Thursday, January 27, 2011

Tautan 8

Dapet tautan dari de Annur nih. Lucu juga. Sudah lama banget gak gini-ginian. Serasa jaman friendster, nulis di testimoni. Hahay. Jadul, tapi ternyata emang kangen juga. Baiklah aku coba.

Aturannya kaya gini cenah:

  • Thank and link to the person who awarded me this award.
  • Share 8 things about myself.
  • Pay it forward to 8 bloggers that I have recently discovered.
  • Contact those bloggers and tell them about their awards.
Makasih de annur, sudah ngundang a dodi. Link nya udah di atas.

Hemm 8 hal tentang pribadi sendiri ya? haha... baiklah..

Pertama, Saya terlahir dari keluarga PNS, tapi bukan pejabat. Jadi hidup sederhana, tinggal di Perumnas. menyenangkan. Kehidupan dahulu seringkali kita (saya, kakak2 dan teman2) kenang dan kita tertawakan sekarang. Seperti antri air bersih di pompa manual kompleks, tegang kalau ada imunisasi di sekolah, kerja bakti RW, atau kejadian lainnya.

Kedua, I love people. People tak pernah sederhana, selalu multi dimensi. Saya tak percaya ada orang yang selalu jahat. Saya belajar banyak dari yang namanya manusia. Hal itulah yang membuat saya (Insya Alloh) tidak membenci orang berlama2. Selalu ada kebaikan dalam diri manusia. Besar kecil hanyalah metriks yang dibuat oleh manusia sendiri.

Ketiga. Saya suka tergelitik untuk mengetahui keadaan sekitar. Berita tentang keluarga, lingkungan, teman, saudara, negara, dan sebagainya. Makanya saya suka membaca koran, browsing atau sekedar tanya2. Pertanyaan saya kadang dianggap tidak lazim buat sebagian orang. Misalnya kalau baru kenal, suka nanya, siapa nama orangtua, dulu sekolah SD, SMP, SMA dimana? dsb.

Keempat, Ingatan saya tentang masa lalu seringkali tajam. Kejadian waktu kecil, masa SD, teman2 SMP, SMA maupun kuliah. Tapi sayangnya ini tidak berlaku untuk pelajaran sekolah. Damn! Haha.

Kelima, Sama kaya de Annur, saya tidak terlalu bisa dan biasa mengekspresikan sayang terhadap orang lain, bahkan keluarga sekalipun. Aku --bisa dibilang-- bodoh, dalam hal ini. Tapi Insya Alloh rasa sayang saya terhadap mereka tak pernah padam.

Keenam, In loooovee with history and culture. Kalau jalan2 ke tempat baru, dua hal ini yang biasanya saya lihat terlebih dahulu.

Ketujuh, Menu favorit saya adalah nasi putih. Selama ada nasi putih saya gak terlalu pusing dengan makanan. Tapi kalau di tempat yang ga ada nasi putih saya masih tetap bisa bertahan kok, cuma kaya ada yang kurang aja hehe.

Kedelapan, Suka nonton film, TV shows, musik. Dan sialnya suka nyebar jadi pingin tahu informasi di sekelilingnya, seperti berita film dan bintangnya, fashion, awards, gadgets dan sebagainya.

Hah...gile, cuma delapan tapi serasa seratus. Susah mikirnya hahaha.

Tugas berikutnya forward ke delapan blogger ya. Waduh kayaknya ga ada sebanyak itu deh. Saya menugaskan: Air, yang suka jadi pengingat dan motivator untuk nulis di blog hehe, Tari, my high school classmate yang sudah lama banget ga nulis blog. Terus Teh Mira, si jenius yang unik. Cep iyang, si calon pengantin baru yang banyak kegiatan. Cep Anto, bujang melankolis penggemar jengkol dari preman Dayeuhluhur. Pebe Subarkah, my brother in crime. Jeng Novi, missus pedamba kehamilan. Waduh kurang satu lagi ya.. itu buat kalian, siapapun yang membaca blog ini :)



Tuesday, January 25, 2011

Aku dan Nonton.

Lagi banyak kerjaan. Pusing. Anehnya kalo lagi gini ingatan suka bergerilya menggelitik kenangan masa lalu. Baiklah, sebelum kehilangannya, aku mulai coba menuliskannya.

Kadang aku suka bernostalgia menelusuri postingan blog ini. Ternyata dulu aku sering nulis hasil review nonton film, entah TV Show entah film, baik itu DVD maupun nonton di bioskop. Sekarang-sekarang aku bisa dibilang gak pernah nulis lagi review film, entah kenapa, padahal kegiatan nonton masih tetap aku lakukan. Hehe. Baiklah. Suatu saat nanti akan aku coba nulis review kembali. Kali ini, aku coba nulis histori perjalanan nonton film sejauh yang aku ingat.

Dulu, amih suka ngajak nonton sekeluarga, apalagi kalau pegawai negeri tiap hari Korpri dikasih hadiah tiket nonton film di bioskop. Kami sekeluarga nonton film Vanda theatre (sekarang sudah ga ada, berganti gedung Bank Indonesia). Aku agak lupa judul dan jalan ceritanya. Yang pasti itu film horror Indonesia yang menyeramkan. Dibintang Lenny Marlina. Saking takutnya aku sampai pelukan sama kakakku pas hantunya muncul.

Pemberontakan G30S/PKI. Saat aku SD semua siswa wajib nonton film ini. Padahal kalau dipikir2, film ini gak cocok buat anak-anak. Adegan kekerasannya parah banget. Tapi entahlah, alasan politis kayaknya. Hehe. Aku nonton pas kelas 1!! Naik angkot charteran ke Palaguna. Sebetulnya yang wajib nonton kakak2ku yang saat itu kelas 5. Cuma aku pingin ikut hehe. Amih juga ikut. Pas diangkot aku duduk dipangkuan bu Mia samping pak supir.

Suci Sang Primadona. Film ini sangat melekat di benak aku. Padahal aku nonton pas kelas 5 SD. Nonton di TVRI. Film ini dibintangi Joice Erna dan Rano Karno. Kalau ada yang punya DVD nya aku beli ya...

Penyesalan Seumur Hidup. Film yang dibintangi Dewi Yull dan Cok Simbara. Thema nya aneh. Cari di google aja ya. Tapi aku tonton bareng Novar dan Yepi, yang kala itu bareng SD. Aku tonton di video, di rumahnya Novar. haha.

Kala aku SD, film-film yang mendominasi memang film Indonesia. Bahkan kalau menjelang anugerah penyerahan Piala Citra, aku suka tebak-tebakan pemenangnya sama temenku.

Ngomong-ngomong tentang video, saat aku SD-SMP adalah hiburan mewah. Nyewa filmnya suka di video rental atau tukang video yang suka ngider ke rumah-rumah. Kaset video Beta warnanya hitam, kemudian ada suruhan pemerintahan untuk mengklasifikasi berdasarkan rating. Jadi ada yg warna hijau (semua umur), biru (13 tahun keatas) dan merah (17 tahun keatas). Film yang sering aku sewa adalah Cartoon Classics, Robot Jepang (Google V, Sharivan, Gaban, dsb), film kaset merah yang paling aku inget adalah Indiana Jones, Temple of Doom.

Hook. Biasanya aku selalu nonton barengan keluarga kalau ke bioskop. Nah, film tentang Peter Pan dewasa ini film yang pertama kali aku tonton sendiri. Aku tonton pas kelulusan SMP di Empire, Bandung Indah Plaza.

Honey, I Blew Up The Kids. Sequel dari Honey, I Shrunk The Kids. Film yang aku tonton bareng temen2 kelas 1D di SMA 2 Bandung.

Bioskop favorit aku masa kuliah adalah Nusantara Theatre di Alun-Alun. Lokasinya enak, deket keramaian, murah, ada ruang tunggu berAC, konsumsi bebas (bisa beli di luar mana aja), biasanya aku makan bala-bala dan teh kotak. Oiya, Nusantara juga WC nya di dalam bioskop, jadi gak takut ketinggalan fim kalau ke belakang. Banyak film yang aku tonton disana, diantaranya: Speed 2, Godzilla, Dangerous Minds, Petualangan Sherina, Space Jam, Home Alone 3, dan banyak lagi.

Ransom. Film yang sangat ingin aku tonton kala itu. Tapi entah kenapa, suka gak sempat. Akhirnya film itu gak diputar lagi di bioskop utama (Empire, Regent, Galaxy, Studio 21, Kiara, Nusantara--kala itu belum ada Ciwalk, BSM, apalagi Blitz). Film Mel Gibson itu akhirnya diputar di Palaguna, saya sampai rela bolos kuliah demi nonton film ini. hehe.

Saat kuliah, saya pernah ikut kuis acara Cinema-Cinema di RCTI dan menang! Hadiahnya free tiket sebanyak 10 tiket untuk nonton di bioskop 21 yang ditentukan di awal pengambilan. Aku memilih Empire. Tiket itu saya pakai sendiri dan ada juga yang dibagikan ke teman. Berkat tiket gratisan ini saya menontonn filmnya Adam Sandler, Big Daddy sampai dua kali (di waktu yang berbeda).

Di masa kuliah, saya sempet masih dapet tiket gratis ulang tahun Korpri dari Amih. Kali ini kita gak nonton barengan. Ternyata tiket gratisan Korpri ini bikin sebel. Soalnya kita ga tahu film apa yang akan main sampai kalau kita sudah duduk di dalam bioskop. Dan film yang aku tonton adalah filmnya Van Damme (lupa judulnya) di Majestic, Braga. Dan Rini Tomboy di Dallas. Film terakhir aku tonton bareng Candra haha.

Satu lagi bioskop yang berkesan buat aku adalah Kiara 21. Bioskop ini ada di Kiaracondong, yang jaraknya sangat jauh dari rumahku di Sarijadi. Tapi demi nonton murah, jarak itu aku tempuh. Apalagi ada bis damri jalur baru di Sarijadi ke Kiaracondong yg tepat berhenti di depan bioskop itu. Film yang aku tonton disana adalah: Jumanji, Goldeneye, dan banyak lagi. Pernah aku nunggu bis damri datang selama satu jam, belum lagi perjalanan pulang yang bisa satu jam pula.

Antrian film yang paling menyebalkan adalah, antrian Lord of The Rings, Return of The King di BIP. Film main jam 23, tapi antrian sudah sampai mengular dari jam 3 sore. Aku yang datang ba'da Maghrib tentu saja gak kebagian. Hiks.

Acara nonton teraneh adalah Matrix Reloaded. Aku nonton di Nusantara. Film mulai main jam 18.00 jam 18.15 aku keluar bioskop untuk sholat Maghrib ke Mesjid Agung, Jam 18.40 balik lagi ke bioskop. Aku yakin ga akan ngerti alur ceritanya. Jadi sebelumnya aku beli tiket untuk yang jam 20.00. Jadi setelah film itu berakhir, aku gak keluar bioskop. Lanjut lagi nonton jam 20.00 terus jam 20.40 keluar dan pulang. Aneh memang. dan tentunya pontang panting, soalnya jarak bioskop-mesjid lumayan jauh. Haha.

Thursday, December 30, 2010

Old Blog. Old Friend.

Mengenang memori memang selalu menyenangkan. Blog ini dibuat Februari 2005. Kemudian aku menularkannya pada temanku, Dian Darmawan alias Pebe Subarkah. Dia membuat blog kala itu bernama duatiga.blogspot yang kemudian berubah nama menjadi diandarmawan.blogspot.com.

Aku sering mencela blog itu, hahaha. Partner blog aku pun bertambah dengan hadirnya benny.web.id milik Benny Hamdani. Blog ini lebih gaya, dengan alamat berbayar dan layout yang sering berubah. Tapi sekarang blog ini collapse, hahaha.

Si barkah ini dulu duduk sebelahan sama aku di Bandung. Sekarang kami telah berpencar, Pebe ke Cirebon dan sekarang di Jakarta. Benny di Bontang dan sekarang ke Balikpapan. Aku di Medan dan sekarang di Palembang. Dari semua blog yang dulu bisa dibilang lahir bersama. Hanya blog ini yang masih maju terus walau tertatih-tatih postingannya. Benny lebih fokus ke bisnis sewa rumahnya, dan membuat situs Rumah Dyandra. Rumah yang bisa disewa harian di daerah BuahBatu Bandung. Rumahnya keren, harganya murah (iklan. tapi beneran kok hehe). Sedangkan blognya pebe mati suri dikarenakan alasan yang tolol. Dia lupa password. Huh!

Tapi sekarang pebe sudah mulai kembali berblog ria. Akhirnya ada blog tempat aku mencela kembali. Hehe. Okay.. walau agak gengsi, aku membuat pernyataan ini dengan jujur: Aku kangen blognya pebe. (puas be?!! hahaha). Welcome back old Pal!!

Tuesday, December 14, 2010

Desperately Asking

You know what.. It is sad when you really want to help the ones you love. But feels so helpless and powerless. Gosh.. I want that so bad.
Semoga Kau kabulkan do'aku ya Alloh. Do'a seorang hambamu yang tak bisa berjanji selalu akan menurutiMu. Karena aku selalu gagal.

Thursday, December 09, 2010

Bertemu kembali Bu Mia.

Akhirnya... Setelah melalui pencarian sekian lama, aku menemukan Bu Mia, guru SDku tercinta. Beliau tak mengenaliku tentu saja. Badanku telah banyak berubah. Hehehe. Beliau masih bersemangat seperti dahulu. Kita ngobrol banyak hal, mayoritas bernostalgia masa-masa dahulu. Aku akhirnya sempat berterimakasih atas pengajaran beliau dahulu. Dan rasanya terimakasihku takkan pernah cukup. Terimakasih Bu Mia.

Friday, September 17, 2010

Kemalingan di bulan Ramadhan

Tepat seminggu sebelum lebaran, aku mendapat musibah. Sewaktu perjalanan dinas ke Kayu Agung, sebuah kota di Sumatera Selatan, kurang lebih 2 jam dari Palembang, kaca mobil dijebol, dan tas punyakku digondol si maling. Pada waktu kejadian aku dan supirku sedang jum’atan, jadi gak tau siapa pelakunya.

Reaksi pertama setelah tahu kejadian itu adalah: bingung. Yah, aku bingung menjawab banyak orang yang bertanya apa saja yang hilang, apakah ada laptop atau tidak. Sepertinya memang sudah lazim, kalau tas kita digondol maling, isinya biasanya memang notebook atau komputer jinjing.
Walau tas itu adalah tas yang setiap hari aku bawa. Aku ternyata tidak benar-benar ingat apa saja isi didalamnya. Hal yang aku ingat secara langsung adalah, aku ga bawa macbook ku, tapi yang ilang: kamera digital, token internet banking, dan ipod kesayanganku. Karena memang barang-barang itulah yang sering aku pakai. Kami memutuskan melanjutkan ke Kayu Agung untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum lapor ke polisi. Suasana setelah kemalingan memang tidak mengenakkan. Aku dan supirku saling menceritakan perasaan masing-masing sebelum dan sesudah kemalingan. Kadang terdiam. Saat itulah yang aku gunakan untuk mengingat-ingat apa-apa saja yang ada di tasku.

Satu demi satu barang seperti muncul dalam ingatanku. Buku rekening bank, surat-surat kantor, tiket pulang mudik, charger universal sampai barang-barang yang mungkin tidak penting, seperti lap kacamata, cairan pembersih tangan, dan alat tulis.
Kejadian ini menyadarkan aku untuk lebih menjaga barang milikku dengan lebih baik lagi. Hari ini setelah aku berlebaran di Bandung, aku mulai melengkapi lagi barang-barang yang telah hilang. Aku pun bertekad untuk mengatur barang-barang di tas. Aku benar-benar parah dalam mengingat barang milikku, sekalipun itu dalam tas yang aku pakai sehari-hari. Buktinya aku baru ingat didalamnya ada paspor setelah aku melihat paspor lamaku di kamar. Ckckckck.

Kemalingan ini benar-benar bikin repot. Aku terpaksa harus meluangkan waktu dan dana tentunya untuk mengurusi barang-barang yang hilang. Aku harus ke bank memblokir rekening dan membuka rekening baru beserta tetek bengeknya. Aku pun kini harus mengurus pembuatan paspor yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sigh.

Selain repot, kemalingan ini juga memaksa kita untuk berpisah dengan barang yang memiliki nilai sentimentil dengan kita. Dari semua barang yang ada di tas, aku sangat kehilangan ipod yang entah sudah berapa kali mengusir bosanku. Barang yang kedua adalah: bolpen murahku, BIC Softfeel warna biru, seharga 2500 rupiah, yang sangat sulit dicari. Sudah banyak toko aku singgahi di Bandung ini, sampai sekarang aku tak menemukannya. Nasip..nasip..

Astaghfirullohal’azhim. Aku seharusnya masih tetap bersyukur. Masih jauh lebih banyak hal yang aku miliki dibanding apa yang telah aku tak punyai (lagi).

Oya..mumpung masih lebaran. Mohon maaf lahir bathin ya…
Semoga Alloh mengizinkan kita untuk bertemu Ramadhan dan Idul Fitri berikutnya.

Sunday, August 29, 2010

Amih

Tak ada alasan apapun. Aku hanya ingin menceritakan ibuku. Amih, begitu aku, kakak-kakakku, keponakanku, bahkan tetanggaku dan teman kantorku menyebutnya. Nama sebetulnya adalah Siti Fatimah. Lahir di Bandung, 11 Maret 1944. Beliau lulusan SD Lengkong, SMP 3 Bandung, dan SMA 4 Bandung. Beliau pernah bekerja di Bagian Kesra Kotamadya Bandung, yang kemudian berubah nama menjadi Dinas Sosial. Amih memiliki teman bernama Ibu Entin, Bu Sumirah, Bu Lilis, Bu Neni (yang namanya bu Neni ini banyak!). Eh jadi pingin cerita sedikit tentang bu Entin. Bu Entin (almarhumah) ini sahabat amih, percaya atau tidak, foto beliau menghiasi album foto keluarga kami. Dari jaman jadul sekalipun.

Amih ku orang yang istimewa buat kami. (Tentu saja seorang ibu memang biasanya jadi orang spesial buat masing-masing orang, bukannya?). Amih suka cari kutu rambut. Aku suka disiaran sama amih sambil tiduran nonton TV. Tapi sialnya aku gak ada kutunya. Jadi amih gak suka nyiaran orang yg gak ada kutunya. Amih suka mencet bisul (watchout guys, dia selalu tahu). Amih suka nyabut gigi ungger anak-anaknya. Amih suka ngedampingin ke
luarganya yang sedang dioperasi.

Amih senang berbelanja di Pasar Baru (dulu zaman masih kotor, dan sekarang). Aku suka kewalahan ngikutin amih belanja. Dia bisa gesit di keramaian pasar walau sambil bawa belanjaan banyak. Sebelum dijilbab, amih suka ngeriting rambut di salon Memory, simpang Dago. Pulang kerja jam 3, amih selalu pulang bawa oleh2. Kalo jam 3 belum pulang artinya ada rapat, atau dikeriting dulu. Hahaha. Amih jago masak. Walau pulangnya cape, pasti sempet masak. Menu nya kadang bikin repot padahal, seperti bikin rolade atau sate!

Amih aktif suka ikutan gerak jalan di kantornya. Bahkan amih ikutan paduan suara. Amih suka bikin baju sendiri. Bikin pola dari kertas Koran, terus dijahit. Oh iya..setiap baju/celana bolong, pasti besoknya sudah dijahit. Walau kita gak bilang. Amih gak suka sinetron. Tapi suka banget nonton film. Bahkan jaman SMA , pulang sekolah amih suka ke bioskop. Jadi sudah jelas kan kesukaan aku nonton dari siapa asalnya! Amih suka cerita kalo dulu jaman SD sampai SMP suka jalan kaki ke sekolah. Baru setelah SMA pake sepeda. Itu yg selalu
diceritakan amih kalo kita minta ongkos ke sekolah! Bosen! Hahaha.

Amih suka ngisi TTS. Terutama TTS bekas orang yang gak selesai. Amih suka baca Harr
y Potter, dan novel2 lainnya. Amih suka rebutan sama aku. Amih sangat suka beberes, terutama nyikat kamar mandi. Pernah amih ikut pipis di wc umum sebuah pasar. Udahnya dia beli sikat, dan kamar mandi itu pun disikat amih sampai kinclong. Amih suka ngecat tembok dan pagar. Amih suka sasapu. Amih suka motong pohon dan rumput yang gak rapi. Bahkan itu di rumah tetangga. Serius. Hahaha. Tetanggaku sudah maklum.

Amih sangat suka nonton sepakbola. Tim favoritnya tentu saja Timnas, Persib, Arsenal dan Lazio. Tapi walau bukan tim favoritnya yang main, Amih tetap saja nonton. Amih juga pernah nonton Persib ke Jakarta bareng teman-temannya. Dan dia ibu-ibu sendirian. Tapi beneran loh amih ini kuat kalo nonton sepakbola. Dulu jaman masih kerja, walau semaleman nonton, besok nya kerja seperti biasa. Oiya amih juga suka nonton tennis lapangan.

Supermarket favoritnya adalah Griya/Yogya. Warna favoritnya adalah Merah. Gak bisa naik motor. Dulu pernah belajar, tapi jatuh, dan gak dilanjutin. Sekarang setelah pensiun amih menjabat (hahay) sebagai bendahara pengajian ibu-ibu Al-Hidayah. Tukang sayur favoritnya adalah si Ujang. Kegiatan di rumah sekarang selain masak, ngepel, nyetrika, ngecat, dan sebagainya dan sebagainya, juga suka ngasuh si Israkhi Punjabi, keponakanku yang tinggal di rumah. Kalau naik mobil, amih suka otomatis tidur. Pernah dulu naik angkot dari kantor, ketiduran, jadi kelewat. Trus naik angkot lagi, eh kelewat lagi. Lieur hahaha.

Amih juara cerdas cermat di RW kami. Tentu saja, karena amih adalah penyuluh PKK di kota Bandung. Amih juga pernah juara pingpong puteri di PDAM. Amih naik haji tahun 1994. Waktu itu amih nyaris kegencet di Mina dan kehilangan kacamatanya. Amih suka Backstreet Boys, terutama Nick. Amih juga pernah nelepon radio, minta lagu Heaven Knows-nya Rick Price. Tempat makan favorit amih adalah Pak Cimet.
I love you so much, Amih!

foto Amih dan kakakku courtesy of Mulya Gentawanda, keponakanku! Nuhun!!

Monday, August 02, 2010

Dear...

dear tentanghijau..
hari ini aku sangat ingin pulang.
Ingin bertemu dengan Bandungku.
Bertemu keluarga dan teman-temanku.
Apa karena ini mau Ramadhan?

Ya Alloh sempatkan aku menjalani Ramadhan.
Sempatkan aku pulang...

Monday, July 05, 2010

Reuni Akbar SMA 2 Bandung: 2010


Weekend Sabtu Minggu kemarin, 3-4 Juli 2010 aku pulang ke Bandung. Sengaja menyempatkan diri untuk datang ke Reuni Akbar SMA 2 Bandung. SMA ku tercinta. Selain itu aku memang janji pulang untuk menghindari pernikahan Pak Maman, salah satu karyawan SMA 2.

Jujur, di awal hari aku agak malas pergi kesana. Entah kenapa. Mungkin dikarenakan macet yang mendera kota Bandung tanpa ampun, bertepatan dengan liburan anak sekolah. Apalagi SMA 2 ada di Cihampelas yang weekend biasa saja, pasti macet. Beres resepsi aku pun memaksakan pergi sendiri jam 2 siang. Oh iya, angkatan aku, lulusan 95 sebelumnya sudah reunian di bulan Mei. Dan sudah janjian pada dateng jam 4 sorean. Tapi ternyata tetep aja yang dateng sedikitan. Hehehe.

Detik pertama menginjak sekolah. Perasaan itu kembali lagi. Perasaan terharu. Perasaan girang tak terkira. Walau suasananya jelas jauh berbeda dari tahun 1992-1995, rasa itu masih ada. Rasa terimakasih yang tak pernah bisa aku wujudkan dalam langkah nyata. Sekolah ini mengajarkan aku banyak hal, membagi kenangan yang tak pernah aku lupa. Bahkan ketika aku pergi jauh sekali pun.

Aku gak ketemu banyak orang yang aku kenal. Tapi tak pernah menjadi masalah. Duduk sendirian pun aku tak merasa kesepian di tempat itu. Orang-orang berlalu lalang dengan baju warna warni. Ya, tiap angkatan pake seragam warna warni. Satu hal yang tak berubah dari reuni akbar terakhir tahun 2007 adalah keceriaan dan kebahagiaan yang tergambar dari wajah alumnus tahun manapun. Bernostalgia, bersenda gurau, tertawa, ngobrol tak habis-habis. Stand angkatan masih banyak, dan mayoritas menjual makanan. Panggung yang menjadi atraksi utama pun tak pernah sepi.

Aku datang pas di panggung sedang tampil angkatan 72, 73, 74 berkolaborasi bernyanyi sambil berdansa. Sumpah! Banyak yang terlihat cantik dan gesit. Lupa bahwa sebenarnya mereka hampir berumur 60 tahun. Hebat! Berlanjut dengan penampilan Trie Utami ditemani teman-teman seangkatannya, angkatan 86. Aneh banget nonton artis tapi ngobrol dulu pake bahasa sunda. Dalapan geneeeeepppp??? Ku aingggg!! Hahaha! Beneran, aku gak melihat Teh Ii sebagai artis, aku melihatnya sebagai alumni SMA 2 biasa. Teh Ii menyanyikan lagu “First Love”nya Nikka Costa. Ah…serius deh..keren banget suaranya.

Berlanjut dengan Fatur Java Jive beserta gerombolan angkatan 87 yang merangsek ke panggung gila-gilaan. Dimulai dengan lagu “Tanda-Tandanya” by Mus Mujiono. Panggung makin panas, angkatan yang lebih tua pun tak tahan turun ke panggung dan joget bersama. Aku pun tak terkecuali hehe. Fatur lanjut dengan lagu “Anak Sekolah” nya Chrisye dan “Karma Chameleon” nya Culture Club. Serasa Zona 80an!! Akhirnya sebelum Maghrib, angkatan 87 menutup dengan lagu “Give It Up” nya KC & The Sunshine. Perrrfect!!

Sela-sela istirahat panggung aku gunakan ketemuan dan ngobrol dengan guru-guru yang sudah pensiun. Bu Ida kimia, Bu Rokamah bahasa Indonesia, Bu Hasmiati kimia, Bu Dewi kimia, Bu Enih sejarah. Ahhhh…merinding aku mengingatnya!

Sayangnya ba’da maghrib aku harus pergi. Padahal acara masih berlangsung, bahkan ada acara nonton bareng Piala Dunia antara Jerman vs. Argentina segala.

Hari Minggu aku kembali ke Reuni Akbar ini lagi. Aku datang ba’da Dzuhur. Ternyata yang datang masih banyak, walau gak sebanyak hari Sabtu sebelumnya. Di panggung ternyata ada band tamu, Trilogy Band (angkatan 98) sedang nyanyi Over My Shouldernya Mike & The Mechanics. Dilanjut aksi spontanitas bagi siapa saja yang mau tampil. Aturannya: satu lagu! Kecuali yang beken, boleh lebih hahaha.

Yang menarik dari suguhan di panggung adalah, aku serasa menonton acara musik gado-gado. Setiap yang tampil mencerminkan lagu dan musik yang trend pada zaman itu. Angkatan 70an pasti maen lagu yang ngeblues, rock and roll atau yang agak-agak country. Angkatan 80an campuran blues, rock, dan tentunya pop dengan balutan techno, yiihaaa!!

Aksi spontanitas itu jangan diartikan dengan membosankan. Mayoritas suaranya bagus banget! Dimulai dengan Om Jaka Bimbo dari angkatan 72. Beliau menyanyikan lagu Balada seorang Biduan dan Tante Sun yang ternyata dulu pernah dilarang. Perasaan liriknya biasa aja deh hehe. Mungkin dinilai terlalu nakal di tahun itu. Berlanjut dengan kang Erlan (89) yang vokalis band lokal veteran kota Bandung, Wachdach Band, menampilkan lagu Englishman In New York nya The Police. Ahhhh….suaranya dahsyat!!!

Hujan kemudian mengguyur SMA 2 Bandung. Tapi acara tak berhenti. Sekarang giliran Rieka Roeslan (89) pentolan grup keren dulu, The Groove. Teh Rika pinter menyalakan suasana. Apalagi ditengah-tengah teman-teman lamanya. Lagu pertama adalah “Dahulu”. Lagu ini ternyata dibuat jaman SMA dulu. Wow!! Lagu ini berhasil menarik angkatan 88, 89, 90 ke panggung, seakan tak peduli guyuran hujan yang makin deras. Pada kesempatan itu pula aku baru tahu kalo Akay Alisano, penyiar radio 99ers sekaligus MC kondang ABG adalah Angkatan ’88. Anjirrrrr!! Mukanya masih terlihat ngora!!!

Setelah terpotong Ashar dan beberapa lagu blues persembahan angkatan 70an, acara di panggung diisi lelang lukisan karya Alumni yang hasilnya digunakan untuk amal. Aku berpindah ke stand di area lapangan basket. Ternyata angkatan ’80 dan ’81 bikin panggung mini angkatan mereka sendiri. Ada MC dan penari jaipongan segala. Disana aku menemukan bapak-bapak bertampang kiyai menyanyi I Started A Joke dengan keren sekali!! Hebad!

Sambil jalan-jalan aku ngumpul sama guru-guru. Ada bapa, Pak Utomo, Pak Kadir, Bu Poppy dan Bu Dienar. Tiba-tiba datang seorang akang alumni 87 menyalami Bu Dienar sambil ngomong:

Ibu..punten kapungkur abdi mere leho ka Ibu. Bongan ibu ningali sayah keur niron, abdi the nuju pilek, nyingsring…barabay leho teh kana leungeun, teras sasalaman sareng Ibu.
Percakapan itu berhasil membuatku tak henti tertawa. Semua yang ada disana pun tertawa. Kejadian yang aneh.

Sebelum acara berakhir. Aku beruntung sempet nonton salah satu band gaek kota Bandung, Time Bomb Blues. Vokalisnya angkatan 90 dan gitarisnya angkatan 86. Mereka menyanyikan beberapa lagu, ditutup dengan Still Got The Blues dari Gary Moore. Aku gak pernah suka lagu blues. Buat aku aliran ini terdengar asing walau telah berulang kali mendengarkannya. Yang membuat penampilan terakhir ini istimewa adalah di bagian akhir lagu ini, sang gitaris memainkan solo gitar seperti kesetanan. Sumpah hebat. Bahkan sambil mengetik tulisan ini, aku masih merinding. Penutup yang sempurna!!

Terimakasih SMA ku tercinta. Terimakasih para alumni yang hebat. Sampai bertemu tiga tahun lagi...

photo courtesy of Ibu Yanti

alhamdulillah aku menemukan video cabikan gitar yang bikin aku merinding itu...enjoy!!

Wednesday, June 02, 2010

First time in Palembang

Second day in Palembang. Nyari kosan gak dapet-dapet. Mudah2an hari ini bisa dapet. Aamiin.
Seperti biasa first week, first month is the hardest.
Aku lanjutin ceritanya entar ya....

Sunday, February 21, 2010

Andrew Garcia

Sepanjang sejarah perjalanan American Idol, aku ngefans sama Ruben Studdard (season 2), Elliott Yamin (season 5) dan Blake Lewis (season 6), selebihnya biasa-biasa saja. Apalagi ada beberapa season yang aku gak ikutin sama sekali, seasonnya Kelly Clarkson (belom ngetop, gak ada stasiun tv yg relay, dan gak punya tv kabel), Season nya Fantasia Barrio (sama, gak ada di tv lokal, dan sama, belom punya tv berlangganan) dan season terakhir kemarin, season-nya Kris Allen, yang entah kenapa aku kehilangan minat, padahal sudah punya TV kabel.

Season ini aku di Medan, artinya: gak bisa nonton TV berlangganan. Tapi entah kenapa kok aku tertarik untuk nonton American Idol kali ini. Mungkin karena ada Ellen deGeneres-nya kali ya?! Entahlah. Aku mulai download, episode demi episode, terutama 4 episode Hollywood week. Syukurlah. Karena di season ini aku bertemu: Andrew Garcia! Somehow, suaranya menyenangkan. Apalagi dia punya kemampuan aransemen ala David Cook. Setelah searching di Youtube, ternyata video nya banyak banget, dia sedang ngejam baik sendirian, sama isterinya atau sama teman-temannya. Ini untuk pertamakali aku ngefans peserta American Idol dari babak Hollywood Week.

Aku tahu, sangat terlalu dini untuk untuk memprediksikan dia menjadi juara. Apalagi ujian-ujian American Idol sangat ajaib, seperti menyanyikan lagu country, atau lagu Elvis Presley. Blah. Hahaha. Tapi aku benar-benar berharap dia setidaknya berkesempatan untuk rekaman dan aku bisa membeli CDnya!

Aku posting, awal kekagumanku akan Andrew Garcia. Saat dia menyanyikan lagu Straight Up nya Paula Abdul dengan sangat berbeda. Gilingggg Kerennn!!!


Friday, February 19, 2010

Gerah dan Masuk Angin!

Tinggal di kota Medan yang notabene lebih panas dibanding my lovely Bandung, otomatis punya masalah menetap: Kegerahan alias Kepanasan. Kalau di pagi hari gak terlalu terasa, soalnya pagi disini datang lebih lambat. Jam 7 belum terlalu silau.

Jarak kantor-kostan bolak balik aku tempuh dengan berjalan kaki. Itung-itung olahraga gratisan. Yang parah itu sore menjelang malam (soalnya siang-siang kan di kantor, pake AC), baru dateng dari kantor, kemeja, celana, daleman basah oleh keringat. Kadang setelah mandi pun tetep aja keringetan.

Masalah keringat dan kepanasan ini kalau gak ditangani dengan benar, ternyata bisa menimbulkan masalah besar—selain menyebabkan kekesalan yg amat sangat , tentunya. Seperti yang terjadi padaku dua hari lalu. Tidur berkeringat, kemudian terbangun dini hari dengan baju basah dan kepala sakit akibat masuk angin.
Kapok dengan kejadian itu, mulailah tanya tabib pribadiku hehehe. Dapetlah tips seperti ini:
  1. Setelah keringetan, buka baju, lap keringat terus menerus. Ganti baju dengan yg kering. Kalau keringetan lagi, ganti lagi bajunya (boros cucian sih memang).
  2. Diam/istirahat beberapa waktu sampai suhu badan mendingin. Jangan mandi dalam kondisi masih berkeringat.
  3. Mandi. Ini sebenernya optional, bisa cuma diseka, tapi aku memilih mandi sih. Selain jadi bersih dan segar, menurut aku, mandi itu bisa “bring the good mood”. Aku biasa pakai sabun antiseptik, misalnya merk Asepso. Oiya sudah malem banget kalau bisa jangan mandi, gak bagus buat kesehatan. Batasnya jam 22.00.
  4. Setelah mandi jangan lupa, keringkan badan, pakai handuk. Pakai baju kering. Adakalanya badan kembali keringetan. Terus keringkan. Kalau mau pake bedak/talc powder. Dan aku menemukan bedak yg enak banget. Merknya Snake Brand Prickly Heat Powder Classic. Setelah dipakai ada mentolnya, badan jadi anget tapi segar. Enak!!!
  5. Jangan lupa selain badan, rambut juga harus kering.
  6. Aku kalau sudah kena masuk angin biasanya efeknya parah. Selain pusing, mual, juga ditambah bola mata sakit. Biasanya aku minum Paramex terus tidur. Tapi ternyata ada cara yg lebih aman, minum vit. C, terus tidur. Setelah bangun tidur, masuk angin tersembuhkan Insya Alloh.
Oiya biar ga boros cucian, baju yang basah keringetan dijemur aja, gak usah dicuci. Bau sih memang. Gapapa lah sendirian ini juga! hahaha. Nah, kalo orang-orang sudah mulai menjauh, tandanya memang harus dicuci *Wink* Mudah2an berguna ye!

gambar diambil dari sini.

Monday, January 04, 2010

I'll Be Loving You Forever

Kerja sambil pasang headphone, play iTunes dengan shuffle mode. Terpasang lagu I'll Be Loving You Forever dari New Kids On The Block. Lagu itu seperti menekan tombol ON mesin waktu kembali ke tahun 1989/1990.

Saat itu aku masih kelas 1 SMP. Uang jajan aku Rp 500/hari. Dikurangi ongkos tersisa 300 rupiah untuk jajan. Aku harus rela tidak jajan dan mengumpulkannya demi hari Rabu. Karena pada hari Rabu itu majalah HAI terbit. Perjuangan untuk mendapatkan majalah itu hebat lho. Selain mengumpulkan uang, aku harus pergi ke Setiabudhi kalau ingin mendapatkannya di pagi hari. Jadi aku rela pergi pagi jam 7 ke toko buku Budi Luhur di Setiabudhi yang masih belum buka demi menunggu majalah HAI terbaru itu. Sekarang aku juga heran, kenapa aku gak mau menunggu sampai jam 12 aja. Toh, aku sekolah siang, dan kalau ke sekolah, aku pasti melewati toko buku itu juga. Aneh hehhehe.

Pada masa-masa itu yang menjadi bahasan top adalah Tommy Page, New Kids On The Block, Milli Vanilli (OMG! hahaha), Tiffany, Guys Next Door, dan lain-lainnya. Sedangkan bahasan lokal, seperti 10 cowok top SMA di Jakarta, Bandung, Surabaya. Hahaha, ABG banget. Tapi saat itu aku memang terbius majalah itu. Teks lagu si I'll Be Loving You Forever ini dimuat di salah satu edisi si majalah HAI. Aku setengah mati menghapalkannya dengan bahasa Inggris payah. Inget deh I've dibaca ai vi. Hahaha. Dan guess what? Hapalan itu masih nempel sampai sekarang! Yihaaa!!!

Thursday, December 31, 2009

2009: WhatAYear!

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir di tahun 2009. Tahun yang mengagumkan penuh rangkaian cerita dan kejadian. Setelah dijalani waktu setahun ternyata serasa tak lama. Namun, sepertinya tidak mungkin merangkum peristiwa demi peristiwa satu tahun dalam satu judul cerita. Aku hanya coba mengingat kejadian yang fenomenal yang terjadi di tahun ini.

Kota Baru
. 01-01-09.Tahun 2009 aku mulai di kota selain Bandung. Aku mulai di kota Medan. Tepatnya di sebuah kamar di hotel Tyara. Tahun ini aku awali dengan tantangan baru. Aku dimutasi ke Call Center Medan. Ini bukan kali pertama aku ke Medan, bahkan aku sudah tiga kali ke kota ini. Tapi saat ini berbeda. Aku akan bekerja disini, aku akan bertempat tinggal disini. Aku harus menyesuaikan dengan budaya, makanan, cuaca, kebiasaan, dan ritme kehidupan. Di Medan ini aku kembali kos, dan akan sering naik pesawat Medan-Jakarta. Dilanjutkan travel Bandara-Pintu Tol Pasteur. Alhamdulillah saat ini aku sudah bisa menikmatinya.

Concert of Dream. 06-03-09. Bagiku konser menarik yang ingin aku tonton (sampai saat ini) hanyalah John Legend, Jason Mraz dan Dave Matthews Band. Sempat excited ketika mendengar gossip John Legend akan ke Jakarta mengisi rangkaian Java Jazz 2009. Tapi ternyata tak jadi. Penggantinya adalah: Jason Mraz!! Yeah!! Segera saja aku booking tiket dan assign cuti sekalian seminggu hehe. Konser yang mengagumkan. (Dan ternyata John Legend confirmed konser di Java Jazz 2010 Maret nanti. Wow!)

Morocco. May. Tempat impian yang selalu aku cita-citakan. Tak pernah menyangka akan pernah kesana di tahun ini. Bahkan nyaris tak pernah bermimpi akan benar-benar mewujudkannya. Tapi, Subhanalloh. Ini kenyataan. Morocco aku kunjungi di tahun 2009 ini!

Kelulusan demi Kelulusan. Agustus. Tahun ini tahun perjuangan untuk orang-orang tercinta sekitar aku, khususnya di dunia pendidikan. Fikri, keponakanku harus menerima kenyataan tidak diterima di SMA 2 Bandung, dan bersekolah di SMA 1 Bandung. Alhamdulillah. Fanny, kakaknya harus berlapang dada tidak diterima di SNMPTN, dan sempat khawatir tidak kuliah tahun ini. Akhirnya diterima di Unisba. Alhamdulilah. Teh Dhyah harus berjuang sampai titik deadline penghabisan untuk bisa wisuda Agustus. Dan akhirnya tercapai. Alhamdulilah. De Annur pun lulus di bulan Oktober dengan cum laude. Dan Aku bisa mengikuti wisudanya, Alhamdulillah.

Sorrows. 09-08-09. Selain berita gembira, ditahun ini Apih kecelakaan. Di Garut, sehabis pulang dari Ciamis nengok Ema yang sakit, apih dan dua adiknya tabrakan. Tapi endingnya tetap saja berita bahagia, apih dan yang lainnya selamat dan sudah sehat kembali. Ma Anah, nenekku yang tersisa pun akhirnya menghembuskan nafasnya di tahun ini. Sayangnya aku tak bisa pulang. Bahkan sampai saat ini aku tak memiliki kesempatan untuk ke Ciamis. Selamat jalan ema ku tercinta!

Goodbye Jobe. 08-09-09.Jobe (dibaca: jo-be) adalah nama mobilku. Hyundai Atoz Silver. Mobil pertama yang aku miliki atas keringatku sendiri. Mobil yang menemaniku selama lebih dari 3 tahun. Mengantarku kemana saja yang aku mau. Sumedang, Lembang, Ciamis, Garut, Kadipaten, Cianjur, dan setiap jengkal Bandung yang ingin aku kunjungi. Tak terhitung berapa kali Jobe menjadi saksi sumpah serapah, nyanyian sumbang, teriakan lepas dan obrolan hangat. Jobe seperti rumah kedua. Jobe pula yang mengantarkan aku ke Ciwidey di subuh hari, hanya untuk kemudian kembali lagi ke rumah. Perjalanan aneh, tapi selalu aku rindukan. Jobe ditemani Buzz Lightyear di spion dalamnya. Hari ini Jobe tak lagi di rumahku. Semoga dia memberi keceriaan sama kepada orang lain. Goodbye Jobe!
Jobe berganti Jonessy, Hyundai i10 abu-abu. Walau masih muda, Jonessy sudah berkelana sampai ke Garut, Sumedang dan Ciamis. Selamat datang Jonessy!


Akhir hari, akhir tahun, selalu disertai harapan menjadi lebih baik di keesokannya.
Begitupun hari ini. Selamat jalan 2009! Selamat datang 2010 penuh harapan baik!

oiya, musik yang tepat untuk menggambarkan 2009 ini dikolaborasikan dengan indah oleh DJ Earworm disini:


Tuesday, December 08, 2009

Cuti Menyenangkan (Lagi)

Begini nih kalau pulang ke Bandungnya kelamaan. Susah buat menyesuaikan lagi mood. But, no matter what I have to try. Mudah-mudahan dengan menulis apa yang terjadi di Bandung seminggu lebih kemarin bisa menolong membunuh rindu yang memang membunuh. Hiks.

Aku pulang di hari Kamis sore, dan hari Jum'at adalah Idul Adha. Sengaja pulang naik flight jam 5, biar gak terlalu ngantri naik travel di Soekarno Hatta-nya nanti. Tapi apa mau dikata, flight delay sampai jam 19.30. Artinya sampai Jakarta jam 21.30. Ternyata Bandung-Jakarta dan jalur kebalikannya macet banget hari itu. Mungkin karena libur panjang. Travel pun jadi jarang dan penuh semua. Untung aku masih kebagian. Nyampe Bandung jam 2 dini hari. Disambut gema takbir dari Mesjid Al-Hidayah tercinta. Jujur, menceritakannya pun membuat menitikkan air mata, padahal sudah lama berlalu.

Memulai pagi keesokan harinya dengan shalat Ied. Karena hari itu hari Jum'at, acara potong kurban tidak dilakukan setelah shalat Ied, tapi rencananya besok hari Sabtu. Jadi hari itu rencananya aku habiskan dengan bercengkrama bersama keponakan. Tapi si amih, punya rencana lain. Dia mengajak kami semua ke Cipanas, Garut. Hmmm...aku sih hayyuuu ajah. Gak ada kata cape. Ternyata jalan gak rame, Rancaekek, Nagreg, dan kota Garut pun sangat lancar. Jalan-jalan dan acara berendam di Cipanas jadi asik. Alhamdulillah.

Besoknya, didominasi dengan kegiatan khas Idul Adha, melihat penyembelihan binatang kurban, dan..nyate tentunya!! Tapi kali ini aku cuma ikut makan aja. Yang masak giliran si Azdun, Fikri dan Amih. Lumayan enyakk!

Aku agak lupa kegiatan di hari Minggu-Kamis, tapi yang pasti jauh dari nganggur dan jauh dari rasa bosan. Di hari-hari itu, si Jonessy, mobilku jarang sekali nganggur di garasi. Jalan-jalan ke distro bareng Fanny, Fikri dan Azhar. Makan di Warung Pasta (sampai 3 kali di hari yang berbeda! dengan orang yang berbeda-beda pula!!). Sekedar belanja kebutuhan sehari-hari pesenan Amih, karaokean di Nav, dan..oh iya..ngurusin pemasangan Speedy buat di rumah Bapa. Khusus untuk hal yang terakhir ini hasilnya gak sukses. Si petugas Speedy ini asli ngarang! Selain itu aku juga tak lupa mengantar jemput Syaiq sekolah, bahkan ikut acara latihan manasik. Dan yang reguler setiap hari adalah, beli gorengan si Neneng di pagi hari. Enak..asli enak!

Hari Jum'at. Aku berencana ikut serta ke Conggeang bersama karyawan dan guru SMA 2. Sama seperti dulu. Tapi kali ini agak berbeda. Berbeda karena kali ini perjalanannya direncanakan, nginap, dan pesertanya lebih banyak. Yiihaa. Sangat sulit menceritakan perjalanan ini hanya dalam satu alinea. Beribu momen berebut di kepalaku menunggu untuk diceritakan. Kali ini aku pergi dari Bandung bersama Bapa, Pak Eddie dan Pak Usep. Start dari SMA 2. Datang langsung disuruh makan. Dilanjutkan dengan pertandingan gapleh semalam suntuk. Aku gak ikut tentunya. Tapi aku tak bisa berhenti untuk tidak menyimaknya. Senda gurau seperti tak henti malam itu. Terutama, Ade Maryono, sang maskot di piknik kali ini. Gapleh hanya berhenti diselingi sholat. Gapleh terbagi ke dalam 3 group, masing2 empat orang. Beda group, beda juga nuansanya. Ada yang serius, ada yang ahli banget, ada juga yang gak berhenti bercanda, seperti groupnya Ade Maryono, Pak Eddie, Pak Mumu dan Bapa. Ampuunnn! Aku sampai harus bekerja keras berhenti tertawa sejenak, agar kepalaku tak sakit.

Menjelang tengah malam kita menyempatkan berendam di Cipanas Cileungsing. Ternyata suasananya agak berbeda dengan jaman KKN aku dulu. Lebih bersih dan lebih tertata rapi. Pulangnya kembali dilanjutkan gapleh. Tapi aku tak tahan, aku tidur. Dan sekasur dengan guru PSPB ku tercinta dulu Pak Eddie. Ternyata Pak Eddie motah dan kereknya polll..hahaha..bahkan beliau sempat menendang dengan telak wilayah vitalku. Beu!

Aku tak bisa tidur full. Mungkin karena excitement, ditambah suara yang tak berhenti disekelilingku, ditambah juga memang malam itu, Pak Dadang datang membawa organ, dan yang lain ikut menyanyi haha. Tapi akhirnya jam 3 dini hari semua tidur. Dan aku terbangun di jam 4 tanpa bisa terlelap lagi. Aku hanya bisa memandangi para karyawan dan guru bergelimpangan dengan suara ngorok bermacam-macam dan kadang diselingi kentut hahaha. Subuh yang aneh.

Tapi keriaan dimulai lagi sekitar jam 5.30, tapi aku dan Bapa pergi. Kita berencana pergi ke kota Sumedang, mencari rumah teman lama Bapa di daerah Perumahan Asabri. Alhamdulillah ketemu. Kita tak lama berkunjung. Hanya sekedar silaturahmi. Kami kembali ke Conggeang. Ternyata yang lain sudah berkumpul di kolam pemancingan. Acara mancing diikuti hampir oleh semua orang. Dan tentu saja tak lupa diselingi celaan dan senda gurau.

Disaat yang lain masih mancing, Bapa, Pak Mumu, Pak Kus dan Pak Dadang kembali ke base camp. Disana kita berencana untuk pergi ke Citiis, kolam mata air yang dulu pernah aku kunjungi. Tapi ternyata ditengah jalan kita berubah haluan. Arah yang dituju adalah Puncak Manik, tempat situs bertemunya Cakrabuana dan Ibu Manikmaya, leluhur dusun Puncak Manik disana. Perjalanan yang ditempuh sangat berat, terutama buatku dan Pak Dadang. Jalan setapak dan menanjak sangat menguras tenaga, dan mengikis semangat, apalagi ditambah kerumunan nyamuk yang dahsyat dan tak kenal lelah. Sumpah, aku serasa hendak pingsan. Tapi alhamdulillah, kami semua berhasil sampai di tujuan. Pulangnya tak sesulit tadi. Jalan menurun ditempuh dengan penuh semangat.

Kami langsung menuju mata air Citiis. Tak peduli keringat dan panas yang masih mendera tubuh. Aku hanya ingin berendam di mata air itu. Apalagi ditambah teh botol dingin pake es. Segarrrr...
Waktu dzuhur kami berkumpul di base camp kembali, sambil menunggu yang lain berkemas aku menunggu di ruang tamu. Tapi ternyata aku ketiduran selama 2 jam. Aku memang kelelahan.
Perjalanan Conggeang-Bandung, ditempuh dengan lancar, hanya sesekali padat di pusat kota Sumedang dan Cadas Pangeran. Yang agak mengganggu adalah pusing kepala gara-gara berendam di panas hari tadi dan paha pegal gara-gara perjalanan menyiksa ke Puncak Manik. Tapi Alhamdulillah kami sampai juga. Beristirahat sejenak di Haji Yasin sambil menunggu tukang sate, yang tak kunjung datang. Akhirnya diganti dengan nasi padang dan rendang. Alhamdulillah!!

Besoknya seakan tanpa lelah aku berkelana kembali, cuci mobil, jalan-jalan ke Toko Setiabudhi dan periksa mata di Advent. Terus ke rumah Bapa. Sepertinya beliau masih butuh main dan jalan-jalan. Jadi....kita pun jalan-jalan lagi hahaha. Ke Margahayu, tersesat. Ke SMA 2, tak jadi karena suatu hal. Akhirnya ke rumah Pak Mumu di Gegerkalong dekat Daarut Tauhid. Sholat Maghrib, dilanjut mencari teman Pak Mumu yang akan mereparasi komputer di daerah Leuwi Gajah. Ternyata cukup sulit mencari letak rumahnya. Setelah tersesat dan tanya sana-sini, akhirnya si perumahan Bukit Cibogo itu pun ditemukan. Pulangnya kembali tersesat hahaha. Berlanjut dengan menjemput Pak Kus dan terus ke Ciater, bukan untuk berendam, tapi sekedar ngobrol dan makan ulen enakkkk pisan. Sungguh! Disana aku pun bertemu Abah Iwan Abdulrachman, yang CDnya aku beli beberapa hari lalu dan sangat aku kagumi. Jalan persimpangan ciptaan Alloh memang sering membuat makhlukNya terkejut.

Setelah puas kami pun pulang. Aku langsung tertidur.
Panjang ya cerita kali ini...
Syukurlah, agak mengurangi homesick yang tadinya bergelayut.

Err

I always think that my certain amount of money and liters of sweat can buy happiness. Able to flip someone’s sadness into laugh. How proud and puny I am!

Without Alloh’s will, it was impossible.
Allohu Akbar.
Astaghfirullahaladzim.

Wednesday, September 16, 2009

Ibu Mia

Tadi selepas sholat Tarawih, tiba-tiba saja, entah kenapa, aku teringat akan ibu Mia Kusmiati, guru SD ku dahulu. Sebenarnya kadang-kadang ingatan ini muncul sih. Nah, sebelum kembali terlupa, aku buru-buru menuju kostan dan mencoba menuliskannya di blog ini dengan harapan seseorang yang memiliki memori yang sama akan tersesat ke situs ini dan membagi kenangannya tentang beliau.

Sosok Bu Mia, tak pernah dapat aku lupakan. Sosoknya sedang agak pendek kalau dibandingkan bapak-bapak guru. Agak gempal, tapi menurut aku samasekali tidak gemuk. Ibu ini sangat energik. Walaupun SD aku cuma sekolah inpres di Perumnas, tapi aku melihat Bu Mia sebagai seorang wanita yang gaya. Tidak berlebihan. Kalo sekarang aku akan menyebutnya guru yang cool. Seringnya memakai kemeja atau blus tangan pendek dengan rok span. Tapi kalau suasana resmi, bu Mia juga kadang memakai blazer. Bu Mia itu cantik, putih, seperti Amoy. Gayanya cenderung tomboy tapi feminin dalam saat yang bersamaan. Rambutnya pendek, agak mirip Demi Moore zaman film Ghost dulu. Perona pipi tipis dan lipstick warna pink pucat.

Beliau ke sekolah dengan menggunakan motor Honda Astrea. Entah sudah berapa kali bu Mia ini menjadi wali kelas aku, tapi yang pasti, waktu kelas 6, beliaulah wali kelasnya. Beliau mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila—sekarang sama dengan PPKN) dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Nah ajaran beliau tentang pelajaran IPS inilah yang kemudian berpengaruh banyak terhadap aku sekarang.

Gaya mengajar Bu Mia, dimataku tak pernah membosankan. Masih terngiang cara beliau mengajar dan berbicara. Beliau fun, tapi tegas sekaligus. Suka bercanda, dan samasekali tidak galak. Jadi kalau ada yang ngobrol atau ngelamun, biasanya beliau teriak, Maneh mah heureuy wae!, lempar kapur, atau yang paling parah jewer telinga hehehe.

Aku agak lupa ajaran beliau tentang PMP. Tapi memang pelajaran PMP sampai SMA pun tak pernah menjadi pelajaran yang menyita perhatian aku. Beliau yang mengajarkan kita tentang tata cara bertamu dan menerima tamu lewat semacam sandiwara, mengunjungi kantor pos dan pasar untuk kemudian mewawancara pedagangnya. Membiarkan kelas ribut karena kita sedang mengisinya dengan cerdas cermat seperti yang pernah aku ceritakan disini. Pelajaran sederhana yang sangat berguna buat kehidupan aku, walau masa SD tlah aku lewati 20 tahun yang lalu.

Bu Mia juga sering mengajak kita jalan-jalan. Ke sawah, ke pinggir selokan, ke irigasi, ke tanah lapangan, dan kemudian belajar disana, atau bahkan hanya dihabiskan dengan mendengar cerita beliau saja. Masa SD ku sangat bersahaja, pada masa itu hal yang biasa seorang guru menyuruh muridnya membeli sesuatu, fotocopy, atau bahkan membeli bala-bala. Dan bu Mia pun terkadang menyuruh kami membeli bubur ayam.

Guru-guru kami di SDN Sarijadi 5, sangat senang main pingpong, dan Bu Mia pun tak terkecuali. Beliau cukup jago. Dan kala itu menyaksikan guru bermain pingpong dikala istirahat atau di waktu pulang sekolah lumayan menyenangkan. Kalo Bu Mia main suka penuh teriakan dan tertawa keras.

Bu Mia membuat aku sangat menyenangi pelajaran IPS. Terutama pelajaran tentang pengetahuan negara-negara di dunia. Buku IPS warna cokelat yang kita gunakan, seringkali aku bawa tidur. Saat itu aku tidak merasa IPS menjadi sesuatu yang harus aku hapalkan. Pelajaran itu bagaikan sebuah jendela ke sebuah alam yang menyenangkan dan nyata. Bu Mia menceritakan negara-negara di Amerika, Eropa, Asia, Pasifik seperti sebuah deretan gambar indah di kepalaku. Saat itu aku sudah hapal banyak negara dan kota-kota besar didalamnya. Sungai Yukon, Danau Erie, Vladivostok, Kep. Faroe, UNICEF, NATO, tak lagi menjadi kata-kata asing. Pelajaran ini membuat aku ingin keliling dunia. Dan terus terang saja, keinginan aku akan mengunjungi Mongolia adalah sebagian besar dipengaruhi oleh pelajaran ini.

Untuk melengkapi pelajaran ini, kita dibagi menjadi kelompok-kelompok dan diberi tugas membuat peta di atas karton manila. Peta pertama yang aku dan anggota kelompokku buat adalah peta Thailand. Aku menggambarnya dengan pensil dan kemudian mewarnainya dengan cat air. Agar tak boros cat air juga cepat, aku diajarkan kakakku menggunakan cat air dengan kapas. Hasilnya keren sekali (saat itu), bu Mia pun memberikan pujian. Peta itu, beserta peta lain digantung dikelas. Kami sangat bangga akan peta-peta kami.

Beliau juga memberikan tugas kliping dari koran tentang PBB. Ini yang membuat aku suka membaca koran tiap hari hingga kini. Beliau tak malu menerima kritik dari seorang anak ingusan macam kami. Aku masih ingat, beliau menyebutkan Sekjen PBB saat itu adalah Javier Perez deQueya dari Peru, tapi setelah aku liat di koran yang betul adalah Javier Perez deCuellar. Beliau pun meralatnya dan membenarkan ucapan muridnya. Beberapa tahun kemudian aku tahu bahwa sebetulnya tidak ada yang salah, karena deCuellar memang dilafalkan deQueya hehe.

Aku dan beberapa temanku sering berada di ruang guru. Dikarenakan perpustakaan berada di Ruang Guru. Jadi kalau kita mau meminjam buku, ya harus bertemu mereka itulah. Pernah aku disuruh mengambil sesuatu di tas nya bu Mia, dan saat itu aku melihat sebungkus rokok Filtra di dalamnya. Bu Mia langsung menutupinya. Saat itu merokok buat perempuan hal yang jarang sekali. Ibu-ibu biasanya sangat mencelanya. Tapi saat itu, sebungkus rokok tak pernah mengubah pendapat apapun tentang Bu Mia. Bu Mia terlalu berharga untuk dinilai dari sudut sebungkus rokok. Padahal aku saat itu masih SD, masih seorang ingusan.

Saat ini aku bukan seorang diplomat, atau seorang eksplorer. Tapi apapun tentang geografi sangat aku sukai. Koleksi bukuku dipenuhi oleh topik dunia, arkeologi, sejarah dan antropologi. Ternyata ajaran itu terpatri sangat dalam di benakku. Hal yang tak pernah aku sesali, bahkan sangat aku syukuri.

Terimakasih banyak Bu Mia! mudah2an aku masih diberi umur untuk bertemu ibu kembali, sekedar hanya untuk berterimakasih. Sesuatu yang tak ingat pernah aku lakukan..

Tuesday, September 08, 2009

Ramadhan di Pesantren (Part: 2)

Setelah buka puasa dilanjutkan dengan sholat tarawih. 23 rakaat. Dan mesjid terasa penuh. Teriakan “AMIN” nya terdengar merdu. Maklum banyak yang jago ngaji. Setelah malam ke 20, setiap hari rakaatnya ditambah 2, jadi 25, 27, 29, dst. Ajeuww! Cangkeul.

Yang paling malas adalah, setelah tarawih dilanjutkan kembali dengan pelajaran ilmu falak. Sampai dengan jam 11 malam. Banyak yang terkantuk-kantuk. Bahkan ada yang tak tahan, ngagoler di pinggir mesjid. Setelah pelajaran selesai kita setengah berlari ke kobong. Tak sabar ingin tidur. Tapi biasanya sebelum tidur pasti ngobrol dulu. Ngobrol segala macem, dan akhirnya tertidur dengan sendirinya.

Waktu sahur, ada yang datang ke tiap-tiap kamar dengan membawa senter, jam beker yang digantung di leher dan lonceng besar yang biasa dipakai kerbau. Yang jadi petugas, biasanya bergantian dari anak kelas 1 dan 2. Tapi biasanya kamar kita sudah pada bangun sebelum petugas itu datang. Oh iya, jangan membayangkan anak kelas 1 dan 2 itu anak-anak semuran SD. Kelas hanya untuk membedakan materi pelajaran. Pesertanya biasanya nyaris sama. Kelas 1 dan 2 biasanya seumuran 1 SMA sampai dengan umur 20an. Sedangkan kelas 3 memang mayoritas sudah berumur dan berkumis. Yang paling muda adalah aku yang saat itu berumur 18-19 tahun, yang lain sekitar 20-30 tahun. Tak sedikit yang sudah menikah.

Setelah sahur dan sholat subuh kita biasanya tidur lagi hehe. Tapi tak jarang diisi pelajaran tambahan. Bangun jam 7, mandi dan nyuci baju. Tempat mandi ada di mata air yang tak terlalu jauh dari pesantren. Mata airnya sangat jernih dan dingin, aku betah berlama-lama disana. Tapi kalau pagi suka banyak yang antri, jadi harus tahu diri. Setelah mandi dilanjutkan pelajaran lagi jam 8 sampai jam 10. Dan jam 10 adalah waktunya bekerja!!!

Ada beberapa pilihan. Dan semuanya sudah pernah aku coba. Yang pertama adalah jadi tukang bangunan. Darul ulum sedang membangun kelas baru, jadi butuh bantuan tenaga bangunan. Berhubung aku gak punya keahlian, aku jadi tukang antar jemput adukan, ember demi ember aku antar dari tempat ngaduk ke bangunan baru. Aku memilih disini, karena aku pikir ini yang paling ringan. Tapi ternyata itu salah! Panas, cape dan tangan pun sukses pareurih. Hiks. Menjelang adzan dzuhur aku menyerah. Ke kamar dan langsung tiduran. Sholat dzuhur pun jadi tak berjamaah. Maafkan.

Besoknya aku ganti ‘pekerjaan’ baru. Aku disuruh ikut ke balong (kolam ikan/empang). Kemarinnya hujan besar. Jadi balong ajengan terkena longsor, dan kita harus mengurasnya. Istilah sundanya mah “nawu”. Kita pergi beramai-ramai pergi sambil bersenda gurau. Tapi langsung ternganga ketika melihat balong itu. Balongnya luas dan hampir seluruhnya tertimbun lumpur. Jadi kita harus menguras lumpur itu. Hiks. Semua disuruh mengambil cangkul/pacul. Aku boro-boro bisa nyangkul, megang aja jarang. Walhasil aku diketawain. Untung aku ada teman, Mang Uus juga sama ternyata. Aku dan Mang Uus diberi singkup/sekop dan harus masuk ke longsoran lumpur. Ternyata si lumpur itu dalem banget. Sepinggang aku. Dengan bergelimang lumpur aku dan Mang Uus menyekop lumpur itu. Dan sumpah, satu sekopan aja sangat beratt!!

Oiya, semua santri membawa satu celana untuk bekerja. Biasanya celana yang agak butut dan penuh tambalan. Tandanya sering dipakai bekerja. Aku gak tahu, tentu saja. Aku hanya membawa dua celana panjang. Satu katun, satu lagi jeans belel andalan. Akhirnya si jeans itu harus rela dijadikan celana bekerja. Celana itu pula yang aku pakai ketika bekerja di balong. Jeans terkena gumpalan lumpur terasa sangat berat tentu saja. Berjalan pulang dilalui dengan susah payah. Langsung saja celana itu aku cuci. Caranya: masih aku pakai, taburi Rinso, dan sikat sekuat tenaga. Untung saja airnya berlimpah ruah jadi tidak susah.

Jenis pekerjaan terakhir, yang akhirnya menjadi pilihan aku seterusnya adalah ke kebon. Ajengan pesantren itu terkenal sebagai petani cikur (kencur) yang sukses. Jadi kebon kencurnya banyak. Kita disuruh merawat dan menyianginya (ngarambet kalo sundanya mah). Sebelum ke kebon aku selalu memakai Autan. Walau biasanya tetap saja ada nyamuk yang kurang ajar sukses membuat bentol. Kerja di kebon ini gak terlalu berat dan yang lebih menyenangkannya lagi, kita bisa heureuy sambil bekerja. Walau heureuy nya gak berhenti, tapi si Mang-Mang ini gak pernah heureuy porno atau yang kelewatan.
Semua pekerjaan ini berakhir hingga waktu dzuhur. Setelah dzuhur kita istirahat, biasanya tidur sih. Dan bangun sebelum adzan ashar, mandi lagi di mata air. Segarrr! Begitu sih kehidupan sehari-harinya.
Hari Jum’at adalah hari libur. Biasanya kita ke kota Ciamis. Kita suka pergi beramai-ramai. Semua berdandan necis, celana katun, baju tangan panjang lengkap dengan peci dan sepatu yang disemir. Semua kecuali aku, yang hanya bercelana jeans belel, kaos oblong dan sandal jepit. Maaf aku bodohnya gak bawa baju rapi. Di kota ciamis kita jalan-jalan, ke pasar, dan sholat jum’at di Mesjid Agung. Kunjungan ke kota itu biasanya aku manfaatkan untuk memborong minuman kemasan, terutama teh kotak dan membeli beberapa jenis Koran dan majalah. Aku haus informasi dunia luar! Haha. Oh iya, dari pesantren ke kota kita naik angkot, dan sebelum naik angkot kita harus melewati hutan dulu. Jadi aku gak mau pulang kesorean, soalnya sieun pas lewat hutan ituh. Naik angkot disini lucu, semua penumpang seolah-olah sudah kenal sesamanya, jadi kita sering ngobrol, topiknya macem-macem. Dari mulai gaya baju aku yang tidak cocok dengan pesantren (ampun!), cara membuat minyak kelapa, sampai ke diskusi penting tidaknya Magic Jar (sumpah seru! Ada yang pro dan kontra segala, dan dimenangkan oleh si ibu guru yang pro Magic Jar! Horre!).

Kejadian yang paling berkesan adalah ketika suatu hari, setelah tarawih, kelas malam hari, kelas 1, 2 dan 3 ditiadakan. Semua berteriak senang!! Tapi kemudian menjadi tidak terlalu senang setelah tahu, kalau sebagai gantinya kita harus ngebut membantu membuang barangkal dari bangunan baru ke ujung jalan yang agak jauh. Semua santri berpasang-pasangan dengan membawa karung bekas. Sialnya aku berpasangan dengan Mang Atang, seorang santri kekar yang memang sangat giat bekerja. Dia adalah orang kepercayaan sang ajengan. Kemana-mana selalu membawa golok alias bedog. Dengan Mang Atang kita harus cepat, bahkan seringkali aku dipaksa berlari sambil menggotong barangkal ituh. Hiks. Akhirnya aku menyerah, dan Mang Atang pun memilih partner lain yang lebih cekatan hihihi.

Pernah suatu waktu Mang Uus mengajak aku buka puasa di luar. Maksudnya di luar Darul Ulum. Untunglah. Aku memang kadang bosan dengan menu si bala-bala dan sayur berjengkol itu. Besok, kita ke Maruki yuk, katanya. OMG, Mang Uus ternyata seleranya ok juga. Dia mengajak aku ke warung makanan Jepang, pikirku. Oh, tak sabar aku menunggu besok. Warung seperti apa Maruki itu. Tapi aku yakin, warung itu tak besar. Aku cukup tahu kota Ciamis. Nenekku kan tinggal disana. Di Ciamis, resto fastfood sejenis California Fried Chicken baru ada sekitar tahun 2002an. Jadi aku tak berharap banyak, yang penting ada goreng udang tepung saja sudah lebih dari cukup.

Akhirnya hari ini datang juga. Sengaja setelah ashar aku sudah menggunakan si jeans belel. Hari itu kebetulan gak ada pelajaran, ajengannya ada perlu. Aku lihat Mang Uus kok belum mandi. Oh, aku pikir mungkin dia bukan tipe orang yang terburu-buru. Tapi kemudian sudah jam 5 sore, dia baru mandi. Ah, alamat telat deh ke Maruki itu. Tapi kemudian setelah jam setengah enam, dia baru mengajak pergi. Aku jadi mulai curiga dengan si warung Maruki ini.
Dan ternyata benar saja. Mang Uus berjalan terus. Bukan ke arah hutan tempat nunggu angkot ke Ciamis. Ternyata jaraknya tak jauh. Dia berhenti di sebuah warung merangkap rumah panggung sederhana. Dan saat itu juga aku sadar, Maruki bukanlah warung masakan jepang. Maruki tak lain adalah Mak Ruki, nama pemilik warung nasi. Hiks. Selamat tinggal udang goreng tepung! Menunya memang lebih beragam, ada jengkol goreng, ikan mas goreng dan perkedel. Aku pun makan cukup hanya dengan perkedel saja. Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa menerjemahkan Maruki sebagai restoran Jepang, hehe bodoh.

Tak terasa 28 hari telah berlalu. Pengalaman di pesantren ini tak akan pernah aku lupakan. Kebersahajaan hidup di kobong merupakan sebuah pengalaman baru buatku. Andai saja Mang Endang dan Mang Uus punya Facebook. Tapi tampaknya tak mungkin. Kalaupun iya, aku tak pernah tau nama lengkap mereka. Mungkin suatu saat aku akan kembali mengunjungi Petir. Mengunjungi Darul Ulum tercinta.

Monday, September 07, 2009

Ramadhan di Pesantren (Part: 1)

Dulu. Jaman kuliah sekitar tahun 1997-1998. Saat itu libur kuliah berbarengan dengan bulan Ramadhan. Entah kenapa aku tiba-tiba memutuskan untuk mencoba kehidupan Pesantren. Aku mencoba keras untuk mengingat-ingat alasan apa yang membuat aku mengambil keputusan itu. Tapi tak pernah berhasil.

Tabungan aku bongkar. Ada sekitar 1 juta. Saat itu terasa sangat besar. Maklum belum jaman krismon. Dollar masih sekitar 4000-5000an. Aku minta bantuan Yedi, teman kuliahku yang asli Ciamis untuk membantu aku mencari pesantren yang cocok di Ciamis. Sengaja aku memilih yang jauh dari Bandung. Aku gak ingin cepat pulang kalau merasa gak betah. Untungnya Yedi memutuskan untuk ikut pesantren bareng aku.

Ada dua pesantren yang aku kunjungi. Yang pertama di daerah Nangewer. Mata pencaharian pesantren itu dari budidaya ikan tawar. Jadi pesantrennya bau amis dan berserakan sisik ikan. Aku agak jijik, tapi aku sudah pasrah, dimanapun pesantren yang dipilih aku akan tinggal disana. Pilihan kedua adalah Pesantren Darul Ulum di desa Petir (sekitar Baregbeg). Secara tampilan bersih, walau tetap saja kesan ‘desa’nya terasa, karena memang agak jauh kok akses transportasi umum. Aku langsung memutuskan memilih pesantren ini. Apalagi pesantren ini memiliki program materi singkat khusus Ramadhan.
Setelah meminta izin kepada pimpinan pondok pesantren yang ternyata uwaknya Yedi, aku pun membayar biaya pendaftaran, yang terdiri atas iuran listrik sebulan, biaya kebersihan asrama (biasa disebut kobong dalam bahasa sunda), dan sumbangan sukarela, yang totalnya berjumlah Rp 10.000,- ya, betul hanya sepuluh ribu saja untuk satu bulan hehe.

Aku langsung pulang ke rumah Yedi, karena memang baju dan perlengkapan lainnya tidak langsung aku bawa saat itu. Keeseokan harinya aku pergi sendiri ke pesantren. Yedi akhirnya tak jadi ikut, dia sakit herpes. Nyaliku langsut ciut. Pesantren itu terlihat sangat menakutkan kalau dikunjungi sendirian ternyata. Aku takut gak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan pesantren. Bayangan harus menulis dan mengaji dengan arab gundul membuat aku berkeringat cemas.

Oleh Mang Agus, pengurus pesantren itu, aku ditempatkan di kobong baru. Satu kamar ditempati oleh tiga orang. Teman sekamar aku adalah Mang Endang dari Manonjaya dan Mang Uus dari Bogor. Aku baru tahu kalau bulan Ramadhan pesantren dipenuhi banyak santri kalong. Artinya santri yang belajar di pesantren lain yang jauh dari pesantren asalnya. Hal itu membuat aku lega. Oh iya, di Darul Ulum ini sebutan antar santri adalah Mang, jadi gak peduli lebih muda ataupun lebih tua, sebutannya Mang. Jadi akupun dipanggil Mang Dodi.

Mang Endang sekitar 8 tahun lebih tua dibanding aku, sedang Mang Uus tiga tahun diatas aku. Mereka sangat baik. Tidak sulit beradaptasi dengan mereka. Pelajaran dimulai ba’da Ashar. Aku memilih ditempatkan di kelas 3. Kelas paling senior. Bukan berarti aku sudah menguasai pelajaran kelas 1 dan 2. Kelas 3 aku pilih karena materinya—aku pikir—gak terlalu menakutkan. Materi yang aku pilih adalah ilmu falaq, semacam ilmu perbintangan yang mengajarkan kita cara hisab dan menentukan penanggalan kalender. Sebetulnya ada lagi materi ilmu waris, tapi aku gak ikut, alasannya sekali lagi adalah si arab gundul itu. Kalo ilmu falaq entar kan pake angka, pikirku.

Bada ashar dimulai pelajaran penentuan kalender. Tidak terlalu sulit aku ikuti. Aku bayangkan materi ini hampir mirip dengan pelajaran geografi dan matematika. Hambatannya adalah belajar huruf yang ternyata tidak menggunakan angka arab, tapi pake huruf hijaiyyah yg tak berurutan, seperti misalnya 1=ba, 2=jim dsb. Aku terpaksa membuat paririmbon dadakan. Hambatan lainnya adalah bahasa sunda! Ya, walaupun aku menggunakan bahasa sunda di percakapan sehari-hari, tapi ternyata ada yang terdengar asing di telinga aku, seperti: akay-ukuy (maju sambil jongkok), maracacalan (cerai berai) hahaha.

Selain materi yang harus aku hadapi. Tatacara kehidupan pun harus aku sesuaikan. Disana sehari-hari memakai kain sarung, kecuali kalau bekerja ke kebun atau ke balong (kolam ikan), atasan sih bebas, mau kemeja atau kaos. Tentunya aku memilih kaos saja. Peci biasa dipakai juga, terutama kalau sholat. Tapi kalaupun gak pake juga gak apa-apa. Selain itu aku harus membiasakan kencing jongkok. Kalau kencing sambil berdiri pasti ditegur. Lagian aneh memang, kalau kita kencing berdiri tapi pake sarung. Rasanya seperti pake rok yang nyingsat hehe.

Pelajaran ba’da ashar, berakhir sekitar jam 17.30. Setelah itu waktunya bebas sambil menunggu bedug maghrib. Setelah tiba waktu maghrib biasanya kita takjil di mesjid yang ada di tengah2 pesantren. Menu takjil disediakan ibu-ibu sekitar pesantren. Tapi jangan samakan dengan di mesjid deket rumah di Bandung yang kuantitas dan kualitasnya beragam. Yang ada biasanya pepaya dan pisang rebus (disini aku nyoba pepaya rebus untuk pertama kali—dan rasanya..aneh haha). Tapi yang paling sering adalah jondos alias kejo rendos. Nasi ditambahkan garam kemudian ditumbuk menyerupai lemper. Pas pertama kali aku pikir dalemnya bakalan ada daging. Harapan yang sia-sia. Hehe.

Setelah takjil dilanjutkan dengan maghrib berjamaah, dan buka puasa! Di Darul Ulum ada satu kantin yang menjadi tempat makan satu-satunya. Kantin ini menyediakan masakan yang dimasak ibu ajengan, tidak menerima order. Dan selama aku disana, menu yang disajikan tidak berubah, yaitu, nasi putih, sayur kacang atau sayur asem, dan….bala-bala favorit aku! Baik sahur maupun buka puasa. Tapi pernah juga, sekali, si ibu masak daging ayam, walau agak liat tapi menjadi selingan yang terasa sangat mewah. Yang agak unik (menyebalkan tepatnya!), sayur kacang dan sayur asem itu suka ditambahkan irisan kecil jengkol! Walhasil wc pun dengan sukses bau hangseur jengkol.
Harga satu kali makan adalah ….. 250! Ya betul: dua ratus lima puluh rupiah sajah! Nasi bebas, mau segimana, asalkan diambil sekali saja. Kalau nambah, mau satu kali, dua kali, terserah, dikenai charge tambahan 50 rupiah, jadi total 300 rupiah. Kalau sama daging ayam, yang cuma sekali itu, satu kali makan 500 rupiah. Walau jadul, harga ini sumpah terasa sangat murah! Menu KFC satu ayam satu nasi dan minuman, saat itu kurang lebih 18.000 kok.

Walau murah, tapi saat itu cukup banyak kok yang ngutang. Biasanya mereka rajin sendiri nulis di buku yang sudah disediakan. Selagi kita berbuka puasa, biasanya banyak anak-anak berebut nakol bedug. Dan baru berhenti setelah ada santri yang keluar dan teriak: KU AING DI LEGLEG SIAH! TEU NYAHO SANGU NA TIKORO KENEH IEU TEH!

Friday, September 04, 2009

Si Misfalah


Aku lupa tepatnya tahun berapa aku membeli baju ini. Yang aku ingat, aku membeli baju ini sama Pebe, yang kala itu berjualan baju muslim.

Aku memilih baju ini karena memang tidak ada cocok (tepatnya: muat). Malah sebenarnya baju ini kepanjangan di bagian tangan, tapi bisa diakalin sama si Amih dengan cara digunting dan dijahit kembali.

Baju ini mereknya: Misfalah. Modelnya pun tidak istimewa2 banget. Standar baju koko, ada bordir etnik di bagian leher dan bagian kancing. Tapi yang aku suka adalah, baju ini nyaman. Tidak panas, padahal harganya gak mahal, sekitar 50 ribu, aku agak lupa. Dan yang paling istimewa, baju ini tidak pernah terasa sempit. Padahal, tentu saja badan ini perlahan tapi pasti bertambah angka kiloannya. Disaat baju yang lain “berguguran”, baju ini tetap aku pakai sampai detik ini.

Aku putuskan untuk membawa baju ini ke perjalanan haji dua tahun yang lalu. Dan, guess what? Ternyata sewaktu aku di Mekkah, aku menginap di daerah Misfalah!! Baju ini ternyata “pulang kampung” hehehe..

*maaf yah si Misfalahnya kuleuheu, abisnya bekas make hehe