Monday, September 17, 2007

Hongkong

Inilah tempat favoritku! Dimulai dari batas di terminal Lowu aku sudah mulai menyukainya. MTR (bukan MRT seperti Singapura) sangat bersih, bahkan semua kota sangat bersih. Tidak ada dahak di kota ini..Syukurlah. Sayang perjalanan disini hanya sebentar. Belanja di Kowloon yang sukses membuat kakiku mati rasa, menikmati pemandangan di Victoria Peak, sekaligus satu hal yang sangat sangat aku sukai: Patung Lilin Madame Tussaud. Aku berlari-lari kegirangan berfoto bersama hampir semua patung disana. Sangat menyenangkan.
Lain kali sebaiknya langsung Indonesia-Hongkong saja

Sunday, September 16, 2007

Juhai - Shenzen

Kedua kota ini sangat mirip. Penuh apartemen kotor sekaligus gedung-gedung pencakar langit modern yang terlihat baru. Dari mulai imigrasi semua orang terlihat berjalan terburu-buru. Kita hanya sebentar saja di Juhai, sekedar transit. Paling lama di Shenzen, bahkan kita sempat touring dan memang menginap di Shenzen. Shenzen lebih modern. Sarana publik seperti jalan dibangun dengan sangat baik. Gedung perkantoran, pabrik dan hotel bertebaran dengan megah. Sarana pariwisata pun tidak ketinggalan. Shenzen membangun miniatur keajaiban dunia dan teater folklore. Oh,ya disana ada sebuah kawasan perbelanjaan yang digemari ibu-ibu, namanya Luohu atau Lowu. Mall itu sangat sesak dengan barang-barang palsu. Oh iya, jangan harap bahasa Inggris berguna di kedua kota ini. Lebih baik bahasa Tarzan saja daripada kita berlelah-lelah menjelaskan dengan bahasa verbal. Di Lowu ini aku merasa sangat tidak berdaya. Barang-barang palsu ini ditawarkan dengan harga selangit, tapi sangat terbuka untuk penawaran ekstrim. Harga 500 Yuan sah-sah saja kalau ditawar 50. Aku tak bisa mengerti.
Sepanjang los-los itu pasti akan banyak yang bilang: lole lole hai kaliti cip prais (rolex, Rolex, high quality, cheap price). Bahkan aku pernah nawar tas, dan aku tanya is it really leather? Dia menjawab yes. Aku pegang dan bilang: Are you sure? it feels cheap dia kembali menjawab: yes, cheap. Huh!
Tapi ada satu hal yang aku suka dari Shenzen. Yaitu panti pijatnya. Sekembalinya dari Hongkong, aku nyaris tak bisa berdiri, telapak kaki terutama bagian tumit sudah tak bisa menahan bobotku. Untung guide-ku mengajak ke panti pijat. Aku gak tau namanya. Aku buta huruf disana. Tampilan luar tidak meyakinkan bahkan nyaris seperti tempat mesum. Tapi kesan itu berubah setelah masuk, sofa nyaman tersebar masal. Dilengkapi headphone dan tv kecil walau merk china. Tapi yang paling penting adalah OMG pijatannya sungguh-sungguh enak. Kakiku kembali fit seperti sedia kala.
Tapi kalau memilih, aku gak mau lagi ke kota ini. Walau bangunannya modern tapi semua serba jorok, aku nyaris tak berani ke WC umum. Sumpah, pernah dua kali aku gak nahan pingin ke WC, aduh pengalamannya seperti nonton film horror. Dan satu hal yang sangat mengganggu adalah, kenapa setiap orang sepertinya senang membuang dahak di tempat umum? Hiiii..seram!

(foto diambil oleh mas Iwan)

Macao

Minggu lalu, aku dan rombongan kantor, bertujuh puluh orang aja, piknik ke China, tepatnya ke Macao, Shenzen dan Hongkong. Walau secara teori kota-kota itu satu negara, tetapi saja sangat berbeda. Ditambah kita harus melewati imigrasi setiap melewati masing-masing kota. Bayangkan, dari Indonesia ke Macao melewati satu pos imigrasi, dari Macao ke Juhai (kota sebelum Shenzen) melewati dua pos imigrasi, lanjut ke Hongkong dua pos imigrasi. Semuanya dikalikan dua untuk perjalanan bolak balik. Semua pos imigrasi dipenuhi sangat banyak orang. Sungguh perjalanan yang melelahkan.

Aku ceritakan perjalananku tentang masing-masing kota. Dimulai dari Macao. Seperti kata teh Mira, aku bingung, yang benar entah Macao entah Macau, habisnya dua-duanya sama-sama digunakan. Kesan pertama tentang Macao adalah kota yang modern, bersih dan bertaburkan kasino-kasino megah. Ya, kasino itu seringkali disatukan dengan hotel, restoran bahkan pusat perbelanjaan. Bahkan pernah suatu kali di tempat kita makan, rombongan minta disediakan satu ruangan untuk sholat. Setelah kita berjamaah sholat semenit kemudian dirubah menjadi tempat ibu-ibu bermain Mahjong hihihi.

(foto diambil oleh Mas Rafli)

Reunion

Rabu kemarin, Tari, teman SMAku yang sudah sangat lama berkelana di Jepang pulang ke Indonesia. Singkat kata kita ketemuan, pulang kantor kita berdua ditambah Ahmad Arifin (a.k.a Arif a.k.a Ahmad) merealisasikan rencana mengunjungi pa Toto –our high school math teacher-- di rumahnya. Kita ngobrol kesana kemari, saling menceritakan kehidupan masing-masing, mengenang dan mengingat-ngingat memori masa lalu, bahkan saling berdebat. Malam itu aku merasa kembali muda, semuda masa SMA dua belas tahun lalu. Err..tapi dengan berat badan yang tentunya jauh berbeda hehehe.
Tari, Ahmad, terimakasih banyak.
Ternyata jarak dan waktu tak berarti apa-apa.

Friday, August 31, 2007

The Invasion. Suck.

Kemarin nonton The Invasion di Ciwalk. Oh benar-benar film yang pantas untuk dilewatkan. Tak peduli dengan tiga bintang yang didapat dari boxoffice.com

Thursday, August 30, 2007

Mengalah Itu Penting

Pekerjaan customer service itu jauh dari sederhana. Harus memanage perasaan dan emosi dengan sangat seksama. Caci maki, memperbaiki kesalahan orang lain, meminta maaf untuk unit lain. Semua harus dilakukan dengan perkataan dan intonasi yang terjaga.
Dan masih juga menerima fitnah. Astaghfirullah. Aku harus mawas diri, mungkin saja dibalik semuanya aku berbuat dzhalim. Semoga semuanya berakhir dengan baik. Sabar itu seharusnya tidak ditambahkan kata "sampai kapan". Sabar memang harus selamanya.

Friday, August 17, 2007

17an

Hari ini adalah tanggal 17 Agustus. Ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Aku termasuk yang bersuka cita menyambut hari itu. Soalnya dengan serta merta di semua daerah mendadak jadi meriah. Meriah dengan hiasan dan kegiatan. Terutama di komplek rumahku.
Aku termasuk yang jarang keluar rumah kecuali ke warung. Tapi jangan salah, aku pastinya kenal dengan orang-orang di sekitar aku. Minimal satu RW aku tahu. Nah, tanggal 17 itu biasanya aku manfaatin dengan bersosialisasi dan sekedar mencari hiburan. Sudah sebulan ini tiap Sabtu Minggu sore aku sempatkan nonton pertandingan futsal antar RT. Selain meriah dan jadi ajang ketemu orang yang sudah lama gak aku sapa, di lomba ini juga biasanya banyak orang jualan. Walhasil di lapangan itu kalian akan melihat sosok bertubuh besar dengan kaos dan celana selutut yang tidak berhenti jajan. Hehehe.
Kemarin malam juga ada lomba lain. Yaitu lomba masak nasi goreng khusus bapak-bapak. Secara rasa aku gak tau, secara hiasan juga gak jelek-jelek amat. Tapi kehigienisannya diragukan. Soalnya buru-buru dan bercampur keringat. Yiy! Hahaha.

Friday, August 10, 2007

Cuti Nonton

Masa cuti adalah waktu yang sangat tepat untuk menonton. Tanpa buru-buru, tanpa antrian, tanpa macet, tanpa susah dapet parkiran. Ahhh, dunia serasa surga!! Hari Kamis dan Jum'at tadi aku nonton jam 12.45 di Blitz dengan penuh kedamaian.
Film pertama yang aku tonton adalah Surf's Up. Film animasi dari Sony tentang Surfing. Dikisahkan seekor penguin, Cody, yang berusaha keras menggapai impiannya menjadi seorang peselancar terbaik mengikuti idolanya Big Z. Film ini agak lain daripada film animasi lainnya yang pernah aku tonton. Shoot yang digunakan seperti sedang membuat film dokumenter, lengkap dengan komentar-komentar dan wawancara orang--err, binatang disekitarnya. Walau terlihat tak laku film ini sangat menghibur. Lucu. Asli. Ditambah hari Kamis itu aku nonton sendirian aja. Tidak ada penonton lain di bioskop itu. Jadi aku seperti raja. hehehe.

Film yang aku tonton siang tadi adalah film yang aku nantikan. Bourne Ultimatum. Seri penutup dari film-film sebelumnya, Bourne Identity dan Bourne Supremacy. Gosh, film ini dua jam lebih dan penuh ketegangan sejak awal. Tidak ada basa-basi tak perlu dan cerita yang sengaja dipanjang-panjangkan. Matt Damon sangat keren di film ini. Tanpa senyum dan bertempur dengan sangat efektif. Tapi aku jamin, Anda akan tersenyum di akhir film. This is This year's Movie!

Andaikan aku punya 1 juta dollar. Aku tak akan bekerja lagi dan menikmati setiap jengkal waktu seperti hari ini!! Hehehe.

Thursday, August 09, 2007

Akses Internet Megavision

Sudah sejak dua bulan yang lalu provider TV kabel yang aku pakai, Megavision, merayu aku untuk mencoba layanan baru mereka, akses internet dengan kecepatan up to 384 Kbps dan download rate 40Kb/detik. Tapi entah kenapa aku tidak terlalu tertarik. Mungkin karena aku sudah cukup berakses internet di kantor dan sesekali saja di rumah menggunakan dial up Telkomnet (jika sangat terpaksa dan tak ada pilihan lain) atau Telkomsel Flash. Jadi berkali-kali tawaran itu aku tolak.
Tapi akhirnya aku menyerah juga. Sebelum kepergian aku ke Surabaya, mereka kembali menelpon dan menghiba aku untuk mencoba layanan mereka free of charge selama dua hari. Well, bolehlah, kebetulan minggu ini aku cuti. Tepat setengah jam setelah aku sampai di Bandung, layanan internet via kabel sudah terpasang di kamarku.
Dan segala promosi yang mereka gembar gemborkan selama ini ternyata bukan isapan jempol. Yap, selama 24 jam layanan internet mereka tanpa cela. Sejak kemarin begitu banyak hal yang aku download. Musik, film dan software mengisi laptopku dengan cepat. Buat orang yang membutuhkan internet non stop, aku sangat merekomendasikan Megavision.
Tapi mohon maaf, buat aku biaya 480ribu rupiah (sebelum pajak) per bulan terlalu mahal untuk kebutuhan sekunder macam ini. Tapi aku sudah janji sama mereka, aku akan mempromosikannya.
Jadi, teman-teman dan handai tolan, jika Anda berada di kawasan Bandung Utara dan membutuhkan internet super cepat, hubungi 022-2042624.

Tuesday, August 07, 2007

Un-boring Surabaya

Akhirnya selesai juga pekerjaan auditor di Surabaya ini. Sungguh sangat sangat melegakan. Dua hari ini benar-benar menguras fisik dan konsentrasiku. Makanya setelah closing meeting sore tadi berakhir, aku tak bisa menahan diri untuk cepat-cepat merebahkan badan di kamar hotel.
Tanggal 6 kemarin membuatku sangat bersyukur. SMS dan telpon do'a dan selamat berdatangan dari mulai tengah malam sampai menjelang tidur. Terimakasih semuanya! Aku sangat terharu, ternyata begitu banyak orang-orang yang peduli dan sayang padaku.
Diskon Inul Vizta, kado dari PCMD Surabaya (? wow.), dan kue tar pisang super enak persembahan Hotel Santika tak lupa menambah keceriaan hari itu. Sepanjang hari seperti tersenyum padaku. Allah benar-benar sayang.
Perjalanan di Surabaya pun ternyata sangat menyenangkan. Di depan hotel ternyata kalau malam berubah menjadi pasar yang ramai. Dimeriahkan musik dangdut super keras dan hidangan di warung Babi Bumbu Kecap, hehehe. Mencari alamat di Gubeng Kertajaya dan bertemu teman SMA kelas 1, Anugerah Pratama a.k.a Gaga yang menginap di hotel yang sama selama 20 hari (yay!).
Tapi lebih menyenangkan lagi membayangkan perjalanan pulang ke Bandung tercinta besok.
Can't hardy wait!

(terimakasih juga pada wifi di hotel yang bisa aku akses gratisan berkat user Indosat M2 punya kakakku)

Monday, August 06, 2007

30

30. Dan masih tetap merasa bodoh.
Allah masih sangat sayang padaku, tapi tetap saja aku mengkufuri nikmatNya.
Berjalan di tempat penuh kemunkaran.

Semoga semuanya berubah menjadi lebih baik.
An-Naml memang surat buatku.
Terimakasih Allah.

Alhamdulillah.

Sunday, August 05, 2007

To Surabaya

Aku seringkali berada dalam kondisi sedih. Tidak aneh memang. Biasa aja. Bahkan kalau tidak pernah sedih mungkin lebih aneh. Tapi berbeda bila hal ini terjadi dengan orang lain. Orang lain yang sangat dekat dan kita kenal sebegitu stabil. Ternyata anehnya hal itu tidak saja membuat orang itu sedih, hal itu juga berimbas padaku.
Sekuat tenaga aku berusaha menghapus kesedihan itu. Tapi aku tahu tidak akan semudah itu.
Mungkin segalanya membutuhkan waktu.
Selama apapun waktu itu. Aku akan menemaninya.
Seperti yang selalu orang itu lakukan kepadaku.

(Syukurlah wifi di Bandara Husein Sastranegara ini bisa diandalkan. Menuju Surabaya. Yang sebetulnya agak malas aku tempuh)

Tuesday, July 31, 2007

All Good Things Come To An End

Subuh kemarin sebuah hari dimulai dengan sebuah mimpi. Mimpi yang aneh. Dan tak pernah bisa hilang walaupun aku sudah bangun. Bahkan setelah aku sampai di kantor pun. Sekali lagi aku gak supertitious. Aku gak pernah baca primbon apalagi percaya ramalan. Tapi aku tahu, setiap kali aku mengalami mimpi seperti ini, sepanjang hari akan kelabu.
Dan hal itu benar. Ternyata Bu De Tuti meninggal. Terpaksa aku meminta izin keluar kantor. Aku gak pernah suka melayat orang meninggal. Melihat mayat terbujur sudah cukup membuatku tak bisa berkata-kata. Aku juga gak hapal bacaan sholat jenazah. Tapi aku sadar orang-orang membutuhkanku. Minimal sebagai seksi sibuk antar mengantar. Untunglah disana banyak orang. Jadi ada teman untuk ngobrol menghilangkan kesedihan.

Tuesday, July 24, 2007

The End of Harry Potter

Aku masih ingat suatu hari di tahun 2001. Tak sengaja aku melihat sebuah buku di meja Wulan sang sekertaris (kala itu). Apaan nih, Harry Potter, Chamber of Secret. aku baca Bab pertamanya dan langsung tak bisa lepas. Di kemudian hari aku tahu ternyata si Wulannya sendiri gak pernah baca katanya. Aneh. Hehehe.
Perjalananku dengan Harry Potter tak pernah bisa aku lupakan. Buku-buku JK Rowling itu gak pernah bosan aku baca dan aku bicarakan.
  • The Sorcerer's Stone, buku yang aku beli pertama kali. Sesudah kejadian di meja sekertaris itu aku langsung mencarinya. Aku membeli buku jilid pertama Harry Potter di Gunung Agung King's Plaza.
  • Chamber of Secret, tak lama kemudian setelah buku pertama, aku gak tahan untuk melanjutkannya. Buku ini aku beli di Gramedia Jl. Merdeka.

  • Prisoners of Azkaban. Buku ini aku punya dua. Aku pikir hilang. Ternyata dipinjem Anggia, kakaknya Chandra. Huh!

  • Goblet of Fire. Aku asli gak punya uang. Padahal aku sangat sangat ingin memilikinya. Sakit pula. Walhasil gak masuk selama tiga hari. Aku sangat sedih sekali. Tapi aku masih ingat ketika masuk kerja setelah sakit itu, buku Goblet of Fire sudah ada di meja. Aku gak bisa berkata apa-apa. Ternyata Teh Nuke membelikannya untukku. Terimakasih banyak, Teh.

  • Order of Phoenix. Aku pesan jauh-jauh hari di Gunung Agung BIP.

  • The Half Blood Prince. Aku juga pesen jauh hari. di Gramedia Merdeka. Rencananya mau diambil tengah malam (mereka bikin acara khusus), tapi hujan. Jadi aku ambil di pagi harinya. Lumayan berhadiah tas Harry Potter hehehe.

  • The Deathly Hallows. Buku-buku sebelumnya aku beli yang edisi bahasa Indonesia. Tapi kali ini aku ga tahan. Tapi aku bingung, kenapa ada dua buku dengan dua gambar yang berbeda. Kata si mbak nya, ini ada yang edisi dewasa dan remaja. Karena ku takut yang edisi dewasa susah bacanya, aku jadi beli yang edisi remaja. Bukan seperti yang dibeli Tari.

Aku baru selesai membacanya tadi malam sejak hari Sabtu. Seperti juga edisi-edisi sebelumnya, mataku gak bisa lepas darinya. Baru berhenti setelah sadar kalau besok harus kerja dan memutuskan untuk tidur. Beda dengan buku sebelumnya. Buku ini adalah perpisahan dengan Harry dan gerombolan dunia sihir. Tidak ada lagi yang ditunggu tahun depan. Begitu banyak cerita yang aku akan rindukan. Terimakasih Harry, Terimakasih JK Rowling.

Thursday, July 12, 2007

Taufik Savalas

Aku sudah sangat jarang sekali nonton TV lokal. Isinya sinetron-sinetron gak jelas dan infotainment yang berlebihan. Tapi tidak subuh tadi. Jariku gak ada kerjaan, menelusuri tiap channel tanpa benar-benar menontonnya. Tak sengaja pandanganku tertuju satu acara infotainment. Ada yang meninggal. Dan Innalillahi wainnaillaihi roji'un, Taufik Savalas berpulang.
Sesaat terdiam. Aku seringkali disamakan dengan beliau. Bahkan gaya joget kami mirip, mengandalkan perut dengan meper-meper. Aku gak pernah keberatan disebut Dodi Savalas. Habisnya Taufik Savalas memang lucu dan sederhana. Aku jadi ingat tahun 2001 dulu, ketika dia jadi MC di acara ulang tahun kantor aku. Tahun itu vendor yang bikin kaos sangat menyebalkan. Ukurannya gak ada yang beres. Kekecilan semua. Walhasil kaos untuk pengisi acara juga gak cukup ukurannya. Taufik Savalas gak ngomel, dia malah ketawa-ketawa walau sepanjang acara udel kemana-mana.

Aku yakin banyak orang kehilangan. Termasuk aku. Padahal aku gak pernah ngobrol dengannya. That's the power of public figure, I think. Dia membantu dan menginspirasi banyak orang. Semoga dia mendapatkan tempat terbaik disisiNya.

Miss you so much!

Monday, July 02, 2007

Movie Movie

Hari Jum'at kemarin sudah diputuskan untuk nonton Transformers. Keponakan2ku sudah stand-bye disana, sedangkan aku start dari kantor. Filmnya lumayan lama ternyata. Mengisahkan perseteruan Autobots dan Megatron di planet Bumi. Autobots (bermata biru) di pihak baik, sedangkan Megatron si mata merah adalah penjahat-penjahatnya. Film ini menyenangkan baik untuk yang telah sangat familiar dengan tokoh mainan buatan Hasbro ini maupun yang sama sekali awam seperti aku. Transformasi kendaraan biasa menjadi robot-robot keren sangat amazing. Begitu pula adegan-adegan actionnya. Shia LeBouf si pemeran utama juga tampil lucu. Hanya saja beberapa pemeran (Jon Voight dan John Turturro) agak berlebihan di film ini. Berniat lucu tapi malah mengesalkan. But overall, this film is a boy's dream.


Selagi menunggu nonton Transformers di Blitz, tiba-tiba saja aku antri di ticket box, lucu juga besok nonton midnight. Kebetulan ada film Die Hard yang baru, Live Free or Die Hard. Sebelumnya aku sudah berprinsip tidak akan pernah ke Parijs Van Java di malam minggu. Macetnya dijamin akan mengeringkan semua tetes semangat yang ada pada tubuhmu. And I'm not over-reacted. Tapi filmnya kan main jam 23:45, masa sih masih macet, pikirku. Aku pergi jam 22:00 (artinya dua jam menjelang tengah malam) dan OMG, jalan Karang Tinggal yang sempit dan biasanya damai. Aku tahu pasti karena disinilah rumah kakekku. Malam itu sangat macetttttt! Untunglah malam itu aku sudah tidur dulu, sudah makan, tidak ingin kencing, ditemani Fanny, keponakanku dan lagu di RaseFM sangat menghibur. Semua itu sangat manjur sebagai obat putus asa. Parkirannya pun penuh luar biasa. Jarak yang biasanya cukup menghabiskan waktu 8 menit saja dengan berjalan aku tempuh dalam waktu satu setengah jam malam itu. Aku beneran kapok.
Tapi aku adalah penggemar John McClaine. Aku punya DVD tiga jilid sebelumnya. Dan aku masih ingin mengulang memori itu. Sialnya itu pula yang dijawab Hollywood dengan film ini dengan tanpa rasio yang memadai. Film ini mengisahkan segerombolan hacker super pintar yang mengkacaubalaukan Amerika. Teroris ini dipimpin Thomas Gabriel yang aku gak tahu kenapa kok berbahasa Perancis. Tugas John adalah mengawal Justin Long, salah satu hacker yang selamat untuk bertemu dengan pimpinan FBI, Bowman yang diperankan Cliff Curtis (salah casting?). Film ini bertabur special effect yang terlihat mahal dan bombastis. Bruce Willis sudah terlalu tua. Justin Long kewalahan. Script yang buruk. Tidak terlihat lagi dialog-dialog lucu dan sarkastis khas Die Hard. Film ini terlihat sebagai film yang sama sekali baru tapi memakai nama John McClaine. Semakin menjelang akhir, adegan akan semakin berlebihan dan benar-benar menganggap penontonnya bukanlah sesuatu yang memiliki otak. Hhhhh, benar-benar malam yang melelahkan.

Friday, June 29, 2007

Change

I DO believe people can change.
Even it's not here, it could be anywhere.
Change buddy.
Change into something better.
Something Good.

Thursday, June 28, 2007

Bandung 9:34


Sekarang pukul 9.34 di pagi hari. Matahari biasanya sangat terik menerpa punggungku. Tapi tidak kali ini jendela di sebelah mejaku sangat bersahabat. Karena langit Bandung hari ini berwarna abu-abu. Yes, My kinda weather! Aku gak tau kenapa, tapi yang pasti cuaca ini tiba-tiba seperti menyuntikan sejuta kebahagiaan dalam diriku. Smiles never leave my face today!

Monday, June 25, 2007

Bridge To Terabithia. a WOW!

Hari Sabtu kemarin aku harus masuk kantor jam 2 dini hari. Ya, Anda tak salah membacanya. Makanya, sebelum ke kantor aku putuskan ke bioskop dulu nonton midnight. Film yang aku tonton adalah "Bridge to Terabithia". Film ini sebenarnya sudah lama diputar di negara asalnya, tapi entah kenapa baru masuk Indonesia.
Dari poster dan strategi pemasarannya, aku berpikir film ini mirip-mirip Narnia. Tapi ternyata Tidak. Hal itu juga yang mengecewakan banyak fans yang aku baca di Amazon. Mereka mengharapkan film ini seperti Narnia. Sedangkan aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin film ini tidak terlalu buruk agar perjalanan aku menghabiskan waktu menunggu jam 2 malam tidak membosankan.

Ternyata sejak awal film ini sudah mempesonakan aku. Menceritakan kehidupan Jess Aarons, seorang anak yang hidupnya sulit, baik di rumah apalagi di sekolah. Dunia seakan tak pernah ramah padanya. Tapi semua itu berubah sejak kehadiran murid baru bernama Leslie Burke. Satu-satunya perempuan yang berlari lebih cepat dari Jess. Leslie membawa Jess ke dunia penuh kebebasan dan imajinasi. Leslie pula yang membawa Jess ke dunia baru, Terabithia.

Setting kehidupan pedesaan di Amerika digambarkan dengan sangat indah di film ini. Chemistry cast di film ini juga berjalan dengan sangat wajar. Endingnya mengejutkan sekaligus mengharukan.

Hebat. Jelas harus punya DVD nya!

Thursday, June 21, 2007

My Man

Look what I've Found!!!!
HAHAHAHAHHAHAHAHAHA
Aku sampai speechless, ketika pertama liat halaman ini di majalah Grey (majalah anak SMA kota Bandung) edisi spesial guru favorit.
Inilah Pa Toto aku. Yang Sejak tahun 1993 aku recokin dengan segala permasalahanku.
Gaya banget ya. Tapi sumpah mic nya ga penting banget :)
Proud with this? HELL, I AM!!!

Tuesday, June 19, 2007

Collecting Youtube

Dulu ketika aku baru punya ipod video, aku bingung mau diisi apa. Pinginnya diisi banyak-banyak music video, tapi bingung nyarinya dimana. Akhirnya aku isi trailer-trailer film yang memang bertebaran dan tentunya free of charge. Periode berikutnya, ipod itu aku isi film dari DVD/VCD yang aku convert pake Cucusoft.
Tetap saja, keinginan untuk nambah koleksi music video masih belum terpenuhi. Sayangnya itunes (lagi-lagi) tidak menerima transaksi dari Indonesia. Ada sih beberapa video yang bisa didownload dari multiply, tapi itu pun jarang sekali dan harus berlama-lama browsing. Seringkali aku ngiler dan harus cukup puas dengan youtube, --my precious.
Tapi kali ini penderitaan itu berakhir! Thanks to Denny Marketing --si Penggerogot Apple-- yang telah mengajari aku cara convert youtube! Gampang saja. Tinggal pake browser opera dan aplikasi isquint, dan tada...jadilah koleksi ipod videoku semakin banyak! Dan kedua aplikasi itu bisa didownload gratisan!
Yiiha!

Sunday, June 17, 2007

Flash at Home

Hari Minggu ini aku libur. Rencananya ingin keluar sebentar. Pingin makan di Bu Ade. Tahu warung makan sederhana itu? Letaknya ada di pertigaan ujung Jl. Sabang dan Jl. Lombok didepan "Kuya Gaya". Aduh, kalo inget masakannya bikin air liur menetes. Masakannya masakan sunda. Ada rendang kacang, ayam goreng (highly recommended), sate kerewed, pepes usus ayam dan banyak lagi. Enak banget dan sama sekali tidak mahal.
Sayangnya ibuku duluan berpesan untuk jaga rumah. Sebetulnya rumah itu gak usah dijaga sih. Tapi aku harus nemenin keponakanku dan kebetulan tetanggaku nitip kunci, secara mereka sekeluarga sedang ke Bogor. Jadilah aku di rumah saja.
Sambil iseng aku nyoba Telkomsel Flash di "komputer umum". Disebut komputer umum soalnya semua orang menggunakannya, Bapakku buat administrasi keuangan mesjid, file urusan murid SD punya kakak iparku, banyak Game, dan tentu saja banyak file foto hasil upload kamera tentang berbagai kejadian. Aku nyoba Flash, pake handphone si E61i itu, jadi cuma dapet 3G, gak nyampe HSDPA yang 3.5G. Tapi ternyata sudah cukup lumayan kok, aku dapet 460.8 Kbps, puluhan lipat kecepatan dial-up Telkomnet Instan yang menyebalkan itu. Dan cukup murah.
Sayangnya aku belum bisa maen di si MacKenzie, soalnya bawaan software handphone (Nokia PC Suite) gak bisa diinstal di MacIntosh. So far belum jadi masalah sih.
Jadilah keponakan-keponakanku yang ABG ber-friendsteran di rumah aja.
Tapi kok masih pingin ke Bu Ade, nih :)

Wednesday, June 13, 2007

Flame On!

Hal yang menyenangkan mengenai summer (di belahan bumi utara) adalah banyaknya film unggulan yang dimainkan. Tak terkecuali summer tahun ini.
Yang berbeda dari summer 2007 adalah, begitu banyaknya film sequel. Mulai dari Spider-man 3 yang overblown, Pirates of Caribbean yang menjemukan, Ocean 13 yang ok, sampai Shrek The Third yang baru aku tonton malam minggu kemarin.
Setelah melihat film-film budget besar berguguran begitu saja. Aku sangat berharap Shrek jilid ketiga akan mengubah segalanya. Hal itulah yang membuat aku memutuskan menyiapkan diri melek sampai jam 11.30 malam Sabtu kemarin. Aku nonton midnight shownya. Dan perjuanganku kembali menelan kekecewaan. Film itu berubah menjadi membosankan, dengan humor yang biasa saja. Satu lagi yang paling penting, aku telah melihat nyaris semua adegan penting di trailer-trailernya. Mungkin musim panas ini bukan musim yang baik untuk menonton film.
Tapi semua itu berubah tiga jam yang lalu. Saat aku menonton Fantastic Four: Rise of The Silver Surfer. Bersama banyak teman (bertiga belas) kita nonton bareng di Ciwalk XXI. Cerita film ini tidak terlalu njlimet tapi tidak juga dangkal. Bercerita seputar perjuangan Fantastic Four menghadapi musuh baru, Silver Surfer dan musuh lama, Dr Doom. Kegalauan hubungan Mr Fantastic dan Invisible Woman, dan yang paling penting si Human Torch yang supercool di jilid pertama menjadi tidak lagi menjadi percaya diri.
Film ini diwarnai dialog cerdas, special effect yang mengagumkan, dan chemistry yang tepat. Cool. Jelas merupakan My Summer Movie, so far.
Menonton Fantastic Four adalah sebuah keputusan yang tepat!!

Keluar Jam Kerja

Buatku, mencari kesibukan diluar pekerjaan adalah hal yang sulit. Ya, sudah bertahun-tahun my circle of friend hanyalah di tempat kerja. Tidak ada yang salah, tapi mau tidak mau hal itu membuatku bosan.
Mulai saat ini aku mencoba untuk mencari kesibukan di tempat lain. Fitness (aku gak mau cerita dulu sebelum lebih dari sebulan, takut menyerah hehehe), dan kesibukan lain, preparation for the big Journey.
Memang jam kerja memakan mayoritas bagian hidup kita. Apalagi kantorku yang 24 jam. Benar kata seorang penyiar di Hardrock FM kemarin, hentikan aktivitas pekerjaan di akhir jam kerja, dan mulai kehidupan baru. Kemana saja kamu suka, melakukan apa saja yang kamu mau, bahkan tidak melakukan apa-apa atau tidak pergi kemana-mana pun sah-sah saja.
Itu yang akan aku lakukan.

Friday, June 08, 2007

Chrisye, "Sebuah Memoar Musikal"

Pertama kali membaca buku ini ketika aku di Potluck. Bayangan aku buku biografi adalah buku yang membosankan. Jadi, aku baca bukunya sekedar pingin liat fotonya aja. Apalagi saat itu Chrisye baru saja meninggal dunia. Tapi ternyata sejak halaman pertama, buku ini sangat jauh dari bosan. Membaca pengalaman masa kecil Chrisye sangat fun! Alberthiene Endah, sang penulis berhasil membuatnya seperti alur cerita fiksi dan tidak berlebihan.
Siapa sih orang Indonesia yang gak kenal Chrisye? Baik dari wajahnya, gayanya dan yang paling penting karyanya? Sadar atau tidak Chrisye telah mengisi kehidupan orang Indonesia, termasuk aku, baik suka ataupun tidak. Banyak lagu yang sampai sekarang masih menari-nari di kepalaku. Sampai akhirnya Chrisye meninggalkan kita untuk semuanya, tanpa terasa meninggalkan kesedihan. Padahal aku bukanlah fans beratnya.

Buku ini menceritakan hidup Chrisye yang ternyata memang sangat bersahaja seperti penampilannya. (Diluar gaya Hip Hip Hura, yang dia sendiri ternyata tidak nyaman, haha). Buku ini juga menceritakan Chrisye sebagai seorang yang perfeksionis sekaligus idealis. Hal yang jarang ditemukan di dunia entertainment yang bergelimang materi. Bab demi bab membuatku seperti mengenalnya.

Buku ini berhasil membiusku sampai jam 2 malam. Dan setelah aku menutup halaman terakhir, aku ternyata merindukan Chrisye...

Thursday, June 07, 2007

Ocean 13

Setelah Ocean 11 membuat aku sangat kagum aku memutuskan untuk menonton semua seri Ocean yang akan dibuat. Dan itulah yang terjadi. Ocean 12 sayangnya agak mengecewekan. Tampak jelas para pemainnya bersenang-senang dan melupakan penontonnya.
Kemarin malam aku menonton Ocean 13 di Ciwalk. Kita di Indonesia diberi kesempatan menyaksikannya sebelum premiere di Amerika. Danny Ocean and the gang kali ini membalaskan dendam Ruben, yang ditipu oleh William Bank (Al Pacino), seorang pengusaha kasino yang baru saja membangun kasino/hotel super mewah. Film ini tetap terlihat santai walau penuh rencana hebat yang misterius. Ocean 13 kali ini masih dibawah Ocean 11, tapi jelas lebih baik dibanding Ocean Twelve.

Adegan terlucu adalah ketika Clooney menangis nonton Oprah. Al Pacino di film ini masih kalah galak sama Andy Garcia di seri pertama dan kedua.

Menyenangkan.

Wednesday, June 06, 2007

Home Video Demo

Aku biasa sampai di kantor setengah delapan kurang. Terdengar agak berlebihan, ya?! Sebetulnya banyak alasan, sih, diantaranya: 1). Tidak ada kegiatan lain di rumah di pagi hari, daripada melamun mendingan pergi ke kantor; 2). Biar perjalanan ke kantor gak buru-buru, gak terlalu macet, udara masih segar; 3). Nah ini alasan yang paling penting... biar bisa browsing yang gak penting diluar urusan kerjaan sebelum office hour :)
Itu pula yang aku lakukan sekarang. Aku agak kaget baca artikel di people.com tentang Justin Timberlake yang mengontrak Esmee Denters, seorang penyanyi dari Belanda yang memposting video di youtube. Zaman benar-benar sudah berubah memang. Masih jelas di ingatanku bagaimana seorang teman dahulu membuat demo dengan susah payah dan mengedarkannya ke setiap produser dan recording label. Sekarang dengan berbekal video cam dan internet, kita bisa melakukannya semua dari rumah. How nice!
Btw si Esmee ini memang hebat suaranya. Favorit aku adalah ketika dia menyanyikan "Dance With My Father

Monday, June 04, 2007

Speedy Bill

Aku membeli Nokia E61i awal bulan Mei kemarin. Aku membelinya untuk mengganti my Darling 9300. Tidak ada yang salah dengan communicator itu sebenarnya. Kecuali fitur 3G yang memang tidak ada didalamnya.
E61i layarnya lebar dan koneksi internetnya super cepat. Hal itu menyenangkan aku. Sampai kemarin aku menerima tagihannya. E61i + browsing ternyata merampok aku. Tagihan ponselku bulan ini membengkak 3x lipat. Oh Bummer!! Saatnya aku me-reconsider Telkomsel Flash!

Friday, June 01, 2007

Book Review: Buku Anak-Anak Lagi

Tidak dapat dipungkiri, aku memang kecanduan buku anak-anak. Makanya, aku kembali membaca dan membacanya lagi. Syukurlah aku menemukan dua buah buku menarik.

Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler. E.L Konigsburg. (Judul asli: From The Mixed-Up Files Mrs. Basil E. Frankweiler). Buku ini aslinya ditulis 1967. Tapi jangan khawatir, buku ini tidak akan terasa kuno. Buku ini menceritakan tentang petualangan Claudia dan Jamie yang memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Claudia sebagai kakak tertua merasa diperlakukan tidak adil oleh kedua orangtuanya. Oleh karena itu dia merencanakan dengan sangat matang petualangannya.
Tujuan ka
bur kedua bersaudara itu adalah Museum Seni Metropolitan, New York yang nantinya akan menggelitik rasa ingin tahu mereka.
Buku ini
sangat ringan, tapi tidak dangkal. Sungguh menyenangkan mengikuti perjalanan mereka. Usaha mereka untuk bertahan dan juga pertikaian antara kakak beradik yang berperangai berbeda itu. Walau tak ada tokoh antagonis, buku ini tetap fun sekaligus menggelikan dan adventurous.

Karena Winn-Dixie (Because of Winn-Dixie). Kate DiCamillo. Buku ini sudah difilmkan dengan judul yang sama, tapi aku tak tertarik untuk menontonnya. Bahkan sebenarnya aku agak tidak berminat membaca bukunya. Buku ini aku beli sudah cukup lama, tapi teronggok di rak bukuku begitu saja. Bahkan plastik kemasannya pun belum aku buka. Akhirnya, sambil menunggu di Bandara kemarin sebelum ke Batam aku berkesempatan membacanya. Bodohnya aku, buku ini seharusnya aku baca sejak dulu kala.
Buku ini sangat hebat. Menceritakan pertemuan antara Opal –anak seorang pendeta yang baru pindah ke sebuah kota kecil di Florida—dengan seekor anjing kampung terlantar yang ia namakan Winn-Dixie, seperti nama torserba tempat Opal menemukannya. Winn-Dixie menolong Opal mengatasi kesepian sekaligus menemukan sahabat-sahabat baru di kota itu.
Buku ini membawa kita kesebuah persahabatan dengan binatang, dengan orang lain dan juga dengan keluarga. Masalah berat yang dihadapi Opal dan orang-orang disekitarnya menjadi lebih ringan gara-gara sebuah persahabatan. They heal each other. Nicely.

Lame Batam

Mulai hari Minggu kemarin aku ditugaskan untuk training. Di Batam. Lokasi yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Training PABX dan IVR (yawn, untuk singkatannya, silahkan googling aja). Untunglah aku ditugaskan untuk melihat sisi proses secara garis besarya saja. Tapi, tetap saja hal itu juga berarti aku harus tetap memaku pantatku di ruang training hotel Mercure selama tiga hari penuh. Artinya pula: aku tak memiliki kesempatan untuk menyeberang ke negeri tetangga barang sebentar.
Tiga hari training itu cukup membosankan, makanan hotelnya pun buruk. Aku sangat berterimakasih kepada Nokia E61i ku yang aku jadikan pelampiasan. (Terimakasih pula kepada yang telah menemaniku chatting dari Senin hingga Rabu). Jadi siap-siap saja tagihan 3G ku di bulan depan pastilah akan sangat tinggi.
Kota Batam nya sendiri err...boleh dibilang err.. payah. (Maaf penduduk Batam, maaf). Mall baru dan modern cukup banyak, tapi isinya benar-benar mirip ITC Kebon Kelapa minus desak-desakan. Harganya pun mahal. Aku tak membeli apa-apa kecuali kacang Pistacchio merk lokal yang tidak aku temukan di Bandung. Untunglah dipinggir hotel ada lapangan futsal. Di hari terakhir kita memutuskan memakainya selama satu jam.
Wow! Efeknya sangat mengagumkan. Aku berkeringat dan pegal-pegal (hingga sekarang). Aku gak peduli permainanku buruk, secara aku gak pernah memainkannya seumur hidup, yang penting aku berkeringat!
Dan, oh iya aku disana memaksakan makan kepiting. Too bad, rasa dan besarnya jauh dari kepiting bawaan Benny dari Bontang (So, Ben kepitingnya masih aku tunggu, ya!).

Pirates of The Caribbean 3: At World’s End

Aku kadang gak ngerti, mengapa Hollywood sering memaksakan kehendak dan berambisi untuk membuat trilogi. Salah satunya Pirates.. ini. Seri pertamanya sungguh mempesona. Tapi apa yang terjadi di dua seri berikutnya sangatlah menyebalkan.
Ceritanya melebar kemana-mana. Terlihat jelas dipaksakan agar menjadi panjang dan cukup untuk dibuat sampai seri ketiga.
Setelah menonton seri keduanya, “Dead Man’s Chest” aku masih bertoleransi, ceritanya kedodoran mungkin karena bermaksud sebagai jembatan yang menghubungkan seri pertama "The Curse of Black Pearl" dengan seri penutup “At World’s End”. Lagian, adegan Jack Sparrow (Johnny Depp) di pulau kanibal itu cukup fun untuk disaksikan.
Akhirnya aku membulatkan tekad untuk nonton seri terakhir di Blitz minggu kemarin. Dan keputusan itu berbuah menjadi siksaan selama tiga jam. Film itu kembali membosankan bahkan lebih boring ketimbang seri kedua. Ceritanya menjadi lebih parah, kadar actionnya semakin sedikit, dan adegan akhir-nya hanya mengandalkan special effect yang memang hebat dan terlihat sangat mahal.
Tapi apa mau dikata, angka box office berkata lain. Film ini sangat digemari ternyata. Kalau ada seri keempat aku akan memastikan diriku untuk menontonnya di DVD...bajakan.

Back From Hiatus

Hari ini hari Waisak, dan Thanks God aku ga usah masuk kantor. Aku bersumpah pada diriku sendiri, hari ini I’ll be productive. Ya, setelah seminggu ini aku training di Batam, aku bosan berdiam diri atau hanya berleha-leha meski di hari libur.
Makanya aku memulai hari ini dengan pergi ke SMA 2 ku tercinta jam 5:45 pagi tadi. Aku mengantar Pa Toto yang rencananya mau pergi touring naik motor bersama guru-guru lainnya ke Pangandaran. Bikin khawatir. Jadi inget film William H. Macy, John Travolta dkk di film Wild Hogs hehehe. Pagi itu berlanjut ke kantor –bukan untuk bekerja, amit-amit!—tapi mau ngambil paket pesananku dari PDair, pengganti pesanan boxwave sialan itu.
Dalam perjalanan pulang sekalian ke Kartika Sari dulu, aku pingin bala-bala dan kue2 lainnya. Wangi roti segar di pagi hari sangatlah menyenangkan. Sambil ditemani cokelat panas dan roti jagung, here I am, back to blogging setelah mengalami hiatus seminggu kemarin.

Friday, May 25, 2007

Music Review: Peterpan, Hari Yang Cerah

Banyak orang bilang aku gak suka musik pribumi. Dan itu adalah tuduhan terkejam! Aku suka musik, tanpa mengenal musik itu darimana, termasuk negeri sendiri tercinta Indonesia. Memang tidak suka SEMUA musiknya. Tapi itu sangat wajar, bukan.
Tuduhan itu muncul mungkin juga dikarenakan aku sendiri. Aku gak pernah mereview album Indonesia di blog ini. Baiklah, aku akan memulainya hari ini. Album yang aku review kali ini adalah album terbaru Peterpan. Ya, aku suka mereka. Bersama jutaan orang lainnya. Album ini baru aku dengarkan hari ini, gak beli, tapi juga tidak membajaknya. Aku minjem dari Pebe, yang baru masuk setelah melepas masa lajangnya.
Album ini album pertama mereka dengan formasi yang baru. Tapi aku tidak melihat ada yang berubah dari musiknya. Album berisi 10 track yang tetap berciri khas Peterpan. Mungkin karena timbre Ariel, sang vokalis yang memang sangat khas, mungkin, ya.
  1. Menghapus Jejakmu
  2. Hari yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi
  3. Di Balik Awan
  4. Kota Mati
  5. Melawan Dunia
  6. Sally Sendiri
  7. Lihat Langkahku
  8. Bebas
  9. Cobalah Mengerti
  10. Dunia Yang Terlupa

Sejauh ini favorit aku adalah Menghapus Jejakmu, Di Balik Awan, dan Sally Sendiri. Overall album ini menyenangkan. Satu hal yang hilang dibanding album Peterpan yang dulu. Aku gak melihat lirik dan melodi yang optimis seperti "Aku dan Bintang", misalnya. It's a grey-cloudy-day album, tidak seperti judulnya.

Thursday, May 24, 2007

American Idol 2007 is over


Hari ini aku terpaksa harus tinggal di rumah saja. Flu sialan. Sudah beberapa hari ini aku batuk dan pilek. Tapi sudahlah, aku bukan akan menceritakan penyakit itu.
Hari ini adalah penentuan American Idol 2007. Jagoan aku, Blake Lewis, pada 3 besar minggu kemarin tampil sangat menakjubkan. Tiga lagu pilihan juri, produser dan pilihan sendiri sangat sangat keren. Dia menyanyikan Roxanne (The Police), This Love (Maroon 5) dan favorit aku When I Get You Alone (Robin Thicke). Sebenarnya saingan yang lain, Melinda Doolittle dan Jordin Sparks pun tampil hebat malam itu. Dan malam itu akhirnya menyisakan Jordin dan Blake. Melinda harus pergi. Sorry Simon.
Tapi hal itu berbalik Rabu malam kemarin. Blake sayangnya tampil sangat flat. Sebaliknya, Jordin on fire. Apalagi lagu wajibnya “This is My Now” seolah-olah memang diciptakan untuk Jordin, bukan Blake. Dan malam itu pula aku yakin Jordin akan juara. Dan itu kejadian pagi ini. Ya, baru saja Jordin dinobatkan menjadi American Idol tahun ini.
Tapi sebenarnya aku gak peduli. Hampir pasti yang masuk 3 besar American Idol akan membuat album. Mudah-mudahan Blake mendapatkan produser dan lagu yang tepat.
Congrats Jordin!

Thursday, May 17, 2007

Pasar Malam

Malam Minggu kemarin secara tak sengaja aku liat di lapangan deket rumah ada pasar malam. Hehehe langsung saja aku berencana mengajak keponakan2ku kesana. Ya, secara reguler rombongan pasar malam itu memang suka datang ke Sarijadi setiap tahunnya. Kadang 2 kali tapi sering juga lebih. Di pasar malam itu ada berbagai macam permainan ala Dunia Fantasi tapi jauh lebih tradisional. Ada yang digerakan pake tenaga manusia atau mesin diesel. Ada korsel (versi sunda dari carrousel), dan segala jenis mainan anak-anak yang berputar-putar. Hiasannya sangat meriah, warna warni dan full musik tentunya.
Selain bermacam permainan, ada juga tukang jualan. Macem2. Dari jual pakaian dalam, kacamata, mainan, aromanis warna-warni, vcd/dvd bajakan sampai --yang paling aku inget-- baso ukuran super jumbo. Pengunjungnya membludak, tampaknya mereka rindu hiburan yang dekat dan super murah. Kalangan yang datang umumnya kalangan menengah ke bawah, dan ABG-ABG kampung dengan dandanan super maksimal. Lucu-lucu. Rambut mohawk, baju dan celana super ketat, kalung etnik dan tidak lupa kacamata hitam retro. Padahal hari itu lumayan gelap, hehehe.
Satu mainan harganya 3000 rupiah. Keponakan2ku (Azhar, Fikri dan Tamam) ingin mencoba semuanya. Tapi aku tidak!! Gila, aku sumpah takut. Hahaha. Aku tidak yakin mesin-mesin ringkih itu tidak dapat menopang tubuh besarku!! Aku senang melihat ekspresi orang-orang disana, banyak hal lucu. Seringkali aku tersenyum sendiri. Eh, aku jadi ingat, Sari, pembantuku, ketemu dengan suaminya, hansip RW 02 di pasar malam ini beberapa tahun yang lalu. Hihihi.

Consuming Demon

Iri. Dengki. Cemburu. Buruk hati.
Semua hal itu hal yang sangat lumrah ada pada hati manusia.
Itu yang dulu aku sangka...
Itu adalah pemikiran yang sungguh salah. SALAH BESAR, bahkan.
Jangan anggap enteng sifat-sifat syaitan itu. Hal yang terbenar adalah: Jangan sampai kita berpikir semua itu adalah hal yang lumrah. Jangan Pernah.
You know what? There's so consuming! Sekali kita mentolerir hal tersebut ada pada diri kita, maka pada saat itu pula kita akan berteman dengannya.
Sadar atau tidak sadar. Aku sangat bangga, sangat-sangat bangga kalau aku bisa menaklukan sifat-sifat itu setiap kali mereka datang. Aku sangat bersyukur. Sangat.
Sounds hyperbolic. .......But it's not.
Forgiving, cheering something good, smiling others glory is PRETTY GOOOD!
....and relieving.
Try that buddy. Seriously.

Sunday, May 13, 2007

Blitz Bodoh!

Keponakanku ingin sekali nonton Spider-Man 3. Hal itu pula yang mendorong aku untuk membeli tiket nonton di Blitz jauh-jauh hari. Aku beli tiket di hari Kamis kemarin untuk pertunjukan Sabtu jam 14:00. Sialnya hari itu bukan hari yang tepat untuk datang ke Blitz.
Film nya sering putus tiba-tiba. Blank. Suara tidak stereo. Berkali-kali. Puncaknya adalah ketika 10 menit menjelang film itu berakhir, Film putus kembali. Aku pikir hanya sebentar. Tapi ternyata kali ini lama sekali. Tidak ada pengumuman apa pun, apalagi permintaan maaf. Aku akhirnya keluar, sekalian ke toilet. Ternyata diluar pun gelap. Seluruh studio di lantai atas mati. Aku tanya petugasnya dia pun bingung. AC mati, kekesalan pun tentunya memuncak. Aku masih menahan diri, mengingat aku pergi dengan keponakanku. Tapi orang lain beda cerita. Dari mulai anak-anak menangis sampai sumpah serapah. Hal itu berlangsung lebih dari setengah jam.
Penonton dari studio lain sudah mulai menuntun refund. Kalo buat aku refund gak terlalu penting. FILMNYA TINGGAL 10 MENIT LAGI!! Itu yang bikin aku kesal. Aku sudah nonton, tapi keponakanku pasti sangat penasaran. Akhirnya listrik hidup lagi, film dimulai dengan beberapa adegan terpotong.
Yahhh.... Hari itu Blitz adalah bioskop amatiran yang mengesalkan!!

Tuesday, May 01, 2007

Crap

Sabtu kemarin aku sempet browsing situs belanja, dengan harapan ada situs yang menyediakan leather case buat Nokia E61i yang bisa dikirim ke Indonesia. Aku akhirnya menemukan situs boxwave. Seperti biasa aku langsung pesan, kartu kredit pun telah tercharged.
Hari Senin nya email konfirmasi pemesanan aku terima, tapi status transaksinya masih pending. Yah sudah, tertunda gara-gara weekend mungkin.
Tapi pagi tadi aku terima email ini:

Dear Dodi,
Thank you for your recent order with BoxWave!
I am sorry to inform you that we no longer ship to Indonesia due to the increase in fraudulent orders and shipping issues. Your order has been cancelled, and the amount of $43.95 will be refunded back onto the credit card that we have on file for you.
I apologize for the inconvenience this may have caused you.
Please let me know if you have any other questions or concerns!
Best Regards,
Evan
BoxWave Customer Service
http://www.boxwave.com

Grrrrr. Menyebalkan. Selalu begitu. Indonesia seringkali di blacklist. Itu pula alasan kenapa aku hanya berbelanja di Amazon saja. Soalnya cuma situs itu yang begitu berbaik hati dan tidak berburuk sangka, walau hanya terbatas cuma CD, buku dan DVD aja yang boleh di order.
Sampai kapan, ya?

Thursday, April 26, 2007

Rofiq Komar Effendi

Sepulangnya aku dari training ESQ. Ibuku memberi kabar buruk. Pak Rofiq Komar Effendi meninggal dunia. Aku tercekat. Sedih.
Pak Rofiq adalah tetanggaku. Beliau khotib dan imam di mesjid Al-Hidayah. Mesjid komplek rumahku. Mengisi sebagian besar kehidupan Ramadhan ku. Dari mulai aku SD, zaman masih mencatat ceramah tarawih dan subuh. Suara nya yang berat dan alunan yang khas ketika memimpin sholat tak bisa lepas dari kepalaku. Hal itu berlangsung sampai dengan tarawih tahun kemarin. Ternyata tahun itu adalah Ramadhan ku yang terakhir tanpa beliau. Semoga ditempatkan di sisi terbaik disana.
Innalillahi wa innaillaihi roji'un.

ESQ 165

Training ESQ 165 sudah selesai aku jalankan. Seperti yang aku pernah bilang, aku sangat menantikan training ini. Ada semacam harapan training ini akan mengubah hidup aku. Terdengar sedikit desperate mungkin. Dan Naif. Sengaja aku tak mencari informasi mengenai ESQ ini. Tidak dari internet maupun dari orang-orang yang pernah mengikutinya.
Kesan pertama: training ini sangat percaya diri. Sedikit narsis hehe. No problem with that. Berikutnya: melelahkan! Training ini berlangsung 3 hari, dari jam 7 hingga jam 6 sore setiap harinya. Duduk di kursi dikombinasikan dengan bersila. Aku menyiapkan mentalku untuk training ini, tapi tidak dengan fisik-nya. Walhasil aku sering sekali kelelahan. Alias cangkeul kaki.
Metode training ini sangat berbeda. 3 layar lebar, sound system yang dahsyat, ruangan yang luas dan sangat dingin, peserta yang sangat banyak. Sekitar 500 orang. Semuanya satu perusahaan denganku dari berbagai lokasi. Aku gak akan menceritakan detail training ini. Menurut aku training ini sangat islami, mencoba merefresh keimanan kita dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits. Tidak cocok untuk non muslim. Menggunakan banyak metode di dalamnya. Training ini juga mensinergikan Al Qur’an dengan dunia profesional.
Untuk mengikuti training ini saran aku: Kembangkan batas toleransi selebar-lebarnya, berpikir positif, ikuti semuanya tanpa berpikir bodoh atau tidak, pantas atau tidak, keren atau tidak. Tidak ada salahnya sama sekali kok! Aku memang tidak selalu setuju dengan cara-cara yang dipakai ditraining ini. Tapi aku tidak keberatan sama sekali menuruti perintah training ini. Sujud, takbir sekeras-kerasnya, ikut senam ala anak TK, mendengar orang menangis gak terlalu masalah. Yang ada dikepalaku adalah: training ini adalah satu bentuk yang dipercayai seseorang (Ari Ginanjar Agustian—sang pelopor) untuk mencapai cita-cita yang besar. Sangat besar dan sangat optimis. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mendukung cita-cita itu.
Tanpa disangka, training yang aku harapkan cepat berakhir ternyata sekaligus juga aku rindukan. Tapi apakah ini merubah hidup aku, seperti yang aku inginkan? Hmm pertanyaan berat yang membutuhkan pembuktian sebagai jawaban.

Sunday, April 22, 2007

Sebelum ESQ

Waduh tiba juga kepergianku ke Jakarta untuk training ESQ. Harusnya bulan kemarin. Cuma dibatalkan gara-gara banjir. Aku sudah lama menantikan training ini. Semoga membawa banyak perubahan (yang baik tentunya!). Amin.
Sebelum pergi nonton dulu Maroon 5. Album barunya keluar nanti 22 Mei. Tapi singlenya sudah ada di ipod ku. Maaf Maroon 5 aku mendownload illegally. Tapi aku janji membelinya di kemudian hari.


Selamat tinggal *untuk 3 hari saja*


Friday, April 20, 2007

3 Days Serenade :)

Mulai hari Rabu kemarin aku cuti. 3 hari sampai Jum’at disambung libur Sabtu Minggu dilanjut training ESQ sampai Rabu lagi. Masuk kerja baru hari Kamis nanti. So, I don’t wanna talk about work in any kind of form. Jadi maaf buat yang telpon ttg urusan kerjaan aku cuekin untuk sementara.
Walau cuti aku gak kemana-mana, alias di Bandung saja.
Hari #1, Bangun super pagi, jam 5 subuh, mandi dan tidak tidur lagi. Kepalaku penuh rencana. Cuci mobil. Ke bengkel betulin klakson. Potong rambut ke mantje. Ke tukang jahit, betulin celana sekaligus bikin celana panjang sama celana pendek. Dan akhirnya kerjaan utama: Beres2 kamar. Untungnya si Fanny libur, jadi ada yang bantuin. Stock opname CD, VCD dan DVD juga –yang paling berat—buku2ku. Ditata ulang berdasarkan genre. Memindahkan lokasi. Komik di deretan paling bawah, soalnya buku itu sasaran utama keponakan2ku di kala libur, dan buku serius di paling atas. Wow, ternyata cukup melelahkan. Sorenya dilanjutkan cari sekring dan peralatan lainnya ke Ace Hardware. Ditutup makan malam di Potluck.

Hari #2, Bangun jam 10 pagi. Yuhuu!! Akhirnya aku bangun siang. Sudah sejak lama aku menderita penyakit susah bangun siang. Sumpah, bukannya sombong, tapi aku memang tak pernah bisa. Di hari libur rekor tersiang aku hanyalah jam 7:30, padahal malamnya aku tidur jam dua malam. Menyebalkan. Dilanjut sarapan dan maen game Civilization III sepuasnya. Selepas maghrib aku nonton ke Ciwalk. Kali ini aku menepati janjiku untuk lebih membuka diri dan memberi kesempatan kepada film Indonesia, tak peduli apapun genrenya. Film yang aku tonton, sebuah film horror “Kala”. Film bervisualisasi indah bersetting di “Alternate world” dengan nuansa Indonesia tempo doeloe. Jadi inget film V for Vendetta. Cukup menakutkan di awal film, tapi dengan perlahan dan pasti cerita film ini menjadi semakin ngarang dan mudah untuk dilupakan.

Hari #3, Bangun setengah jam lebih siang dari sebelumnya. Aku mulai khawatir, hehehe. Tetap maen game lagi. Habisnya kagok kalo mau kemana2, sebentar lagi Jum’atan. Baru, deh jam satu-an aku kembali berkelana. Aku mau nengok Inge, temen SMAku yang baru melahirkan. Sambil beli kado aku sekalian daftar fitness. Hehehe, iya nih, mulai ngerasa kegendutan (seolah2 langsing). Better than never!

Masih ada dua hari lagi. Kemana lagi ya?

Saturday, April 14, 2007

Horny.............NOT!

Perjalanan belum berakhir sampai disini. Setelah sampai di kantor, checkpoint kita, semua pulang ke rumah masing-masing termasuk aku. Aku memutuskan untuk ke Parijs van Java terlebih dahulu. Sebuah keputusan yang aku sesali.
Mall itu seperti biasa sangat penuh. Aku tak menemukan barang yang aku maksud. Dan yang lebih parah ketika pulang keluar dari tempat parkir sebuah Land Cruiser super besar mundur dengan kecepatan tinggi seakan hendak menggilas Hyundai Atoz-ku yang mungil. Aku klakson, dia tak berhenti. Secara reflek aku menekan klakson kembali dengan sangat keras. Si mobil besar berhenti, tapi klakson jadi ngadat, sepertinya ada yang lepas. Akibatnya ketika maju klaksonnya seringkali berbunyi dengan keras dan tak bisa berhenti. Aku nyaris panik. Orang-orang pasti menganggapku asshole urakan. Pemilik mobil didepanku bahkan berhenti dan datang ke mobilku. Dengan tatapan pasrah aku mohon maaf dan menjelaskan kondisi klaksonku. Untungnya dia mengerti. Tapi orang lain mungkin tidak. Aku memahaminya. Kadang kudengar teriakan memaki.
Akhirnya aku tak tahan. Aku parkir di bahu jalan. Si klakson kadang masih berbunyi. Sial!
Aku menelpon temen2ku. Sayangnya mereka tak bisa membantu. Desperately, aku tanya 108 dan minta nomor bengkel Hyundai. Setengah sedih aku menelpon bengkel. Aku tahu hari sudah malam, bengkel itu pasti sudah tutup. Tapi untung saja staff bengkelnya ada yang belum pulang. Namanya Mas Teddy. Dia menuntunku untuk mematikan sekring klakson dengan sabar. Setelah berburu dengan waktu, khawatir batterai handphoneku habis, akhirnya klakson sialan itu berhenti berbunyi. Alhamdulillah. Terimakasih banyak, mas...
Hari itu aku sangat sangat bersyukur. Sisa kemacetan aku hadapi dengan tanpa keluhan.

Trip to Bandung Selatan

Sabtu ini aku bangun pagi-pagi. Dan jam 7 teng sudah tiba di kantor. Oh, no kali ini aku tidak bermaksud untuk bekerja. Hari ini kita –aku, ii, herri dan poni—akan kembali bersenang-senang ke Bandung bagian selatan. Perjalanan ini sudah direncanakan sejak sebulan yang lalu. Tentunya we’re all so excited!
Kita pergi tepat setengah jam kemudian naik mobilnya Herri, selain mobilnya besar, sekalian nyobain mobil baru :) Satu mobil aja, biar seru dan gak cape. Perjalanan yang menyenangkan. Jarak yang jauh gak kerasa, soalnya sepanjang jalan penuh obrolan dan ketawa ketiwi. Soreang terlewati. Tapi menjelang kota Ci
widey kita mulai khawatir. Kia Carens punya Herri transmisinya otomatis, jadi setiap tanjakan yang jumlahnya sangat banyak disana, kita semua menahan napas takut mobilnya gak kuat dan meluncur mundur.
Syukurlah hal itu tidak pernah terjadi. Akhirnya kita tiba di perkebunan teh sebelum Situ Patengan dan sarapan dengan sangattt nikmat!! Cuaca hari itu berkabut dan mendung, membuat danau kecil itu terlihat sangat misterius. Kita berpuas diri memfoto diri kita masing-masing. Dan diakhiri dengan naik perahu mengitari situ. Mendayung bergantian diselimuti kabut dan hujan yang akhirnya turun dengan cukup deras ternyata sangat menyenangkan.
Too bad, dalam perjalanan menuju Kebun Teh Walini kita menyaksikan kecelakaan. Motor jatuh tersenggol truk b
esar. Aku melihat bagaimana si pengendara motor tak berdaya di pinggir jalan dengan kepala berlumuran darah. Aku berusaha membantu walau tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa terbengong. Deja vu dengan kejadian 5 tahun lalu. Korban dibawa truk ke rumah sakit entah di Ciwidey atau Soreang.
Kita berenang, well, tepatnya berendam di Walini, kolam renang air panas ditengah kebun teh yang hari itu kebetulan cukup sepi. Karena takut hujan makin besar, kita langsung ke Kawah Putih. Perjalanan kesan
a kembali menguji Kia Carens Herri. Kali ini ujiannya lebih terjal dan sempit. Melewati perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya kita sampai ditujuan disambut angin besar, hujan lebat dan cuaca yang sangat dingin. Indomie rebus kami lahap dalam waktu sekejap. Kawahnya sangat mempesona walau tertutup kabut yang sangat lebat. Benar-benar seperti Lembah Mordor hehehe.
Akhirnya kita memutuskan pulang. Hari pun sudah sore dan bertambah gelap. Sialnya Jl. Kopo hari itu sangat sangat macet. Perjalanan pulang sungguh sebuah perjuangan.

Tuesday, April 10, 2007

Ketika

Efek buruk film dengan sangat menyesal harus aku akui masih aku rasakan sampai detik ini. Aku gak mengerti telah berhari-hari sejak film sequel Nagabonar itu kutonton, masih saja tak bisa lepas dari kepalaku. It really consuming. Banyak hal aku pikirkan, aku renungkan. Lebih gilanya hal itu cukup kuat untuk menghilangkan niat buruk yang melintas tanpa henti di benakku.
It sounds bullshit! But I can’t deny it either. Daripada menghilangkan feeling itu, akhirnya aku mengambil keputusan untuk menarik hikmah dan meluruskan segalanya. Hal itu pula yang membuat aku haus untuk mencari media sejenis. Karena aku pikir nyawanya Nagabonar itu Deddy Mizwar, aku mulai mencari film beliau lainnya.
Film yang aku maksud adalah “Ketika” (2005). Film yang tak pernah aku lirik. Tapi berkat dorongan situs Sinema Indonesia, akhirnya aku membulatkan tekad untuk mencarinya. Hari Minggu kemarin aku keliling Bandung mencari VCD itu. Sayangnya film tersebut bak sudah ditelan bumi. Di tempat rental saja, film itu tak ada. Tapi syukurlah, setelah menguras ingatan, aku memutuskan browsing di disctarra.com, tempat belanja lokal yang dulu banget pernah aku singgahi. Dan di tempat itu aku mendapatkannya.
Baru saja film itu aku selesaikan. Dibintangi Deddy Mizwar, tentunya, Lydia Kandau, Lucky Hakim dan Senandung Nacita, sang putri aktor utama in real life. Dari konteks visual, film ini lebih tepat disebut sinetron berdurasi panjang. Tidak ada yang istimewa. Ceritanya mengisahkan konglomerat korup, Tajir Saldono yang hidup di Indonesia yang adil dan beradab, sebuah kondisi imaginer yang bertolak belakang dengan Indonesia saat ini. Dia dan keluarganya harus menghadapi kenyataan pahit menghadapi kebangkrutan dan kemiskinan.
Muatan nasihat tidak terlalu kental di film ini. Aspek religius bahkan nyaris tak ada. Film ini penuh sindiran untuk pemerintah. Walau tak sekental Nagabonar, pesan di film ini tetap terasa. Akting Pak Deddy tetap menarik walau tidak dalam porsi besar, mungkin memberi kesempatan kepada sang anak.
Buat aku film ini tetap menarik, tetap berguna dan menyisakan keheranan akan kemiripan thema cinta dengan Nagabonar. Is this what he really believe? Tak masalah, sih.

Friday, April 06, 2007

Nagabonar2, Another story.

Kemarin malam ketika aku sedang di Blitz, menonton “Nagabonar Jadi 2” temanku kirim SMS: Kalau mau ikut acara nonton bareng Nagabonar besok jam 12, tiket bisa diambil di aku. Ihh…aku kan lagi nonton film itu! Lagian besok Jum’at dan harus jum’atan.
Hari ini aku libur, bangun siang maen game selepas bangun tidur nonstop sampai sholat Jum’at. Hari itu aku gak liat handphone yang entah dimana. Selepas Jum’atan aku berniat akan melanjutkan game komputerku. Sebelum itu aku cari dulu handphone, setelah ketemu dibawah bantal ternyata ada missed call. Bu Riri, managerku dulu. Aduh ada apa? Aku telpon terputus dan gak jelas. Low batt kayaknya. Tapi aku tau beliau ada di Blitz. Ah sudahlah, pikirku.
Tapi sambil ganti baju, tiba2 aku tersentak!! Anjrit! Kalo ada acara nonton bareng biasanya kan disambung jumpa fans!! Tanpa pikir panjang aku langsung naik mobil, ambil kamera langsung tancap gas. Jarak dari Blitz ke rumah aku memang dekat. Tapi menempuhnya dalam 5 menit saja sungguh sangat superb. Syukurlah aku menemukan stand Telkomsel disana. Acara itu gratisan dan cuma bisa ditonton pelanggan Telkomsel. Untung aku pengguna setianya. Hehehe. Aku mendapat tiket dengan sangat mudah, mengingat panitya teman-temanku.
Akhirnya aku kembali menonton film itu untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku cukup bisa menahan tangisku. Ternyata bila menonton tanpa air mata, jalan cerita utamanya tidak samar kok! Hehe.. Menjelang akhir film aku tahu dari temenku kalau barisan Cast “Nagabonar Jadi 2” sudah datang. Setelah selesai film aku langsung setengah berlari menuju cafe outdoor Blitz. Sulit juga,
mengingat bioskop hari itu sangatlah penuh.
Disana sudah banyak yang sedang foto bersama Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Mike Mulyadro, si pemeran Jaki, temen arab Bonaga. Aku hanya melihat-lihat dan tetap mencari aktor pujaanku, Deddy Mizwar. Dan Oh My God, dia ternyata tak jauh di depanku! Aku gemetar, dan mengajak salaman dan juga tentunya foto bersama. Dia bilang terimakasih sudah menonton filmnya. Lidahku mendadak kelu tak bisa menjawabnya. Hanya senyum. Orang hebat itu ternyata begitu humble.
Hahaha sore itu aku tak berbeda dengan para ABG yang berteriak memanggil Tora Sudiro.
Alhamdulillah, cita-citaku kemarin tak disangka menjadi kenyataan.

Thursday, April 05, 2007

Deddy Mizwar, The Great


Pulang kerja kembali pikiran aku kosong. Pikiran melayang kemana-mana. Dan tiba-tiba saja pikiranku membujuk aku untuk membeli topi baru di Parijs Van Java. Aku menurutinya. Gerbang masuk terlihat padat. Aku lupa, besok adalah weekend paskah tiga hari yang artinya hari ini sama dengan malam minggu di waktu biasa. Aku berinisiatif parkir di atas dan mendapat tempat sangat strategis, di depan pintu masuk Blitz Megaplex. Tanpa aku sadari aku mendapatkan diriku sudah di depan loket pembelian tiket nonton. Dan aku pun cukup heran ketika telah mendapatkan satu buah tiket di theatre 5 untuk menonton “Nagabonar Jadi 2”. Gosh, I must be drinking.
Seperti sudah aku bilang aku suka Deddy Mizwar di masa tua dan berpikir di masa mudanya biasa saja. Aku telah menonton The Original Nagabonar puluhan tahun lalu dan aku tidak menyukainya. Jadi alasan aku menonton film ini jelas hanya untuk The Legend tadi.
Diceritakan Nagabonar harus pergi ke Jakarta untuk mengikuti peresmian pabrik anaknya –Bonaga (Tora Sudiro), seorang pengusaha lulusan luar negeri. Selebihnya tidak sulit ditebak, pergulatan dua zaman yang berbeda akan menjadi thema dominan di film bersponsor banyak ini.
Tidak sulit untuk beradaptasi dengan film Nagabonar 2. Dalam 5 menit pertama aku sudah sangat nyaman. Walau deretan belakang ku penuh dengan gadis yang sepertinya lulusan “Anjing university”, soalnya dia memakai kata anjing di setiap obrolannya. Baik kagum maupun lucu. Film ini tak diragukan lagi memang lucu. Naskahnya cerdas. Semua pemerannya bermain sangat bagus dan lepas. Tapi yang membuat aku sangat kagum sampai akhir film tak lain adalah the Great Deddy Mizwar.
Sumpah disaat penonton lain tertawa, aku tak bisa berhenti menangis, kagum akan beliau. Bahkan sampai perjalanan pulang rasa kagum itu tak bias hilang. Ya, selain sebagai aktor utama, beliau juga sebagai penyusun naskah dan sutradara.
Film ini tak hanya menjual komersialisme, tapi tak juga menghindarinya. Aku sangat takjub akan keberaniannya menyelipkan nasionalisme dan aspek religius di film ini. Banyak pesan, bahkan terlalu banyak. Tapi aku mengerti, sepertinya beliau sangat ingin film ini gak hanya menghasilkan uang dan hiburan belaka. Aku seperti mendengarkan nasihat orang tua di film ini. Nasihat yang memang ingin aku dengarkan. Kekaguman ini bahkan menjadikan alur cerita utama yang menjadi samar seakan tak penting lagi.
Aku percaya beliau adalah seorang yang besar. Aku sangat ingin bertemu beliau.

Wednesday, April 04, 2007

Music Review: Elliot Yamin


Akhirnya tiba juga pesanan aku! Setelah pre-order dari tanggal 2 Maret lalu, tiba juga CD Elliot Yamin ini. Sebetulnya sebelum tanggal release, album ini sudah bocor beberapa single-nya dan bisa dengan mudah di download di multiply. Gratis pula. Tapi aku gak tega.

Album ini baru release tanggal 20 Maret. Single pertama, "Movin' On" adalah hal yang membuat aku sangat yakin untuk membeli CD ini. Walau banyak album alumni American Idol yang mengecewakan (Ruben album kedua, Taylor Hicks, Bo Bice, Katherine McPhee), aku sangat berharap Elliot tidak begitu.

Setelah menyimak semua track di album ini, Aku berkesimpulan suka Movin' On (tentunya), Wait For You, One Word dan pastinya A Song For You, single yang kembali menjadi terkenal setelah ada di album kompilasi American Idol season 5. Tapi jangan salah, Elliot menyanyikan lagu tersebut di album ini dengan agak berbeda. Sadly, secara album aku harus bilang album ini biasa. Not superb, tapi juga tidak mengecewakan. Aku masih berharap album kedua...

Monday, April 02, 2007

Put Your Head On!

One thing you should keep in your head is: Don't go near a mall without your head. Karena akibatnya akan buruk. Hari Minggu kemarin aku masuk kantor. Awal bulan artinya banyak report. Siang hari katanya badai menerjang Bandung, walau aku gak merasakan apa-apa. Tenggelam di depan komputer.
Pulang sekitar jam 5 sore. Cuaca kelabu masih menyelimuti. Actually, that's my kind of weather! Aku berencana ke Parijs Van Java sekalian pulang mau beli roti di BreadTalk. Di tengah jalan kakakku telepon nitip beliin buku Matematika Penekanan Pada Berhitung (iihhh!) kelas 5 karangan M. Khafid, penerbit Erlangga. Jadi sekalian aja. Sialnya buku itu gak ada, ditambah BreadTalk yang penuh. Aku hanya beli satu cheese muffin saja. Tiba-tiba aku jadi kehilangan selera.
Seringkali aku keliling mall tanpa konsentrasi penuh, yang biasanya berujung membeli barang-barang yang tak perlu. Hari itu pun tak terkecuali. Sambil pulang menuju parkiran aku beli Green Tea w/ Ice Blended. Di tengah jalan aku berpikir, sekalian aja ke Flamboyant, disana juga ada toko buku.
Ternyata di toko buku itu juga gak ada. Aku malah beli novel 4 buah. Sekalian ah ke Hero (masih di mall itu), aku titipin novel tadi di penitipan barang. Aku membeli sosis dan 2 botol green tea. Buat di jalan ah, pikirku.
Setelah sampai di mobil aku merasa tolol, bagaimana mungkin aku membeli 2 botol green tea buat di jalan. Green Tea hasil beli di Parijs Van Java tadi aja belum habis. Bodoh! Aku langsung pulang dengan sedikit dongkol.
Setelah sampai di rumah aku teringat: NOVEL TADI BELUM DI AMBIL DI PENITIPAN!! Gosh.. sore yang menyebalkan! Pulang nanti aku terpaksa harus kesana lagi!!!!