Wednesday, October 11, 2017

Lanturan Kewarasan

Jadi... setelah kepindahan pekerjaan aku dari Bandung ke Jakarta, aku memutuskan untuk setidaknya mencoba membawa keluargaku ke Jakarta di tahun pertama. Kami pun memutuskan tinggal di apartemen, karena selain agar jarak ke kantor tidak terlalu jauh, isteriku juga tak jauh mengakses supermarket, warung, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Semua ada di sana.

Kami pun hidup baik-baik saja. Ada sih beberapa penyesuaian seperti hidup tanpa tanaman, sempit dan bising hehe. Tapi takdir berkata lain, baru sekitar dua bulan hidup bersama di Jakarta, isteriku alhamdulillah hamil lagi. Hamil kali ini agak lumayan repot, mual dan maboknya lebih lama. Belum lagi ternyata anak kami terkena fimosis, jadi harus dikhitan. Ditambah lagi kami harus menghadapi dilema apakah anak kami harus berhenti mengkonsumsi ASI atau diteruskan sembari hamil.

Setelah memperhitungkan baik buruknya, kami pun berkeputusan untuk berbeda rumah di weekdays. Artinya aku pulang setiap Jumat dan kembali ke Jakarta Senin dini hari. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah kami menyelesaikan permasalahan satu per satu. Tak terasa dua bulan lagi, insya Alloh keluarga kami bertambah anggotanya, ceritanya pasti akan berbeda. 

Tapi sebenernya aku mau cerita apa ya, sebenernya? hahaha

Kalau ada anak isteri di rumah, pada saat kita kita pulang, kita akan dipaksa memperhatikan mereka, terlibat dan berinteraksi dengan mereka, Kita yang berpikir tentang bekerja dan segala permasalahannya akan dipaksa berubah episode pada saat membuka pintu rumah. Suka ataupun tidak. Walau kemudian beberapa jam atau beberapa menit kemudian, bisa jadi kita kembali membahas pekerjaan di kantor, tapi tetap saja suasananya berbeda.

Berbeda dengan tinggal sendiri. Seringkali aku masih menelepon dan membaca group chat, maupun email sampai mendekati kantuk. Ini salah. Gak sehat buat kewarasan, menurutku. Sendiri ataupun tidak, kita memerlukan suasana lain dalam keseharian. Ini mungkin ya yang membuat kita depresi, memikirkan hal yang sama terlalu lama. Adakalanya kita harus dipaksa melarikan diri dan tak terlalu memikirkannya untuk sementara waktu. Ini yang aku percayai.

Walau hal yang lain itu tidak berarti menyenangkan, tapi setidaknya kita membahas yang yang tak sama. Tak jarang, setelah sampai apartemen, aku video call dengan isteri dan anakku, membahas hal yang sangat penting maupun hal yang tak tentu arah, seperti tetangga yang suka menyanyi keras-keras sambil naik motor di depan rumah kami, berandai-andai jika punya uang satu milyar, kenapa kutil di pahaku semakin membesar dan hal lainnya.

Jika selesai video call, sebisa mungkin aku melakukan hal untuk kesenangan diriku sendiri, terlepas dari kepenatan pagi sampai sore tadi. Biasanya nonton tv, masak, maupun maen game Civilization. Game ini sudah aku mainkan sejak SMA, hahaha. Walau sudah berevolusi sampai Civilization VI, aku tetap memainkan yang seri keempat. Semua itu hiburan buatku. Sangat jarang sekali kalau sudah sampai apartemen aku keluar. Males banget. Memang sih lebih monoton dibanding dengan kalau ada anak isteri. Tapi dengan begini setidaknya kewarasanku terjaga.

Gak jelas yah postingan aku ini, ngelantur kemana-mana hahaha. Maaf. Ini tulisan biar masih tetap waras di tengah sosialisasi produk yang membuat aku ngantuk setengah mati hahaha.

Thursday, February 02, 2017

Mula

Selalu ada permulaan untuk sesuatu hal. Tak ada yang tiba-tiba saja mahir, tiba-tiba saja ahli. Dan begitu pula kali ini. Ini adalah permulaan saya hidup di kota lain selain Bandung sebagai keluarga.

Segala rencana tersusun. Segala resiko coba dihadapi. Walau pada akhirnya... segalanya diserahkan pada Alloh.

Wish me... err wish us luck.

Monday, December 19, 2016

Cerita Kelahiran (2)

Setelah lahiran, tibalah waktu penyembuhan dan orang-orang datang nengok. Seneng banget soalnya banyak temen dan banyak kado (hehehe). Walau harus menceritakan hal yang sama berulang kali, rasanya kok ya gak keberatan.

Alhamdulillah pula bayinya sehat dan aku gak canggung untuk memangku bayi yang masih kecil itu. Aku suka memangku anak kecil, tapi kalau bayi baru lahir aku sangat tak bisa. Khawatir ringkih. Tapi ternyata beda kalau anak sendiri. Mau gak mau tetap saja harus mau. Masa-masa di rawat itu masa bahagia. Segala dilayani, kalau bayi nangis tinggal panggil suster. Kalau gak ngerti cara ganti popok tinggal panggil suster. Isteri gak bisa ngasih nenen juga diajarin suster, Jadi enak banget.

Tapi masa itu cuma seminggu. Tibalah waktu pulang. Tapi sayangnya si bayi tapi bisa kami bawa pulang. Bayi menderita infeksi dan juga kuning. Jadi harus dirawat. Tiba-tiba saja masa indah di ruang rawat hilang musnah. Bayi harus dirawat di ruang khusus dan tak boleh ditunggui, bahkan oleh ibunya sekalipun. Ibu harus standby di luar dan harus menyediakan ASI kapanpun dibutuhkan.

Kondisi itu membuat isteriku stress. Ruang tunggunya di luar bersama dengan ibu lain dan penunggu pasien. Kalau dalam kondisi normal mungkin akan nyaman. Tapi isteriku masih menahan luka caesar yang belum kering. Aku pun mengusahakan ruang rawat bagi isteriku. Tapi kebijakan di rumah sakit ini tak mengizinkan ibu yang menunggui bayi tinggal di ruang VIP. Hanya boleh di kelas 3, itu pun dengan catatan kalau ada yang kosong. Aku harus hilir mudik ke bagian pendaftaran sambil menghibur isteriku yang senantiasa menangis. Belum lagi dalam waktu yang relatif singkat isteriku harus menyediakan ASI, Menyusui secara langsung pun isteriku masih belajar, ini harus dipaksa bisa menghasilkan ASI dengan menggunakan alat pompa, ditambah stress memikirkan kondisi bayi. Pfiuhh.. aku dituntut kuat fisik dan waras menghadapi semua ini. Kita tak boleh ikut sedih,

Akhirnya kami mendapatkan tempat di kelas 3, dengan pasien sebelah merintih akan melahirkan. Tempat tidur pun tinggi tak bisa diturun naikkan. menyiksa untuk isteriku yang menahan sakit. Kondisi ini diperparah dengan perawat yang kurang ramah. Kalimat sedikit pun bisa mengubah mood isteri. Isteriku sedih ketika suster bilang: "Kalau ASI segini tak akan cukup buat bayi". Normal sih.. tapi menyakitkan untuk isteriku yang sedang sensitif, dan berjuang memeras ASI yang memang sedikit.

Isteriku tak betah di kamar tersebut. Dan menyedihkan memang karena, sebentar-sebentar dia dipanggil untuk menyusui bayi. Belum lagi pompa listrik yang jumlahnya terbatas. Kubeli pompa manual yang ternyata tak bisa kami gunakan. Kondisi psikisnya sangat menurun. Sampai akhirnya aku harus mengambil keputusan. Aku tahu dia sedih karena tak bisa menghasilkan ASI padahal dia sangat ingin memberi ASI dan tak ingin memberi susu formula. Aku mengambil keputusan untuk tak apa memberi susu formula kepada bayiku. Kutenangkan isteriku, dan kuhibur dia agar tak selalu menyalahkan dirinya. Akhirnya kami pulang.

Saat itu jam 12 malam. Kami sampai rumah, isteriku lebih tenang. Terlihat dari roman mukanya. Kasihan sekali isteriku ini. Sambil ngobrol dan saling menguatkan, Aku googling cara menggunakan pompa ASI yang benar, dan dengan kondisi yang jauh lebih santai kami mencoba kembali. ASI mengucur deras melalui pompa itu. Syukur Alhamdulillah tak terkira. Baru kulihat kembali senyum isteriku. Akhirnya stok ASI melimpah, secara periodik ku kirim ke rumah sakit. Setiap kunjungan kusempatkan melihat bayi dan merekamnya lalu kukirimkan ke handphone isteriku.

Alhamdulillah 5 hari kemudian bayi bisa pulang dan berkumpul bersama kami di rumah. Lalu apakah perjuangan berhenti di sini? Oh nooooo. Hahaha.. masih jauh dari berakhir. Perjuangan kesabaran sang ayah baru masih berjalan terus. Kami terus belajar tentang hal-hal kecil dan hal besar. Dari mengganti popok, memandikan, menidurkan, menggunting kuku dan lain sebagainya. Dann... selain urusan bayi, urusan lainnya yang sebelumnya berjalan pun tetap berlangsung. Artinya kita harus mencuci pakaian, aku pun harus tetap bekerja.

PR Paling besar kala itu adalah menidurkan bayi. Kami seringkali kelelahan di malam hari tapi si bayi tetap tak mau tidur. Disimpan di tempat tidur pun menangis. Kami bergantian, dibantu ibu mertua dan tetap saja kelelahan. Seringkali bayi tidur jam 2an. Besoknya harus ke kantor lagi. Aku pernah tidur di mobil di parkiran kantor saking gak kuatnya hehe.

Browsing di internet pun seringkali membingungkan dan tak berguna sama sekali. Akhirnya kami pun tanya sana sini dan mencoba. Syukurlah masalah demi masalah berhasil kami atasi. Segala sesuatu itu memang harus ada pembiasaan kali ya. Belum lagi permasalahan luka caesar isteri yang tak kunjung kering.

Sekarang bayi sudah 8 bulan. Walau usianya muda, tapi benar-benar memberi banyak pelajaran buat kami. Oiya.. tampaknya masalah memang tak akan berakhir.. tapi jangan khawatir bapak ibu, itu memang resiko orang hidup ya hehe. Dan jangan khawatir.. hari demi hari juga tak melulu masalah kok, kebahagiaan pun Alhamdulillah tak kunjung berakhir.

Para ayah baru.. siapkan mental dan selalu mencoba memahami isteri. Haiyah sok banget ya, baru 8 bulan jadi ayah aja udah sok ngajarin Hahaha. Maaf ya tak ada maksud. Tapi beneran harus sensitif memahami naik turunnya mood isteri. Walau terus terang memang susah. Yah namanya juga perempuan. Hahahaha...

Sekian dulu yah sharing aku.
Terima kasih sudah menyimak.
Oiya bayi itu bernama Manggala Utomo Ilyasa Purwana.

Cerita Kelahiran (1)


Wow.. postingan terakhir aku tanggal 31 Maret! Dengan cerita yang seperti menggantung. Ckckck... maafkan ya..


Begini lanjutannya.. Dari postingan terakhir, 19 hari kemudian. Tepatnya tanggal 19 April, anakku lahir ke dunia. Di sinilah perjuangan aku sebagai suami sekaligus bapak mulai diuji. Sudah sekian lama ingin menulis ini, tapi selalu tak jadi. Ah sudahlah.. jangan tanya alasannya ya. Takdirnya memang sudah begitu.


Sengaja kutulis ini untuk jadi gambaran untuk saudara seperjuangan, calon bapak, calon ayah. Tapi bukan maksud ngajarin juga ya. At least, ini yang aku alamin.


Perjuangan dimulai ketika isteri mulai mules. Saat itu belum terlalu pusing, karena kami sudah menyiapkan dan memesan tempat persalinan jauh-jauh hari, Jadi tinggal bawa ke rumah sakit bersalin. Beres.

Tapi ternyata yang disediakan rumah sakit hanya tempat, peralatan, dokter, perawat. Yang nemenin isteri harus kita sendiri (ya iya lah hahaha). Mulai detik inilah calon bapak harus menyiapkan fisik dan mental. Kita harus menghibur isteri yang sedang kesakitan, menjawab pertanyaannya, seabsurd apapun, dan mengabulkan permintaanya. Terdengar simpel ya.. tapi coba bayangkan, isteri minta ditemani, gak boleh ditinggal sebentar pun, tapi juga dia minta dibawakan baju di rumah. Itu contohnya. Siapkan stok sabar sebanyak mungkin.


Isteri ke rumah sakit jam 9 pagi. Niatnya buat periksa dokter karena diare. Tapi ternyata setelah diperiksa hasilnya malah sudah bukaan. Bukaan tiga dan belum ada mules. Jadi gak ada yang bisa dilakukan, cuma menunggu. Tapi jangan salah menunggu itu butuh energi. Cemas, bosan, sekaligus excited. Tapi cobaan yang paling berat dari seorang calon ayah, menurutku adalah, harus mengambil keputusan. Dalam waktu singkat kita harus siap dengan jawaban kalau ditanya dokter. Apalagi kalau kita tidak dibekali banyak pengetahuan. Yang ada malah deg-degan.


Tiba-tiba saja kita diinformasikan, DJJ saat ini tinggi, Jadi menurut dokter belum bisa dikasih obat biar mules. Kalau DJJ sudah normal, apakah bapak setuju diberi obat mules? Belum juga aku bisa mencerna apa itu DJJ, berlembar-lembar formulir sudah disodorkan untuk ditandatangani. Aku pun lantas setuju setelah bertanya prosedur standarnya seperti apa. Setelah itu, sambil menemani isteri, aku googling apa itu DJJ yang ternyata adalah Detak Jantung Janin, dan angka normalnya adalah 120-160. Kalau di luar interval itu dalam waktu yang lama akan berbahaya. Oiya, jadi selain fisik dan mental, pastikan juga handphone kita gak low batt dan terisi paket data hehe.


Setelah tahu itu, tugasku kemudian adalah menatap monitor DJJ. Sampai akhirnya setelah DJJ normal, isteriku diberi obat induksi. Di sana lah rasa mulas menghebat. Kita dituntut berdoa, menghibur, sambil dicakar dan diremas-remas untk waktu yang sangat lama. Rasa cemas meningkat level demi level. Kita tak boleh panik, tak ada waktu untuk menunjukan rasa khawatir. Kita harus terlihat kuat agar isteri kita ikut kuat. Itu yang berat. Setiap dosis obat yang akan diberikan, dokter akan meminta persetujuan kita dan kembali disodorkan berlembar-lembar formulir. Kita menjadi ragu apakah tindakan yang kita ambil sudah benar.


Tapi tak ada waktu untuk ragu. Kutorehkan tanda tangan sambil membaca basmalah. Untungnya aku ditemani ibu mertua, jadi bisa gantian sebentar untuk sholat. Walau akhirnya ibu mertua tak kuat. Jadi memang harus aku yang menemaninya. Kami kemudian menunggu angka bukaan yang seolah berjalan sangat lambat, dari 4 kemudian 4,5 kemudian 5 memakan waktu sangat lama. Sampai akhirnya tibalah waktu mengejan. Kita ikut menyemangati dan berdoa. Momen itu serasa sangat menegangkan, sambil mata kembali melihat angka DJJ.


Takdir berkata lain. Jabang bayi tak bisa keluar. Hanya terlihat sebagian kecil kepalanya. Oiya untuk melihat liang lahir pun dibutuhkan keberanian lho. DJJ mulai melemah, sampai akhirnya dokter memutuskan untuk operasi sectio. Isteri dibawa masuk ke ruangan. Aku tak boleh masuk. Saat itulah kemudian fisik terasa lemas. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggu dan berdo'a. Sambil menunggu pun berlembar formulir harus kubaca dan kusetujui.


Alhamdulillah setengah jam kemudian bayi keluar dan disimpan di dalam box khusus. Dokter anak langsung datang dan bilang kalau bayinya gak langsung menangis, ada kemungkinan infeksi jadi akan dilakukan serangkaian tes. Terus terang pernyataan itu membuat aku menangis. Melihat si bayi membuat perasaanku lebih baik. Oh.. ini ya perasaan melihat anak sendiri untuk pertama kali.. Bayi yang paling indah sejagad raya. Membisikan adzan ditelinganya pun ternyata bukan hal mudah. Bercampur aduk rasa haru dan cemas. Tapi saat itu memang waktu yang tepat untuk bersyukur dan mengembalikan segalanya pada Alloh SWT.


Isteriku kemudian keluar dari ruangan operasi dengan masih terpengaruh obat bius. Aku tak menceritakan tentang kondisi bayi. Nanti saja lah setelah dia sepenuhnya pulih. Setelah menunggu satu jam dia pun bisa masuk ke ruangan rawat, sedangkan si bayi ditempatkan di ruang khusus.


Aku merasa sangat lelah sekali dan sangat lapar. Setelah memastikan semuanya baik, aku meminta izin isteriku untuk mencari makan. Hari sudah malam sekitar jam 21:30. Anehnya aku tak berminat mencari makanan sekitar rumah sakit. Aku malah naik taksi ke jalan Braga demi mencari secangkir cokelat di Starbucks. Hahaha.

Thursday, March 31, 2016

Menjadi

Salah satu harapan setelah menikah adalah ingin segera punya anak. Itu aku sih.. hehehe. Tapi ya itu ya.. definisi "segera" itu sangat gak pasti,

Aku terus terang, menahan diri untuk menulis tentang kehamilan isteriku di blog ini. Takut. Takut ga jadi, takut keguguran, dan segala takut lainnya. Ketakutan ini desebabkan banyak hal yang bikin deg-degan selama kehamilan. Isteriku kerap mengeluarkan flek di 4 bulan pertama kehamilan. Bikin khawatir. Bahkan pernah suatu hari fleknya sangat besar, sampai kami menganggap itu adalah janin yang keluar. Kami sudah ikhlas kalau harus mencoba lagi. 
Tapi alhamdulillah, ternyata itu bukan janin. Pfiuhh...

Kami mendapat kabar baik kehamilan setelah satu setengah tahun menikah. Masih sangat ingat, kali pertama aku melihat test pack. Dua garis, tapi yang satu sangat samar, sehingga aku ragu apakah itu kehamilan atau bukan. Hari itu hari minggu, jadi tidak bisa segera ke dokter kandungan.

Setelah melalui periode flek, aku pun harus bisa memahami naik turun kondisi psikis isteri. Marah-marah, nangis, drama, lapar, lapar, dan lapar terus hahaha. Syukurlah dukungan teman dan buku banyak membantuku. 

Saat ini kehamilan, sudah mencapai 36 minggu. Jadi tinggal sebentar lagi, jabang bayi lahiran. Tapi entah kenapa, periode yang "sebentar" ini kok rasanya sangat lama sekali ya hahaha. Kalau ditanya deg-degan, jawabannya engga, khawatir engga, rasanya biasa saja sih. Penuh rencana di kepala, tapi tak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu. 

Tanpa sadar, periode ini membawa aku ke jenjang kehidupan berikutnya. Menjadi orang tua.

Do'akan kami menjadi orang tua yang baik ya teman-teman. :)

Thursday, February 04, 2016

Barang Berbahaya

Eh, sudah fitrahnya kan yah, manusia mah senang sesuatu yang bagus-bagus. Makanya tercipta kata "bagus" dan "tidak bagus".
Naon sih ya ini teh ujug-ujug..

Jadi gini, aku teh sering killing time dengan browsing. Macem-macem. Mulai dari browsing youtube, situs-situs yang memang sudah ritual dibuka, atau situs lainnya secara random. Seringkali si kerandoman itu berakhir di situs jualan. Situs yang menyediakan kesenangan yang menyebalkan. Senang karena serasa window shopping gak pake cape. Menyebalkan karena tanpa kita sadari, dalam waktu yang relatif cepat kita sudah menambah saldo tagihan kartu kredit.

Dulu, situs belanja online yang saya sambangi dan berujung dengan transaksi hanyalah Amazon. Setelah itu berlanjut ke ebay, selagi tugas di Palembang, terus merembet ke Etsy, Zappos, lalu ke situs si penjual barang langsung. Akhir-akhir ini makin parah ke situs belanja lokal seperti tokopedia, blibli atau Lazada. Lanjut ke medsos di Instagram.

Di Amazon sering beli buku, CD dan DVD. Di Ebay beli casing handphone sama puzzle, di Etsy beli tas, sleeve laptop, sampai stiker. Terus pernah ke situs resmi Kanken dan Dr. Martens. Di Zappos beli sepatu. Kalo situs lokal terakhir beli alat fitness. Di Instagram beli karpet dan terus ketipu beli meubel. Alhamdulillah uangnya dibalikin setelah meneror tempat orang itu bekerja. Sering nonton CSI ternyata ada gunanya. Hehe.

Kemudahan belanja itu membuka cakrawala (wew) tempat belanja menjadi luas. Barang yang dulunya hanya bisa dibeli kalau kita ke Luar Negeri atau nitip teman yang ke Luar Negeri, sekarang hanya dengan klak klik bisa didapat.

Barang langka yang sudah diidamkan pun bisa kita dapatkan. Perjuangan, dan pengorbanan (kartu kredit) itu lantas kadang membuat kita bahagia. Walau untuk beberapa hal kadang kita kecewa. Seperti aku membeli sepatu Dr Martens dengan diskon gila-gilaan, tapi setelah dicoba, gustiii berat sangat. Sampai harus beristirahat beberapa kali hanya untuk mengarungi toko-toko di PVJ. Hahaha.

Euforia setelah mendapatkan barang-barang itu, tentu saja menyenangkan. Dan itu sah-sah saja kan ya. 

Sampai kemudian aku merasa keren setelah memakai barang itu. Merasa kerennya sih fine. Tapi kemudian si fine feeling itu diikuti bisikan setan untuk riya dan mengharapkan lirikan dan tatapan kagum orang lain akan barang kita. Pernah kan? Aku sih pernah banget. Saking desperatenya akan pujian itu, langsung aku posting di medsos. Hiiihhh sampai malu aku rasanya. Asli kampring banget. Masa keimanan kita gampang banget digantikan barang. Walaupun barang itu sekeren sepatu Marc Jacobs dan sepatu Onitsuka Tiger.

Sengaja aku menulis ini beneran untuk self reminder. Karena si pikiran itu kadang menyelinap. Asalnya beneran cuma make barang, tiba-tiba terbersit ingin riya. Lagi pingin posting buat asik-asikan, eh tiba-tiba datang pikiran kalo kita lebih cool dari orang lain. 

Tiba saatnya kita harus mengambil alih kesadaran kita. Tangkis si pikiran buruk itu dengan mencoba jujur pada diri sendiri. Pakai, gunakan barang itu. Karena memang selain bagus, juga memang fitrahnya itu kan ya? Posting lah kalau memang ingin. Tapi sebelumnya.. pastikan si pikiran busuk itu sudah pergi. Karena rasanya memang beda kok.

Tuesday, February 02, 2016

Ingatan Random - Cadbury's Fruit & Nut



Dulu. Duluuu banget, zaman SD, sekitar tahun 1987-1989 aku melihat iklan cokelat Cadbury's Fruit & Nut di Tabloid Monitor, kurang lebih gambarnya seperti di atas. Ditambah redaksional khas iklan, tentunya. Sejak itulah aku memutuskan, aku menginginkan cokelat itu. Apalagi iklannya selalu ada di hampir setiap edisi.

Tapi aku cukup tahu diri. Cokelat itu terlihat mahal. Alasan selanjutnya adalah cokelat tidak pernah sepenting alat tulis. Aku tak pernah memiliki nyali untuk sekedar meminta Amih dan Apih untuk membelikannya. Selain memang alasan-alasan tersebut, si Cadbury ga bisa dibeli di komplek rumah. Saat itu belum ada yang jual. harus ke super market di kota. Walhasil aku hanya cukup meleletkan lidah, sambil menunggu tanggal ulang tahun yang masih lama akan terjadi.

Amih selalu hidup sederhana, walau menurut aku kita selalu makan enak, lengkap dengan buah2an setiap harinya. Alhamdulillah. Tapi kalo soal barang "ga penting" itu lain soal. Koran saja kita hanya boleh langganan yang penting, koran Pikiran Rakyat. Majalah sudah berenti sejak langganan koran. Si Tabloid Monitor itu aku baca di Pak Uuh, tetangga sebelah. Itu pun setelah beberapa hari terbit. Gantian bacanya. Tabloid itu laris luar biasa, lagian, anak kecil membaca tabloid itu dianggap tidak senonoh. Banyak foto seksinya kadang-kadang.

Suatu hari gigiku ungger, goyang kalo bahasa Indonesianya mah. Ah sial. Urusan si gigi goyang ini adalah nasib buruk. Sudah kebayang akan sakit kalau dicabut. Tradisi cabut gigi di keluargaku sungguhlah horror. Kami tak pernah cabut gigi ke dokter gigi. Amih lah yang mengambil alih peran dokter gigi. Sudah sering aku dicabut gigi dengan paksa. Dibantu oleh kakak-kakakku sebagai antek-antek. mereka kebagian peran memegang tangan dan kakiku yang meronta. Sedang Amih bagian memegang kain dan mencabut gigi. Sesudahnya aku dijamin menangis. Mereka seperti sekumpulan tentara Nazi bagian interogasi.

Kali ini pun sepertinya tak akan beda. Sialnya amih selalu tahu gigiku ungger. Padahal aku sebisa mungkin menyembunyikannya loh. Aku pikir Amih memiliki kemampuan sihir.

Saatnya pun tiba. Pintu sudah dikunci untuk mencegah aku keluar. Mereka sudah merencanakannya dengan matang. Mereka mengambil momen dimana aku lengah. Si Kijot, kakak perempuanku yang memang bertubuh besar sudah menghadangku dan mengambil kuda-kuda untuk mengempit tanganku. Damn, dua wanita Nazi di keluargaku sendiri! Aku pun meronta. Kijot dan Amih mulai kewalahan karena biasanya ada dua orang yang memitingku. Kali ini terpaksa hanya Kijot karena yang lain belum pulang dari sekolahnya.

Kalau kejadiannya sekarang, sepertinya aku akan mengirim surat terbuka ke Komnas Perlindungan Anak. Kenapa mereka gak mengantarku ke dokter gigiku sih? Walaupun ide itu juga terdengar sama menyeramkannya. Saat aku sibuk meronta dan menendang kesana kemari, tiba-tiba saja aku teringat bungkus biru keungunan yang menggoda si Cadbury's Fruit & Nut. Lalu aku berpikir tampaknya akan sia-sia perjuanganku dengan para Nazi ini. Kalau aku berhasil kabur hari ini, besok-besok mereka akan mencoba dengan kekuatan yang lebih banyak. Akhirnya aku pun teriak "SUDAHH!" Entah kenapa tiba-tiba aku bernegosiasi kalau aku tak akan meronta asal dibelikan si Cadbury. Amih tertegun. Sepertinya beliau berpikir. Aku pun kembali meronta.

Akhirnya Amih menyerah dan mengiyakan prasyaratku. Gigi dicabut tanpa tangisan. 

Besoknya Amih pulang kantor dengan membawa si cokelat biru pujaanku. Aku melonjak kegirangan. Amih bergumam kalau cokelat itu mahal dan aku disuruh untuk membaginya dengan kakakku. Perintah yang tentu saja aku abaikan dengan bengis. Aku pun langsung pergi ke luar menjauh dari rumah. Meninggalkan tatapan penuh ancaman dari Kijot hahaha.

Aku memakan si Cadbury's di bawah pohon belakang sekolah SD Cilandak yang sepi. Sendirian. Cokelat itu terasa sangat sangat sangat sangat enak.

Thursday, November 26, 2015

Hujan di Hari Guru

Hai semua.
Lama banget ga ketemu ya.
Jangan nanya alasannya apa lah ya, kenapa lama ga nulis. Soalnya aku bingung juga jawabnya. hehe. Bahkan setelah mikir lama. Males kayaknya sih, alasan yang tepat hahaha.

Tapi kejadian kemarin bikin aku mikir terus ya. Sampai akhirnya hari ini masih kepikiran. 
Ceritanya gini. Kemarin kan hari guru. Ok, standar lah, aku bikin status di facebook, Selamat hari guru bla bla bla. Intinya aku mengharapkan guru-guru aku diganjar kebaikan karena telah bersusah payah mendidik aku, walau aku bukan anak mereka. Walau do'anya bukan basa-basi, tapi kenapa ya, rasanya biasa aja. Ya sudah lah, kemudian aku kembali ke rutinitasku.

Kebetulan Bandung lagi hujan melulu. Ditambah banyak drama pekerjaan gak mau dipause. Sambil nunggu laporan dari teman-teman, gak sengaja buka youtube (ini gak sengaja, gimana ceritanya ya? haha). Aku buka acara Kick Andy, yang bintang tamunya Ginan Koesmayadi. Dulu aku sudah pernah nonton sih. Tapi yang ini agak beda, ini videonya dishoot dari lokasi shooting. Jadi bisa nonton kegiatan yang ga ada di studio dan gak disiarkan di TV. Video ini dipotong menjadi lima bagian. Bisa dilihat di tautan ini: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, Bagian 4 dan Bagian 5.

Video ini lucu sekaligus mengharukan buatku. Lucu, karena memang Ginan orang yang humoris dan sangat sunda sekali. Orang sunda menurut saya memang tidak bisa dipisahkan dari humor, selain memang cara ngomongnya memang lucu. Aku mengerti, ya karena memang aku orang Sunda hehe.

Ginan ini satu almamater saya di SMA 2 Bandung, walau terpaut jauh angkatannya. Ginan memakai narkoba dari SMP sampai akhirnya terinfeksi HIV. Dia bercerita tentang kehancuran hidupnya dan kehilangan banyak hal, materi, teman dan keluarga. Bertahun-tahun hancur, akhirnya dia bertekad sober dan mendirikan Rumah Cemara. Semacam tempat untuk menampung kaum termarginalkan, pecandu narkoba dan ohida. Bahkan lebih jauh, Ginan bisa mengorganisasi tim dan penggalangan dana untuk mengirim tim perwakilan Indonesia ke ajang Homeless World Cup di luar negeri. Sangat Hebat.

Di video tersebut kita bisa melihat perjuangan Ginan dan teman-teman, serta cerita orang-orang disekitarnya, bahkan keluarga dan guru-gurunya. Buat yang sudah lulus SMA atau mungkin seumuran aku, kita akan bisa sangat mengerti hiruk pikuknya kehidupan SMA. Penuh ceria tapi juga sekaligus drama. Tamu di acara tersebut ada Mas Win dan Pak Kadir, keduanya guru olahraga SMA 2 Bandung. Tidak mengajar aku, tapi aku cukup mengenal beliau-beliau. Maklum selepas SMA aku masih tetap bergaul dengan guru-guru, khususnya guru SMAku. Beliau bercerita sempat mengantar Ginan pulang ke rumah, setelah diusir dan tak berani pulang ke rumah.

Saat itu pula memori aku serasa kembali ke masa-masa sekolah. Aku sungguh sangat-sangat beruntung memiliki guru-guru seperti mereka. Mereka bukan saja mengajarkan aku ilmu pengetahuan, tapi juga etika, perilaku dan yang paling penting, mereka masih sempat mendengarkan keluh kesahku. Padahal sumpah kalau dibahas sekarang, gak penting! Hahaha. Aku bilang aku beruntung, karena ternyata banyak teman dan keponakanku tak mendapat apa yang aku dapat. Aku kadang sangat menyesal pernah menyusahkan mereka. Aku belum pernah memakai narkoba, alhamdulillah, tidak juga HIV+, tapi pernah minta uang (jangan ditiru!), pernah makan di rumah guru, pernah tidur di rumah guru, pernah pulang malam, dan pernah-pernah lainnya.

Tak tahan lagi, aku harus benar-benar berterima kasih sama mereka. Walau aku sangat sadar tak akan pernah bisa membalasnya. Aku pun menelepon salah satu guruku --seumur sekarang pun, aku masih menyusahkannya--, seperti yang aku bilang aku sangat beruntung memiliki dan masih berhubungan dengan mereka. Aku menelepon beliau apakah yang mereka harapkan dari aku seumur segini. Jawabannya adalah, beliau hanya berharap apapun yang aku lakukan, harus berdasarkan pemikiran, harus memiliki sikap dengan sadar. Bukan masalah salah atau benar mengambil sebuah tindakan. Tapi harus tahu bahwa apa yang aku pilih, apa yang aku lakukan, harus berdasarkan pemikiranku sendiri, bukan ikut-ikutan orang lain. 

Aku pun hanya bisa terdiam, karena ternyata ajaran mereka tak berhenti setelah aku lulus. Ajarannya masih ada di dadaku hingga saat ini, mungkin hingga  aku menutup mata.

Terima kasih, hanya Alloh yang bisa membalas amal ibadah mereka.