Tuesday, January 03, 2012

Another "Tahun Baru"

Disinilah aku. Di hari ketiga di tahun 2012. Syukur Alhamdulillah. Banyak yang bertanya Tahun Baru dimana dan ngapain. Tahun baru kali ini aku diam di kosan saja. Nonton DVD dan main game. Tidak ada yang berbeda dengan hari-hari libur lainnya.

Aku memang tak pernah ada "ikatan khusus" dengan Tahun Baru. Perayaan tahun baru yang aku ingat yang memang dengan niat aku rencanakan adalah zaman masih SMA di Bandung. Aku rayakan di rumahnya Candra, sahabatku dari kecil. Kita niat ngumpulin uang segala. Siangnya kita beli sosis, jagung, daging ayam dan bumbu barbeque merk Prego. Kita berdua memang suka masak. Kadang-kadang orangtua kita memang gak masak. Kita bikin bumbu tambahan sesukanya kita. Terus kita bakar di halaman rumah Candra. Yang aku ingat, masakan kita kala itu sangat enak! Si Anggia, kakaknya Candra dan saudara-saudaranya pun berpikiran sama.

Acara tahun baru itu kemudian gagal, ketika tiba-tiba tetangga kita berdiri di teras sambil memegang karton bertuliskan sesuatu. Tidak sepatah katapun. Hanya mematung sambil memperlihatkan karton itu, yang ternyata bertuliskan: "jangan ribut". Agak menyeramkan. Kita pikir tetangga kita kesurupan. Pesta pun bubar sebelum jam 00:00. Selain itu tak ada acara tahun baru lain yang aku ingat.

Padahal moment tahun baru ini sebetulnya suka membuat aku ingin belanja. Hahaha. Belanja pernak pernik buat ngeberesin kamar atau ngeberesin meja kerja. Walau sejarah mengatakan, kamar atau meja itu tak lama kemudian kembali berantakan. Tapi sepertinya "niatan" untuk beres-beres itu menyenangkan.

Tapi bagaimanapun itu, pergantian kalender ini layak untuk disyukuri. Karena aku, kita, masih sehat wal'afiat sampai detik ini. Selamat Tahun Baru semuanya!

Tuesday, December 27, 2011

Not So Handsfree


Weekend kemarin ke Bandung. Diantara ketemuan dengan banyak orang, daftar titipan dan rencana acara yang harus didatangi, aku berhasil menemukan sebuah kesempatan untuk aku sendiri.

Ya, hanya aku sendiri. Pergi ke tempat yang tak direncanakan dan tersesat pun tak jadi masalah.
Dan terdamparlah aku di sebuah toko di Jalan Riau. Disana aku hanya ingin melihat-lihat saja sebenarnya. Tapi ternyata aku malah menemukan sebuah handsfree berbentuk telepon berwarna hijau.

Idealnya handsfree itu artinya sesuatu yang gak harus dipegang. Jadi tangannya bisa leluasa bergerak. Tapi si hijau ini malah mengharuskan untuk memegangnya. Atau bisa juga dikempit dengan pipi dan bahu.Tapi aku tak peduli juga sih. Aku bahagia memilikinya. Hehehe.

Friday, November 25, 2011

Another Goodbye

Tadi siang, sepulang sholat Jum’at, diantara hiruk pikuk pekerjaan, kakakku menelepon. Ah, paling juga urusan minjem mobil atau sebangsanya, pikirku. Tapi ternyata, bukan, kakakku ngasih tahu kalau Mumuh meninggal.

Pembicaraan berlangsung singkat, karena aku tak percaya. Mumuh? Mumuh temanku? Tapi, Mumuh mana lagi. Aku gak punya banyak teman bernama Mumuh. Karena sedang di depan komputer, langsung kubuka facebooknya. Ternyata wallnya sudah penuh dengan ucapan bela sungkawa. Sambil membaca, ada perasaan aneh dalam diriku. Perasaan seperti ada sesuatu yang terrenggut entah apa dari tubuhku. Tenggorokanku panas, air mataku mengalir deras. Aku benar-benar ingin menjerit tapi suaraku tak kunjung keluar.

Sambil mata tak lepas dari layar komputer, jariku mengklik fotonya satu persatu. Masih tak percaya temanku telah pergi.


Dia satu kampus denganku, satu fakultas, beda jurusan, bahkan beda angkatan. Aku Administrasi Negara, dia jurusan Antropologi. Aku anak 95, dia angkatan 94. Kami disatukan oleh KKN—Kuliah Kerja Nyata. Kami satu kelompok. Di desa Conggeang Kulon, di daerah Sumedang. Banyak cerita tentang kami disana. Kami sama-sama gendut, akibatnya kami gak kebagian kamar tidur yang memang hanya dua. Akhirnya kami terdampar di kursi ruang tamu. Sambil menunggu terlelap, kami sering saling bercerita dan bersenda gurau. Dari sana pula kami akhirnya tahu, ternyata orangtua kami sama-sama dari Ciamis. Bahkan lebih parahnya lagi, ayah kami ternyata saling bersahabat dan pernah sama-sama menghabiskan masa kecil di Pasirluyu. Aku kebagian tugas mengajar bahasa Inggris di SD Conggeang, sedang dia mengajarkan karate. Tapi sebetulnya itu hanya kamuflase. Sebenarnya kami lebih banyak bersenang-senang disana dibanding mengerjakan tugas. Kami lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain kartu, mandi di cipanas dan berendam di mata air Cipulus dikala hari sedang panas. Hahaha.

Setelah KKN berakhir, kami nyaris tak pernah bertemu. Paling bertemu kembali pada saat reunian dengan pemuda Conggeang yang datang ke Bandung. Kami sibuk dengan kuliah masing-masing. Sampai kami lulus satu persatu, tak ada lagi pertemuan yang kami ingat.

Sampai suatu saat di tahun 2003/2004 kami bertemu kembali. Dia telah menikah dan bekerja di kantor pemda. Kami pun memutuskan bertemu. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Dia sangat kurus dan memakai kacamata. Aku nyaris tak mengenalnya. Dia pun sampai tertawa geli melihatku yang tak henti melihat wajahnya dan terus bertanya kenapa. Dia pun bercerita dia terpaksa harus diet ketat karena dia menderita diabetes. Setelah itu kami mulai berhubungan lagi lewat telepon atau facebook. Bahkan dia dan Alif, anak tunggalnya pernah datang ke rumahku. Kemudian, seingatku pertemuan secara fisik terakhir tahun lalu di Warung Pasta, Jl. Ganesha.

Kami memang telah lama tak bertemu. Tapi kabar kepergiannya seolah membawa kembali ingatan dahulu dan menggiring penyesalan demi penyesalan. Aku tak pernah bertemu isterinya, padahal adik kelasku di SMA. Aku tak pernah ke rumahnya, dan seribu “Tak pernah” lainnya. Tiba-tiba saja aku sangat ingin bertemu dengannya. Sangat sangat sangat ingin. Sesuatu yang tak pernah lagi bisa aku lakukan.

Kerinduan ini pula yang menuntun aku untuk menuliskan posting ini. Berharap untuk sedikit mengobati dengan mengenangnya.
Terimakasih banyak Muh, atas segala canda tawa yang kau bagikan.
Terimakasih atas segala cerita yang kau sampaikan.
Semoga Alloh menempatkanmu ditempat terbaikNya.

Selamat jalan kawan.
Sesungguhnya kita milik Alloh dan akan kembali kepadaNya.

Semoga yang ditinggalkan mendapat kesabaran. Aamiin.

Tuesday, November 01, 2011

Meknes dan Volubilis dan Different Casablanca

Di pagi hari kami dijemput seorang kakek yang berjalan agak tertatih. Dia membawa mobil sedan Mercedes tua yang lega dan sangat nyaman. Dengan bahasa Inggris terbatas dan terbata-bata dia memperkenalkan diri. Namanya Ayoub. Sambil menunjuk foto yang dia simpan di dashboard, dia menceritakan bahwa dia anggota kesebelasan tim nasional sepakbola Maroko di Piala Dunia 1986. Football player now: much money. But then: no money, ujarnya.

Kami menyukai kakek Ayoub ini. Dia ramah, tidak terlalu banyak ngomong. Sangat efektif. Dia suka tiba-tiba meminggirkan kendaraan, kemudian menunjuk ke arah luar: Look! Beautiful panorama. Out. Out. Hahaha. Pemberhentian pertama kami adalah sebuah danau. Disana ada yang jualan plum dan jeruk. Kami membeli plum yang dijual per ember. Plum ini hidangan segar buat kami bertiga.

Sampailah kami di Volubilis. Sebuah kawasan reruntuhan kota tua Romawi. Aku sangat suka disini. Untung saja cuaca bersahabat. Terang dan panas, tapi tidak menyengat. Aku menyusuri bagian demi bagian sambil membaca buku DK yang dibeli Rony di Dubai sekitar tahun 2007. Ada ba
nyak bagian yang menarik. Mozaik-mozaik bertebaran. Pilar-pilar dan sisa ruang-ruang, seperti pemandian, basilica dan sebagainya. Disini aku sempat kelelahan. Kawasan reruntuhan ternyata sangat luas.


Setelah puas disana, ka
mi melanjutkan ke tempat selanjutnya. Kami sempat melewati Moulay Idris, tapi tidak untuk berhenti disana. Sangat sayang, soalnya kota ini kelihatannya indah dan menyenangkan. Tapi waktu kita memang terbatas, kami harus ke Meknes.

Di Meknes kami makan siang terlebih dahulu.
Kami makan di sebuah kafe di atap sebuah bangunan. Makanannya enak dengan hamparan kota Meknes sebagai pemandangan. Kemudian berkunjung ke istana raja, dan sebuah mesjid yang sangat bersahaja. Aku sangat betah di mesjid itu. Sangat kuno dan tenang. Beda dengan mesjid Fes yang hiruk pikuk. Kota Meknes ini boleh dibilang sangat sepi. Paling sepi diantara kota-kota yang kita kunjungi. Disini kami melihat (sepertinya) penduduk lokal yang menikmat kotanya sendiri di pinggiran danau kota Meknes. Kotanya cantik dengan bangunan kuno yang sangat kaya akan detail.

Kami pulang ke Fes sekitar jam 15:00 dan
sampai disana jam 17:00. Kami menghabiskan waktu di jalan dengan tidur. Rony sangat senang dengan si kakek Ayoub ini. Kami memutuskan untuk memberi tips yang besar. Si kakek sampai mengelus kepala Rony pada saat kami berpamitan.

Keesokan harinya kami harus ke Casablanca untuk pulang. Kami memutuskan untuk tidak lagi menginap di hotel yang sama. Hotel terakhir harus hotel yang bagus. Kami pun menginap di hotel yang dekat dengan stasiun kereta api. Hotel Ibis. Setelah cek-in kita langsung memutuskan untuk jalan ke Mesjid Hasan II lagi. Tapi kali ini kami tak mau lagi menjalani kebodohan yang sama. Kami naik taksi. Dan ternyata ongkosnya hanya 20rb rupiah saja. Kami menertawakan kebodohan i
tu.


Kali ini kami bisa leb
ih menikmati keindahan mesjid ini. Rony bisa memfoto dengan lebih santai. Saya pun sempat duduk-duduk di pelataran mesjid yang kala itu sangat ramai dengan penduduk lokal. Kami sempat membeli jajanan disana segala. Pulang menuju hotel kita masih sempat membeli KFC. Casablanca hari itu terasa sangat menyenangkan.

Sayangnya liburan tlah usah. Kami pergi ke bandara keesokan harinya. Setelah sarapan di hotel kami berjalan kaki ke Gare de Casa Port. Stasiun kereta api tujuan bandara. Oh iya, selama kami di Maroko, sarapan di hotel manapun selalu enak. Benar-benar enak!

Selamat jalan Maroko
*fiuh... setelah dua tahun cerita ini akhirnya selesai. Foto menyusul ya :)


From Fes To Middle Atlas

Aku sangat menikmati keseharian di kota Fes. Setiap pagi kami duduk di taman kota yang hangat sambil mengamati burung yang banyak berkeliaran disana. Kami juga melihat penduduk kota yang berlalu lalang di taman itu. Sore harinya kami berkeliling mengamati etalase toko-toko yang menarik. Dari mulai toko baju, buku, dan tentu saja toko makanan dan toko souvenir. Ada sebuah toko souvenir yang dikelola oleh suami isteri warga negara Amerika. Disana pula lah kami bisa menggunakan bahasa Inggris dengan leluasa. Hahaha.

Walau betah,
sayang juga rasanya kalau hanya berdiam diri di kota itu. Agak sulit menemukan tour atau pengelola tour dengan tujuan keluar kota Fes. Kami berkeliling mencari biro travel tapi tidak menemukannya. Pasangan Amerika pun menyarankan kami untuk menyewa mobil. Karena bingung, akhirnya kami pun menelepon Amin yang kami temui di kereta dari Tangier. Lalu kami mengunjungi kawasan Middle Atlas. Amin sebagai guide amatir ditemani seorang sopir. Kami mengunjungi kawasan pedesaan kaum Bedouin, kami masuk ke salah satu rumah mereka. Rumah itu sangat sederhana. Sebuah gua yang dipahat menjadi kamar. Didalamnya sangat dingin. Kami dijamu tuan rumah dengan segelas teh mint. Tuan rumah itu sendiri adalah seorang nenek yang sudah sangat tua, akan tetapi masih terlihat sangat sehat. Kabarnya di desa ini sehat-sehat, bahkan klinik saja sampai tutup saking gak lakunya.

Ka
wasan middle Atlas sendiri tidak terlalu istimewa menurut aku. Perjalanan dan pemandangan didominasi oleh kawasan padang rumput yang luas. Kemudian bertemu sebuah danau dengan banyak kuda dan keledai. Kami sempat sebal dengan ulah sang sopir yang membuat kami berjalan cukup jauh mencari mobilnya. Ternyata dia sedang bertamu ke penduduk desa untuk membeli telur dan hidangan semacam yoghurt yang rupanya mirip dedak cair.


Kami kemudian diajak ke sebuah
hutan yang penuh dengan monyet. Turis lain sangat senang melihat monyet-monyet itu. Sedangkan kami melihatnya dengan sebal. Hahaha. Yang kayak ginian mah banyak di Bandung juga! Kadang kala padang rumput itu dihiasi banyak sekali bunga poppies. Kami minta berhenti untuk berfoto di hamparan bunga-bunga itu.

Keesokan harinya kami memutuskan untuk ke Meknes d
an Volubilis yang menurut peta dekat dengan Fes. Tapi sekali lagi, kami kesulitan menuju kesana. Akhirnya kami tanya ke resepsionis hotel yang mukanya datar dengan kumis mirip Hercule Poirot. Tanpa jawaban dia langsung menelepon seseorang dan menyuruh kami untuk bersiap keesokan harinya.



Thursday, October 27, 2011

Fes. Kota Paling Menyenangkan di Maroko.

Beberapa temanku menanyakan bagaimana Maroko. Negara yang aku kunjungi dua tahun lalu itu. Banyak yang ingin kesana juga ternyata. Mayoritas menanyakan itinerary nya. Beberapa tulisan tentang perjalanan itu sudah aku posting disini, disini, awal di Casablanca disini, dua sisi Marrakesh disini dan disini. Cerita tentang Ken Brekke disini. Sebenarnya setelah postingan tentang Ken itu, kami berlanjut ke Tangier, Fes dan Meknes kemudian balik lagi ke Casablanca. Aku jadi malu karena sudah terlalu lama untuk menyambungnya kembali. Tapi biar melengkapi ceritaku ke sana, yang mudah2an bisa berguna (ciehhh) buat teman2ku yang mau ke Maroko, baiklah aku lanjutkan kembali.

Kali pertama kami menjejakkan kaki di stasiun kereta
Marrakesh, kita langsung beli tiket Marrakesh - Tangier. Big Mistake. Kita menyertakan Tangier atas beberapa pertimbangan. Aku ingin ke kota ini karena Bourne Supremacy shooting disini (hehe), selain itu aku ingin ke Gallerynya Delacroix yang menurut internet ada disini. Tapi semua itu berubah, ketika Ken menyatakan ketidak setujuannya. Menurutnya kota itu tidak baik untuk turis. Kejahatannya terlalu tinggi. Hal ini terang saja membuat aku membatalkan Tangier. Tapi kita tetap pergi kesana. Karena tiket kereta sudah dibeli.

Kami pergi malam dari Marrakesh dan sampai ke Tangiers pagi hari. Lumayan juga gak harus nginep di hotel Karena membatalkan acara di Tangiers, kam
i langsung membeli tiket ke Fes. Untungnya kami tak harus menunggu lama, sekitar dua jam saja. Stasiun Tangiers terletak di pinggir pantai. Cuaca yang sejuk membuat kami betah duduk disana sambil menunggu McDonalds buka. Di pinggir pantai tersebut banyak orang berolahraga pagi. Jadi samasekali gak bikin bosen.

Kami naik kereta kelas biasa menuju Fes. Perjalanan itu menyita fisikku. Aku kelelahan. Sebagian besar perjalanan aku habiskan dengan tidur. Di kereta itu pula aku melihat ibu-ibu berbaju panjang dengan kain buatan Indonesia. Ibu-ibu itu tiba-tiba kejang entah kenapa. Aku sumpah takut beliau meninggal di kereta. Anak-anaknya mengipasi beliau dengan majalah sambil menangis. Di kereta itu pula aku bertemu dengan Amin yang menawarkan berwisata di Fes. Dia memberikan nomor teleponnya. Buku Lonely Planet yang kami pegang menginformasikan agar tidak mengambil guide dari kereta. Tapi gak ada salahnya kalau sekedar ngobrol, menurut aku.

Kami belum pesan tiket di Fes. Tapi untungnya Ken, merekomendasikan hotel Splendid. Hotel yang murah dan dekat dengan pusat kota. Hotelnya lumayan enak, ada kolam renangnya, fasilitas yang sebetulnya tidak berguna. Kami tak berniat menggunak
annya di udara sedingin ini. Sampai di hotel aku langsung tidur, tak kuat untuk bergerak. Selama aku tidur Rony menghabiskan waktu dengan membaca Donal Bebek. hahaha. Kasian sekali.

Syukurlah setelah tidur, badanku lumayan terasa ringan. Kita pun menelusuri kawasan sekitar hotel. Di Fes ini tidak ada shopping mall. Yang ada jalan yang tidak terlalu besar dengan untaian toko dan cafe di sisi-sisinya. Aku menyukai kota ini. Kota ini adalah bagian terbaik dari acara aku selama di Maroko. Kotanya santai. Tidak terlalu touristy. Tapi tidak sepi juga. Kami mencari makanan dan minuman. Aku membeli qur'an terbitan Maroko juga di kota Fes ini. Bahkan kami pun menyempatkan makan Moroccan Pie disini. Yumm..

Di hampir semua kota di Maroko, cafe akan ramai di sore hari. Sekitar jam 16. Cafe disana penuh dengan laki-laki yang (sepertinya) minum kopi dan teh mint saja. Perjalanan tour di Fes dimulai keesokan harinya. Sebetulnya atraksi tour paling utama di kota Fes ini adalah di kawasan Medina (kota tua). Medina di Fes ini terbesar kedua di dunia setelah Damascus. Kita bisa menyewa guide di kantor pos dengan membayar biaya yang tak terlalu mahal. Kita mendapatkan seorang guide yang profesional, memakai baju resmi, berdasi dan memakai tanda pengenal. namanya Mouhammed. Sebelum memulai tour, kita disarankan membawa minum dan berhati2 terhadap pencuri.

Medina dimulai dari sebuah istana raja yang besar dan dikawal tentara. Tapi kita boleh berfoto ria di luarnya. Kemudian ke kawasan hunian Yahudi yang sudah ditinggalkan. Bahkan kita melihat sinagog yang sama sekali sudah tak digunakan lagi. Medina ini sangat mengagumkan, sangat luas, dan sangat berwarna warni. Kawasan ini masih ditempati dan di
gunakan. Jadi kita akan bersatu dengan hiruk pikuk penghuni kawasan itu. Aku seringkali terkejut disini. Kita melewati rumah orang, pasar, mesjid, pasar lagi, restoran, universitas (!), sekolah, madrasah, bank, hotel (riad), dan banyak lagi. Semua kita lewati dengan melalui gang-gang kecil yang bahkan sangat kecil. Sambil berjalan Mouhammed menjelaskan sejarah, kekhasan tempat-tempat ini sambil sesekali menyapa orang-orang yang dia kenal.

Ada banyak madrasah,
mausoleum, mesjid yang sangat indah dan terlihat tua. Ukiran yang detail benar-benar membuat betah. Jalur yang dilalui tour guide sepertinya sudah ditentukan. Karena kita sering bertemu dengan rombongan lain. Jalur ini juga sudah didesain untuk berhenti di toko souvenir, toko karpet, toko kain, toko obat-obatan. Mudah diduga sih. Tapi untungnya kita dijamu dengan ramah. Sama sekali tidak ada paksaan untuk membeli. Jadi kalau kita tidak berminat, si pedagang gak pasang muka bete. Pas makan siang kita ditawarkan untuk makan di medina, di sebuah restoran khas Maroko. Yah, apa salahnya. Kita mengiyakannya.

Rupanya makan di restoran itu, dua orang saja terlalu berlebihan. Menu yang dihidangkan sungguh sangat banyak dan macamnya pun sangat banyak. makanan pembuka, main course, sampai penutup. Semuanya sangat banyak. Kami tak mampu menghabiskannya. Yang makan di restoran itu hanya kami. Udara sejuk dan tempat yang penuh hiasan khas Marok
o. Sambil makan kita bertanya-tanya, berapa harga makanan yang dihidangkan ini. Takut uang kita gak cukup. Setelah melihat bill, kita sempat agak khawatir. Ternyata semuanya 500 MAD atau sekitar Rp 500ribu. Setelah mengeluarkan semua uang sampai koin, syukurlah si 500MAD itu terkumpul. hahaha.

Setelah makan, perjalanan agak santai. Kita mendatangi universitas Fes dan sebua
h sekolah seni. Sekolah-sekolah ini cukup besar. Sekolah seni ini sangat menyenangkan. Kita melewati ruangan perkuliahan, workshop sampai taman yang rimbun, indah dan berwarna warni. Penuh dengan pohon jeruk yang berbuah ranum. Tapi anehnya lagi, orang-orang kok gak memetiknya ya. Sekolah itu letaknya agak tinggi, jadi pemandanganya sangat indah ke hamparan kawasan medina yang sangat luas.


Tour berlanjut ke sebuah toko karpet yang sanga
t besar. Kita tidak ada yang berminat untuk membelinya. Syukurlah, setelah sampai disana aku bersin hebat, gak bisa berhenti, sehingga kunjungan ke toko itu tak berlangsung lama. Sebuah tempat yang menakjubkan lainnya adalah tannery. Tannery ini tempat pengolahan kulit binatang. Dilembutkan dan diberi warna untuk kemudian dibuat menjadi tas, ikat pinggan, dan barang lainnya. Kawasan ini sangat bau, makanya pas masuk kita diberi segenggam daun mint untuk dimasukan ke lubang hidung. Aku sempat membeli tas disini.

Tak terasa, tour berakhir. Padahal dari jam 10 sampai jam 15!! Kita pulang ke hotel. Leyeh
-leyeh dan kembali menelusuri sekitaran hotel yang hiruk pikuk tapi menyenangkan. Kita beli cherry segar yang harganya cuma 15 ribu per kilonya!

Friday, August 12, 2011

Menonton Kembali Film Jadul

Tiba-tiba saja aku kangen film-film bioskop tahun 90an. Masa-masa SMA, masa-masa kuliah. Semakin aku mengingat, film yang kebetulan memang ingin aku tonton (lagi) adalah film bergenre komedi romantis. Dan kalau kita liat lagi, film-film yang aku tonton lagi ini, lumayan "aman" selama Ramadhan. Paling maksimal ada adegan kissing nya saja. Tidak lebih dari itu. Inilah film-film itu:

While You Were Sleeping (1995). Film Sandra Bullock setelah Speed. Aku masih inget dulu nonton di BIP (Bandung Indah Plaza). Bela-belain pulang ke Bandung (kala itu kos di Jatinangor). Menceritakan tentang Sandra Bullock sebagai Lucy, seorang penjaga peron di stasiun kereta api di Chicago. Dia hidup sebatang kara. Karena tanpa keluarga itulah, Lucy sering diminta masuk kerja di hari libur Natal. Di hari itu pula dia menyelamatkan seorang pria ganteng yang jatuh ke rel kereta api, dan Lucy menyelamatkannya. Pria itu, Peter (Peter Gallagher) pun kemudia koma. Lucy mengaku sebagai tunangannya. Masalah semakin rumit ketika ternyata Peter memiliki keluarga besar. Keluarga yang tak pernah dimilikinya.
Film ini memang salah satu rom-com favorit aku. Chemistry antara Sandra Bullock dengan keluarga Callaghan sangat natural. Kehangatan dialog berjalan kontras dengan salju Chicago yang terkesan sangat dingin. Kalo dilihat lebih dalam, themanya sangat telenovela, tapi beneran deh, film ini sangat layak untuk ditonton. Terutama untuk perempuan, atau untuk penggemar berat Sandra Bullock (seperti aku). Hehehe.

As Good As It Gets (1997). Menceritakan tentang Melvin (Jack Nicholson), seorang penulis sarkastis penderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder)> Melvin ironisnya seorang penulis buku romance. Seperti penderita OCD lainnya, Melvin suka akan keteraturan dan kebersihan. Makanya Melvin membenci tetangga gaynya (Gregg Kinnear) yang memiliki anjing lucu tapi sering pipis di koridor apartemen. Melvin juga wajib sarapan di Cafe dan harus dilayani oleh Carol (Helen Hunt).
Film ini benar-benar membuka mataku, sekaligus bukti bahwa manusia itu sangat kompleks. Manusia memiliki banyak kebaikan walau tampak luarnya sangat mengerikan. Jack Nicholson dan Helen Hunt mendapatkan Oscar untuk aktris dan aktor terbaik. Tonton dan bersiaplah tercengang dengan kenyataan bahwa orang seseram Jack Nicholson bisa dengan sangat meyakinkan menjalin hubungan dengan Helen Hunt yang manis.

terakhir, One Fine Day (1996). George Clooney dan Michelle Pfeiffer. Dua nama yang hot di tahun 90an. Dan bayangkan keduanya dalam satu film. Menceritakan tentang Jack seorang wartawan dan Melanie seorang arsitek. Mereka masing-masing bercerai dan memiliki satu anak. Nah anak-anak mereka itu teman sekelas. Di suatu hari yang hectic, keduanya secara tak sengaja tertukar hanndphone. Jadi masing-masing terpaksa harus saling berkomunikasi, walau di awal sempat terlihat saling membenci.
Film ini mengkombinasikan romance, humor dan kelucuan anak-anak. Selain itu film ini juga menandakan sebuah era dimana komunikasi menjadi semakin rumit atau praktis dengan sebuah alat bernama handphone. Tapi lihatlah bentuknya, masih sebesar batu bata! Hahaha.

Selamat Menonton :)

Monday, August 01, 2011

Ramadhan Kos Baru.

Hari pertama Ramadhan tahun ini aku masih di Palembang. Tapi ada yang berbeda. Aku memutuskan pindah kos. Kalau ditanya kenapa pindah kos, alasannya mungkin dangkal. Jawabannya: Dapur. Ya, di kosan baru ini ada dapurnya, lengkap dengan alat masak.

Aku memang suka memasak. Tapi yang aku masak ya, sesuai selera aku. Biasanya gak jauh dari mie, telur, terigu dan nasi. Aku punya berbagai resep nasi goreng yang enak (menurutku tentunya) dan indomie goreng andalanku juga. Di Bandung, amih sudah biasa dengan kebiasaanku masak sendiri. Bahkan kebiasaanku ini sekarang menular ke keponakanku, Azhar, yang katanya bercita-cita menjadi koki. Hehehe. Aamiin.

Hah, sudahlah! Aku jadi ngiler mengingat makanan yang ingin aku pasak! Hahaha. Aku benar-benar berharap Ramadhan ini lebih baik dari tahun kemarin. Lebih kuat, lebih banyak beribadah. Aamin.

Selamat Ramadhan semuanya..