ini, karena seringkali macet. Tapi kali ini sungguh-sungguh sangat bersyukur. Udara dingin, jalan bagus, ramai, dan untungnya tidak macet. Berbeda sangat jauh dengan perjalanan hari-hari sebelumnya di Sumatera.

Sabtu malam aku sudah sampai di rumah, Alhamdulillah. Tanpa mengenal lelah, pagi-pagi aku bangunkan si Azhar. Dia ulang tahun hari itu. Dan aku sudah berjanji untuk membelikannya hadiah. Siang hari kami sudah di rumah. Aku memang berniat berbuka di rumah bersama keluarga. Tepat lima menit sebelum buka, pinggang kananku sakit, perut kanan depan pun sakit. Duh.. kenapa ya? apa karena puasa? Serentak setelah adzan maghrib, aku buru-buru minum teh hangat, takut maag. Terus makan dan sholat. Tapi kok, sakit ini kayaknya malah makin parah ya. Aku cepat-cepat pergi ke dokter depan rumah, dia menerka ini cuma sakit otot biasa dan memberikan obat anti nyeri.

Aku tunggu reaksi obat itu. Tak kunjung berhasil. Nyerinya berubah menjadi sangat dahsyat. Aku tak tahan lagi. Aku lalu menelepon kakak iparku untuk diantarkan ke rumahsakit. Sialnya, kakakku sedang di supermarket. Jadi aku harus menunggu lama. Aku berguling-guling di tempat tidur menahan sakit. Seingatku ini adalah rasa sakit tersakit yang pernah aku rasakan. Rintihan dan lolongan seakan ingin aku keluarkan. Tapi tetap aku redam. Aku takut Amih dan Apih di lantai bawah khawatir akan keadaanku. Di mobil menuju rumah sakit aku seakan mau mati. Begini mungkin ya rasa ajal dicabut, pikirku.

Setelah sampai di Unit Gawat Darurat aku gemas dengan perawat yang seakan lambat menanganiku. Aku memohon mereka segera menyuntikku dengan pain killer terampuh yang mereka punya. Tentu saja, mereka tak akan serta merta menyuntikku tanpa tahu sebab musababnya, hahaha. Lolongan akhirnya tak bisa aku bendung, aku mencoba berdzikir, walau diselingi ratapan kesakitan. Aku bahkan menangis dan mengeluarkan air mata. Rasa sakit itu memang sangat hebat, padahal sebelumnya aku pernah mengalami kecelakaan dan hilang gigi depan tiga buah. Tapi dibanding sakit ini, tidak ada apa-apanya. Aku masih merinding jika mengingat rasa itu. Akhirnya suntikan aku terima lewat tangan kiriku. Sepuluh menit kemudian aku seakan lupa rasa sakit yang tadi. Aku kaget, terus terang saja. Bahkan agak sedikit malu sudah berteriak-teriak seperti tadi. Alhamdulillah.

Aku kemudian berjalan sendiri tanpa bantuan ke toilet untuk mengambil sample urine. Ternyata aku infeksi saluran kencing. Dokter memberiku obat dan membolehkan aku pulang. Tepat pada saat aku akan pulang, rasa sakit itu kemudian menyelinap kembali. Aku langsung tegang, dan bertanya kepada dokter apakah aku memang benar-benar sudah boleh pulang. Aku lebih baik dirawat di rumah sakit daripada harus mengalami rasa sakit seperti tadi. Aku memilih diam dulu di rumah sakit, dan menunggu sekitar setengah jam agar yakin rasa sakit itu tak kembali. Ternyata reaksi obat mulai bekerja, dan rasa sakit itu pun hilang. Aku pun pulang ke rumah.

Besoknya aku memutuskan puasa, Karena memang rasa sakit itu tak lagi aku rasakan. Lagipula aku berniat buka puasa bersama bareng teman-teman SMAku. Apalagi aku termasuk panitianya. Gak enak kalau tak datang. Siang hari aku bahagia, karena ternyata rasa sakit itu tak lagi kembali,. Tapi kemudian di tengah persiapan acara, sekitar jam 4 sore, rasa sakit itu menyergap. Dan langsung sakit, tidak mengendap-endap dahulu, tapi memang tidak sesakit kemarin malam. Dengan berat hati aku langsung memutuskan batal dan segera meminum obat. Rasa sakit mulai berkurang tapi tak benar-benar hilang. Terlupakan oleh senda gurau bersama teman-teman yang memang sudah lama tak berkumpul.

Setelah pulang ke rumah, di malam hari, aku tak bisa tidur. Rasa sakit kembali menerpa, aku berguling di tempat tidur. Masih bisa aku tahan walau dengan keringat dingin. Rasa sakit itu hilang sekitar waktu sahur. Aku memutuskan tak puasa dan tak jadi pulang ke Palembang, dan datang ke dokter urolog di rumah sakit Santosa. Ternyata dokternya adalah dr Kuncoro Adhi, ketua OSIS waktu aku di SMP 15 Bandung hehe. Setelah diperiksa dan diUSG, dokter menemukan batu di kedua ginjalku. 0,7mm di sebelah kanan dan 1,4cm di sebelah kiri. Yang kanan menimbulkan sakit karena sudah menyumbat saluran air seni dan menjadi bengkak. Aku diberi obat tambahan dan diharuskan banyak minum dan difoto saluran kencingnya.

Otomatis aku tak bekerja dan tak berpuasa seminggu lamanya. Rasa sakit mulai berkurang walau tak benar-benar hilang. Bahkan pernah datang lagi si sakit hebat di hari Selasa atau Rabu, aku lupa. Aku kapok kurang minum. Saat ini aku memutuskan kembali ke Palembang karena harus membereskan pekerjaan yang aku tinggalkan. Semoga saja si batu benar-benar hilang meninggalkan ginjal dan saluran kencingku. Aamiin.