Lain kali sebaiknya langsung Indonesia-Hongkong saja
Monday, September 17, 2007
Hongkong
Lain kali sebaiknya langsung Indonesia-Hongkong saja
Sunday, September 16, 2007
Juhai - Shenzen
Sepanjang los-los itu pasti akan banyak yang bilang: lole lole hai kaliti cip prais (rolex, Rolex, high quality, cheap price). Bahkan aku pernah nawar tas, dan aku tanya is it really leather? Dia menjawab yes. Aku pegang dan bilang: Are you sure? it feels cheap dia kembali menjawab: yes, cheap. Huh!
Tapi ada satu hal yang aku suka dari Shenzen. Yaitu panti pijatnya. Sekembalinya dari Hongkong, aku nyaris tak bisa berdiri, telapak kaki terutama bagian tumit sudah tak bisa menahan bobotku. Untung guide-ku mengajak ke panti pijat. Aku gak tau namanya. Aku buta huruf disana. Tampilan luar tidak meyakinkan bahkan nyaris seperti tempat mesum. Tapi kesan itu berubah setelah masuk, sofa nyaman tersebar masal. Dilengkapi headphone dan tv kecil walau merk china. Tapi yang paling penting adalah OMG pijatannya sungguh-sungguh enak. Kakiku kembali fit seperti sedia kala.
Tapi kalau memilih, aku gak mau lagi ke kota ini. Walau bangunannya modern tapi semua serba jorok, aku nyaris tak berani ke WC umum. Sumpah, pernah dua kali aku gak nahan pingin ke WC, aduh pengalamannya seperti nonton film horror. Dan satu hal yang sangat mengganggu adalah, kenapa setiap orang sepertinya senang membuang dahak di tempat umum? Hiiii..seram!
(foto diambil oleh mas Iwan)
Macao
Minggu lalu, aku dan rombongan kantor, bertujuh puluh orang aja, piknik ke China, tepatnya ke Macao, Shenzen dan Hongkong. Walau secara teori kota-kota itu satu negara, tetapi saja sangat berbeda. Ditambah kita harus melewati imigrasi setiap melewati masing-masing kota. Bayangkan, dari Indonesia ke Macao melewati satu pos imigrasi, dari Macao ke Juhai (kota sebelum Shenzen) melewati dua pos imigrasi, lanjut ke Hongkong dua pos imigrasi. Semuanya dikalikan dua untuk perjalanan bolak balik. Semua pos imigrasi dipenuhi sangat banyak orang. Sungguh perjalanan yang melelahkan.Aku ceritakan perjalananku tentang masing-masing kota. Dimulai dari Macao. Seperti kata teh Mira, aku bingung, yang benar entah Macao entah Macau, habisnya dua-duanya sama-sama digunakan. Kesan pertama tentang Macao adalah kota yang modern, bersih dan bertaburkan kasino-kasino megah. Ya, kasino itu seringkali disatukan dengan hotel, restoran bahkan pusat perbelanjaan. Bahkan pernah suatu kali di tempat kita makan, rombongan minta disediakan satu ruangan untuk sholat. Setelah kita berjamaah sholat semenit kemudian dirubah menjadi tempat ibu-ibu bermain Mahjong hihihi.
(foto diambil oleh Mas Rafli)
Reunion
Tari, Ahmad, terimakasih banyak.
Ternyata jarak dan waktu tak berarti apa-apa.
Friday, August 31, 2007
The Invasion. Suck.
Thursday, August 30, 2007
Mengalah Itu Penting
Dan masih juga menerima fitnah. Astaghfirullah. Aku harus mawas diri, mungkin saja dibalik semuanya aku berbuat dzhalim. Semoga semuanya berakhir dengan baik. Sabar itu seharusnya tidak ditambahkan kata "sampai kapan". Sabar memang harus selamanya.
Friday, August 17, 2007
17an
Aku termasuk yang jarang keluar rumah kecuali ke warung. Tapi jangan salah, aku pastinya kenal dengan orang-orang di sekitar aku. Minimal satu RW aku tahu. Nah, tanggal 17 itu biasanya aku manfaatin dengan bersosialisasi dan sekedar mencari hiburan. Sudah sebulan ini tiap Sabtu Minggu sore aku sempatkan nonton pertandingan futsal antar RT. Selain meriah dan jadi ajang ketemu orang yang sudah lama gak aku sapa, di lomba ini juga biasanya banyak orang jualan. Walhasil di lapangan itu kalian akan melihat sosok bertubuh besar dengan kaos dan celana selutut yang tidak berhenti jajan. Hehehe.
Kemarin malam juga ada lomba lain. Yaitu lomba masak nasi goreng khusus bapak-bapak. Secara rasa aku gak tau, secara hiasan juga gak jelek-jelek amat. Tapi kehigienisannya diragukan. Soalnya buru-buru dan bercampur keringat. Yiy! Hahaha.
Friday, August 10, 2007
Cuti Nonton
Film pertama yang aku tonton adalah Surf's Up. Film animasi dari Sony tentang Surfing. Dikisahkan seekor penguin, Cody, yang berusaha keras menggapai impiannya menjadi seorang peselancar terbaik mengikuti idolanya Big Z. Film ini agak lain daripada film animasi lainnya yang pernah aku tonton. Shoot yang digunakan seperti sedang membuat film dokumenter, lengkap dengan komentar-komentar dan wawancara orang--err, binatang disekitarnya. Walau terlihat tak laku film ini sangat menghibur. Lucu. Asli. Ditambah hari Kamis itu aku nonton sendirian aja. Tidak ada penonton lain di bioskop itu. Jadi aku seperti raja. hehehe.
Film yang aku tonton siang tadi adalah film yang aku nantikan. Bourne Ultimatum. Seri penutup dari film-film sebelumnya, Bourne Identity dan Bourne Supremacy. Gosh, film ini dua jam lebih dan penuh ketegangan sejak awal. Tidak ada basa-basi tak perlu dan cerita yang sengaja dipanjang-panjangkan. Matt Damon sangat keren di film ini. Tanpa senyum dan bertempur dengan sangat efektif. Tapi aku jamin, Anda akan tersenyum di akhir film. This is This year's Movie!Andaikan aku punya 1 juta dollar. Aku tak akan bekerja lagi dan menikmati setiap jengkal waktu seperti hari ini!! Hehehe.
Thursday, August 09, 2007
Akses Internet Megavision
Tapi akhirnya aku menyerah juga. Sebelum kepergian aku ke Surabaya, mereka kembali menelpon dan menghiba aku untuk mencoba layanan mereka free of charge selama dua hari. Well, bolehlah, kebetulan minggu ini aku cuti. Tepat setengah jam setelah aku sampai di Bandung, layanan internet via kabel sudah terpasang di kamarku.
Dan segala promosi yang mereka gembar gemborkan selama ini ternyata bukan isapan jempol. Yap, selama 24 jam layanan internet mereka tanpa cela. Sejak kemarin begitu banyak hal yang aku download. Musik, film dan software mengisi laptopku dengan cepat. Buat orang yang membutuhkan internet non stop, aku sangat merekomendasikan Megavision.
Tapi mohon maaf, buat aku biaya 480ribu rupiah (sebelum pajak) per bulan terlalu mahal untuk kebutuhan sekunder macam ini. Tapi aku sudah janji sama mereka, aku akan mempromosikannya.
Jadi, teman-teman dan handai tolan, jika Anda berada di kawasan Bandung Utara dan membutuhkan internet super cepat, hubungi 022-2042624.
Tuesday, August 07, 2007
Un-boring Surabaya
Tanggal 6 kemarin membuatku sangat bersyukur. SMS dan telpon do'a dan selamat berdatangan dari mulai tengah malam sampai menjelang tidur. Terimakasih semuanya! Aku sangat terharu, ternyata begitu banyak orang-orang yang peduli dan sayang padaku.
Diskon Inul Vizta, kado dari PCMD Surabaya (? wow.), dan kue tar pisang super enak persembahan Hotel Santika tak lupa menambah keceriaan hari itu. Sepanjang hari seperti tersenyum padaku. Allah benar-benar sayang.
Perjalanan di Surabaya pun ternyata sangat menyenangkan. Di depan hotel ternyata kalau malam berubah menjadi pasar yang ramai. Dimeriahkan musik dangdut super keras dan hidangan di warung Babi Bumbu Kecap, hehehe. Mencari alamat di Gubeng Kertajaya dan bertemu teman SMA kelas 1, Anugerah Pratama a.k.a Gaga yang menginap di hotel yang sama selama 20 hari (yay!).
Tapi lebih menyenangkan lagi membayangkan perjalanan pulang ke Bandung tercinta besok.
Can't hardy wait!
(terimakasih juga pada wifi di hotel yang bisa aku akses gratisan berkat user Indosat M2 punya kakakku)
Monday, August 06, 2007
30
Allah masih sangat sayang padaku, tapi tetap saja aku mengkufuri nikmatNya.
Berjalan di tempat penuh kemunkaran.
Semoga semuanya berubah menjadi lebih baik.
An-Naml memang surat buatku.
Terimakasih Allah.
Alhamdulillah.
Sunday, August 05, 2007
To Surabaya
Sekuat tenaga aku berusaha menghapus kesedihan itu. Tapi aku tahu tidak akan semudah itu.
Mungkin segalanya membutuhkan waktu.
Selama apapun waktu itu. Aku akan menemaninya.
Seperti yang selalu orang itu lakukan kepadaku.
(Syukurlah wifi di Bandara Husein Sastranegara ini bisa diandalkan. Menuju Surabaya. Yang sebetulnya agak malas aku tempuh)
Tuesday, July 31, 2007
All Good Things Come To An End
Dan hal itu benar. Ternyata Bu De Tuti meninggal. Terpaksa aku meminta izin keluar kantor. Aku gak pernah suka melayat orang meninggal. Melihat mayat terbujur sudah cukup membuatku tak bisa berkata-kata. Aku juga gak hapal bacaan sholat jenazah. Tapi aku sadar orang-orang membutuhkanku. Minimal sebagai seksi sibuk antar mengantar. Untunglah disana banyak orang. Jadi ada teman untuk ngobrol menghilangkan kesedihan.
Tuesday, July 24, 2007
The End of Harry Potter
Aku masih ingat suatu hari di tahun 2001. Tak sengaja aku melihat sebuah buku di meja Wulan sang sekertaris (kala itu). Apaan nih, Harry Potter, Chamber of Secret. aku baca Bab pertamanya dan langsung tak bisa lepas. Di kemudian hari aku tahu ternyata si Wulannya sendiri gak pernah baca katanya. Aneh. Hehehe.Perjalananku dengan Harry Potter tak pernah bisa aku lupakan. Buku-buku JK Rowling itu gak pernah bosan aku baca dan aku bicarakan.
- The Sorcerer's Stone, buku yang aku beli pertama kali. Sesudah kejadian di meja sekertaris itu aku langsung mencarinya. Aku membeli buku jilid pertama Harry Potter di Gunung Agung King's Plaza.
- Chamber of Secret, tak lama kemudian setelah buku pertama, aku gak tahan untuk melanjutkannya. Buku ini aku beli di Gramedia Jl. Merdeka.
- Prisoners of Azkaban. Buku ini aku punya dua. Aku pikir hilang. Ternyata dipinjem Anggia, kakaknya Chandra. Huh!
- Goblet of Fire. Aku asli gak punya uang. Padahal aku sangat sangat ingin memilikinya. Sakit pula. Walhasil gak masuk selama tiga hari. Aku sangat sedih sekali. Tapi aku masih ingat ketika masuk kerja setelah sakit itu, buku Goblet of Fire sudah ada di meja. Aku gak bisa berkata apa-apa. Ternyata Teh Nuke membelikannya untukku. Terimakasih banyak, Teh.
- Order of Phoenix. Aku pesan jauh-jauh hari di Gunung Agung BIP.
- The Half Blood Prince. Aku juga pesen jauh hari. di Gramedia Merdeka. Rencananya mau diambil tengah malam (mereka bikin acara khusus), tapi hujan. Jadi aku ambil di pagi harinya. Lumayan berhadiah tas Harry Potter hehehe.
- The Deathly Hallows. Buku-buku sebelumnya aku beli yang edisi bahasa Indonesia. Tapi kali ini aku ga tahan. Tapi aku bingung, kenapa ada dua buku dengan dua gambar yang berbeda. Kata si mbak nya, ini ada yang edisi dewasa dan remaja. Karena ku takut yang edisi dewasa susah bacanya, aku jadi beli yang edisi remaja. Bukan seperti yang dibeli Tari.
Aku baru selesai membacanya tadi malam sejak hari Sabtu. Seperti juga edisi-edisi sebelumnya, mataku gak bisa lepas darinya. Baru berhenti setelah sadar kalau besok harus kerja dan memutuskan untuk tidur. Beda dengan buku sebelumnya. Buku ini adalah perpisahan dengan Harry dan gerombolan dunia sihir. Tidak ada lagi yang ditunggu tahun depan. Begitu banyak cerita yang aku akan rindukan. Terimakasih Harry, Terimakasih JK Rowling.
Thursday, July 12, 2007
Taufik Savalas
Aku sudah sangat jarang sekali nonton TV lokal. Isinya sinetron-sinetron gak jelas dan infotainment yang berlebihan. Tapi tidak subuh tadi. Jariku gak ada kerjaan, menelusuri tiap channel tanpa benar-benar menontonnya. Tak sengaja pandanganku tertuju satu acara infotainment. Ada yang meninggal. Dan Innalillahi wainnaillaihi roji'un, Taufik Savalas berpulang.Monday, July 02, 2007
Movie Movie
Hari Jum'at kemarin sudah diputuskan untuk nonton Transformers. Keponakan2ku sudah stand-bye disana, sedangkan aku start dari kantor. Filmnya lumayan lama ternyata. Mengisahkan perseteruan Autobots dan Megatron di planet Bumi. Autobots (bermata biru) di pihak baik, sedangkan Megatron si mata merah adalah penjahat-penjahatnya. Film ini menyenangkan baik untuk yang telah sangat familiar dengan tokoh mainan buatan Hasbro ini maupun yang sama sekali awam seperti aku. Transformasi kendaraan biasa menjadi robot-robot keren sangat amazing. Begitu pula adegan-adegan actionnya. Shia LeBouf si pemeran utama juga tampil lucu. Hanya saja beberapa pemeran (Jon Voight dan John Turturro) agak berlebihan di film ini. Berniat lucu tapi malah mengesalkan. But overall, this film is a boy's dream.
Selagi menunggu nonton Transformers di Blitz, tiba-tiba saja aku antri di ticket box, lucu juga besok nonton midnight. Kebetulan ada film Die Hard yang baru, Live Free or Die Hard. Sebelumnya aku sudah berprinsip tidak akan pernah ke Parijs Van Java di malam minggu. Macetnya dijamin akan mengeringkan semua tetes semangat yang ada pada tubuhmu. And I'm not over-reacted. Tapi filmnya kan main jam 23:45, masa sih masih macet, pikirku. Aku pergi jam 22:00 (artinya dua jam menjelang tengah malam) dan OMG, jalan Karang Tinggal yang sempit dan biasanya damai. Aku tahu pasti karena disinilah rumah kakekku. Malam itu sangat macetttttt! Untunglah malam itu aku sudah tidur dulu, sudah makan, tidak ingin kencing, ditemani Fanny, keponakanku dan lagu di RaseFM sangat menghibur. Semua itu sangat manjur sebagai obat putus asa. Parkirannya pun penuh luar biasa. Jarak yang biasanya cukup menghabiskan waktu 8 menit saja dengan berjalan aku tempuh dalam waktu satu setengah jam malam itu. Aku beneran kapok.Friday, June 29, 2007
Change
Even it's not here, it could be anywhere.
Change buddy.
Change into something better.
Something Good.
Thursday, June 28, 2007
Bandung 9:34
Monday, June 25, 2007
Bridge To Terabithia. a WOW!
Hari Sabtu kemarin aku harus masuk kantor jam 2 dini hari. Ya, Anda tak salah membacanya. Makanya, sebelum ke kantor aku putuskan ke bioskop dulu nonton midnight. Film yang aku tonton adalah "Bridge to Terabithia". Film ini sebenarnya sudah lama diputar di negara asalnya, tapi entah kenapa baru masuk Indonesia. Thursday, June 21, 2007
My Man
Proud with this? HELL, I AM!!!
Tuesday, June 19, 2007
Collecting Youtube
Tetap saja, keinginan untuk nambah koleksi music video masih belum terpenuhi. Sayangnya itunes (lagi-lagi) tidak menerima transaksi dari Indonesia. Ada sih beberapa video yang bisa didownload dari multiply, tapi itu pun jarang sekali dan harus berlama-lama browsing. Seringkali aku ngiler dan harus cukup puas dengan youtube, --my precious.
Tapi kali ini penderitaan itu berakhir! Thanks to Denny Marketing --si Penggerogot Apple-- yang telah mengajari aku cara convert youtube! Gampang saja. Tinggal pake browser opera dan aplikasi isquint, dan tada...jadilah koleksi ipod videoku semakin banyak! Dan kedua aplikasi itu bisa didownload gratisan!
Yiiha!
Sunday, June 17, 2007
Flash at Home
Sayangnya ibuku duluan berpesan untuk jaga rumah. Sebetulnya rumah itu gak usah dijaga sih. Tapi aku harus nemenin keponakanku dan kebetulan tetanggaku nitip kunci, secara mereka sekeluarga sedang ke Bogor. Jadilah aku di rumah saja.
Sambil iseng aku nyoba Telkomsel Flash di "komputer umum". Disebut komputer umum soalnya semua orang menggunakannya, Bapakku buat administrasi keuangan mesjid, file urusan murid SD punya kakak iparku, banyak Game, dan tentu saja banyak file foto hasil upload kamera tentang berbagai kejadian. Aku nyoba Flash, pake handphone si E61i itu, jadi cuma dapet 3G, gak nyampe HSDPA yang 3.5G. Tapi ternyata sudah cukup lumayan kok, aku dapet 460.8 Kbps, puluhan lipat kecepatan dial-up Telkomnet Instan yang menyebalkan itu. Dan cukup murah.
Sayangnya aku belum bisa maen di si MacKenzie, soalnya bawaan software handphone (Nokia PC Suite) gak bisa diinstal di MacIntosh. So far belum jadi masalah sih.
Jadilah keponakan-keponakanku yang ABG ber-friendsteran di rumah aja.
Tapi kok masih pingin ke Bu Ade, nih :)
Wednesday, June 13, 2007
Flame On!
Hal yang menyenangkan mengenai summer (di belahan bumi utara) adalah banyaknya film unggulan yang dimainkan. Tak terkecuali summer tahun ini.Yang berbeda dari summer 2007 adalah, begitu banyaknya film sequel. Mulai dari Spider-man 3 yang overblown, Pirates of Caribbean yang menjemukan, Ocean 13 yang ok, sampai Shrek The Third yang baru aku tonton malam minggu kemarin.
Setelah melihat film-film budget besar berguguran begitu saja. Aku sangat berharap Shrek jilid ketiga akan mengubah segalanya. Hal itulah yang membuat aku memutuskan menyiapkan diri melek sampai jam 11.30 malam Sabtu kemarin. Aku nonton midnight shownya. Dan perjuanganku kembali menelan kekecewaan. Film itu berubah menjadi membosankan, dengan humor yang biasa saja. Satu lagi yang paling penting, aku telah melihat nyaris semua adegan penting di trailer-trailernya. Mungkin musim panas ini bukan musim yang baik untuk menonton film.
Tapi semua itu berubah tiga jam yang lalu. Saat aku menonton Fantastic Four: Rise of The Silver Surfer. Bersama banyak teman (bertiga belas) kita nonton bareng di Ciwalk XXI. Cerita film ini tidak terlalu njlimet tapi tidak juga dangkal. Bercerita seputar perjuangan Fantastic Four menghadapi musuh baru, Silver Surfer dan musuh lama, Dr Doom. Kegalauan hubungan Mr Fantastic dan Invisible Woman, dan yang paling penting si Human Torch yang supercool di jilid pertama menjadi tidak lagi menjadi percaya diri.
Film ini diwarnai dialog cerdas, special effect yang mengagumkan, dan chemistry yang tepat. Cool. Jelas merupakan My Summer Movie, so far.
Menonton Fantastic Four adalah sebuah keputusan yang tepat!!
Keluar Jam Kerja
Mulai saat ini aku mencoba untuk mencari kesibukan di tempat lain. Fitness (aku gak mau cerita dulu sebelum lebih dari sebulan, takut menyerah hehehe), dan kesibukan lain, preparation for the big Journey.
Memang jam kerja memakan mayoritas bagian hidup kita. Apalagi kantorku yang 24 jam. Benar kata seorang penyiar di Hardrock FM kemarin, hentikan aktivitas pekerjaan di akhir jam kerja, dan mulai kehidupan baru. Kemana saja kamu suka, melakukan apa saja yang kamu mau, bahkan tidak melakukan apa-apa atau tidak pergi kemana-mana pun sah-sah saja.
Itu yang akan aku lakukan.
Friday, June 08, 2007
Chrisye, "Sebuah Memoar Musikal"
Pertama kali membaca buku ini ketika aku di Potluck. Bayangan aku buku biografi adalah buku yang membosankan. Jadi, aku baca bukunya sekedar pingin liat fotonya aja. Apalagi saat itu Chrisye baru saja meninggal dunia. Tapi ternyata sejak halaman pertama, buku ini sangat jauh dari bosan. Membaca pengalaman masa kecil Chrisye sangat fun! Alberthiene Endah, sang penulis berhasil membuatnya seperti alur cerita fiksi dan tidak berlebihan.Thursday, June 07, 2007
Ocean 13
Setelah Ocean 11 membuat aku sangat kagum aku memutuskan untuk menonton semua seri Ocean yang akan dibuat. Dan itulah yang terjadi. Ocean 12 sayangnya agak mengecewekan. Tampak jelas para pemainnya bersenang-senang dan melupakan penontonnya.Wednesday, June 06, 2007
Home Video Demo
Itu pula yang aku lakukan sekarang. Aku agak kaget baca artikel di people.com tentang Justin Timberlake yang mengontrak Esmee Denters, seorang penyanyi dari Belanda yang memposting video di youtube. Zaman benar-benar sudah berubah memang. Masih jelas di ingatanku bagaimana seorang teman dahulu membuat demo dengan susah payah dan mengedarkannya ke setiap produser dan recording label. Sekarang dengan berbekal video cam dan internet, kita bisa melakukannya semua dari rumah. How nice!
Btw si Esmee ini memang hebat suaranya. Favorit aku adalah ketika dia menyanyikan "Dance With My Father
Monday, June 04, 2007
Speedy Bill
E61i layarnya lebar dan koneksi internetnya super cepat. Hal itu menyenangkan aku. Sampai kemarin aku menerima tagihannya. E61i + browsing ternyata merampok aku. Tagihan ponselku bulan ini membengkak 3x lipat. Oh Bummer!! Saatnya aku me-reconsider Telkomsel Flash!
Friday, June 01, 2007
Book Review: Buku Anak-Anak Lagi

Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler. E.L Konigsburg. (Judul asli: From The Mixed-Up Files Mrs. Basil E. Frankweiler). Buku ini aslinya ditulis 1967. Tapi jangan khawatir, buku ini tidak akan terasa kuno. Buku ini menceritakan tentang petualangan Claudia dan Jamie yang memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Claudia sebagai kakak tertua merasa diperlakukan tidak adil oleh kedua orangtuanya. Oleh karena itu dia merencanakan dengan sangat matang petualangannya.
Tujuan kabur kedua bersaudara itu adalah Museum Seni Metropolitan, New York yang nantinya akan menggelitik rasa ingin tahu mereka.
Buku ini sangat ringan, tapi tidak dangkal. Sungguh menyenangkan mengikuti perjalanan mereka. Usaha mereka untuk bertahan dan juga pertikaian antara kakak beradik yang berperangai berbeda itu. Walau tak ada tokoh antagonis, buku ini tetap fun sekaligus menggelikan dan adventurous.

Karena Winn-Dixie (Because of Winn-Dixie). Kate DiCamillo. Buku ini sudah difilmkan dengan judul yang sama, tapi aku tak tertarik untuk menontonnya. Bahkan sebenarnya aku agak tidak berminat membaca bukunya. Buku ini aku beli sudah cukup lama, tapi teronggok di rak bukuku begitu saja. Bahkan plastik kemasannya pun belum aku buka. Akhirnya, sambil menunggu di Bandara kemarin sebelum ke Batam aku berkesempatan membacanya. Bodohnya aku, buku ini seharusnya aku baca sejak dulu kala.
Buku ini sangat hebat. Menceritakan pertemuan antara Opal –anak seorang pendeta yang baru pindah ke sebuah kota kecil di Florida—dengan seekor anjing kampung terlantar yang ia namakan Winn-Dixie, seperti nama torserba tempat Opal menemukannya. Winn-Dixie menolong Opal mengatasi kesepian sekaligus menemukan sahabat-sahabat baru di kota itu.
Buku ini membawa kita kesebuah persahabatan dengan binatang, dengan orang lain dan juga dengan keluarga. Masalah berat yang dihadapi Opal dan orang-orang disekitarnya menjadi lebih ringan gara-gara sebuah persahabatan. They heal each other. Nicely.
Lame Batam
Tiga hari training itu cukup membosankan, makanan hotelnya pun buruk. Aku sangat berterimakasih kepada Nokia E61i ku yang aku jadikan pelampiasan. (Terimakasih pula kepada yang telah menemaniku chatting dari Senin hingga Rabu). Jadi siap-siap saja tagihan 3G ku di bulan depan pastilah akan sangat tinggi.
Kota Batam nya sendiri err...boleh dibilang err.. payah. (Maaf penduduk Batam, maaf). Mall baru dan modern cukup banyak, tapi isinya benar-benar mirip ITC Kebon Kelapa minus desak-desakan. Harganya pun mahal. Aku tak membeli apa-apa kecuali kacang Pistacchio merk lokal yang tidak aku temukan di Bandung. Untunglah dipinggir hotel ada lapangan futsal. Di hari terakhir kita memutuskan memakainya selama satu jam.
Wow! Efeknya sangat mengagumkan. Aku berkeringat dan pegal-pegal (hingga sekarang). Aku gak peduli permainanku buruk, secara aku gak pernah memainkannya seumur hidup, yang penting aku berkeringat!
Dan, oh iya aku disana memaksakan makan kepiting. Too bad, rasa dan besarnya jauh dari kepiting bawaan Benny dari Bontang (So, Ben kepitingnya masih aku tunggu, ya!).
Pirates of The Caribbean 3: At World’s End
Aku kadang gak ngerti, mengapa Hollywood sering memaksakan kehendak dan berambisi untuk membuat trilogi. Salah satunya Pirates.. ini. Seri pertamanya sungguh mempesona. Tapi apa yang terjadi di dua seri berikutnya sangatlah menyebalkan.Ceritanya melebar kemana-mana. Terlihat jelas dipaksakan agar menjadi panjang dan cukup untuk dibuat sampai seri ketiga.
Setelah menonton seri keduanya, “Dead Man’s Chest” aku masih bertoleransi, ceritanya kedodoran mungkin karena bermaksud sebagai jembatan yang menghubungkan seri pertama "The Curse of Black Pearl" dengan seri penutup “At World’s End”. Lagian, adegan Jack Sparrow (Johnny Depp) di pulau kanibal itu cukup fun untuk disaksikan.
Akhirnya aku membulatkan tekad untuk nonton seri terakhir di Blitz minggu kemarin. Dan keputusan itu berbuah menjadi siksaan selama tiga jam. Film itu kembali membosankan bahkan lebih boring ketimbang seri kedua. Ceritanya menjadi lebih parah, kadar actionnya semakin sedikit, dan adegan akhir-nya hanya mengandalkan special effect yang memang hebat dan terlihat sangat mahal.
Tapi apa mau dikata, angka box office berkata lain. Film ini sangat digemari ternyata. Kalau ada seri keempat aku akan memastikan diriku untuk menontonnya di DVD...bajakan.
Back From Hiatus
Makanya aku memulai hari ini dengan pergi ke SMA 2 ku tercinta jam 5:45 pagi tadi. Aku mengantar Pa Toto yang rencananya mau pergi touring naik motor bersama guru-guru lainnya ke Pangandaran. Bikin khawatir. Jadi inget film William H. Macy, John Travolta dkk di film Wild Hogs hehehe. Pagi itu berlanjut ke kantor –bukan untuk bekerja, amit-amit!—tapi mau ngambil paket pesananku dari PDair, pengganti pesanan boxwave sialan itu.
Dalam perjalanan pulang sekalian ke Kartika Sari dulu, aku pingin bala-bala dan kue2 lainnya. Wangi roti segar di pagi hari sangatlah menyenangkan. Sambil ditemani cokelat panas dan roti jagung, here I am, back to blogging setelah mengalami hiatus seminggu kemarin.
Friday, May 25, 2007
Music Review: Peterpan, Hari Yang Cerah
Tuduhan itu muncul mungkin juga dikarenakan aku sendiri. Aku gak pernah mereview album Indonesia di blog ini. Baiklah, aku akan memulainya hari ini. Album yang aku review kali ini adalah album terbaru Peterpan. Ya, aku suka mereka. Bersama jutaan orang lainnya. Album ini baru aku dengarkan hari ini, gak beli, tapi juga tidak membajaknya. Aku minjem dari Pebe, yang baru masuk setelah melepas masa lajangnya.
Album ini album pertama mereka dengan formasi yang baru. Tapi aku tidak melihat ada yang berubah dari musiknya. Album berisi 10 track yang tetap berciri khas Peterpan. Mungkin karena timbre Ariel, sang vokalis yang memang sangat khas, mungkin, ya.
- Menghapus Jejakmu
- Hari yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi
- Di Balik Awan
- Kota Mati
- Melawan Dunia
- Sally Sendiri
- Lihat Langkahku
- Bebas
- Cobalah Mengerti
- Dunia Yang Terlupa
Sejauh ini favorit aku adalah Menghapus Jejakmu, Di Balik Awan, dan Sally Sendiri. Overall album ini menyenangkan. Satu hal yang hilang dibanding album Peterpan yang dulu. Aku gak melihat lirik dan melodi yang optimis seperti "Aku dan Bintang", misalnya. It's a grey-cloudy-day album, tidak seperti judulnya.
Thursday, May 24, 2007
American Idol 2007 is over

Hari ini aku terpaksa harus tinggal di rumah saja. Flu sialan. Sudah beberapa hari ini aku batuk dan pilek. Tapi sudahlah, aku bukan akan menceritakan penyakit itu.
Hari ini adalah penentuan American Idol 2007. Jagoan aku, Blake Lewis, pada 3 besar minggu kemarin tampil sangat menakjubkan. Tiga lagu pilihan juri, produser dan pilihan sendiri sangat sangat keren. Dia menyanyikan Roxanne (The Police), This Love (Maroon 5) dan favorit aku When I Get You Alone (Robin Thicke). Sebenarnya saingan yang lain, Melinda Doolittle dan Jordin Sparks pun tampil hebat
malam itu. Dan malam itu akhirnya menyisakan Jordin dan Blake. Melinda harus pergi. Sorry Simon.Tapi hal itu berbalik Rabu malam kemarin. Blake sayangnya tampil sangat flat. Sebaliknya, Jordin on fire. Apalagi lagu wajibnya “This is My Now” seolah-olah memang diciptakan untuk Jordin, bukan Blake. Dan malam itu pula aku yakin Jordin akan juara. Dan itu kejadian pagi ini. Ya, baru saja Jordin dinobatkan menjadi American Idol tahun ini.
Tapi sebenarnya aku gak peduli. Hampir pasti yang masuk 3 besar American Idol akan membuat album. Mudah-mudahan Blake mendapatkan produser dan lagu yang tepat.
Congrats Jordin!
Thursday, May 17, 2007
Pasar Malam
Consuming Demon
Semua hal itu hal yang sangat lumrah ada pada hati manusia.
Itu yang dulu aku sangka...
Itu adalah pemikiran yang sungguh salah. SALAH BESAR, bahkan.
Jangan anggap enteng sifat-sifat syaitan itu. Hal yang terbenar adalah: Jangan sampai kita berpikir semua itu adalah hal yang lumrah. Jangan Pernah.
You know what? There's so consuming! Sekali kita mentolerir hal tersebut ada pada diri kita, maka pada saat itu pula kita akan berteman dengannya.
Sadar atau tidak sadar. Aku sangat bangga, sangat-sangat bangga kalau aku bisa menaklukan sifat-sifat itu setiap kali mereka datang. Aku sangat bersyukur. Sangat.
Sounds hyperbolic. .......But it's not.
Forgiving, cheering something good, smiling others glory is PRETTY GOOOD!
....and relieving.
Try that buddy. Seriously.
Sunday, May 13, 2007
Blitz Bodoh!
Film nya sering putus tiba-tiba. Blank. Suara tidak stereo. Berkali-kali. Puncaknya adalah ketika 10 menit menjelang film itu berakhir, Film putus kembali. Aku pikir hanya sebentar. Tapi ternyata kali ini lama sekali. Tidak ada pengumuman apa pun, apalagi permintaan maaf. Aku akhirnya keluar, sekalian ke toilet. Ternyata diluar pun gelap. Seluruh studio di lantai atas mati. Aku tanya petugasnya dia pun bingung. AC mati, kekesalan pun tentunya memuncak. Aku masih menahan diri, mengingat aku pergi dengan keponakanku. Tapi orang lain beda cerita. Dari mulai anak-anak menangis sampai sumpah serapah. Hal itu berlangsung lebih dari setengah jam.
Penonton dari studio lain sudah mulai menuntun refund. Kalo buat aku refund gak terlalu penting. FILMNYA TINGGAL 10 MENIT LAGI!! Itu yang bikin aku kesal. Aku sudah nonton, tapi keponakanku pasti sangat penasaran. Akhirnya listrik hidup lagi, film dimulai dengan beberapa adegan terpotong.
Yahhh.... Hari itu Blitz adalah bioskop amatiran yang mengesalkan!!
Tuesday, May 01, 2007
Crap
Hari Senin nya email konfirmasi pemesanan aku terima, tapi status transaksinya masih pending. Yah sudah, tertunda gara-gara weekend mungkin.
Tapi pagi tadi aku terima email ini:
Thank you for your recent order with BoxWave!
I am sorry to inform you that we no longer ship to Indonesia due to the increase in fraudulent orders and shipping issues. Your order has been cancelled, and the amount of $43.95 will be refunded back onto the credit card that we have on file for you.
I apologize for the inconvenience this may have caused you.
Please let me know if you have any other questions or concerns!
Best Regards,
Evan
BoxWave Customer Service
http://www.boxwave.com
Grrrrr. Menyebalkan. Selalu begitu. Indonesia seringkali di blacklist. Itu pula alasan kenapa aku hanya berbelanja di Amazon saja. Soalnya cuma situs itu yang begitu berbaik hati dan tidak berburuk sangka, walau hanya terbatas cuma CD, buku dan DVD aja yang boleh di order.
Sampai kapan, ya?
Thursday, April 26, 2007
Rofiq Komar Effendi
Pak Rofiq adalah tetanggaku. Beliau khotib dan imam di mesjid Al-Hidayah. Mesjid komplek rumahku. Mengisi sebagian besar kehidupan Ramadhan ku. Dari mulai aku SD, zaman masih mencatat ceramah tarawih dan subuh. Suara nya yang berat dan alunan yang khas ketika memimpin sholat tak bisa lepas dari kepalaku. Hal itu berlangsung sampai dengan tarawih tahun kemarin. Ternyata tahun itu adalah Ramadhan ku yang terakhir tanpa beliau. Semoga ditempatkan di sisi terbaik disana.
Innalillahi wa innaillaihi roji'un.
ESQ 165
Kesan pertama: training ini sangat percaya diri. Sedikit narsis hehe. No problem with that. Berikutnya: melelahkan! Training ini berlangsung 3 hari, dari jam 7 hingga jam 6 sore setiap harinya. Duduk di kursi dikombinasikan dengan bersila. Aku menyiapkan mentalku untuk training ini, tapi tidak dengan fisik-nya. Walhasil aku sering sekali kelelahan. Alias cangkeul kaki.
Metode training ini sangat berbeda. 3 layar lebar, sound system yang dahsyat, ruangan yang luas dan sangat dingin, peserta yang sangat banyak. Sekitar 500 orang. Semuanya satu perusahaan denganku dari berbagai lokasi. Aku gak akan menceritakan detail training ini. Menurut aku training ini sangat islami, mencoba merefresh keimanan kita dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits. Tidak cocok untuk non muslim. Menggunakan banyak metode di dalamnya. Training ini juga mensinergikan Al Qur’an dengan dunia profesional.
Untuk mengikuti training ini saran aku: Kembangkan batas toleransi selebar-lebarnya, berpikir positif, ikuti semuanya tanpa berpikir bodoh atau tidak, pantas atau tidak, keren atau tidak. Tidak ada salahnya sama sekali kok! Aku memang tidak selalu setuju dengan cara-cara yang dipakai ditraining ini. Tapi aku tidak keberatan sama sekali menuruti perintah training ini. Sujud, takbir sekeras-kerasnya, ikut senam ala anak TK, mendengar orang menangis gak terlalu masalah. Yang ada dikepalaku adalah: training ini adalah satu bentuk yang dipercayai seseorang (Ari Ginanjar Agustian—sang pelopor) untuk mencapai cita-cita yang besar. Sangat besar dan sangat optimis. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mendukung cita-cita itu.
Tanpa disangka, training yang aku harapkan cepat berakhir ternyata sekaligus juga aku rindukan. Tapi apakah ini merubah hidup aku, seperti yang aku inginkan? Hmm pertanyaan berat yang membutuhkan pembuktian sebagai jawaban.
Sunday, April 22, 2007
Sebelum ESQ
Sebelum pergi nonton dulu Maroon 5. Album barunya keluar nanti 22 Mei. Tapi singlenya sudah ada di ipod ku. Maaf Maroon 5 aku mendownload illegally. Tapi aku janji membelinya di kemudian hari.
Selamat tinggal *untuk 3 hari saja*
Friday, April 20, 2007
3 Days Serenade :)
Walau cuti aku gak kemana-mana, alias di Bandung saja.
Hari #1, Bangun super pagi, jam 5 subuh, mandi dan tidak tidur lagi. Kepalaku penuh rencana. Cuci mobil. Ke bengkel betulin klakson. Potong rambut ke mantje. Ke tukang jahit, betulin celana sekaligus bikin celana panjang sama celana pendek. Dan akhirnya kerjaan utama: Beres2 kamar. Untungnya si Fanny libur, jadi ada yang bantuin. Stock opname CD, VCD dan DVD juga –yang paling berat—buku2ku. Ditata ulang berdasarkan genre. Memindahkan lokasi. Komik di deretan paling bawah, soalnya buku itu sasaran utama keponakan2ku di kala libur, dan buku serius di paling atas. Wow, ternyata cukup melelahkan. Sorenya dilanjutkan cari sekring dan peralatan lainnya ke Ace Hardware. Ditutup makan malam di Potluck.
Hari #2, Bangun jam 10 pagi. Yuhuu!! Akhirnya aku bangun siang. Sudah sejak lama aku menderita penyakit susah bangun siang. Sumpah, bukannya sombong, tapi aku memang tak pernah bisa. Di hari libur rekor tersiang aku hanyalah jam 7:30, padahal malamnya aku tidur jam dua malam. Menyebalkan. Dilanjut sarapan dan maen game Civilization III sepuasnya. Selepas maghrib aku nonton ke Ciwalk. Kali ini aku menepati janjiku untuk lebih membuka diri dan memberi kesempatan kepada film Indonesia, tak peduli apapun genrenya. Film yang aku tonton, sebuah film horror “Kala”. Film bervisualisasi indah bersetting di “Alternate world” dengan nuansa Indonesia tempo doeloe. Jadi inget film V for Vendetta. Cukup menakutkan di awal film, tapi dengan perlahan dan pasti cerita film ini menjadi semakin ngarang dan mudah untuk dilupakan.
Hari #3, Bangun setengah jam lebih siang dari sebelumnya. Aku mulai khawatir, hehehe. Tetap maen game lagi. Habisnya kagok kalo mau kemana2, sebentar lagi Jum’atan. Baru, deh jam satu-an aku kembali berkelana. Aku mau nengok Inge, temen SMAku yang baru melahirkan. Sambil beli kado aku sekalian daftar fitness. Hehehe, iya nih, mulai ngerasa kegendutan (seolah2 langsing). Better than never!
Masih ada dua hari lagi. Kemana lagi ya?
Saturday, April 14, 2007
Horny.............NOT!
Mall itu seperti biasa sangat penuh. Aku tak menemukan barang yang aku maksud. Dan yang lebih parah ketika pulang keluar dari tempat parkir sebuah Land Cruiser super besar mundur dengan kecepatan tinggi seakan hendak menggilas Hyundai Atoz-ku yang mungil. Aku klakson, dia tak berhenti. Secara reflek aku menekan klakson kembali dengan sangat keras. Si mobil besar berhenti, tapi klakson jadi ngadat, sepertinya ada yang lepas. Akibatnya ketika maju klaksonnya seringkali berbunyi dengan keras dan tak bisa berhenti. Aku nyaris panik. Orang-orang pasti menganggapku asshole urakan. Pemilik mobil didepanku bahkan berhenti dan datang ke mobilku. Dengan tatapan pasrah aku mohon maaf dan menjelaskan kondisi klaksonku. Untungnya dia mengerti. Tapi orang lain mungkin tidak. Aku memahaminya. Kadang kudengar teriakan memaki.
Akhirnya aku tak tahan. Aku parkir di bahu jalan. Si klakson kadang masih berbunyi. Sial!
Aku menelpon temen2ku. Sayangnya mereka tak bisa membantu. Desperately, aku tanya 108 dan minta nomor bengkel Hyundai. Setengah sedih aku menelpon bengkel. Aku tahu hari sudah malam, bengkel itu pasti sudah tutup. Tapi untung saja staff bengkelnya ada yang belum pulang. Namanya Mas Teddy. Dia menuntunku untuk mematikan sekring klakson dengan sabar. Setelah berburu dengan waktu, khawatir batterai handphoneku habis, akhirnya klakson sialan itu berhenti berbunyi. Alhamdulillah. Terimakasih banyak, mas...
Hari itu aku sangat sangat bersyukur. Sisa kemacetan aku hadapi dengan tanpa keluhan.
Trip to Bandung Selatan
Kita pergi tepat setengah jam kemudian naik mobilnya Herri, selain mobilnya besar, sekalian nyobain mobil baru :) Satu mobil aja, biar seru dan gak cape. Perjalanan yang menyenangkan. Jarak yang jauh gak kerasa, soalnya sepanjang jalan penuh obrolan dan ketawa ketiwi. Soreang terlewati. Tapi menjelang kota Ciwidey kita mulai khawatir. Kia Carens punya Herri transmisinya otomatis, jadi setiap tanjakan yang jumlahnya sangat banyak disana,
kita semua menahan napas takut mobilnya gak kuat dan meluncur mundur.Syukurlah hal itu tidak pernah terjadi. Akhirnya kita tiba di perkebunan teh sebelum Situ Patengan dan sarapan dengan sangattt nikmat!! Cuaca hari itu berkabut dan mendung, membuat danau kecil itu terlihat sangat misterius. Kita berpuas diri memfoto diri kita masing-masing. Dan diakhiri dengan naik perahu mengitari situ. Mendayung bergantian diselimuti kabut dan hujan yang akhirnya turun dengan cukup deras ternyata sangat menyenangkan.
Too bad, dalam perjalanan menuju Kebun Teh Walini kita menyaksikan kecelakaan. Motor jatuh tersenggol truk besar. Aku melihat bagaimana si pengendara motor tak berdaya di pinggir jalan dengan kepala berlumuran darah. Aku berusaha membantu walau tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa terbengong. Deja vu dengan kejadian 5 tahun lalu. Korban dibawa truk ke rumah sakit entah di Ciwidey atau Soreang.
Kita berenang, well, tepatnya berendam di Walini, kolam renang air panas ditengah kebun teh yang hari itu kebetulan cukup sepi. Karena takut hujan makin besar, kita langsung ke Kawah Putih. Perjalanan kesan
a kembali menguji Kia Carens Herri. Kali ini ujiannya lebih terjal dan sempit. Melewati perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya kita sampai ditujuan disambut angin besar, hujan lebat dan cuaca yang sangat dingin. Indomie rebus kami lahap dalam waktu sekejap. Kawahnya sangat mempesona walau tertutup kabut yang sangat lebat. Benar-benar seperti Lembah Mordor hehehe.Akhirnya kita memutuskan pulang. Hari pun sudah sore dan bertambah gelap. Sialnya Jl. Kopo hari itu sangat sangat macet. Perjalanan pulang sungguh sebuah perjuangan.
Tuesday, April 10, 2007
Ketika
Efek buruk film dengan sangat menyesal harus aku akui masih aku rasakan sampai detik ini. Aku gak mengerti telah berhari-hari sejak film sequel Nagabonar itu kutonton, masih saja tak bisa lepas dari kepalaku. It really consuming. Banyak hal aku pikirkan, aku renungkan. Lebih gilanya hal itu cukup kuat untuk menghilangkan niat buruk yang melintas tanpa henti di benakku.It sounds bullshit! But I can’t deny it either. Daripada menghilangkan feeling itu, akhirnya aku mengambil keputusan untuk menarik hikmah dan meluruskan segalanya. Hal itu pula yang membuat aku haus untuk mencari media sejenis. Karena aku pikir nyawanya Nagabonar itu Deddy Mizwar, aku mulai mencari film beliau lainnya.
Film yang aku maksud adalah “Ketika” (2005). Film yang tak pernah aku lirik. Tapi berkat dorongan situs Sinema Indonesia, akhirnya aku membulatkan tekad untuk mencarinya. Hari Minggu kemarin aku keliling Bandung mencari VCD itu. Sayangnya film tersebut bak sudah ditelan bumi. Di tempat rental saja, film itu tak ada. Tapi syukurlah, setelah menguras ingatan, aku memutuskan browsing di disctarra.com, tempat belanja lokal yang dulu banget pernah aku singgahi. Dan di tempat itu aku mendapatkannya.
Baru saja film itu aku selesaikan. Dibintangi Deddy Mizwar, tentunya, Lydia Kandau, Lucky Hakim dan Senandung Nacita, sang putri aktor utama in real life. Dari konteks visual, film ini lebih tepat disebut sinetron berdurasi panjang. Tidak ada yang istimewa. Ceritanya mengisahkan konglomerat korup, Tajir Saldono yang hidup di Indonesia yang adil dan beradab, sebuah kondisi imaginer yang bertolak belakang dengan Indonesia saat ini. Dia dan keluarganya harus menghadapi kenyataan pahit menghadapi kebangkrutan dan kemiskinan.
Muatan nasihat tidak terlalu kental di film ini. Aspek religius bahkan nyaris tak ada. Film ini penuh sindiran untuk pemerintah. Walau tak sekental Nagabonar, pesan di film ini tetap terasa. Akting Pak Deddy tetap menarik walau tidak dalam porsi besar, mungkin memberi kesempatan kepada sang anak.
Buat aku film ini tetap menarik, tetap berguna dan menyisakan keheranan akan kemiripan thema cinta dengan Nagabonar. Is this what he really believe? Tak masalah, sih.
Friday, April 06, 2007
Nagabonar2, Another story.
Hari ini aku libur, bangun siang maen game selepas bangun tidur nonstop sampai sholat Jum’at. Hari itu aku gak liat handphone yang entah dimana. Selepas Jum’atan aku berniat akan melanjutkan game komputerku. Sebelum itu aku cari dulu handphone, setelah ketemu dibawah bantal ternyata ada missed call. Bu Riri, managerku dulu. Aduh ada apa? Aku telpon terputus dan gak jelas. Low batt kayaknya. Tapi aku tau beliau ada di Blitz. Ah sudahlah, pikirku.
Tapi sambil ganti baju, tiba2 aku tersentak!! Anjrit! Kalo ada acara nonton bareng biasanya kan disambung jumpa fans!! Tanpa pikir panjang aku langsung naik mobil, ambil kamera langsung tancap gas. Jarak dari Blitz ke rumah aku memang dekat. Tapi menempuhnya dalam 5 menit saja sungguh sangat superb. Syukurlah aku menemukan stand Telkomsel disana. Acara itu gratisan dan cuma bisa ditonton pelanggan Telkomsel. Untung aku pengguna setianya. Hehehe. Aku mendapat tiket dengan sangat mudah, mengingat panitya teman-temanku.
Akhirnya aku kembali menonton film itu untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku cukup bisa menahan tangisku. Ternyata bila menonton tanpa air mata, jalan cerita utamanya tidak samar kok! Hehe.. Menjelang akhir film aku tahu dari temenku kalau barisan Cast “Nagabonar Jadi 2” sudah datang. Setelah selesai film aku langsung setengah berlari menuju cafe outdoor Blitz. Sulit juga,
mengingat bioskop hari itu sangatlah penuh.Disana sudah banyak yang sedang foto bersama Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Mike Mulyadro, si pemeran Jaki, temen arab Bonaga. Aku hanya melihat-lihat dan tetap mencari aktor pujaanku, Deddy Mizwar. Dan Oh My God, dia ternyata tak jauh di depanku! Aku gemetar, dan mengajak salaman dan juga tentunya foto bersama. Dia bilang terimakasih sudah menonton filmnya. Lidahku mendadak kelu tak bisa menjawabnya. Hanya senyum. Orang hebat itu ternyata begitu humble.
Hahaha sore itu aku tak berbeda dengan para ABG yang berteriak memanggil Tora Sudiro.
Alhamdulillah, cita-citaku kemarin tak disangka menjadi kenyataan.
Thursday, April 05, 2007
Deddy Mizwar, The Great

Pulang kerja kembali pikiran aku kosong. Pikiran melayang kemana-mana. Dan tiba-tiba saja pikiranku membujuk aku untuk membeli topi baru di Parijs Van Java. Aku menurutinya. Gerbang masuk terlihat padat. Aku lupa, besok adalah weekend paskah tiga hari yang artinya hari ini sama dengan malam minggu di waktu biasa. Aku berinisiatif parkir di atas dan mendapat tempat sangat strategis, di depan pintu masuk Blitz Megaplex. Tanpa aku sadari aku mendapatkan diriku sudah di depan loket pembelian tiket nonton. Dan aku pun cukup heran ketika telah mendapatkan satu buah tiket di theatre 5 untuk menonton “Nagabonar Jadi 2”. Gosh, I must be drinking.
Seperti sudah aku bilang aku suka Deddy Mizwar di masa tua dan berpikir di masa mudanya biasa saja. Aku telah menonton The Original Nagabonar puluhan tahun lalu dan aku tidak menyukainya. Jadi alasan aku menonton film ini jelas hanya untuk The Legend tadi. Diceritakan Nagabonar harus pergi ke Jakarta untuk mengikuti peresmian pabrik anaknya –Bonaga (Tora Sudiro), seorang pengusaha lulusan luar negeri. Selebihnya tidak sulit ditebak, pergulatan dua zaman yang berbeda akan menjadi thema dominan di film bersponsor banyak ini.
Tidak sulit untuk beradaptasi dengan film Nagabonar 2. Dalam 5 menit pertama aku sudah sangat nyaman. Walau deretan belakang ku penuh dengan gadis yang sepertinya lulusan “Anjing university”, soalnya dia memakai kata anjing di setiap obrolannya. Baik kagum maupun lucu. Film ini tak diragukan lagi memang lucu. Naskahnya cerdas. Semua pemerannya bermain sangat bagus dan lepas. Tapi yang membuat aku sangat kagum sampai akhir film tak lain adalah the Great Deddy Mizwar.
Sumpah disaat penonton lain tertawa, aku tak bisa berhenti menangis, kagum akan beliau. Bahkan sampai perjalanan pulang rasa kagum itu tak bias hilang. Ya, selain sebagai aktor utama, beliau juga sebagai penyusun naskah dan sutradara. Film ini tak hanya menjual komersialisme, tapi tak juga menghindarinya. Aku sangat takjub akan keberaniannya menyelipkan nasionalisme dan aspek religius di film ini. Banyak pesan, bahkan terlalu banyak. Tapi aku mengerti, sepertinya beliau sangat ingin film ini gak hanya menghasilkan uang dan hiburan belaka. Aku seperti mendengarkan nasihat orang tua di film ini. Nasihat yang memang ingin aku dengarkan. Kekaguman ini bahkan menjadikan alur cerita utama yang menjadi samar seakan tak penting lagi.
Aku percaya beliau adalah seorang yang besar. Aku sangat ingin bertemu beliau.
Wednesday, April 04, 2007
Music Review: Elliot Yamin

Monday, April 02, 2007
Put Your Head On!
Pulang sekitar jam 5 sore. Cuaca kelabu masih menyelimuti. Actually, that's my kind of weather! Aku berencana ke Parijs Van Java sekalian pulang mau beli roti di BreadTalk. Di tengah jalan kakakku telepon nitip beliin buku Matematika Penekanan Pada Berhitung (iihhh!) kelas 5 karangan M. Khafid, penerbit Erlangga. Jadi sekalian aja. Sialnya buku itu gak ada, ditambah BreadTalk yang penuh. Aku hanya beli satu cheese muffin saja. Tiba-tiba aku jadi kehilangan selera.
Seringkali aku keliling mall tanpa konsentrasi penuh, yang biasanya berujung membeli barang-barang yang tak perlu. Hari itu pun tak terkecuali. Sambil pulang menuju parkiran aku beli Green Tea w/ Ice Blended. Di tengah jalan aku berpikir, sekalian aja ke Flamboyant, disana juga ada toko buku.
Ternyata di toko buku itu juga gak ada. Aku malah beli novel 4 buah. Sekalian ah ke Hero (masih di mall itu), aku titipin novel tadi di penitipan barang. Aku membeli sosis dan 2 botol green tea. Buat di jalan ah, pikirku.
Setelah sampai di mobil aku merasa tolol, bagaimana mungkin aku membeli 2 botol green tea buat di jalan. Green Tea hasil beli di Parijs Van Java tadi aja belum habis. Bodoh! Aku langsung pulang dengan sedikit dongkol.
Setelah sampai di rumah aku teringat: NOVEL TADI BELUM DI AMBIL DI PENITIPAN!! Gosh.. sore yang menyebalkan! Pulang nanti aku terpaksa harus kesana lagi!!!!