Tuesday, June 23, 2026

Menjadi Entourage Anak

 

Tahun lalu, Aa Angga bilang pingin ikut team marching band. Keputusan yang dengan senang hati kami terima. Hanya saja, kami lalu mewanti-wanti, dan agar Aa paham serta berkomitmen bahwa keputusan ini merupakan sesuatu yang berdampak jangka panjang. Aa akan sering latihan, pulang sekolah akan lebih lama dari pada teman lain dan hari libur juga ada kemungkinan masuk sekolah untuk Latihan. Aa menyanggupinya.

 

Hal yang kami sampaikan itu ternyata bukan isapan jempol. Tempat sekolah Aa, memang sekolah yang fokus pada pengembangan ekstra kurikuler marching band. Setelah Aa masuk team, akan ada dua kompetisi besar yang diikuti. Di Jakarta dan di Yogyakarta. Aa akan ikut yang di Jakarta, sedangkan yang di Yogyakarta tidak ikut karena bentrok dengan acara liburan keluarga. Demi kompetisi itu, latihan sedemikian intensif. Hari demi hari setelah waktu sekolah diisi dengan latihan. Terkadang kami kasihan, tapi ternyata Aa menikmatinya. Terlebih lagi ini memang konsekuensi dari keputusan yang telah dia buat.

Pada hari kompetisi, kami pun ikut ke Jakarta. Menyewa hotel di seputaran velodrome, Jakarta Timur. Kami tidak di hotel yang sama dengan murid-murid peserta kompetisi. Selain hotelnya penuh, pihak sekolah juga mengatur murid ini untuk mandiri dengan didampingi para guru di setiap kamarnya. Dari kejauhan kami, para orang tua dan de Letra mengamati betapa mereka sangat serius mengikuti rangkaian latihan di sekolah maupun di venue. Acara di velodrome ini adalah World Association of Marching Show Band Championship skala nasional yang selain juga diikuti oleh sekolah-sekolah di Indonesia, juga peserta dari negara lain seperti  Malaysia, Polandia dan Taiwan.

Pengalaman ikut lomba ini selain baru buat Aa, juga baru buat kami, para orang tua dan keluarga. Buat aku, pengalaman menonton dan mengamati acara ini sedemikan luar biasa. Kenapa bukan hanya menonton saja? Kenapa juga ada kegiatan mengamati? Karena selain jalannya lomba, aku juga mengamati bagaimana macam ragam pilihan kostum, aransemen lagu, koreografi dari masing-masing peserta. Aku juga mengamati bagaimana para sesama keluarga ikut tegang dan deg-degan menonton anak-anaknya bertanding. Cara mereka menyampaikan pesan ke anak-anaknya, menyiapkan makan dan minum, membereskan make up nya, sangatlah personal di mataku. Hal itu akhirnya mengubah perspektif aku. Ternyata ini bukanlah sebuah kompetisi, tapi diam-diam ada perasaan sepemahaman. Di balik keinginan menjadi pemenang, juga ada perasaan sama senasib, memperjuangkan persiapan anaknya. Setidaknya harapan aku, Aa Angga tau rasanya deg-degan peserta, perasaan ingin menang tapi juga takut kalah, perasaan kebersamaan, perasaan lelah, perasaan senang, dan perasaan-perasaan lainnya yang akan sulit diajarkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dengan dialami. Dan aku yakin, semua orang tua –dengan caranya masing-masing—merasakan harapan yang sama. Acara yang berlangsung tiga hari ini ditutup dengan pengumuman, alhamdulillah beberapa nomor juara. Perasaan lega karena telah berakhir, juga karena kami makin kaya dengan pengalaman.

Tahun ini kami mengalami pengalaman yang sama, hanya saja, de Letra kemudian bergabung di team marching band juga. Rupanya pengalaman tahun lalu, sedikit banyak dicerna Dede. Kami bangga, mengingat karakter de Letra yang lebih santai, dengan sendirinya ingin mencoba ikut team pianika marching band sekolah. Dalam waktu beberapa bulan saja, keduanya sudah tenggelam dalam latihan demi latihan dan dua kejuaraan. Kedua lomba tersebut berlangsung di kota Bandung, jadi belum ada pengalaman menginap. Insya Alloh mereka akan ikut di kejuaraan nasional di Jakarta di ujung tahun ini. Semoga tetap memberikan pengalaman hidup berharga buat mereka, dan buat kami, sebagai entourage/orang tua. Aamiin.

Monday, July 14, 2025

Apa kata Neighbours

APA KATA TETANGGA!!!
Hal yang diributkan ibu-ibu waktu menasihati anaknya.
Hal yang tidak aku pahami.
Kenapa perkataan tetangga sebegitu pentingnya.

Seiring bertambahnya umur, ternyata celoteh tetangga untuk sebagian banyak orang, merupakan hal yang penting. Bahkan saking pentingnya, bisa menjadi pertengkaran, atau menjadi alasan sebuah keputusan besar. Apa kata tetangga bisa membuat cerai, atau pindah rumah, misalnya.

Bertambah umur, celotehan itu kemudian menjadi makin rumit. Karena gak hanya tetangga yang komen, tapi juga orang lain yang sama sekali tidak kita kenal, atau bahkan tidak pernah kita temui sebelumnya. Mereka dikenal dengan sebutan netizen atau warganet. Mereka bisa dengan mudah masuk ke ranah sosmed kita, seringkali tanpa permisi. Komen mereka banyak yang lucu, tapi juga tak jarang sangat brutal. Kalau scrolling facebook, instagram, atau tiktok, aku seringkali tak habis pikir, kenapa orang bisa sedemikian sadis menuliskan hal kepada orang yang tidak mereka kenal.

Hal itu kemudian menjadi retrospektif buatku. Aku menganggap aneh hal di atas, karena ternyata tak lepas dari kehidupan masa kecilku. Salah satu hal terbesar yang Amih Apih ajarkan kepada kami, disadari atau tidak, adalah tidak menganggap penting celotehan tetangga atau orang lain. Tidak pernah, seingatku, di keluargaku membahas apa kata tetangga. Mungkin karena Amih dan Apih bekerja sepertinya, jadi mereka tidak sempat. Walau di luar jam kerja mereka tetap bergaul dengan sekitar, apalagi Apih yang aktif di RT dan DKM. Sesekali kami bahas apa-apa yang terjadi di seputaran tetangga, tapi apa pendapat tetangga terhadap kami tak pernah menjadi hal utama.

Warisan yang ternyata sangat aku syukuri. Membuat kami, khususnya aku, tak pernah ambil pusing dengan apa kata tetangga. Tak peduli bukan berarti tak tahu. Sesekali terdengar pendapat beberapa tetangga tentang aku yang belum dapat kerja setelah lulus, tidak kunjung menikah padahal sudah punya pekerjaan dan kendaraan. Tahu, tapi sama sekali tidak memberikan efek buatku. Efek yang dimaksud misalnya, seperti happy, sedih, atau sakit hati. Sama sekali tidak.

Syukur itu, ternyata seringkali membuatku geli. Karena omongan tetangga ini seringkali di luar perkiraan. Sekali waktu aku membeli gorengan, dan saat itu tukang gorengan (yang adalah teman masa kecilku) lagi penuh orang yang nunggu, jadi kita sambil ngobrol. Tiba-tiba saja ada yang nanya: Gaji kan sudah 20 juta, kang, kenapa gak beli mobil aja? Malah beli motor! Pertanyaan kurang ajar yang melibas privasi, tapi sumpah gak bikin aku sakit hati, tapi aku asli terkejut dan tertawa terbahak-bahak. Saya tak mengerti ternyata kehidupan saya sedemikian penting dijadikan perhatian. Dari mana mereka menerka jumlah gaji yang sangat salah itu. Padahal saya jarang sekali ke luar rumah. Pertanyaan itu tak aku jawab, aku benar-benar tertawa. Sepertinya jawaban tak pernah penting buat mereka, sama seperti pendapatnya, yang mungkin hanya sekedar basa-basi.

Tidak menganggap penting omongan orang lain ini, akan aku tularkan kepada keluarga kecilku. Karena pendapat orang lain cukup hanya untuk diketahui, dan disaring sekedarnya saja, menurutku. Hal yang tanpa disangka, ternyata merupakan skill penting untuk survival di dunia yang makin absurd ini.

Thursday, March 13, 2025

Puasa Masa Kecil

Hari pertama puasa tahun ini, jam 18:00, dua belas menit sebelum berbuka puasa, A Angga nangis. Lapar katanya. Tak banyak yang bisa kulakukan kecuali hanya memeluknya. Diantara pelukan itu, aku tersenyum geli, kilatan memori masa kecil terbang secara random di benakku. Untung saja hari itu, A Angga dan juga de Letra berhasil tamat puasanya. Di hari lain, giliran de Letra yang rewel. Perut Dede lapar soalnya perut dede kosong, ujarnya. Menjelang sore, aku ajak ngabuburit naik motor, keliling-keliling seputar komplek tak tentu arah. Berakhir di mini market membeli es krim untuk buka. 

Mereka masih berumur tujuh dan sembilan tahun. Sudah kita niatkan, mereka untuk belajar puasa. Jadi kalau mereka memang tidak kuat, ya akan kita perbolehkan mereka buka. Aku dan istrikku, ingin mengajarkan mereka berpuasa dengan menyenangkan, sama seperti pengalaman masa kecil kami. Hal-hal menyenangkan itu yang akan aku coba tuliskan di postingan kali ini.

Seingatku, aku mulai puasa, di umur enam tahun. Waktu aku kelas 1 SD. Awal puasa sekolah libur. Di rumah hanya ada aku dan kakak-kakakku. Amih dan Apih bekerja dan baru pulang jam 3 sore. Kala itu, teman-teman sebayaku pada gak puasa, tapi saat itu aku gak tergoda. Cuma memang aku jadi suka lupa kalau lagi puasa. Pernah kami main-main di pasar, dan kita dikasih ubi mentah. Terus kita kupas, dan kita makan. Ubi itu aku kantongin, takut diminta kakakku. Tapi ternyata ketahuan, dan bilang: Yee Dodi teu puasa, bejakeun ka si Amih! Aku kaget, bukan kaget ketahuan, tapi kaget karena lupa saat itu harusnya puasa.

Di tahun itu juga, aku diajak ngabuburit sama Dadan, anak yang jauh lebih besar, kelas 2 SMP kalo ga salah. Dimulai dari jam 10 pagi kita jalan kaki dari rumah ke Karang Setra, terus lanjut ke taman depan Rumah Sakit Hasan Sadikin di jalan Sukajadi, lanjut lagi ke Pasteur, Cibogo dan kembali ke rumah. Total kuhitung jaraknya di Google Map, sekitar 13 kilometer! Memang sih kita berhenti-berhenti. Tapi sumpah capek banget! Kadang aku digendong sama Dadan, dan aku minum air di pancuran sekitaran Cibogo! Saat aku sampai rumah sekitar jam 15:30, Amih sedang masak, dan beliau kaget melihat aku yang lemes. Aku langsung disuruh tidur, dan bangun-bangun pas buka puasa.

Saat aku kelas 3 SD, Apih mengajakku dan a Daniel ngabuburit sekaligus membeli baju lebaran ke Alun-Alun Bandung. Kita muter dari toko ke toko mencari baju dan celana yang cocok. Aku kelelahan, dan teh botol dingin di kios pinggir jalan menggodaku. Aku pun merengek ke Apih minta batal. Apih merayuku untuk tetap puasa, disertai cercaan kakakku. Tapi tangisku makin keras. Apih pun menyerah, aku batal dengan teh botol dingin di siang hari terik. Pulang-pulang Amih sedang masak dendeng kering. Aku langsung melahap sepiring nasi panas dengan dendeng itu. Hahaha.




Friday, February 14, 2025

My Diet Journey

Seingatku, 15 tahun terakhir, berat badanku selalu lebih dari 100 kilogram, atau lebih dari satu kwintal. Tapi, yang aku rasakan saat itu adalah: It's Fine! Tidak ada sesuatu yang aneh kecuali kalo setiap beli baju atau celana, ukurannya pasti bertambah. Aku merasa baik-baik saja. Rasa percaya diri juga rasanya kok tidak pernah berkurang. Apalagi setiap tes kesehatan rutin tahunan, hasilnya tidak pernah melewati batas acuan. Kolesterolku selalu di bawah 200. Tidak ada asam urat ataupun diabetes. Tekanan darahku pun aman.

Perlahan tapi pasti, perasaan "baik-baik saja" itu luntur. Seringkali tanpa aku sadari, selain panah  timbangan yang selalu mengarah ke kanan, keadaan mulai terasa berbeda secara signifikan. Setiap bangun tidur, aku seringkali merasa tidak segar. Lelah. Orang lain banyak yang bertanya apakah aku sesak napas? Karena mereka mendengar suara napasku mengkhawatirkan, padahal aku sedang duduk diam. Aku pun mulai kesulitan mencari pakaian, terutama celana. Pernah beberapa kali celana yang kupakai sobek di bagian betis. Aku seperti Bruce Banner saat berubah menjadi Hulk! Yang paling sedih adalah, aku super kelelahan pada saat liburan keluarga bersama anak-anak ke Singapura di tahun 2023. Aku kepayahan jalan kaki di sana. Banyak momen hanya dihabiskan di hotel atau duduk di mall. 

Karena hal-hal itulah, kemudian aku merasa bosan gemuk. Aku pikir sudah waktunya berubah. Walau hasil Medical Check Up terakhirku baik-baik saja. Aku merasa badanku sudah kepayahan. Lututku terasa sakit kalau jalan. Perjalanan dari turun gojek ke lobby kantor selalu aku rasakan sebagai tantangan berat. Mulai September 2023 aku memutuskan untuk memulai perubahan. Berat badannku menginjak angka 126kilogram!

Aku mencoba menuliskan, apa-apa saja yang aku lakukan, semoga menjadi rujukan, aku merasa "inspirasi" terlalu berlebihan buat para pejuang penurun berat badan. Tapi disclaimer dulu ya, ini bersifat sangat personal. Jadi sangat mungkin pengalamannya berbeda.

1. Find My Motivation
Perjalanan diet aku mulai dari Niat. Klise memang. Tapi Tahap niat ini adalah paling krusial. Kita harus beneran niat untuk memulai. Dan niat itu seringkali membutuhkan alasan. Alasan itu gak harus sesuatu yang noble. Bisa apa aja, buat sebuah acara, biar cakep, biar apapun lah. Sangat sah. Kalo alasanku, beneran sesimpel bosen. Aku bosen gemuk. Bosen dengan perasaan takut jalan kaki. 
Aku pernah diet di tahun 2016, saat itu motivasinya karena baru punya anak. Biar sehat. Tapi bubar jalan ketika mutasi dari Bandung ke Jakarta.

2. Get Help
Di dunia ini sangat banyak metode diet. Dan terus terang membacanya bikin aku bingung. Aku memutuskan untuk mencari dokter gizi. Tujuannya untuk mencari yakin. Yakin metode diet yang akan aku jalankan adalah metode yang cocok untuk aku lakukan. Karena aku sadar, diet ini bukanlah perjalanan sebentar. Aku yakin akan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Aku memilih dokter Gaga di Bandung. Kenapa? aku asal aja sih googling dan baca terstimoninya. Terus aku juga nyari yang masuk budget aku. Makanya aku gak tertarik untuk datang ke dokter gizi terkenal di Jakarta setelah tahu harganya. Haha.
Dengan datang ke dokter aku jadi punya tempat bertanya, dikoreksi kalau masih ada yang salah. Dimonitor berat badan dan ukuran lainnya setiap minggu. Direview kalau berat badannya gak mengalami penurunan. Aku diberi arahan makan tiga kali, tidak pantang makan nasi, satu jenis protein hewani, satu jenis protein hewani, dan sayur. Lalu ada selingan buah dua kali. Terus aku diberi obat penahan lapar dan orlistat, semacam pembakar lemak.
Pola makan ini, tanpa tambahan olah raga, membuat berat badanku turun secara bertahap. 
Setelah berat badanku berkurang menjadi 120kg, aku disarankan jalan kaki cepat selama 30 menit, 3x seminggu. Aku suka cara ini, karena menurutku tidak terasa berat, dan bertahap.

3. Metode yang Pas di Hati
Aku senang dengan cara dokter Gaga yang tidak pantang nasi di awal diet. Karena, hal yang menurutku paling berat adalah makan tanpa nasi. Tidak boleh makan tepung dan minuman makanan manis cukup bisa aku hindari. Walau bukan berarti ringan. 
Datang ke dokter dan menjalankan arahannya membuat kita yakin. Walaupun orang lain berkomentar. Misal kalau lihat aku makan nasi, teman kantor suka ada yang komen, kok diet makan nasi! Makan rebusan dong! Aku juga lebih fokus dalam menajalankannya, apalagi ketika hasilnya memang ada.
Sebelum datang ke dokter gizi, aku pernah memulai diet dengan langsung berolahraga. Tapi tidak bertahan lama, karena untuk jalan kaki, badanku sangatlah terasa berat. Hal ini membuatku tak konsisten berolahraga. Aku pun pernah ditawari suplemen belasan juta yang dapat menurunkan berat badan dalam waktu cepat. Walau sempat galau, akhirnya tak aku ambil.
Semua itu akhirnya berpulang pada diri sendiri. Aku percaya bahwa cara diet adalah sesuatu yang berproses dan membutuhkan waktu. Yang salah bukan cuma beratnya aja, tapi juga kebiasaanku yang perlu diluruskan. Toh, aku menjadi gendut juga ga dalam waktu sebulan dua bulan. Jadi aku percaya, solusinya bukan sesuatu yang cepat. Oiya, satu lagi yang penting menurutku adalah, karena prosesnya panjang, jadi harus terjangkau pula biayanya.  Biaya dokter, biaya obat dan olahraga ga menguras kantong. 
Setelah berat badanku menurun sekitar 115kg, aku mulai melengkapi olahraga jalan kaki, dengan angkat beban. Jadi aku mulai pilih-pilih tempat gym dengan personal trainernya (PT). Ternyata oh ternyata gym dan PT di Jakarta itu mahal sekali, saudara-saudara! Dekat kosanku membership gymnya 650 ribu sebulan, PT nya 500 ribu per sesi. Semua itu akan lebih murah kalau kita ambil membership setahun dan sesi PT 12 sesi. Terlalu mahal buatku. Aku pun kemudian batal gym di Jakarta. Alhamdulillah aku menemukan gym yang jauh lebih murah di Bandung, 250 ribu per bulan dan PT 80 ribu per sesi. Tapi ya itu, jadinya cuma Sabtu Minggu saja, kalau aku di Bandung.
Jadi harus direncanakan dengan matang. Intinya ini adalah ibaratnya perjalanan jarak jauh, perlu motivasi, energy, dan resource yang terjangkau.

4. Enjoy the High and The Low
Dari awal diet 126 kilogram, pada saat tulisan ini dibuat berat badanku 95 kilo. Jadi setelah sekitar setahun lebih, berat badanku sudah turun lebih dari 30 kilo. Aku menimbang berat badanku nyaris setiap hari. Setelah mandi di pagi hari. Kalau berat badanku turun, aku sangat bahagia, walaupun cuma beberapa ratus gram. Pokoknya asal jangan naik! Tapi perjalanan diet ini gak selamanya mulus. Ada kalanya berat badanku juga naik. Hal itu membuatku mikir, dan bertanya-tanya kenapa naik. Apa yang aku makan, apa aku kurang olahraga. Kadang jadi bikin bete seharian. Tapi hal ini membuat aku belajar "berdamai" dengan keadaan ini. Satu quotes diet yang aku temukan di internet: You can always restart whenever you fail. Ya! jangan merasa gagal berkepanjangan. Hari ini timbangan naik, cepet luruskan lagi niat, dan mulai lagi dietnya.
Pertahanan yang telah dibangun sekian lama perjalanannya tak selalu sama setiap harinya. Ada kalanya aku sangat kuat walau godaan gorengan di kantor sangatlah menggoda. Tapi ada juga saat dimana aku tertarik makan kue ulang tahun yang padahal sebelumnya aku ga suka. Tapi, dengan begitu aku jadi selalu sadar, bahwa aku sedang diet, jadi ya, gak apa-apa kalau kepikiran, sekali lagi, balik ke niat awal. Menimbang badan setiap hari, menurutku, membuat aku selalu ingat tujuan itu.

5. Hal Menarik dan Hal yang Dibenci
Hal yang aku sukai adalah saat turun berat badan. Sangat bahagia. Hal yang lebih bahagia lagi adalah saat baju-baju lama yang gak cukup, atau sempat aku beli online tapi belum pernah sama sekali aku pakai, karena gak cukup jadi cukup. Perubahan berat badan ini juga menuai pujian dari orang lain, tapi aku sudah bertekad tidak akan lengah. Karena memang aku masih jauh dari langsing. Menurutku orang lain melihat aku dengan pangling karena ya, memang asalnya berat badanku dulu memang gembrot sekali.
Hal yang aku sukai lainnya adalah, aku jadi suka jalan kaki. Seperti yang sudah kuceritakan, dulu, jalan kaki dekat saja sudah bikin aku males. Kalau bisa pakai gojek, aku selalu pilih gojek. Tapi setelah lebih ringan, aku jadi senang jalan kaki. Aku suka jalan kaki di GBK, jalan kaki bersama isteriku dari Sarijadi ke Kebun Binatang, atau perjalanan lainnya mene lusuri jalan kecil sangat aku nikmati. 
Hal yang aku tidak sukai dari perjalanan diet ini adalah, aku jadi harus membeli pakaian lebih sering. Kalau belinya cuma satu atau dua potong sih, mungkin tidak apa-apa ya. Tapi harus membeli pakaian untuk sehari-hari merupakan hal yang mahal dan tidak menyenangkan lagi buatku. Dulu celanaku ukuran 42, sekarang 36. Semua celana lamaku gak bisa lagi aku pakai, berat banget harus beli celana banyak-banyak.

6. Trying New
Ada masa-masa di mana berat badanku stuck, di angka segitu-segitu aja. Buat aku, itu sinyalemen untuk mengubah pola makan atau olahraga. Aku semakin jarang datang ke dokter karena hambatan waktu. Seringkali weekend penuh jadwal dengan keluarga, sehingga rasanya sayang buat ke dokter yang seringkali menyita waktu lama. Setelah aku menonton video tentang penjelasan intermitten fasting, aku kemudian tertarik mencobanya. Aku makan mulai jam 10 pagi, dan berhenti makan di jam 6 malam. Metode ini mengurangi berat badan hingga 3-4 kilo dalam 40 hari. Aku yakin, tanpa persiapan diet sebelumnya dengan mendisiplinkan pola makan dokter gizi, aku gak mungkin bisa menjalankan intermintten fasting ini.

Perjalanan diet ini buatku merupakan perjalanan yang luar biasa. Mungkin dari luar, orang lain hanya melihat perubahan berat badan saja. Tapi buatku, diet ini mengubah banyak hal. Aku merasa lebih sehat, pola makanku menjadi lebih sehat pula. Dulu sebelum diet, setiap makan, hampir selalu aku tambah nasi. Kalau makan di luar, aku sering pesan minum dua jenis, dan keduanya manis. Stok minuman manis selalu ada di kulkas kosan. Setiap jenis jajanan yang aku suka, langsung aku beli. Memang seceroboh itu. Aku merasa beruntung, dengan pola makan serampangan dan tanpa olahraga, hasil tes kesehatan aku selalu baik-baik saja.

Saat ini, aku menjalankan intermitten fasting, sarapan kopi tanpa gula, makan siang atau sore sebisa mungkin tidak pakai nasi. Sebisa mungkin juga tidak makan tepung, dan gak ada minuman manis sama sekali. Cemilan buah-buahan. Olahraga yang aku lakukan adalah gym setiap Sabtu dan Minggu pagi, yoga di Selasa sore, jalan kaki di hari Rabu dan atau Kamis. Aku gak pakai obat lagi. Aku juga gak datang ke dokter lagi. Aku berharap tahun ini berat badanku bisa setidaknya kepala 8, jadi minimal 89. Target ini aku jadikan motivasi biar gak lengah. Semoga istiqomah. Aamiin.

Oiya, diet ini juga membuat aku bisa memahami perjalanan diet orang lain. Aku selalu senang kalau ada yang memulai diet, entah metode apapun yang dipakai. Dan memahami orang lain yang belum tergerak untuk diet, karena aku pernah di posisi itu. Tulisan ini juga aku buat buat temen-temen yang menanyakan diet apa yang aku lakukan, semoga memotivasi untuk memulai perubahan menjadi lebih sehat.

Semangaatt!!

Tuesday, December 10, 2024

Menuliskan Ingatan: (1989 - 1992) Dengan Siapa Kamu Berteman? Part2

SMP15 Pada zaman aku bersekolah di sana, menggunakan metode pembagian kelas yang berbeda di setiap tahunnya. Jadi, setelah kenaikan kelas, sebelum memulai tahun ajaran baru, akan ada pengumuman di mading, kita masuk kelas mana. Momen ini jadi peristiwa yang bikin deg-degan. Karena, akan ada harapan semoga sahabat yang sudah akrab akan sekelas dengan kita, dan ada ketakutan kalau kita ditempatkan di kelas yang muridnya dikenal "nakal".

Pas lihat pengumuman, hatiku agak mencelos, aku masuk kelas 2D, sedangkan Yunus, sahabatku masuk kelas 2E. Aku runut daftar nama yang tertera, murid 1C, asal kelasku, hanya sedikit. Oiya, selain metode acak ini, SMP15 menggunakan metode pembagian jam masuk. Kelas 1, semuanya masuk siang. Masuk jam 12:30, pulang jam 17:00. Kelas 3, semuanya masuk pagi. Mulai jam 07:00 pulang jam 12:00. Nah... kelas 2 ini campuran. Semester ganjil, kelas 2A, 2B, dan 2C masuk pagi, sisanya, 2D, 2E, dan 2F masuk siang. Semester genap, dibalik, 2A, 2B, 2C masuk siang, sisanya masuk pagi. Metode ini membuat kelas 2 seperti menjadi dua himpunan besar.

Kelas 2D dimulai dengan masuk siang. Sesuatu yang tidak terlalu berubah jika dibandingkan dengan kelas1. Kelas 2 ini, dimulai dengan awkward. Perubahan teman, diiringi juga dengan perubahan guru. Aku terus terang agak kesulitan dengan perubahan guru mata pelajaran favoritku, bahasa Inggris dari bu Elis ke Pak Toemiran, bahasa Sunda dari bu Sekartini yang lemah lembut, ke Bu Nia yang agak galak (bu Nia ini adalah wali kelas kami), matematika dari pak Tyas yang kalem, menjadi Bu Afifah yang juga galak. 

Pelan-pelan kami semua mulai beradaptasi. Di sini lah kemudian teori bahwa orang akan berkumpul dengan yang memiliki perangai serupa terbukti. Aku lantas nyambung sama Andri, Oki, dan Sodik. Secara fisik kami kecil-kecil, dan memiliki image "anak baik" hahaha. Bedanya adalah, semuanya, kecuali aku, sangat berbakat di bidang olahraga Hahaha. Kami seringkali jajan di kantin bareng, atau salat Ashar di mesjid belakang bareng pada waktu istirahat. Di kelas 2 ini juga, pasangan duduk kita ditentukan guru. Satu meja harus diisi dua murid dengan jenis kelamin berbeda. Aku duduk dengan Teti. Hal ini membuat proses adaptasi berjalan cepat. Aku ingat selain dengan murid laki-laki, kita juga cukup akrab dengan murid perempuan, seperti Mamah, Nelly, Nurrisye, Sumiati, Sari, Nining, Dienar (yang memang asalnya sekelas di 1C), Tati, dan banyak lagi. Oiya, selain di kelas 2D, aku juga sering menyambangi kelas 2E, kelasnya Yunus. Karena inilah, kemudian aku sering ngobrol dengan murid 2E, seperti Arra, Tantan, Alan (yang jago gambar dan suka bikin novel dengan main character bernama Herly Yop) dan yang lainnya.

Hal yang berbeda pula adalah, di kelas 2D ini, kita sering kerja kelompok di pagi hari sebelum masuk sekolah. Karena mayoritas temenku berrumah di wilayah Sukagalih dan Sukajadi, kerja kelompok sering diadakan di rumah Andri di Sukagalih. Biasanya dimulai jam 9 sampai jam 11, disambung dengan berangkat sekolah bareng jam 11. Agar murah dan turun di depan sekolah langsung, kita naik bis Damri. Himpunan pertemanan ini kemudian bertambah dengan kehadiran Agus Sundoro, yang rumahnya di Asrama Polisi Sukajadi. Pola yang berbeda ini, menambah khazanah memori aku yang biasanya seputaran Sarijadi. Periode ini membuat aku lumayan akrab dengan permainan dingdong di Bioskop Bison haha.

Friday, December 06, 2024

Menuliskan Ingatan : Dealing w/ Insecurities

Belum. Belum mau melanjutkan cerita berteman dengan siapa atau lanjutan tentang kuliah. Tapi mau nulis tentang insecurity. Aku belum menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Ketidakamanan. Haha, kok rasanya masih belum tepat. Tapi sudah lah ya, aku pakai insecurity di postingan kali ini.

Kenapa tiba-tiba aku terbersit ingin menuliskan insecurity ini? Karena ternyata si insecurity ini akan terbawa sampai tua, kalau kita tidak berhasil mengatasinya. Itu yang aku percayai. Selain memori acak yang tiba-tiba muncul.

Insecurity terbesar seingat aku dimulai pada saat SMP. Dan itu adalah... aku merasa tidak berkecukupan dibandingkan lain. Sebelum SMP, aku sangat senang mengajak temanku kerja kelompok di rumah. Aku tidak pernah berpikir bahwa rumahku jelek, tidak apa-apa bermain dan mengerjakan PR di ruang tamu atau halaman rumah. Di rumahku, kalau pulang sekolah, seringkali tidak ada makanan, bahkan tidak ada siapa-siapa kecuali aku. Karena Amih Apih, belum pulang kerja. Kakak-kakakku juga belum pulang dari sekolahnya. Jadi, kalau temanku datang, ya cuma disuguhin minum aja. Hahaha. Mau beli makanan, gak punya uang. Lah, bekel tadi sekolah sudah habis dipakai jajan. Aku aja seringkali belum makan siang haha. Memang beda kalau kerja kelompok di rumah temanku yang di rumahnya punya ibu sebagai ibu rumah tangga. Pasti disediakan makanan. Semua itu berjalan baik-baik saja, tidak mengurangi kebahagiaan. Tidak menjadi hal besar pula.

Semua itu berubah setelah aku SMP. Ke-tidak apa2an itu menjadi masalah. Aku merasa rumahku jelek, dan malu kalau temanku datang. Apalagi aku pernah ke rumah Lola untuk latihan kabaret. Rumahnya bagus dan besar, membuatku takjub. Terus aku latihan drama juga di rumah Fadian, di rumah Andi, semuanya punya kamar sendiri. Jadi kalau main, ya, di kamar mereka, tidak di ruang tamu. Sedangkan aku masih tidur barengan berjejer sama para kakak laki-laki. Insecurity itu muncul dengan parah. Walau kemudian dibuatkan kamar dengan cara membelah kamar dengan tripleks, aku tetap merasa kamarku gak cukup proper untuk tempat berkumpul. Diperparah dengan koleksi buku, mainan dan consol game yang dimiliki temanku di kamarnya. Aku hanya baca komik di taman bacaan!.

Semua itu membuat aku terbiasa menghindar kalau ada teman yang mau datang ke rumah. Banyak alasan aku lontarkan. Pernah sekali waktu, aku gak bisa menghindar, Fadian dan Andi datang ke rumah, masuk kamar. Awkward, duduk di kasur, karena memang tidak ada kursi lainnya hehe. Untungnya rumahku deket sama rumah Andi, kita langsung pindah ke rumahnya. Main game komputer di kamar Andi. Hal itu membuat aku merasa kecil dan malu. 

Insecure berikutnya muncul saat aku melihat sepatu-sepatu keren yang teman-temanku pakai. Sepatu-sepatu basket yang hanya aku kagumi dari balik etalase toko membuat aku minder kalau dibandingkan dengan sepatu yang Apih beli di Cibaduyut atau sepatu warrior yang kupakai. Pernah di suatu hari Maulid Nabi, ada lomba fashion show. Perwakilan kelas aku adalah murid ganteng bernama Ronald. Pas mau naik panggung, dia minta tuker sepatu. Dia pakai sepatu basket Reebok yang sangat keren tapi gak cocok dengan tema. Makanya dia minta tuker dengan sepatu pantofel aku. Selama lomba, Ronald bilang silahkan pakai aja sepatu Reebok dia. Aku tak berani menyentuh sepatu itu sama sekali. Aku memilih nyeker, telanjang kaki sepanjang lomba di pinggir panggung, daripada memakai sepatu itu. Hahaha.

Insecurity ini kemudian agak "melemah" di kelas 3. Terus terang aku gak tau sebabnya. Padahal aku masih berteman dengan teman-teman aku yang kaya, tapi mungkin juga karena temanku yang "sepadan" juga banyak. Jadi balanced, serasa punya teman senasib. Walau, mungkin juga seiring berjalannya waktu, aku sudah sangat menerima kenyataan, bahwa tidak memiliki barang yang aku inginkan itu: tidak apa-apa. Orang lain punya barang bagus itu tidak lantas kita harus punya juga. Dan pelan-pelan "berdamai" dengan apa yang kita punya. Bersyukur mungkin ya, istilah tepatnya. Mempunyai teman yang beragam, membuat aku bisa melihat banyak yang lebih tidak punya dibandingkan aku. Dan itu, biasa. Oiya, yang disebut "pelan-pelan" itu sangatlah tidak sebentar, bertahun-tahun lamanya.

Setelah SMA, jurang perbedaan makin kompleks. Ke sekolah banyak yang pake motor atau mobil, dan aku masih pakai angkot. Setelah merenung dan mencoba mengingat, ternyata insecurity yang pernah ada, tidak menjadi terlalu masalah saat itu. Tampaknya rasa damai yang dipupuk, mulai berhasil. Insecurity ini, di kemudian hari, menolong aku memahami orang lain. Misal, pas mau reuni SMP. Aku bisa paham teman yang enggan datang, hanya karena takut ga ada yang kenal, takut soalnya sekarang jadi gendut, takut karena belum "berhasil". Aku jadi tahu cara membujuknya, tenangin dan bantu hadapi insecurity-nya.

Eh tapi, eh tapi.. apakah insecurity toal 100% sudah bisa dihilangkan? tentunya tidak mungkin ya. Masih ada satu dua, bahkan beberapa yang muncul. Jenis yang baru dihadapi. Mau gak mau yah, begitu aja, hanya dengan dihadapi, bukan dengan menghindar. Karena kalau menghindar, akan nempel lagi suatu waktu. Jenis baru itu, misalnya seperti ini: baru turun dari gojek, tapi masuk ke mall Plaza Indonesia. Bau knalpot, rambut awut-an, tapi harus tetap slay masuk lobby dengan tatapan maut security. Hahaha. 

Deal with it. Life goes on. Dan tetap berdoa tentunya.

Wednesday, July 24, 2024

Kuliah Lagi di Usia Tua (1)

Di tengah kegaduhan pandemi dan stress yang tak mereda. Ditambah lagi aku sempat positif Covid, tiba-tiba saja ada berita dari sahabatku. Sahabatku ini salah satu pekerjaannya adalah dosen di Universitas Padjadjaran (Unpad). Kebetulah tahun itu, dia juga kebagian jabatan sebagai kepala program studi pasca sarjana di Fakultas Ekonomi, Jadi dia memiliki target untuk menerima mahasiswa baru. Dia kemudian menawarkan aku untuk menjadi mahasiswa magister di fakultasnya. Tawaran yang langsung aku tolak. Adalah hal yang gila menambah masalah di keruwetan pekerjaan dengan hal lain yang menurutku tak ada faedahnya di dunia pekerjaan. Tempatku bekerja tidak memberikan benefit lebih kalau kita sekolah lagi atau mendapatkan gelar tambahan. Tidak seperti di pemerintahan.

Semakin hari, anehnya, kok tawaran itu semakin kepikiran. Aku kemudian menuangkan ide itu dalam guratan pro dan contra. Kontranya lebih banyak, dilihat dari hal waktu, pikiran, dan tentu saja biaya, semua merugikan. Pro nya adalah: hal baru dan perkuliahan dilakukan secara online. Aku pun mencari informasi dengan lebih banyak lagi. Detail jurusan apa saja, biayanya berapa, tahapannya apa saja, dan hal lain. Terus terang saja, semua catatan menunjukkan arah saran untuk tidak kuliah. Tapi hatiku semakin condong untuk mengambilnya. Akupun kemudian berdiskusi bersama isteriku. Isteriku memberi lampu hijau. 

Izin itu membuat langkahku semakin bulat. Tapi jurusan yang menarik perhatianku malah bukan di fakultas ekonomi, tetapi Komunikasi Bisnis di Fakultas Komunikasi (fikom). Keputusan ini sekan menyulut sebuah semangat baru. Gairah yang bisa jadi penawar kesibukan dan kejenuhan aku selama ini. Lebay tapi begitulah adanya. Aku kuliah di tahun 1995, dan lulus di tahun 2000. Lebih dari 20 tahun! Aku terus terang sudah lupa rasanya. Perasaan ini sulit aku gambarkan. Aku tiba-tiba diliputi kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan baru, akan tetapi juga rasa ingin tahu yang sangat luar biasa.

Kutelusuri syarat-syarat tes penerimaan. Banyak prosedur, website, istilah yang sama sekali asing kutemukan. Aku merasa tua dan tertinggal. Wahana apa ini? Tes Kemampuan Akademik, TOEFL. Oh Tuhan, tes apa ini? Aku lantas membuka Tokopedia dan langsung menambahkan buku belajar ke keranjang belanja. Aku sangat bersemangat mempelajarinya. Ternyata dalam alam bawah sadar, aku sangat rindu akan suasana ini. Belajar lagi hal baru. Aku semakin lega, aku mengambil keputusan ini.

Aku mengupayakan waktu untuk tes demi tes. Aku sengaja tak membagi informasi tentang keputusanku untuk kuliah lagi ke atasanku di kantor. Ini adalah ruang "bermainku". Tempat pelepasan penatku yang baru. Tes dilakukan secara online. Setelah tak sabar menunggu hasilnya. Alhamdulillah nilai-nilaiku memenuhi syarat. Prosesi selanjutnya adalah membuat surat yang memuat tujuan untuk kuliah, dilanjutkan dengan wawancara.

Ini adalah isi suratku:

Dengan hormat,

Perkenalkan, saya Dodi, berusia 44 tahun pada 6 Agustus nanti. Status berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Saat ini saya bekerja di xxx sebagai xxx.

Saya menempuh Pendidikan sarjana (S1) di Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Administrasi Negara pada tahun 1995 sampai dengan 2000.

Setelah lulus saya tidak pernah mengikuti Pendidikan formal lainnya, kecuali pelatihan/training yang diselenggarakan kantor tempat saya bekerja. Saya mulai bekerja di XXX pada akhir 2000 sebagai tenaga outsource, dan mulai bekerja sebagai karyawan organik tahun 2003. Pekerjaan saya sebagian besar di bagian pelayanan pelanggan, dimulai dari team penanganan keluhan pelanggan di Call Center. Kemudian mengelola manajemen operasional service point dengan pihak ketiga di wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung dan Bangka Belitung. Setelah itu menangani strategi pelayanan dan operasional pelayanan di wilayah Jabotabek dan Jawa Barat.

Setelah berkecimpung di dunia pelayanan, sejak tahun 2018 saya mendapatkan tanggung jawab di bidang sales, baik itu sales policy maupun penyusunan strategi sales dan mengkomunikasikan strategi sales tersebut dengan team sales di Area.

Selama ini, perusahaan memberikan berbagai bentuk dan cara untuk meningkatkan kemampuan karyawan, baik itu diselenggarakan oleh fungsi HRD maupun internal sub direktorat, bahkan level divisi dan departemen. Bentuk yang selama ini diadakan adalah sharing session, pelatihan/training, reading assignment, webinar, quiz yang sifatnya wajib maupun tidak, dan lomba inovasi tahunan. Sejak pandemik,kegiatan-kegiatan ini pun tetap dilakukan, hanya saja tanpa melalui pertemuan fisik.

Walaupun saya mendapatkan berbagai kegiatan di atas, terus terang saya tergelitik untuk mencoba hal baru untuk menambah pengetahuan, skill, networking dan mendapatkan point of view yang baru melalui hal yang belum pernah saya coba sebelumnya, melalui Pendidikan formal. Sahabat saya, Dini Rosdini, seorang dosen Akuntansi di Unpad, suatu hari menyarankan saya untuk ikut program Magister. Sebuah peluang untuk mewujudkan keinginan itu. Tapi saya ragu, terus terang saja. Pandemi di awal 2019 memang membuat saya bekerja di rumah, di Bandung. Tapi bukan berarti membuat waktu senggang saya semakin banyak. Koordinasi pekerjaan seringkali berlangsung jauh melebihi waktu kerja regular dan dimulai sejak dini hari. Screen time saya melonjak melebihi sebelum pandemic, belum lagi harus membagi konsentrasi dengan keluarga dan dua anak balita saya. Ide kuliah lagi seolah seperti bukan ide yang baik.

Akan tetapi, saya sadar, kesempatan terbaik membutuhkan keberanian, selain itu restu dari keluargapun sudah saya dapatkan. Oleh karena itu saya memberanikan diri untuk mendaftar program magister tahun ini. Setelah browsing dan bertanya dengan teman-teman yang berprofesi dosen di Unpad, saya memilih Magister Ilmu Komunikasi, dengan rencana peminatan Komunikasi Bisnis. Saya melihat program ini sejalan dengan pekerjaan saya saat ini, selain memang komunikasi merupakan minat saya sejak lama.

Fungsi kerja saya saat ini diantaranya menentukan metode campaign yang efektif, membuat sosialisasi yang mudah dan efektif, serta merumuskan UI/UX suatu apps yang baik dan mudah digunakan. Oleh karena itu, program Magister Ilmu Komunikasi saya rasa pilihan yang tepat. Harapan saya program ini dapat memperluas cakrawala berpikir saya sebagai seorang praktisi dengan memperkaya teori, informasi perkembangan pengetahuan serta tentunya ilmu berharga dari akademisi berpengalaman.

Demikian pernyataan tujuan ini saya buat, terima kasih.


Tahapan selanjutnya adalah wawancara. Aku diwawancara oleh dua dosen, Ibu Pur (yang kelak akan menjadi penguji tesisku) dan Ibu Ira, yang kelak akan menjadi dosen pembimbingku. Alhamdulillah aku berhasil menjadi mahasiswa baru program magister Komunikasi Bisnis Universitas Padjadjaran.

Hipertensi di Kala Pandemi

Pada saat pandemi, di tahun 2020-2021, untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku divonis darah tinggi. Aku gak ngerti kenapa hampir setiap hari pusing tapi kok gak kunjung berhenti. Minum panadol yang biasanya ampuh, sekarang ini reaksinya cuma sebentar saja. Tes covid berkali-kali hasilnya negatif. Ke dokter saat itu agak malas, soalnya tahu sendiri kan, selain sulit mencari dokter yang praktik, perjalanan buat diperiksa saat itu lumayan repot. Harus tes covid, janjian, pakai masker lah, dan sebagainya. 

Akhirnya aku memaksakan diri. Aku agak khawatir. Lalu aku datang ke dokter di kawasan Cicendo. Dokter yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Selama pemeriksaan terus terang aku merasa kurang sreg. Tingkah laku si dokter ini agak aneh menurutku. Apa ya, gambaran yang tepat.. agak grasak-grusuk. Selain itu, dia juga tiba-tiba aja cerita tentang kredibilitas dia. Padahal aku gak nanya apa-apa. Terus dia, sambil mengukur tekanan darah, bilang dan cerita tentang bahaya kegemukan, dan hasil pengukuran menyatakan kalau tekanan aku tinggi. Aku lupa angkanya, sekitar 160/95 segituan lah. Aku memang sudah biasa dengan pernyataan dokter yang sudah menjudge aku darah tinggi sebelum pengukuran dilakukan, karena aku memang gendut. Tapi yang ini beda. Hasilnya memang ternyata tinggi.

Akupun kemudian diberi obat darah tinggi yang harus aku makan seumur hidupku. Aku kok sepertinya gak rela. Karena aku yakin aku gak darah tinggi. Tapi keyakinanku berbenturan dengan fakta. Aku pun membeli alat ukur tekanan darah sendiri. Dan hasilnya tetap sama. Akupun kemudian bertahap menerimanya. Sambil mencari second opinion ke dokter dekat rumahku. Dokter Arif, salah satu dokter yang merawat almarhum Apih di kala stroke. Aku mendapatkan penjelasan yang lebih bisa diterima olehku. Ternyata dokter Arif penyandang darah tinggi juga, jadi dia share pengalamannya. Dia menyarankan aku untuk menghentikan obat sementara, dan mencoba mengatur pernafasan secara periodik. Dia menemukan kasus serupa di masa pandemi ini. Di mana banyak orang mengalami perubahan pola hidup, pola kerja, dan berimbas pada pola kesehatan.

Setelah mencoba selama sebulan, alhamdulillah, tekanan darah aku berangsur normal. Hal yang kemudian aku sadari kalau perubahan pola hidup itu menyebabkan aku stress. Dan itu memengaruhi tekanan darahku. Alhamdulillah, sampai hari ini, tekanan darahku gak pernah tinggi lagi.


Aku sebetulnya bukan mau cerita ini sih, hahaha, tapi mau cerita yang lain, bersambung di posting berikutnya ya..

Friday, April 19, 2024

Menuliskan Ingatan: (1989 - 1992) Dengan Siapa Kamu Berteman? Part1

Setelah lebaran kemarin, group whatsapp SMP dipenuhi canda tawa dan nostalgia seperti biasa. Lalu muncul ide untuk berhalal bihalal, setelah rencana bukber sudah terlalu terlambat untuk direalisasikan. Kami pun berhalal bihalal di hari lebaran kelima. Di group, yang daftar hanya 10 orang, tapi ternyata yang datang sekitar 14 orang.


Setelah berkumpul, pembicaraan kami sangatlah beragam, dari mulai masalah pengasuhan anak, pendidikan, masalah kesehatan, diet, aturan zonasi, hipnotis, peraturan izin usaha makanan, dan banyak lagi. Serandom itu, seramai itu. Aku, yang dianggap sebagai yang masih ingat kejadian-kejadian waktu SMP dulu, sering menyelipkan nostalgia di halal bihalal itu. Hal inilah yang membuatku menulis kali ini. Selagi masih ingat, selagi belum pikun, aku mencoba menuliskan guratan ingatan yang masih ada.


Di antara sebanyak itu topik pembicaraan, ada satu pertanyaan dari Eski, siapa teman2 yang akrab dulu waktu SMP, kamu mah pasti banyak sama teman perempuan yah? Naha, gak main ke rumah saya? Haha. Ditimpalin sama Sofyan, saya mah suka main ke Sarijadi, walau rumah di Cihampelas.

Aku coba ingat-ingat. Aku datang dari SD Sarijadi 5, sendirian. Jadi gak punya teman yang berangkat dari SD yang sama. Hal itu, seingatku cukup menakutkan. Sekolah dari komplek perumnas, ke "kota". Harus naik angkot, tapi gak punya teman. Masih teringat jelas ingatanku saat itu, di hari pertama penataran P4. Cukup gelisah, melihat kakak-kakak senior, yang menurutku, tingi-tinggi dan cakep-cakep. Terus melihat sesama murid baru kelas 1 SMP dari SD lain, yang mayoritas berkelompok, mungkin karena mereka satu sekolah dulunya. Aku saat itu hanya sendirian. Tidak juga diantar orang tua. Naik angkot Sarijadi - Ciroyom, berhenti di Karang Setra, dan jalan kaki ke Setiabudi. Pernah juga naik angkot jurusan Ledeng. Tapi jarang kulakukan, karena itu akan menguras uang bekalku yang tidak seberapa. Hal ini lumayan membuatku cemas.


Aku ditempatkan di kelas 1C. Untung saja, ada yang kenal, Andi (yang kelak akan satu kelas di SMA) dan Jajang. Mereka sama-sama tinggal di Sarijadi Blok 1 dengan aku. Tapi mereka dari SD Cilandak. Aku cukup mengenal mereka, terkadang kami bertemu di mesjid Al Hidayah. Tapi lantas aku sebangku dengan Yunus. Momen pertama di SMP cukup chaotic seingatku. Aku melihat-lihat dan menerka seperti apa teman-temanku ini. Saat itu perhatian guru sering tertuju pada empat murid di deretan bangku pertama. Lola, Indah, Agustina, dan Iva. Siswi-siswi dominan, pintar dan cantik di kelas. Agustina kebetulan terpilih menjadi Ketua Murid. Dia galak, seingatku. haha. Berteman di kelas 1C cukup menyenangkan saat itu, aku terpilih menjadi seksi olahraga, sesuatu yang tidak aku mengerti. Atletis pun tidak, kok bisa terpilih haha. 

Event porseni antar kelas, merupakan kegiatan yang monumental saat itu. Event ini mempertandingkan banyak jenis pertandingan. Bulutangkis, voli, menggambar, paduan suara, atletik lengkap (lari 100m, 200m, 400m, estafet, lompat jauh) dan bertempat di stadion Pajajaran. Selain itu ada juga lomba renang dan polo air di Karang Setra. Pembukaan porseni juga diawali lomba defile antar kelas. Kami bahkan memiliki kaos kelas masing-masing. Logo 1C dibuat Andi, yang memang jago gambar. Event yang luar biasa untuk level SMP, menurutku. Event itu menumbuhkan kekompakan dan juga perasaan deg-degan. Walau kelas kami kalah, karena memang kecil-kecil badannya. Haha. Event ini pula membuat aku jadi sasaran protes teman-teman yang tidak puas dengan pilihan aku saat penempatan atlet di masing-masing cabang olahraga. Misal, Iwan protes ditempatkan di lomba 400m. Sonny protes ditempatkan di lomba 200m. Yah... ini jadi pelajaran berharga buatku.

Momen lain yang menurutku keren adalah pelajaran keterampilan. Saat itu, pelajaran keterampilan tidak sama di masing-masing orang, walau dalam satu kelas. Kita dikasih pilihan paket yang mau diambil. Dan pilihan itu akan menentukan jenis keterampilan sampai kita kelas 2 SMP. Sebuah hal yang sangat modern dan way ahead of the times. Pilihan keterampilan yang dapat dipilih adalah: mengetik, ukiran, anyaman, tata boga, dan tata busana. Aku memilih kelas mengetik, dilanjutan dengan administrasi korespondensi di kelas 2. Nah, pada kelas keterampilan ini, kelasnya akan mengikuti jenis yang dipilih. Jadi aku akan bergabung bersama siswa lain yang memilih mengetik. Momen ini membuat kita lebih saling mengenal siswa kelas lain.

Di kelas 1 ini, aku masuk siang. Kelas dimulai pukul 12, dan pulang jam 5 sore. Hal ini juga lumayan membuatku terpaksa beradaptasi, karena selama SD aku selalu bersekolah di pagi hari. Waktu itu, walau aku sebangku dengan Yunus, tapi aku gak pernah main ke rumahnya. Karena memang jauh dari rumahku, di daerah Cisitu. Aku lebih sering main ke rumah Fadian (yang kemudian pindah ke Taruna Bakti di semester 2) di daerah kompleks NHI, Setiabudi. Atau di rumah Andi di deket rumahku di Sarijadi. Fadian dan Andi sangat jarang main ke rumahku, karena aku gak punya kamar sendiri. Jadi paling ngumpul di ruang tamu. Hal yang membuat aku minder atau insecure, istilah sekarang mah. Aku malu dan takut kalau ada teman-temanku yang mau datang ke rumah. Aku merasa rumahku gak bagus, gak punya mainan atau buku cerita untuk dibagikan bersama teman-teman. Perasaan minder itu padahal gak pernah ada sebelumnya pada saat SD. Padahal teman-teman SDku sering datang ke rumah.

Perasaan itu adalah sesuatu yang baru buat aku. Alhamdulillah bisa kuatasi bertahun kemudian.

Back to akrab dengan siapa. Di rumah Fadian, awalnya kita ngerjain tugas bareng. Tugas latihan drama bahasa Inggris kalau gak salah, Aku, Andi, dan Fadian kebetulan satu kelompok. Kita pun latihan di rumah Fadian. Di kamarnya. Kamarnya luas, enakeun. Dann mainannya banyak. Kita bisa main Nintedo di rumahnya. Selain itu ibunya baik. Kita suka disuguhin makanan yang enak, atau dibeliin Mie Ayung. Kalau di kamarnya Andi, kita dulu ngerjain bikin bendera kelas buat defile. Andi yang gambar dan kita bantu mewarnai. Kalau rumahnya Andi, karena dekat, jadi sudah relatif kenal dengan keluarganya. Di rumah Andi ada komputer, kita suka main bareng game Prince of Persia, Summer Olympic 88 dan banyak lagi. Di rumah Andi pun, sering dimasakkan makanan yang enak. haha.

Kalau ditanya kenapa deketnya sama mereka. Aku terus terang gak terlalu mikirin. Saat itu kok rasanya, ada momen, terus ya dilakuin aja gitu. Tapi, kalo mikir sekarang, tampaknya kemiripan kepribadian yang membuat itu terjadi. Pan, teorinya, orang akan berkumpul dengan yang banyak kesamaannya. Selain ada trigger tugas dan kerja kelompok tadi. Kalau di kelas, soalnya yang akrab jauh lebih banyak lagi. Seingetku aku cukup akrab sama Yunus, Rudi, Sulistiyono, Dedi, Sonny, Andri, Jehan, Tati Karyati, dan banyak lagi. Oiya, di kelas ini aku ranking ke-4. Lumayan lah ya.

Untuk kelas 2 dan kelas 3 nanti disambung yak...

Tuesday, January 16, 2024

When You Think You Know Everything (About Your Kids)

 Setelah memiliki dua orang anak. Aku sadar bahwa keduanya memang individu yang berbeda. Bukan fisik yang aku maksud. Mereka sejak bayi sudah berbeda kebiasaan dan perilakunya. Hal itu semakin menyadarkanku, mereka tidak bisa sepenuhnya dibanding-bandingkan.

Walau perbedaan itu betul adanya, aku senang ketika A Angga dan Letra --kedua anakku-- semangat ingin sekolah, Apalagi de Letra yang sepertinya tidak sabar menunggu hari pertama sekolah. Hari-demi hari di sekolah dilalui dengan suka cita. Kita jadi tahu apa yang dia suka, apa yang dia kurang suka. Dia suka art & craft, tapi gak terlalu suka pelajaran olahraga. Dia suka main sama anak laki-laki dibanding anak perempuan. Dia suka pakai rok dibanding celana panjang, dan banyak lagi. Aku merasa sudah sangat mengenal de Letra. TK A dilalui dengan suka cita. TK B pun dijalani dengan riang gembira. De Letra sudah ga malu tampil di panggung untuk nari. Dia sudah sangat luwes dan percaya diri. Sudah hampir dua tahun de Letra sekolah di Bianglala. Tahun depan insya Alloh akan melanjutkan ke SD yang sama.

Sampai sebulan yang lalu, dia sakit panas. Bukan sesuatu yang aneh sih, tidak harus diopname juga. Apalagi memang musim pancaroba, banyak anak yang sakit juga. Setelah sembuh, de Letra kembali bersekolah seperti biasa. Tetapi, suatu hari de Letra gak mau sekolah. Kita pikir dia masih merasa sakit. Jadi kita minta dia di rumah saja. Keesokannya dia masih belum mau sekolah, padahal sudah benar-benar sehat. Hari berikutnya dia malah nangis gak mau sekolah lagi. Kita paksa tapi malah nangis di parkiran sekolah. Dia gak mau masuk sekolah. Bahkan pernah dia memilih nangis di ruang guru daripada ke kelas. Hal ini berlangsung sampai dua minggu. Kami coba menerka-nerka apa yang membuat dia gak mau sekolah. Karena setelah nangis di sekolah, di rumah dia sudah bahagia seperti sedia kala.

Kita coba dia kita hukum. Tidak ada lagi nonton TV. Tidak ada lagi main handphone di weekend. Hal yang paling disukainya. Tapi dia seperti tidak berkeberatan, asalkan tidak sekolah. Kami pun mencoba diskusi dengan gurunya di sekolah. Bahkan kami sudah menjadwalkan sesi bertemu psikolog anak. Kalau kami tanya de Letra, jawabannya seperti tak tentu. Dia bilang diganggu anak lain, tapi dia bilang juga pinginnya di rumah saja. Kami makin khawatir. Takut kejadian ini berlanjut sampai SD. Sempat terpikir, kemungkinan untuk pindah sekolah. Tapi kami gak mau gegabah, apalagi kami sudah bayar biaya registrasi yang tidak sedikit jumlahnya. 

Hasil diskusi dengan guru, akan kita coba kunjungan anak-anak sekelas ke rumah. Jadi secara periodik, sekolah de Letra ada sesi belajar di rumah siswa. Aku pun memasang CCTV, agar aku di Jakarta bisa melihat interaksinya. Sepanjang sesi kelas di rumah, aku berharap-harap cemas. Tapi kecemasan itu hilang, ketika de Letra dengan suka cita menyambut teman-temannya, bahkan sambil berpelukan dengan sahabat-sahabatnya. Dia juga ternyata kangen dengan mereka, hanya saja ada yang takut dia temui di sekolah. Sepanjang acara, de Letra memperhatikan dengan senang dan ngobrol dengan semangat bersama guru dan teman-teman. Setelah kunjungan itu, de Letra alhamdulillah sudah mau sekolah lagi.

Sambil berkomunikasi dengan orang tua siswa lain, akupun menjadi tahu, ternyata ada satu anak laki-laki yang berlaku kasar terhadap teman-temannya, tidak hanya de Letra. Padahal, anak itu dulunya sahabat de Letra, akan tetapi entah kenapa sekarang dia menjadi seperti over reaktif. Kami pun memahami keadaan, dan memuji de Letra yang berani sekolah lagi. Setelah itu, de Letra pun lebih berani dan senang karena kami orang tuanya dan teman-temannya membantu dia mengatasi keadaan ini. Walau dia masih takut kalau bertemu anak itu. Kamipun berpesan sama guru-guru di sekolah dan mengajarkan de Letra untuk tidak harus berteman dengan orang yang dia gak suka. Semoga hal ini menjadi pelajaran buat kami dan buat de Letra.


Maha suci Alloh. 

Friday, July 07, 2023

Flashback: Cerita Amih di Rumah Sakit 2012

Ingatanku tiba-tiba kembali ke 2012. Ingatan yang kemudian membuatku membuka kembali posting demi posting di blog ini. Blog ini menjadi semacam buku harian kenanganku. Bersyukur masih dianugerahi memori oleh Alloh, sehingga aku masih bisa mengingat rasa pada setiap tulisan yang aku posting di blog ini. Posting lama di 11 tahun lalu tentang kenangan aku akan keluargaku, di link ini. 

Ada hal yang tidak aku ceritakan dengan detil di postingan kala itu. Sebetulnya kejadian ketika Amih masuk rumah sakit adalah seperti ini. Malam hari bagian aku nunggu Apih di RS Advent paska operasi. Kita memang giliran. Syukurnya aku bisa pulang ke Bandung dari Palembang. Kemudian setelah jaga malam, aku bersiap-siap pulang ke rumah untuk beristirahat di pagi keesokan harinya. Sebagai ganti yang jaga, pagi sampai sore akan diisi Amih. Di kepala kami, anak-anaknya, Amih merupakan sosok ibu yang tangguh. Amih adalah sosok sentral pengambil keputusan yang membuat kami merasa aman berada di dekatnya. Selain itu Amih terbiasa mengendalikan keuangan, operasional setiap hari, memberikan saran tentang pilihan hidup anak-anaknya, seperti ke sekolah mana, konsultasi pernikahan dan sebagainya. Semua itu Amih lakukan dengan sambil bekerja sebagai PNS di Pemkot Bandung.

Karena bertahun-tahun, kami hidup dengan pikiran seperti itu, kami seperti tidak memiliki ruang dalam pikiran bahwa beliau mungkin saja lelah atau ada kejadian yang tak bisa beliau tangani lagi. Kami tak pernah khawatir kalau Amih sakit. Karena beliau terbiasa tahu apa yang harus dilakukan, pergi ke dokter sendiri, tanpa sulit minum obat dan istirahat. Beliau memang sosok semandiri itu. Makanya dalam usia yang sebetulnya tak muda lagi, kami berpikir tidak apa-apa Amih kebagian jaga Apih di rumah sakit. Lagian, Amih memang memaksa untuk ikut jaga.

Hari itu, pada saat Amih jaga ternyata kami mendapat kabar, kalau Apih jatuh dari tempat tidurnya. Rupanya Apih kesulitan buang air kecil, dan mau pergi ke kamar mandi sendiri. Saat itu, Amih sedang tidur di kursi penjaga. Kemudian dokter meminta Apih dirujuk ke dokter spesialis lain untuk menangani saluran kencingnya. Sepertinya Amih merasa bersalah, padahal kami tak ada satupun yang menyalahkan beliau akan kejadian ini. Amih seperti terguncang, saat dokter bilang bahwa Apih kemungkinan harus dioperasi. Saat itu, Apih sebetulnya sudah di tahap akhir masa pemulihan dan dalam beberapa hari sudah boleh pulang.

Setelah kejadian itu, Amih merasa tidak enak di bagian dada dan perut. Amih tak bisa makan. Amih minta diantarkan ke rumah sakit, tapi tidak mau ke RS Advent. Amih hanya ingin diantarkan ke RS Salamun di Ciumbuleuit yang menerima BPJS. Kami pun mengantarkannya ke sana. Amih ternyata harus dirawat inap. Jadi dalam waktu bersamaan kedua orang tua kami dirawat di rumah sakit berbeda. Syukurlah kemudian hasil dokter spesialis internis keluar, dan Apih dinyatakan boleh pulang. jadi kami bisa fokus ke kesembuhan Amih.

Amih bersikukuh tidak mau dirawat di kelas 1, walaupun BPJS (dulu Askes) mengcovernya di kelas itu. Amih hanya ingin dirawat di kelas 3, di barak beserta 10 pasien lainnya. Di ruang perawatan besar itu tak ada tempat khusus buat keluarga untuk menunggu. Hanya ada satu buah kursi. Jadi kalau kita mau nunggu sambil tidur, ya di kolong ranjang pasien. Saat itu bulan Ramadhan beberapa hari sebelum idul fitri. Alhamdulillah aku diizinkan cuti agak lebih lama, jadi bisa nunggu Amih di RS. Karena kami harus membagi tugas dengan merawat Apih di rumah.

Ini kali pertama aku di RS beramai-ramai seperti ini. Sebetulnya senang karena, gak merasa kesepian dan selalu ramai. Gak enaknya, kamar mandinya jauh untuk pasien. Jadi kalau Amih mau pipis, harus berjalan cukup jauh. Padahal perut Amih sedang sakit. Selain itu, yang paling agak serem adalah, kita otomatis akan bisa mendengar rintihan dan teriakan pasien lainnya dengan jelas. Selama di sana, kami bisa melihat dua orang pasien yang meninggal. Hasil pemeriksaan dokter, Amih sebetulnya tidak apa-apa. Hasil lab menunjukan hasil yang baik. Tapi anehnya, Amih masih tetap saja merasa sakit di ulu hati dan tidak bisa menelan makanan. Dokter bahkan pernah bilang sambil guyon, kalau Amih sebetulnya pura-pura sakit agar dirawat di sini. Tapi aku tahu pasti kalau Amih bukan type drama seperti itu.

Sampai suatu malam aku mendengar percakapan Amih dengan pasien sebelah. Amih bercerita bahwa dia kasihan sama anak-anaknya yang harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar biaya rumah sakit Apih. Amih bercerita panjang lebar, karena menyangka aku sudah tidur. Kemudian Amih bilang, bahwa sengaja dia pingin dirawat di RS ini karena gak mau memberatkan anak-anaknya dengan biaya pengobatan tambahan. Terus terang saja, perawatan Apih memang memakan biaya cukup banyak buat kami. Amih sampai menjual kolam ikan di Ciamis. Kami anak-anaknya pun gotong royong mengumpulkan uang untuk itu. Alhamdulillah, walau tabunganku habis, tapi tidak sampai harus menjual rumah maupun kendaraan. Walau, kalaupun harus begitu, kami sama sekali tak keberatan. Kami mencintai Amih dan Apih sepenuh hati. Percakapan itu membuat aku tersadar, bahwa hal ini mungkin yang membebani Amih, hingga beliau mengalami sakit sepert ini.

Esoknya aku berbagi cerita malam itu dengan kakak-kakakku. Aku pun punya ide, aku berbohong sama Amih. Aku cerita kalau kalau aku baru mendapatkan bonus dari perusahaan, dan mau aku pakai untuk membeli mobil baru. Aku minta pendapat Amih soal warna mobil yang akan aku beli. Hahaha, bohong yang menggelikan sebetulnya. Tapi ternyata cerita itu sangat manjur. Amih tersenyum, dan bilang alhamdulillah, mobil apapun gak penting buat Amih katanya, yang penting kita semua sehat dan berlimpah rezeki. Percakapan itu terbukti mujarab, siangnya Amih bisa makan walau sedikit demi sedikit. Besoknya Amih boleh pulang, dua hari sebelum hari raya Idul Fitri.

Aku selalu ingat cerita itu, walau Amih sudah lama pergi. Sekuat apapun, orang tua adalah manusia biasa juga. Mereka bisa sakit dan rapuh. Terutama mengenai anak-anaknya. Kekhawatiran mereka seringkali tak berani mereka ungkapkan. Walau kami anak-anaknya tak merasa keberatan sama sekali. Ku gak tahu, mungkin akupun begitu suatu hari haha. Maha Suci Alloh yang Maha Memelihara makhluk-makhluknya.

Monday, July 03, 2023

Cerita Sebelum Tidur

 Saat ini kalau aku pulang ke Bandung di akhir minggu, selalu tidur bareng dalam hamparan dua tempat tidur tanpa ranjang. Biasanya urutannya: de Letra, ibunya, a Angga, kemudian aku. Rencananya mulai tahun ini Aa akan mulai belajar tidur di kamarnya sendiri. 

Akan tetapi malam kemarin agak berbeda, de Letra ingin mendominasinya ibunya sendiri. Dia keukeuh gak mau pindah ke posisi biasanya. Hal itu memaksa a Angga kemudian harus mepet deket sama aku, karena dia ngambek sama de Letra. Aku pun memeluknya, sambil pillow talk banyak hal dengan a Angga. Sudah seminggu ini a Angga libur sekolah. Kegiatan sehari-harinya diisi dengan nonton TV, main Nintendo Switch, dan permainan lainnya. A Angga melakukan semua ini tidak sendirian, tapi dilakukan bersama de Letra dan Fatih, saudara sepupunya, anak kakakku, yang tinggal tak jauh dari rumahku. A Angga dan Fatih sama-sama kelas 1 SD di sekolah yang berbeda walau usianya terpaut 6 bulan. Karena kesibukan ini, mereka jadi sibuk. A Angga jadi jarang berinteraksi denganku. Paling hanya sesekali saja kalau ada yang ingin ditanyakan atau pas mereka aku ajak jajan ke warung terdekat.

Kesempatan sebelum tidur itulah yang menjadi momen ngobrol aku sama a Angga setelah sibuk seharian. Peristiwa ini ternyata menjadi hal yang asyik. Walau cerita dan pertanyaan a Angga bertubi-tubi, aku sangat menikmatinya. Pertanyaannya macam-macam, tentang komik Marvel apa yang aku baca sewaktu aku kecil, karakter apa yang menjadi favorit aku di Super Mario Bros, kenapa teman aku ada yang tinggal di New Jersey, siapa saja nama teman-temanku, dan banyak lagi. Terkadang cerita tak selalu berupa pertanyaan, tapi ada juga cerita tentang kejadian yang dia temukan, seperti adegan film-film yang kita tonton bersama, seperti Transformers: Rise of The Beast atau Super Mario Bros: The Movie. Aku pun menanggapi pertanyaannya dengan serius, sebisa mungkin aku jawab sesuai dengan apa yang aku rasakan dan aku ketahui. A Angga pun seperti menikmat cerita aku di masa kecil yang tak pernah membaca komik Marvel, tetapi lebih banyak komik DC seperti Batman, Justice League, The Outsiders, Hawkman, Plastic Man, dan sebagainya.

Sambil bercerita, ingatanku aku terbang ke 6-7 tahun lalu. Ketika aku khawatir akan perkembangan a Angga ketika bayi. Sempat khawatir ketika dia belum bisa menyebutkan sepatah kata pun di usia 1 tahun. Lalu kemudian lega, ketika dia menyebutkan kata pertamanya: Kakang. Hahaha. Teringat pula, pada saat itu pun kita terpaksa memutus ASI dan mengganti dengan susu lain karena ibunya hamil de Letra. Semua kilatan kejadian yang mengingatkan aku untuk bersyukur memiliki anak yang sehat dan mampu menceritakan apa yang ada di kepalanya. Alhamdulillahirobbil'alamiin.

Tuesday, April 18, 2023

Aku, Candra, dan Hendrik

 Aku menulis lagi. Ingin rasanya menulis tentang hal yang sebenarnya sedang mengganjal hati. Tapi aku belum siap sepertinya. Masalahnya pun belum selesai. Ketakutan dan kekhawatiran sedang berpadu. Jadi aku coba redakan dengan menulis lagi.


Beberapa tahun lalu, aku menulis tentang cerita masa kecilku dengan sahabatku, Candra, di tulisan ini. Memori itu lantas kemudian menuntunku untuk mencari keberadaan sahabatku yang lain. Namanya Hendrik. Jadi sekitar masa kelas 1 SMP, kami -aku dan Candra--, bersahabat dengan Hendrik. Keluarganya baru pindah ke lingkungan kami dari Blok 7. Kawasan satu komplek yang tidak terlalu jauh. Hendrik usianya terpaut satu tahun lebih tua dari kami. Dia satu sekolah dengan Candra di SMP 26.

Cerita Handrik tentang kehidupan dia di Panjalu seringkali menarik perhatian kami. Jadi, sehabis sholat tarawih berjamaah di mesjid, biasanya kita ngumpul bersama anak-anak lain di depan rumah pak Uuh, sebelah rumahku. Sambil jajan, karena memang dekat warung dan banyak mang jualan yang lewat gang itu, kami biasanya duduk di tembok rendah rumah pak Uuh sambil mendengarkan cerita Hendrik dan Isam, adiknya, tentang kehidupan mereka di Panjalu. Hendrik sekeluarga pernah pindah ke Panjalu dari Sarijadi. Hendrik pandai bercerita, jadi kami lantas seperti bisa melihat Panjalu, yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Ceritanya seru, tentang kekagetan dia sekolah di sana dengan harus bertelanjang kaki, jalan-jalan ke hutan mencari bunga anggrek, bermalam di rumah guru sambil belajar kelompok, sholat tarawih berjamaah sambil bercanda, dan banyak lain lagi. Cerita Hendrik dan Isam tidak selesai dalam satu malam, tapi berhari-hari lamanya. Kami dengan setia menunggu mereka bercerita saking asyiknya.

Aku, Candra dan Hendrik kemudian selalu main bersama. Kami hampir selalu bersama main sepulang sekolah. Biasanya kita ngobrol di rumah kami. Acak, kadang dirumahku, Candra atau rumah Hendrik. Seringnya sih di rumah Candra. Ada banyak kegiatan yang kita lakukan bersama, jalan-jalan ke Setra Duta, taman yang sekarang menjadi Nu Art, studionya seniman terkenal, Nyoman Nuarta. Kita betah menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Kita juga suka jalan-jalan ke BIP, beli baju lebaran bareng. hahaha.

Satu hal yang berkesan yang sering kami lakukan adalah jalan-jalan ke sawah, yang sekarang sudah hilang menjadi perumahan mewah Setra Duta. Sepulang sekolah kita jalan kaki ke sawah dan berteduh di saung luas yang teduh. di sana kami mengerjakan PR bersama, atau membaca buku cerita yang kami bawa dari rumah hasil sewa di taman bacaan. Kami seringkali menelusuri kawasan pesawahan. Menelusuri saluran irigasi, kebun, dan kampung-kampung sekitar. Pernah suatu hari hujan deras, dan kami sedang di saung (dangau). Terpaksa kami tunggu sampai reda. Saking lamanya aku sambil tertidur. Setelah hujan reda, kami pulang melewati pematang yang basah. Aku terpeleset dan pantatku kotor berlumur tanah. Hendrik dan Candra tertawa terbahak-bahak. Memori yang tidak mungkin terulang lagi.

Hendrik pindah rumah saat kita mulai kuliah. Pindahnya lumayan jauh, sehingga kami kesulitan bertemu. Sampai akhirnya kita bertemu setelah kami masing-masing telah berkeluarga. Kami lalu bertelepon bertiga, mengenang masa lalu. Hendrik tinggal di Ciamis, dan ternyata dalam kondisi sakit parah. Tak lama kemudian dia meninggal dunia. Innalillahiwainnailaihi rojiun.


Friday, April 14, 2023

Batu yang Kembali Lagi

 Wahh sudah 2023. Sampai sempet lupa caranya gimana posting di sini. Mohon maaf ya tentanghijauku. Dulu blog ini media buat mencurahkan segala kegelisahan dan wahana biar aku gak lupa mengingat sebuah kejadian.


Kejadian dua hari lalu membuat aku memutuskan untuk kembali menulis di sini.

Oiya. Biar keingetan, aku cerita dulu konteksnya ya (tsahh). Aku saat ini ngekos di Jakarta, dekat dengan kantor. Bisa jalan kaki aja, tapi hahaha lebih sering pulang pergi pake ojol sih. Tiap akhir minggu aku pulang ke Bandung dan kembali ke Jakarta di Senin subuh.

Dua hari lalu, seperti tidak ada yang berbeda dengan rutinitas aku. Seharusnya jam 4 sore aku sudah pulang ke kosan. Tapi entah kenapa aku agak males, undangan buka bareng temen-temen pun aku tolak. Sejam kemudian baru aku memutuskan pulang. Suasana sore pulang kerja di bulan puasa itu chaotic, teman-teman. Macet di mana-mana, motor pun dengan ganas ugal-ugalan. Ojol susah didapat. Akhinya aku memutuskan jalan kaki. Sekalian olah raga. Ternyata sama sekali tidak melelahkan haha.

Sampai kosan, ku lihat menu di warung sebelah masih sama, nasi bungkus rendang. Sudah hampir tiap hari itu yang jadi menu buka puasa dan sahur aku. Bosan ah, aku beli gorengan aja, nanti jam 7an baru ke mall yang deket aja, biar beda. Sekali-kali. Pas adzan maghrib, aku pun makan gorengan dengan susu ultra yang ada di kulkas. Terus video call-an sama keluarga di rumah, dan scrolling tiktok, dilanjut sholat maghrib. Jam 7 perutku agak aneh. Sepertinya efek gorengan, cengek, dan susu, pikirku. Duuh, perut melilit nih.

Aku kemudian banyak minum air putih. Tapi kok gak mereda ya, bahkan sekarang pinggang kiriku yang sakit. Rasa sakit itu makin lama kok makin meningkat. Berbagai posisi tidur sudah aku coba, miring kanan, miring kiri, telungkup, terlentang, berdiri, duduk. Terdengar berlebihan, tapi itu yang literally terjadi. aku pun mengambil sebutir panadol dan cepat-cepat meminumnya. Tapi rasa sakit tetap ada, bahkan tak bisa lagi aku tahan. Keringat bercucuran di dahi. Aku memutuskan harus ke rumah sakit. Aku pun kemudian memakai celana panjang dan pesan taksi lewat aplikasi MyBlueBird. Semoga kemacetan sudah mereda, harapku.

Tepat jam 8 taksiku datang, dan aku segera mengambil dompet dan mengunci pintu kosan. Bergegas naik taksi. nama drivernya Pak Ferdinan. Aku minta pak Ferdinan untuk segera maju. Tampaknya pak supir sudah mengerti, aku mengerang kesakitan sepanjang jalan. Lafaz takbir, tahlil, sampai jeritan gak jelas keluar dari mulutku. Pak sopir mencoba tenang dan mengendarai taksi secepat yang dia bisa. sialnya kemacetan di daerah Semanggi lagi gila-gilanya. Aku pasrah sambil mengerang kesakitan. Pak Ferdinan sampai membuka kaca dan minta pengendara motor untuk minggir karena mau ke rumah sakit. Aku pun berterima kasih. Pak sopir berkali-kali menginjak rem agar gak nabrak.

Akhirnya aku sampai UGD Rumah sakit Siloam Semanggi. Aku langsung dinaikan ke emergency bed, sambil tak henti mengaduh. Rasa sakitnya makin hebat. Aku langsung teringat peristiwa 10 tahun lalu, kala aku harus ke rumah sakit di Bandung, karena rasa sakit yang sama. Ceritanya ada di sini. Aku langsung menceritakan rasa sakitku ke petugas di sana, sambil bilang ada kartu asuransi di dompet di kantung celanaku. Aku pun didorong menuju ruang, sambil mengaduh dan berteriak. Sambil menahan sakit, pikiran berkelebat. Aku seperti bersiap mati. Teriakan berubah-ubah seperti orang gila. Aku ingat, aku menangis, tapi aku merasa percuma, karena tangisan tak mengurangi rasa sakitku. 

Kemudian entah kenapa rasa sakit itu sedikit mereda. Aku bisa sedikit tenang sambil memegang pinggang belakang kiri. Rasanya panas. Saat tenang tersebut, suster datang dan mencoba memasang infus. Aku berterima kasih. Suster kesulitan mencari pembuluh darahku, darah kemudian seperti muncrat dan membasahi tangan, dia berkali-kali meminta maaf. Aku bilang tidak apa-apa, karena memang tidak terasa sakit, apalagi dibandingkan rasa sakit di pinggangku. Setelah infus terpasang, rasa sakit hebat itu kembali lagi. Aku pun kembali mengerang dan menggeliat. Dokter datang dan bertanya apakah aku terbiasa memiliki penyakit batu di saluran kencing, dan aku menjawab historikal penyakitku secara efektif. Dokterpun kemudian menyiapkan suntikan penghilang rasa sakit.

Setelah suntikan dimasukan. Dalam hitungan detik, rasa sakit hebat itu pun hilang. Aku sangat bersyukur. Aku terdiam kelelahan sambil mengucap syukur. Aku pun akhirnya bisa menelepon keluargaku, dan menyiapkan rencana untuk sesegera mungkin ke Bandung untuk bertemu dokter urolog. Travel paling malam berangkat pukul 23. Saat itu pukul 22:00. Sepertinya tidak akan terkejar, karena aku harus ke kantor untuk mengambil laptop kerjaku.

Jadi sebetulnya rasa sakit ini yang aku sangat takutkan. Pada saat general checkup di bulan November 2022, ditemukan batu di ginjal kiriku. Berdasarkan hasil tersebutlah, aku kemudian minta agar batu dihancurkan dengan menggunakan ESWL. Aku pun kemudian mendaftar di RS Melinda, yang fasilitasnya lebih lengkap. Bahkan di rumah sakit tersebut ada seksi khusus urologi. Kebetulan dr Kuncoro pun berpraktik di sana. ESWL aku pilih, karena 10 tahun yang lalu aku sudah merasakannya. Prosesnya tak lama, hanya satu jam, dan langsung pulang tanpa rawat inap. ESWL pun kemudian aku jalani di bulan Januari. Ohiya, harganya sekarang 10 juta. Makanya, karena sudah ESWL, aku heran kenapa pinggang kiriku bisa sakit lagi.

Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter di rumah sakit Siloam, aku pun naik ojol, karena lebih singkat. Kemudian aku memesan makanan, dan makan, karena selain lapar, aku juga ingin secepatnya minum obat penahan sakit. Aku tahu, khasiat obat penahan sakit yang disuntikan tadi akan hilang. Makanya aku berencana untuk segera tidur, dan berangkat ke Bandung jam 4:30 subuh. Setelah tidur, aku terbangun sejam kemudian. Rasa sakit itu sedikit kembali, tapi untungnya dapat aku tahan. Aku pun buang air kecil. Semenjak rasa sakit itu datang, air kencingku hanya sedikit, seperti yang tersumbat. Aku pun mencoba kembali tidur.

Aku bangun jam 3 subuh untuk sahur. Aku makan seperlunya dan kembali minum obat penahan sakit. Aku bersiap-siap, dan memesan ojol untuk mengantarkanku ke kantor. Aku harus mengambil laptop. Ojol hanya bisa mengantarkan sampai gerbang, artinya aku harus berjalan kaki sampai ke gedung. Tapi tak apa, itu sudah biasa, dan syukurnya rasa sakit itu masih bisa ditahan. Dibantu pak security, aku pun bergegas mengambil laptop dan langsung ke pintu keluar gedung. Sebelumnya aku buang air kecil ke toilet. masih tersendat. Aku pun terus jalan kaki ke pintu keluar sambil pesan ojol untuk ke pool travel ke Bandung.

Pas jalan kaki, aku merasa pinggangku menjadi ringan. Apa ya, rasa mengganjal yang asalnya ada seperti lepas. Aku pun kemudian naik mobil travel menuju Bandung. Penumpangnya hanya aku sendirian. Sepanjang perjalanan aku tertidur. Aku masih kelelahan. Aku terbangun setelah sampai di Bandung pukul setengah tujuh. Setelah sampai rumah, aku ke toilet untuk kencing, dan alhamdulillah, airnya deras. Sepertinya batunya memang sudah turun.

Jam 10 aku langsung ke RS Melinda. dan, pendek kata, alhamdulillah, benar saja batunya sudah tidak ada, ginjalku pun tidak bengkak. Kalu bengkak, artinya penyumbatan masih terjadi. Duh... sungguh bersyukur tak terkira. Semoga saja aku tak harus kembali bertemu rasa sakit itu. Aamiin.


(NOT SO) FUN FACT : Masalah batu ini ternyata menduduki peringkat 9 dalam Top 10 Most Painful Conditions versi situs ini.

Wednesday, July 01, 2020

Kedekatan Baru

Aku tumbuh sebagai generasi yang lahir di masa 70an, masa kecilnya di era 80an, remaja di era 90an sampai dengan 2000an. Jadi mengalami beberapa perubahan jenis komunikasi dan juga evolusi teknologi. Masa kecilku dihiasi dengan surat menyurat atau korespondensi. Iya... menulis surat di kertas, terus dimasukin amplop dan ditempeli perangko terus dimasukin ke kotak pos atau ke kantor pos.

Sekarang rumahku berdekatan dengan kakak perempuanku satu-satunya. Hanya terhalang tiga rumah saja. Jadi aku sering datang ke rumahnya. Suatu hari karena dia sedang mencari-cari dokumen, tak sengaja kita menemukan surat balasan dari artis zaman dahulu. Hobby kakakku itu, jadi hobbyku juga yang memang sedang masanya ikut-ikutan. Aku termasuk sering menulis surat ke artis, seingatku yang paling sering adalah ngirim ke Micky Rainbow, artis cilik yang sangat kami suka. Kami mengoleksi kasetnya, bahkan kami berkali-kali menonton konsernya di Gelora Saparua. Duuh... jadi kangen almarhum Apih, yang memanjakan kami dengan membeli tiket konser dan mengantarkan kami. Padahal kami bukan keluarga yang sering mengobral pengeluaran yang tak perlu. Artis lainnya yang seingatku pernah aku kirim surat adalah Nova Mardiana, Julius Sitanggang dan yang paling jauh Michael Bolton waktu SMP. Oh iya... Micky Rainbow kemudian aku ketahui adalah tetangga isteriku hahaha.

Senang sekali rasanya kalau tiba-tiba di depan rumah ada tukang pos yang membawa surat balasan dari si artis. Beberapa tahun kemudian komunikasi dengan artis jadi semakin mudah dengan adanya social media. Entah itu Facebook, Twitter, Instagram atau yang lainnya. Komunikasi bisa sangat dekat, bahkan sayangnya, seringkali menjurus kurang ajar. Buat aku, social media ini bisa jadi media pemuas kangen artis lawas di era-era masa kecilku. Senangnya juga, artis-artis jadul ini biasanya followernya gak banyak-banyak banget, dan mayoritas ramah membalas komen jika sempat. Artis yang lumayan aku ikuti dengan intens adalah Bagoes AA, dulu sempat jadi peronel K3S (kelompok 3 Suara) bersama alm. Dian Pramana Poetra dan Dhedy Dhukun. Sebetulnya pertemuan dengan akun instagram beliau juga tidak sengaja. Terjadi setelah aku menemukan lagu Ada Yang Lain di youtube, lagu yang membekas di zaman SDku (walau isi liriknya sama sekali tak berhubungan haha) yang ternyata baru aku ketahui, dinyanyikan beliau.

Setelah itu, aku lumayan jadi tahu keadaan beliau sekarang. Itulah hebatnya social media, menumbuhkan sesuatu yang rasanya tak mungkin dijangkau masa lalu. Dengan menulis ini, aku merasa sangat tua sekali hahaha. Tapi apa daya, segala sesuatu pasti ada akhirnya, Dua hari yang lalu, Bagoes AA meninggal dunia. Innalillahi wainnailaihi roji'un. Berita ini ternyata meninggalkan sesak yang nyata. Begini ternyata impact dari hubungan manusia dengan manusia, walau kenyataanya aku tak pernah bertemu beliau. Tapi beliau dan karyanya termasuk yang memahat kenangan dan menjadi bagian memori menyenangkan buatku. Insya Alloh itu menjadi amal ibadah.
Terima kasih Oom Bagoes. Terima kasih banyak

Monday, February 11, 2019

Mencari Sekolah PG di Sekitaran Sarijadi Bandung

Aa Angga sebentar lagi sudah akan 3 tahun. Kita memutuskan sudah waktunya memasukan Angga ke sekolah PAUD/PG. Sebetulnya faktor ini didukung juga dengan Aa Angga yang gak punya teman sebaya di sekitaran rumah. Teman mainnya mayoritas sudah sekolah. Jadi, harapannya kalau sekolah, jadi punya banyak teman.
Ada beberapa kriteria yang aku tetapkan dalam memilih sekolah ini,
  1. yang pertama, harus dekat rumah, bisa diakses angkot, gak jauh dari rumah lah intinya. Akan sangat repot buat anak dan yang nganternya kelak kalau harus menempuh jarak yang jauh apalagi ditambah macet.
  2. Bahasa pengantar harus Bahasa Indonesia. Angga menggunakan bahasa sunda di rumah. Kadang bercampur dengan bahasa Indonesia. Jadi kalau sekolahnya menggunakan pengantar bahasa Inggris, menurutku akan terlalu kompleks. Apalagi sepertinya akan membuat kesulitan komunikasi dengan anggota keluarga kami, nenek, uwak, sepupu, misalnya.
  3. Yang paling penting, sekolahnya bersih dan anaknya harus betah sih juga kurikulumnya jangan berat-berat. Ini kan tujuan utamanya buat main yang terarah. Kami berpikir kasihan kalau terlalu dijejali banyak visi misi. 
TK Aisyiyah, Jl. Sarimanah
ini yang pertama kali kami datangi. Lokasinya sangat strategis, dan sebetulnya kami sudah mendengar banyak tentang sekolah ini, karena keponakan-keponakanku sekolah di sini. Image yang aku terima sih, sekolah ini kekeluargaan, hubungan dengan guru sangat erat.
Tapi mohon maaf, aku gak sreg dengan keadaan sekolahnya. Sepertinya sekolahnya sedang proses pembangunan. Mayoritas fasilitas bermain tidak bisa digunakan, agak kotor dan aroma debu menyengat, warung di dalam sekolah, dan WC yang kotor dan bersatu dengan orang dewasa. Kondisi dalam kelasnya, waktu kita intip sih lumayan bersih. Kami pun bertemu dengan salah seorang staffnya yang cukup ramah. Biayanya memang paling murah. Kami memutuskan ini bukan sekolah yang kami cari.

ini rincian biayanya:


Kinderfield, Jl. Ters. Prof. DR Sutami
Sebetulnya aku ragu dengan keberadaan sekolah ini, soalnya dari luar gak ada petunjuk apapun, tidak ada nama plang sekolahnya, cuma ada sekumpulan ibu2 yang tampaknya sedang nunggu anak sekolah. Akhirnya kami nanya ke satpam yang ada di luarnya. Satpam pun mempersilahkan kami masuk dan mempertemukan dengan tim Kinderfield. Bangunannya ruko luas, baru dan bersih. Sayangnya Angga gak masuk ke ruangan, karena sedang tidur di mobil. Yang ikut malah adiknya. Sekolahnya lengkap, kelas, ruang bermain, WC anak yang terpisah dengan staff, perpustakaan, ruang komputer segala. Hanya saja bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Ada kelas untuk anak dari 6 bulan segala. Tuition Fee nya tidak per bulan, melainkan per 10 minggu. 5 juta per 10 minggu, atau 2 juta per bulan.. err mahal juga yak haha. Kita dipersilahkan melihat kegiatan kelas, anak-anaknya ramah dan terlihat happy.

Ini rincian biayanya (biaya registrationnya sedang ada diskon 50%)


Sekolah Bianglala, Jl. Sari Endah
Aa Angga sudah bangun, dan ikut masuk ke sekolah. Kami bertemu tim pendaftaran, dan diterangkan mengenai kurikum sekolah ini yang mengikuti kurikulum nasional ditambah kurikulum khas sekolah. Walau ini sekolah umum, tapi visi misinya sekolah Islam. Setelah ngobrol, kita touring ke kelasnya, lucunya Aa Angga langsung ikut main sama anak-anak di sana. Walau tekstur tanah menurun (artinya nanjak kalau perjalanan baliknya hehe), fasilitas di sini lengkap, ruang kelas yang juga ruang bermain, wc yang bersih dan dekat dengan ruang guru, sehingga lebih terkontrol. Sepertinya Angga menyukai tempat ini. Sekolah ini menyediakan sekali free trial dengan appointment terlebih dahulu. Mari kita lihat kelanjutannya bagaimana setelah Aa Angga ikutan trial ya hehe.


Kelompok Bermain & TK Islam Terpadu At Taqwa, KPAD Gegerkalong
Ini adalah sekolah yang terakhir kita datangi. Lokasinya sangat familiar denganku, karena sekolah ini tempat dua ponakanku sekolah mengaji, dan aku yang sesekali mengantar jemput. Bangunannya tidak banyak berubah, sederhana tapi hangat. Walau sederhana, tapi sangat bersih, toiletnya pun bersih. Tempat bermainnya outdoor di belakang sekolah yang rimbun. Kurikulumnya kurang lebih sama dengan Bianglala akan tetapi At Taqwa lebih menitikberatkan pada agama islam, jadi kalau masih PG masih di level pembiasaan.

Ini rincian biayanya (maaf kusut dimainin de Letra  hehe)



Jadi sekolah manakah yang nantinya berjodoh? Bismillahirrohmaanirrohiim... semoga diberikan yang terbaik. Aamiin.

Friday, May 25, 2018

Aku dan Candra


Gara-gara nanya judul buku berkemah yang biasa kita baca waktu kecil dulu, akhirnya aku terlibat dalam chatting nostalgia tak berkesudahan dengan Candra, sahabatku dari zaman aku kecil dulu. Sontak saja memori demi memori zaman dahulu meluncur deras mengundang gelitik kelucuan.

Candra pindah ke Sarijadi saat kami kelas 3 SD. Tak lama setelah itu kami pun bersahabat. Sampai kemudian rumahnya bisa dibilang jadi rumah aku juga hehe. Banyak hal yang kita lalui bersama-sama sampai bertahun-tahun kemudian. 

Aku bisa naik sepeda diajarin Ujang, tetangga yang lebih tua. Tapi lancarnya bareng Candra. Apalagi pas Candra punya sepeda, warna hitam bermerk Marubeni. Kita sering boncengan jalan-jalan ke semua blok di Sarijadi. Boncengan karena aku gak punya sepeda hehe. Bertahun kemudian, Candra juga lah yang mengajarkan aku naik motor, pake motor vespanya Papap, ayahnya Candra. Walau gak punya SIM, kita sering jalan-jalan ke Pasteur.


Kami tidak pernah satu sekolah, baik SD sampai kuliah. Jadi kegiatan kita memang di rumah saja. Bahkan rasanya, selepas waktu sekolah, aku lebih sering menghabiskan waktu di rumahnya Candra. Ruang keluarganya seringkali kami jadikan tempat ngobrol kesana kemari. Kadang bersama Mamah, Papap dan Anggia, kakaknya Candra. Bahkan aku memiliki spot khusus di sofa cokelat. Spot favorit dekat TV. Hahaha.


Candra punya kucing, yang seingatku walau sering berganti, namanya tetap Barong. Ceritanya yang suka kucing cuma Candra, Anggia sama Papap, kalau mamah kurang suka walau gak anti juga. Alasan ga suka soalnya suka jorok. Nah suatu hari si Barong eek (maaf!) di kamar mamah. Tepat di tengah kasur! Untung saja Anggia dan Candra yang pertama kali menemukannya. Mereka cepat-cepat menutup pintu takut mamah yang sedang di dapur tahu. Mereka berbisik-bisik berdebat bagaimana caranya agar mamah gak tahu. Mereka takut amukan mamah yang memang galak dan lebih takut lagi si Barong diusir.  Sialnya kemudian mereka mendengar suara langkah mamah yang berjalan ke arah kamar. Mereka semakin ketakutan. Akhirnya Candra meraup eek kucing itu, saking paniknya. Genggaman itu disembunyikan di belakang badannya sambal pelan-pelan berjalan keluar. Hahaha. 


Pada saat kita kelas 1 SMP, kita sama-sama sekolah siang. Masuk jam 12. Oiya, aku sekolahnya di SMP 15, Jl Setiabudhi sedangkan Candra di SMP 26 masih di Sarijadi. Nah sambal nunggu masuk, kita suka main bareng. Kalau gak baca cerita bareng, kita juga sering main yang aneh. Yang paling aku inget adalah kita main bakar-bakaran. Pakai lilin kita membakar banyak tanaman. Juga mainan yang kita anggap rusak. Candra juga pernah membuat roket dari isi pulpen. Isi pulpen jadul ada yang terbuat dari material logam. Nah logam itu kemudian diisi ujung korek api yang dikerik sampai penuh, Setelah penuh, kemudian dibuat semacam sumbu. Untuk meluncurkan roket itu, sumbu tinggal dibakar. Saat itu aku sedang membaca komik di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara ledakan di kamar Candra. Aku dan mamah yang sedang masak bergegas menuju sumber suara ledakan. Di sana kita melihat Candra yang berdiri dengan muka pucat memandang warna gosong di dinding. Ternyata dia meluncurkan roket buatannya di kamar itu Hahahaha. Mamah melotot sambil menghardik: TEU LUCU!!


Kami sama-sama memiliki Gimwot (Game Watch), punyaku Nintendo Donkey Kong, punya Candra bermerk Casio, Submarine Battle. Kadang kita tukeran. Candra suka membawa gimwot itu ke sekolah. Suatu hari sepulang sekolah dia masuk ke rumah sambil menunduk bermain gimwot. Mamah nanya, mana tas sekolahnya. Candra kaget. Karena keasyikan main gimwot ternyata tasnya ketinggalan di angkot. Dia pun kemudian dihukum harus diam di luar di pinggir jalan nunggu angkot yang lewat dengan harapan supir angkot pas kembali bisa mengembalikan tas itu. Syukurlah setelah menunggu lama, si supir baik hati mengantarkan tas itu.


Kita pun memiliki ritual camping pas liburan sekolah. Tapi kemahnya Cuma di halaman rumah Candra hahaha. Tendanya lumayan besar, bisa menampung 4 orang. Biasanya kita bertiga ditambah Hendrik. Tenda itu ga tahan air, jadi kita harus menambalnya dengan karung yang dicapit pakai capit jemuran, Terus agar kita bisa tidur nyaman, alasnya menggunakan bata yang disusun, terus dipasang papan. Rasanya sangat asyik sekali. Tapi kalau dilihat dari luar lebih mirip rumah kumuh sih. Momen paling menyenangkan adalah kalau sudah malam, tiba-tiba datang Mamah dengan membawa nasi goreng masing-masing satu piring. Enaaaakk!!


Saat paling zonk adalah kalau aku ke rumah Candra pas harus bantuin motongin ekor toge hahaha. Saat ini kita sangat sangat jarang ketemu. Apalagi setelah aku bekerja ke luar Bandung. Kita juga sudah sibuk dengan rumah tangga masing-masing. Candra sudah beranak dua, menuju tiga. Aku pun punya dua bayi. Paling kita sekarang Cuma chatting. Itu pun jarang juga. Kangen juga ketemuan.


Tuesday, February 13, 2018

Ritual Sabtu Minggu

Setelah hidup terpisah selama weekdays, otomatis ritme pun berubah. Walau kurang lebih sama seperti kehidupanku dulu di Palembang dan Medan, tapi tetap saja berbeda. Sabtu Minggu sudah aku plot sebisa mungkin hanya untuk keluarga, untuk isteri dan anak-anakku. Oiya sekarang anaknya jadi jamak, karena Desember kemarin Aa punya adik perempuan bernama Letra Fatimah Purwana.

Sabtu Minggu menjadi full. Sulit untuk menggagendakan untuk kepentingan lain. Tapi masih bisa kalau untuk kepentingan keluarga besar, seperti nganter Apih kontrol ke rumah sakit, ke undangan, atau acara keluarga lainnya. Kalau tak ada, aku di rumah atau pergi ke luar bersama.

Selama dua hari itu, Aa Angga, anak pertamaku nempel nyaris tak bisa lepas. Mandi, makan, cebok, main, ke mesjid ingin bareng sama aku. Priceless moments. Aku menyukai momen ini, walau terus terang memang capek hehe. Selalu ada momen lucu dan mencengangkan kalau aku bersamanya. Walau ada asisten rumah tangga, Aa suka jadi judes, ga mau sama teteh di rumah. Maunya sama aku.

Nah, kalau Minggu malam, tibalah saatnya aku kembali ke Jakarta. Dari sore aku bilang sama dia kalau nanti malam aku kembali ke Jakarta buat kerja, Aa yang pinter, nurut sama ibu. Walau dia terlihat tak menyimak, kadang-kadang, ternyata dia mengerti. Kalau aku sudah dijemput taksi, dia mau sun dan dadah gak nangis. Aku masih takjub dengan kenyataan ini.

Yang soleh ya Aa sayang.

Wednesday, October 11, 2017

Lanturan Kewarasan

Jadi... setelah kepindahan pekerjaan aku dari Bandung ke Jakarta, aku memutuskan untuk setidaknya mencoba membawa keluargaku ke Jakarta di tahun pertama. Kami pun memutuskan tinggal di apartemen, karena selain agar jarak ke kantor tidak terlalu jauh, isteriku juga tak jauh mengakses supermarket, warung, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Semua ada di sana.

Kami pun hidup baik-baik saja. Ada sih beberapa penyesuaian seperti hidup tanpa tanaman, sempit dan bising hehe. Tapi takdir berkata lain, baru sekitar dua bulan hidup bersama di Jakarta, isteriku alhamdulillah hamil lagi. Hamil kali ini agak lumayan repot, mual dan maboknya lebih lama. Belum lagi ternyata anak kami terkena fimosis, jadi harus dikhitan. Ditambah lagi kami harus menghadapi dilema apakah anak kami harus berhenti mengkonsumsi ASI atau diteruskan sembari hamil.

Setelah memperhitungkan baik buruknya, kami pun berkeputusan untuk berbeda rumah di weekdays. Artinya aku pulang setiap Jumat dan kembali ke Jakarta Senin dini hari. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah kami menyelesaikan permasalahan satu per satu. Tak terasa dua bulan lagi, insya Alloh keluarga kami bertambah anggotanya, ceritanya pasti akan berbeda. 

Tapi sebenernya aku mau cerita apa ya, sebenernya? hahaha

Kalau ada anak isteri di rumah, pada saat kita kita pulang, kita akan dipaksa memperhatikan mereka, terlibat dan berinteraksi dengan mereka, Kita yang berpikir tentang bekerja dan segala permasalahannya akan dipaksa berubah episode pada saat membuka pintu rumah. Suka ataupun tidak. Walau kemudian beberapa jam atau beberapa menit kemudian, bisa jadi kita kembali membahas pekerjaan di kantor, tapi tetap saja suasananya berbeda.

Berbeda dengan tinggal sendiri. Seringkali aku masih menelepon dan membaca group chat, maupun email sampai mendekati kantuk. Ini salah. Gak sehat buat kewarasan, menurutku. Sendiri ataupun tidak, kita memerlukan suasana lain dalam keseharian. Ini mungkin ya yang membuat kita depresi, memikirkan hal yang sama terlalu lama. Adakalanya kita harus dipaksa melarikan diri dan tak terlalu memikirkannya untuk sementara waktu. Ini yang aku percayai.

Walau hal yang lain itu tidak berarti menyenangkan, tapi setidaknya kita membahas yang yang tak sama. Tak jarang, setelah sampai apartemen, aku video call dengan isteri dan anakku, membahas hal yang sangat penting maupun hal yang tak tentu arah, seperti tetangga yang suka menyanyi keras-keras sambil naik motor di depan rumah kami, berandai-andai jika punya uang satu milyar, kenapa kutil di pahaku semakin membesar dan hal lainnya.

Jika selesai video call, sebisa mungkin aku melakukan hal untuk kesenangan diriku sendiri, terlepas dari kepenatan pagi sampai sore tadi. Biasanya nonton tv, masak, maupun maen game Civilization. Game ini sudah aku mainkan sejak SMA, hahaha. Walau sudah berevolusi sampai Civilization VI, aku tetap memainkan yang seri keempat. Semua itu hiburan buatku. Sangat jarang sekali kalau sudah sampai apartemen aku keluar. Males banget. Memang sih lebih monoton dibanding dengan kalau ada anak isteri. Tapi dengan begini setidaknya kewarasanku terjaga.

Gak jelas yah postingan aku ini, ngelantur kemana-mana hahaha. Maaf. Ini tulisan biar masih tetap waras di tengah sosialisasi produk yang membuat aku ngantuk setengah mati hahaha.

Thursday, February 02, 2017

Mula

Selalu ada permulaan untuk sesuatu hal. Tak ada yang tiba-tiba saja mahir, tiba-tiba saja ahli. Dan begitu pula kali ini. Ini adalah permulaan saya hidup di kota lain selain Bandung sebagai keluarga.

Segala rencana tersusun. Segala resiko coba dihadapi. Walau pada akhirnya... segalanya diserahkan pada Alloh.

Wish me... err wish us luck.